I
GEDE WINASA
Bupati
Jembrana
“Filosofi
Leadership Kami Adalah Kepemimpinan Air”
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Pernah
tinggal di Jepang untuk menimba ilmu di Universitas Hiroshima
dan Universitas Tokushim memberi banyak pengalaman bagi I Gede
Winasa. Siapa kira, bekal pengalaman tersebut ternyata sangat
bermanfaat bagi Winasa ketika ia di-dapuk menjadi Bupati Jembrana
pada 2000. Salah-satu yang bisa ia tiru dari negeri Sakura adalah,
implementasi teknologi informasi yang boleh dibilang maju cepat.
“Begitu sampai di Jepang pada 1988, saya langsung diberi
ATM. Saya kaget karena belum familiar. Apalagi di Indonesia hingga
saya balik pada 1990, ATM belum banyak digunakan,” kenangnya.
Praktis, wacana pria kelahiran 9 Maret 1950 ini terhadap Teknologi
Informasi (TI) tidak perlu diragukan lagi. Meski ia mengaku, “Saya
itu tidak paham TI secara teknis.” Yang penting bagi suami
Ratna Ani Lestari ini, ia paham bagaimana memanfaatkan TI. Pemaknaan
seperti inilah yang ia terapkan selama menahkodai kabupaten yang
terletak di ujung barat Bali ini. Pendeknya, ia memanfaatkan betul
TI untuk mendukung kinerjanya dan memajukan kabupaten dengan jumlah
penduduk sekitar 258 ribu jiwa ini (data 2005). Selain itu, berbagai
terobosan yang ia geber mampu mengangkat nama Jembrana di kancah
nasional. Di bawah kepemimpinannya, warga Bumi Makepung ini bisa
mendapatkan fasilitas kesehatan dan pendidikan gratis. Karenanya,
jangan heran bila Jembrana acapkali menerima berbagai tamu yang
ingin melakukan studi banding. Tercatat tak kurang 400 instansi
pemerintah baik departemen, provinsi, maupun kabupaten bertandang
ke Jembrana. Pun dengan redaksi e-Indonesia. Andy Zoeltom dan
Faizah Rozy sengaja menemui ayah empat anak ini di Jembrana belum
lama ini. Dalam perbincangan selama hampir dua jam itu, Winasa
menuturkan banyak hal, termasuk bagaimana ia memimpin Jembrana
dan menggunakan TI untuk mendukung tugasnya. Berikut nukilannya
perbincangan mereka.
Sejauh
mana perkembangan e-government di Jembrana?
Untuk e-government kami bekerja sama dengan
BPPT. Itu terjadi sejak 2001, tepatnya setelah saya menjabat sebagai
bupati selama satu tahun. Kebetulan waktu itu, beberapa teman
saya menjadi pegawai BPPT. Selanjutnya kami di sini dikenalkan
komputer untuk mendukung kinerja Pemda. Selain itu, kerja sama
dengan BPPT juga mencakup pelatihan SDM, program, dan pembuatan
software.
Bisa cerita apa yang sudah dilakukan
dengan BPPT?
Begini, waktu itu ceritanya, saya curhat
tentang tugas-tugas saya sebagai bupati dengan teman yang bekerja
di BPPT. Akhirnya, teman tersebut – tentu melalui BPPT –
membantu kami dengan melakukan sosialisasi penggunaan TI. Selanjutnya
pada 2001 di tingkat kecamatan, ditempatkan satu komputer. Proyek
ini kemudian berkembang. Kami juga memiliki telepon rakyat tanpa
pulsa. Dulu sebelum ada seluler, kan susah cari sambungan telepon.
Kemudian muncul ide mendistribusikan sambungan yang cuma satu.
Lalu kami gandakan dengan PABX besar, dan didistribusikan ke penduduk
sampai ke tiga desa. Satu PABX saja bisa 500 line.
Di sini apa nama lembaga yang mengurusi
e-government?
Kalau di daerah lain ada dinas Infokom atau
KPDE, di Jembrana namanya Inforyanum yang mencakup informasi,
komunikasi, dan pelayanan umum. Mengapa kami menggabungkan seperti
itu, ada alasannya. Begitu menjabat, kami lakukan evaluasi struktur
organisasi dan ada skor beban tugas. Dari skor beban tugas tersebut,
kami kelompokkan yang sejenis. Jadi kalau informasi, komunikasi
dan pelayanan umum masih dalam ruang lingkup, begitu juga perhubungan.
Dan penggabungan ini tidak ada persoalan. Orang berpikir organisasi
itu harga mati padahal menurut saya, kalau enggak banyak beban
kerjanya, bisa diciutkan.
Saat
ini aplikasi yang sudah online apa saja?
Hampir semua sistem sudah online antara
lain Sim-pegda, rumah sakit, JKJ (Jaminan Kesehatan Jembrana)
online. Ambil contoh, masyarakat yang ingin berobat, bisa membawa
card khusus ini (sambil menunjukkan kartu mirip ATM yang diambil
Winasa dari dompet di saku celananya, Red.), dan dokter langsung
bisa melihat medical record yang bersangkutan melalui kartu tersebut.
Para dokter ini menjalin kerja sama dengan JKJ dan fasilitas kesehatan
ini diberikan secara gratis.
Sejauh mana sistem online digunakan
untuk bidang kesehatan?
