Dalam
terus menggalakkan penerapan TI, peran CIO terasa kian dibutuhkan.
Untuk mengatasi langkanya CIO, telah disiapkan program bea siswa
kerjasama Depkominfo dan STEI-ITB.
| |
|
|
Pembicara sedang memaparkan
makalah |
|
Para
CIO tengah menyimak pembicara yang
tengah menyampaikan makalahnya |
Selain
menggelar Konferensi Teknologi Informasi dan Komunikasi, eII
Forum 2007 juga menggelar Konferensi Internasional CIO (International
Conference on Chief Information Officer). Pada acara tersebut,
berbagai pembicara hadir, baik dari dalam maupun luar negeri.
Turut hadir pula para CEO perusahaan ternama seperti dari Hewlet
Packard, IBM, Bank Niaga dan lain-lain serta jajaran pejabat
pemerintahan yang memberikan pengalaman mereka soal CIO. Cahyana
Ahmadjayadi, Dirjen Aplikasi Telematika Depkominfo yang hadir
mewakili Menkominfo menghimbau Pemerintah Daerah (Pemda) untuk
membentuk lembaga Chief Information Officer (CIO) yang akan
berperan dalam merampingkan birokrasi dan mengefektifkan pelayanan
publik melalui e-government. Cahyana menuturkan peran CIO sangat
dibutuhkan di setiap institusi pemerintahan karena saat ini
instansi tidak dapat lepas dari pemanfaatan TI. “E-government
tidak terpisahkan dari pelayanan publik, jika CIO-nya sudah
terbentuk,” ujarnya seusai membuka konferensi.
Cahyana
Ahmadjayadi
Dirjen Aplikasi Telematika Depkominfo,
ketika memberi sambutan pada pembukaan Konferensi CIO.
Menurut Cahyana, e-government di Indonesia saat ini masih pada
tahap awal yaitu memperbaiki proses bisnis atau proses otomasi.
Ia mengungkapkan bahwa saat ini masih ada sekitar 20% Pemda
yang belum tersentuh TI, dan sudah sekitar 81% dari Pemda (tingkat
provinsi dan kabupaten/kotamadya) yang membangun situs web,
walaupun tidak seluruhnya aktif. Lebih jauh dia menjelaskan
pemerintah akan mengajak dan memberi pengertian secara persuasif
untuk meyakinkan arti penting CIO ke seluruh instansinya sebelum
melakukan konsolidasi dan mewajibkan.
Mengutip uraian Profesor Toshio Obi dari Jepang, Cahyana mengatakan,
peran CIO di semua sektor termasuk di pemerintahan mengacu pada
definisi baru yang mengacu pada empat peran yaitu informasi,
manajemen risiko, manajemen pengetahuan, dan investasi. Artinya,
lanjut Cahyana, CIO melakukan perampingan dan melakukan penyesuaian
jika terjadi perubahan bisnis atau birokrasi. “Misalnya
sistem pelaporan yang otomatis agar organisasi lebih ramping
dan efisien, seperti jumlah kementerian atau jajaran eselon.”
Sementara itu, Zhang Xhiali, seorang peserta konferensi dari
China mengatakan, event ini sangat bagus dan bisa menjadi awal
mula kerja sama berbagai negara. “Saya setuju kalau ini
dijadikan acara tahunan,” ungkap Zhang. Ia mengatakan
bahwa HRD CIO adalah hal terpenting bagi setiap negara. “Di
negara saya, CIO memerankan hal yang sangat penting di institusi
pemerintah. Sebagian besar adalah expert di bidang teknologi
dan pemimpin di pemerintahan,” lanjutnya. Zhang menambahkan
Departemen CIO di China bisa dibilang sangat IT minded. “Kami
punya dana untuk melakukan banyak program. Pemerintah China
memberikan perhatian yang besar terhadap legislasi informasi
di e-government. Saya rasa legislasi penting untuk informasi
dan e-government,”paparnya. Profesor muda ini juga menyatakan
bahwa keberadaan CIO di Indonesia memang baru, tapi bisa semakin
baik.
Indra
Utoyo
Direktur Teknologi Informasi
PT Telkom Tbk. sedang menyampaikan presentasi
Zhang juga menuturkan bahwa e-goverment
di China mengalami kemajuan yang sangat pesat dari tahun 1999
sampai sekarang. Saat ini hampir 100% institusi pemerintah sudah
memiliki website. Dan hampir semua layanan masyarakat di China
bisa diakses melalui website. Senada dengan apa yang dikatakan
Zhang Xhialin, Profesor Toshio Obi dari Waseda University Jepang
mengatakan bahwasanya CIO di Indonesia baru mulai. Dengan adanya
Dewan TIK Nasional sejak tahun lalu, ini merupakan sebuah langkah
besar bagi international society, apalagi ini langsung dipimpin
oleh Presiden. Ini akan menjadi visi yang sangat bagus untuk
menerapkan e-budgeting, implementasi proyek, dan lainnya dan
merupakan langkah besar untuk mengorganisasikan dunia. Ini diharapkan
akan memberikan pengaruh yang signifikan pada dunia TIK di Indonesia.
