Dari
CommunicAsia 2006:
TI Indonesia
Coba Go International
Pertengahan Juni lalu CommunicAsia kembali digelar
di Singapura. Dan Indonesia kembali ikut serta dalam ajang yang
mempertemukan pelaku bisnis telekomunikasi di tingkat Asia tersebut.
Bagaimana event tersebut berlangsung dan produk Indonesia apa
saja yang mencoba go international?
Berita menarik menyeruak
di tengah CommunicAsia 2006. Pelanggan 3G NTT DoCoMo Jepang telah
melampaui lebih dari setengah pengguna 2G. Bahkan disebut-sebut
bahwa hingga April 2007, NTT DoCoMo mengharapkan pelanggan 3G
akan mencapai 35 juta, atau 66% dari seluruh pelanggannya. Adapun
soal cakupan, hingga Maret tahun depan, 70% dari seluruh Jepang
akan dapat dilayanai 3G dengan layanan data berkecepatan tinggi
berbasis standar HSDPA.
Selain berita-berita bagus seputar perkembangan pelanggan telekomunikasi,
perkembangan tekno-logi baru dalam dunia telekomunikasi, TI dan
penyiaran juga diketengahkan dalam “pesta” berkum-pulnya
pelaku-pelaku bisnis telematika di tingkat Asia tersebut, yang
hingga hari ke-4, separo pe-ngunjungnya berasal dari luar Singapura.
Misalnya saja mengenai perkembangan IMS (IP multimedia subsystem).
IMS diharapkan membawa layanan baru untuk menggantikan menurunnya
pendapatan operator-operator dari voice, terutama untuk layanan
telepon tetap. IMS memungkinkan pengguna berkomunikasi melewati
jaringan yang berbeda, apakah itu WiFi, WiMac, broadband dan kabel—dengan
menggunakan perangkat yang ber-beda.
 |
|
 |
 |
|
 |
| CommunicAsia
2006 digelar di Singapura |
|
Paviliun Indonesia |
Menurut
laporan LatestNews, Lucent Technologies telah melakukan trial
sebanyak 77 IMS untuk klien yang berasal dari 16 negara. Sementara
Ericsson, telah menandatangani 19 kontrak IMS dan 40 lainnya yang
akan segera menyusul. Faktor yang menjadi pemicu adopsi teknologi
IMS di banyak negara adalah karena kompetisi dari pemain internet
alternatif seperti Yahoo, Skype, dan Vonage.
Sarana untuk Kolaborasi
Dari sisi peserta pameran Comunic-Asia 2006,
jumlah melonjak dibandingkan tahun 2005. Tahun lalu, ajang ini
melibatkan 1.500 perusahaan. Kini, tercatat sebanyak 2.340 perusahaan
yang mengusung produk mereka. Jumlah tersebut untuk peserta Enterprise
IT dan Broadcast Asia. Pasalnya, ComunicAsia disatukan dengan
dua pameran tadi dalam satu area. Tiga acara ini, diikuti oleh
67 negara termasuk Indonesia.
Dalam acara pembukaan, Stephen Tan, Chief Executive Organizer
Singapore Exhibition menuturkan bahwa tema ketiga acara adalah
konvergensi digital yang menggabungkan komputer, telekomunikasi,
dan penyiaran. Di sini, berkumpul para pakar, pemain industri
global, berbagai teknologi dan layanan baru. “Mereka hendak
menyongsong konvergensi digital dalam kehidupan sehari-sehari,”
imbuh Tan.
Ditambahkan oleh Stephen Lim, selaku Ketua Singapore Infocomm
Technology Federation (SITF), pameran sekaligus seminar yang digelar
bersamaan dengan CommunicAsia, bisa dijadikan sarana untuk bertemu
dan melakukan kolaborasi. “DI tempat ini, pelaku bisnis
TI dan broadcast baik dari kawasan Asia Pasifik maupun bagian
dunia lainnya, bisa berdiskusi dan mengembangkan peluang bisnis
baru secara bersama-sama,” tandasnya. Namun jika membandingkan
peserta pameran di CommunicAsia tahun ini, terlihat bahwa CommunicAsia
tahun lalu terasa lebih “heboh” dan padat. Mungkin
salah-satu alasannya adalah karena peserta pameran sudah lebih
banyak tersedot ke 3GSM Forum di Barcelona, Februari lalu. Apalagi,
peserta yang ikut berpameran juga adalah perusahaan-perusahaan
yang sama dengan yang hadir di Barcelona, misalnya saja Siemens,
Huawei, Motorola, ZTE, Ericsson, Samsung maupun LG. Sehingga tidak
mengherankan jika beberapa vendor yang sudah “habishabisan”
berpromosi di Barcelona, tidak nampak di negeri berlambang Merlion
tersebut.
Go International
Sementara dari paviliun Indonesia, ada 12
perusahaan berpromosi. Perusahaan itu adalah Pacific Wave, TelAccess,
Veelabs, Zahir Internasional, Compact Microwave, Biznet, AsriCitra/ApwKomitel,
M Stars, Jatis Solution, dan Ichtus Gala. Yang menarik adalah
dari Zahir. Peraih beberapa penghargaan Apicta ini, mencoba menjual
karya lokal ke dunia internasional. Adapun produk yang ditawarkan
adalah perangkat lunak akuntasi untuk yang bukan akuntan.
Yang ditawarkan Zahir, cukup banyak diminati. Walaupun tidak diperbolehkan
melakukan jual beli langsung saat pameran berlangsung, setidaknya
ada ada puluhan calon pembeli yang berminat terhadap software
karya negeri sendiri tersebut. Bahkan, sebenarnya banyak calon
pembeli yang ingin bertransaksi dengan menggunakan teknologi informasi
terkini, melalui internet. Hanya saja, sayangnya, mengingat infrastruktur
koneksi internet Indonesia yang masih terbilang lambat, banyak
pembeli yang kerepotan ketika harus men-download software yang
dimaksud karena lambatnya koneksi.
Selain vendor, hadir pula beberapa regulator negeri Jiran seperti
IDA Singapura dan MCMC Malaysia. Pengunjung bisa mendapatkan sejumlah
informasi aturan dan kebijakan mengenai telekomunikasi, TI dan
media dari regulator-regulator tersebut. Sayangnya, tak ada booth
yang menampilkan regulator sektor telekomunikasi, media ataupun
penyiaran dari Indonesia agar masyarakat internasional juga bisa
mendapatkan informasi mengenai kebijakan yang terkait telematika
di tanah air. Sampai bertemu kembali di CommunicAsia 2007.
(Heru
Sutadi dan Faizah Rozy, Singapura)