Ada lima Puskesmas yang tersebar di empat
kecamatan dan semuanya sudah online. Sebagai gambaran, rasio dokter
di sini paling tinggi di seluruh Indonesia. Perban-dingannya 3.000
penduduk satu dokter, sementara Indonesia masih 10.000 penduduk
untuk satu dokter. Di sini, dalam satu desa terdapat 2 dokter.
Semua penduduk mempunyai kartu jaminan kesehatan, segala usia
dan semua terdatabase di JKJ.
Bagaimana ceritanya sampai terpikirkan
menggunakan TI untuk kesehatan?
Dulu kalau berobat orang pakai kartu biasa,
kemudian diobati oleh dokter. Semua proses administrasi dilakukan
secara manual dengan tulisan tangan. Dari situ saya berpikir kenapa
dokternya tidak menggunakan komputer. Nah, di sini, kami menggunakan
model asuransi yang dikelola oleh JKJ. Selanjutnya
asuransi menunjuk sejumlah dokter sebagai pelaksana pelayanan
kepada masyarakat. Nah kami kemudian membuat aturan, untuk menjadi
dokter yang terikat kerja sama dengan JKJ, sang dokter harus memiliki
komputer. Dengan komputer, mereka bisa input data pasien. Ada
sekitar 70 komputer, dan idealnya satu dokter satu komputer. Target
saya pada 2006 ini, dokter yang masuk link asuransi semua memiliki
komputer. Yang terjadi sekarang, mereka sudah mempunyai komputer
tapi belum bisa online semuanya. Kendalanya, soal jaringan telepon.
Akhirnya disketnya yang dibawa ke JKJ. Harapan saya semuanya bisa
online. Perlu saya tambahkan, kami sudah memiliki sistem untuk
verifikasi. Jadi kalau standar terapinya salah, secara otomatis
ditolak oleh sistem komputer.
Bicara soal infrastruktur, fasilitas
yang ada di gedung Pemkab apa saja?
Hampir tiap ruangan ada CCTV. Di kantor
Bupati ini ada 32 CCTV. Di Gilimanuk ada 9 CCTV, dan ada scan
setiap penduduk yang masuk. Di sini yang masuk ke wilayah kami,
KTP nya di scan. Semua dinas ada di sini dan semuanya ter-connecting.
Mengenai penyelenggaraan layanan
perizinan bagaimana?
Kalau yang lain menggunakan konsep perizinan
satu atap, kami satu loket. Dengan satu loket, kami sudah bisa
memproses 50 izin dengan 7 akte dan KTP. Jadi, pemohon tidak perlu
pergi ke loket lain, cukup
melakukan verifikasi di satu meja saja. Yang jelas, tidak ada
kontak person antara penye-lenggara izin dan pemohon sama sekali.
Bagaimana prosedur untuk mengajukan
permohonan?
Untuk mengurus perizinan harus memasukkan
berkas lengkap. Untuk dinyatakan lengkap, ada verifikasi dari
petugas front office. Jika sudah lengkap, baru pemohon memasukkan
berkas tadi ke loket yang berbentuk kotak. Di sini, pemohon cukup
menekan tombol, kotak langsung terbuka. Selanjutnya untuk menutup
kotak, tombol ditekan kembali.
Bagaimana dengan standar waktu penyelesaian
perizinan?
Kami menerapkan standar waktu. Rencananya
bisa dilihat di information center, apakah sudah selesai atau
belum. Sedang untuk pembayaran dilakukan sewaktu verifikasi di
loket pembayaran.
Lantas bagaimana melakukan sosialisasi
mengenai informasi perizinan?
Semua informasi perizinan bisa dilihat cukup dengan touch screen.
Saat ini touch screen ada di kantor Pemkab. Rencananya touch screen
akan dipasang di seluruh kecamatan. Biar masyarakat lebih banyak
tahu dan mengerti. Dari touch screen, bisa diakses ke website
atau fasilitas lainnya. Kalau bisa nantinya menjadi semacam Sistem
Informasi Manajemen Daerah (SIMD). Kehadiran TI memang harus membuat
semuanya lebih efisien dan akuntabel.
Bagaimana mempersiapkan SDM agar
paham TI?
Untuk PNS golongan II saya suruh kursus
komputer. Ini sudah berlangsung beberapa kali angkatan. Untuk
profesionalisme pegawai, kami juga terapkan sistem reward berupa
insentif uang. Aktifitas yang diapresiasi misalkan, sespri. Selain
gaji, mereka mendapat tunjangan lain sekitar Rp 200 ribu ditambah
insentif Rp 200 ribu. Pemberian insentif tergantung profesinya.
Dengan makin memaksimalkan TI, sudah
terlihat efisiensi dari sisi SDM?
Saya tidak pernah mengangkat pegawai hampir
enam tahun, sejak saya menjabat sebagai bupati. Baru pada tahun
ini saya menerima sekitar 170-an orang pegawai. Untuk penerimaan
pegawai tahun ini, saya mengambil orang TI sebanyak 14 orang dengan
level S1 dan 3 orang level D3. Tugas mereka me-maintenance program
baik hardware maupun software. Saya yakin ke depan, kami akan
lebih canggih. Sejalan dengan itu, kami ingin lebih banyak menggunakan
TI untuk mendukung pelayanan publik..........
(Lengkapnya baca di majalah)