Obi menambahkan CIO di Jepang, sudah dimulai sejak enam tahun
yang lalu. Mungkin fungsinya sama di mana pun tapi pengalamannya
yang lebih banyak. Menyinggung soal penerapan e-government di
Jepang, kendala yang paling besar adalah birokrasi. Menurutnya
di sana setiap kementerian punya program sendiri-sendiri. Dan
Jepang mempunyai 20 kementerian. Karena terbatasnya pendanaan
untuk setiap proyek, maka kita membuat prioritas. “Maka
dari itu, setiap menteri berlomba untuk mendapatkan budgeting
yang bagus bagi kemeterian masing-masing,”ungkapnya.
“Konferensi internasional CIO yang diikuti oleh peserta
dari berbagai negara ini merupakan forum yang sangat bagus bagi
negara-negara di Asia, untuk bersamasama membahas perkembangan
TIK dan CIO bukan hanya di sektor swasta tapi juga di pemerintahan,”
demikian komentar salah satu pembicara dari Taiwan, Eric Y.
Chiang, seorang associate professor.
Bicara soal CIO di Taiwan, ia mengaku bahwa beberapa waktu yang
lalu tidak ada posisi CIO di pemerintahan Taiwan. Namun dewasa
ini, seiring dengan perkembangan teknologi dan pengalaman yang
diperoleh, posisi CIO semakin bertambah dan diperhitungkan.
Pada private sector, saat ini Taiwan mempunyai industri teknologi
informasi dan komputer yang kuat. Di setiap perusahaan TIK,
peran CIO sangat penting dalam membuat strategi maupun pada
departemen penjualan atau produksi. Saya rasa di Indonesia,
teknologi informasi dan komunikasi di Indonesia sedang berkembang.
Dan kami harap private sector di Indonesia, untuk selanjutnya
akan membuat langkah yang bagus dalam industri TIK.
|
|
|
|
Suhono
dan Obi, Presiden CIO Indonesia
dan
Jepang.
|
|
Penandatanganan
MoU beasiswa CIO antara Depkominfo dan STEI ITB. |
Francisco
A. Magno dari La Salle Institute of Governance Filipina juga
menganggap penting acara seperti konferensi CIO ini. Menurut
Francisco melalui acara seperti ini setiap peserta bisa belajar
dan sharing pengalaman berbagai negara termasuk bagaimana perkembangan
TIK dan CIO di Indonesia. “Di Filipina, kami bangga bisa
mewujudkan International Academy of CIO (IAC), kami juga berpartisipasi
dalam berbagai pertemuan CIO di luar negeri,”ujarnya.
Lebih jauh ia menuturkan bahwa di Filipina, pemerintah punya
Forum Government CIO yang di dalamnya mereka bisa bekerja sama
dengan universitas maupun dari private sector untuk membentuk
standar kompetensi CIO. Saat ini Pemerintah Filipina sangat
mendukung keberadaan CIO dengan adanya berbagai kebijakan yang
memberikan support besar bagi perkembangan CIO. Pembicara dalam
negeri yang juga ikut berkontribusi dalam konferensi CIO kali
ini adalah Indra Utoyo, direktur Teknologi Informasi PT Telkom
Tbk. Indra berpendapat CIO memiliki peran dalam mengeliminasi
kompleksitas dengan memilih teknologi yang bisa mendukung sasaran
itu. “Tidak dimulai dari teknologinya tetapi praktik manajemennya,”
ujarnya. Indra menambahkan, pemanfaatan TI di instansi pemerintah
saat ini masih berjalan sendiri-sendiri mulai dari unit-unit,
departemen, dan belum ke arah integrasi ke tingkat nasional.
Sementara itu, Paul S. Hasjim, executive vice president Head
of Operation & Information Technology Bank Niaga mengungkapkan
bahwa TI adalah partner bisnis kunci yang mampu menginspirasi
visi, dengan mengadopsi praktek Tata kelola IT standar dan mendapatkan
nilai bisnis melalui adaptive, secured, personalized, informative,
reliable dan efficient effective solutions (ASPIRE). Soal IT
Assurance, pada dasarnya keberhasilan dan kualitas layanan TI
direfleksikan dengan keefektifan penggunaan TI dalam bisnis.
Yang lebih penting adanya good alignment antara unit TI dan
bisnis.
Pertemuan ini memang penting, tapi yang lebih penting adalah
apa selanjutnya dan bagaimana komitmen peserta dan pemerintah
mengenai CIO. Tanpa komitmen, semua yang diomongkan hanya akan
menjadi wacana saja dan bahkan mungkin tidak ada artinya. Untuk
itu perlu ada sosialisasi dan kampanye CIO. Di antaranya disepakatinya
The Jakarta Statement dan pemberian beasiswa untuk para calon
CIO.
Untuk besiswa, Depkominfo dengan Sekolah Teknik Informatika
dan ElektroInstitut Teknologi Bandung (STIE-ITB) bekerja sama
untuk memberikan beasiswa program magister Chief Information
Officer (CIO). Beasiswa ini akan diberikan kepada 30 pegawai
negeri sipil, karyawan BUMN serta pegawai yang bekerja pada
bidang yang terkait dengan teknologi informasi dan komunikasi.
Dalam hal ini, ITB bekerja sama dengan Waseda University, Jepang.
“Program ini dipersiapkan untuk mengurangi kelangkaan
leadership TI baik di pemerintah pusat maupun daerah. Seleksi
Program rencananya akan dilaksanakan Mei dan Juni 2007,”
ujar Suhono.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------