Majalah e-Indonesia - Media ICT Wahana Merajut Nusantara


Silahkan mengisi bukutamu

Hubungi Kami


detiknas
sumatera digital
kabupaten sragen





Ingin berwisata ke Bogor,
Puncak, Cianjur dan
Sukabumi? tapi bingung me-
nentukan tempat mengi-
nap dan apa fasilitasnya?
Enggak usah bingung kini
telah hadir untuk Anda
Majalah Puncakview & Tabloid
Info Puncak sebagai media
pendamping Anda ber-
wisata bersama keluarga.
Untuk info miting, juga ada!
Klik disini lengkapnya.



EVALUASI TIK 2006
Telekomunikasi (Masih) Mendominasi

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Meski belum sesuai harapan, selama 2006, perkembangan TIK menunjukkan derapnya. Sektor telekomunikasi bersinar kinclong. Sejumlah regulasi baru digelontorkan. Namun masih perlu kerja keras mengingat masih banyak persoalan yang harus dituntaskan. Digital divide, salah satunya.

Siang itu suasana di lantai 13, Gedung Sapta Pesona, Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi, Jl. Merdeka Barat, 9 Februari lalu, terlihat cukup tegang. Lima operator besar—Telkom, Telkomsel, Indosat, Excelcomindo Pratama, dan Bakrie Telecom, tengah beradu nasib memperebutkan lisensi menyelenggarakan layanan seluler generasi ketiga (3G). Inilah lelang perdana untuk memenangkan pertarungan merebut primadona teknologi telekomunikasi tahun ini.

Satu per satu amplop penawaran dibuka. Hasilnya? Cukup mengejutkan. Telkomsel bertengger di urutan teratas dengan penawaran Rp 218 miliar. Disusul XL dengan Rp 188 miliar. Berikutnya, Indosat menawar Rp 160 milyar. Angka-angka penawaran tersebut terbilang cukup tinggi, dibanding floor price yang ditawarkan Rp 100 miliar untuk tiap blok sebesar 5 MHz.


Tiga operator telah meluncurkan 3G. Sebuah cerita sukses dalam perkembangan TIK selama 2006.

Singkatnya, pemasukan bagi negara cukup tinggi. Bagaimana tidak? Operator pemenang harus membayar up-front-fee sebesar dua kali harga penawaran—sementara Cyber Acess Communication dan Natrindo Telepon Seluler dikenai kewajiban price taking policy dengan membayar up-front-fee ‘hanya’ berdasar penawaran terendah. Belum lagi, setiap tahun mereka harus menyetor pundi rupiah ke negara untuk izin pita. Inilah sebuah cerita kesuksesan tersendiri terkait perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) di tanah air.

Pertumbuhan Telekomunikasi
Selama rentang satu tahun terakhir, boleh dibilang, geliat TIK di tanah air didominasi sektor telekomunikasi. Asal tahu saja, investasi industri telekomunikasi di Indonesia lebih dari Rp 30 triliun. Praktis, sektor ini berada di garda terdepan. Simak saja bagaimana pembangunan infrastruktur 3G begitu gesit. Akhir 2006, sebanyak 2 juta sambungan 3G telah beroperasi di lebih 12 kota di Indonesia. Artinya, negeri ini telah memasuki era pita lebar (broadband). Berbagai layanan dapat disalurkan melalui 3G. Di samping video call, video streaming, game interaktif, 3G dapat menyalurkan internet dengan kecepatan tinggi.

Melejitnya sektor telekomunikasi diakui Menkominfo Sofyan Djalil. Katanya, “Banyak sekali kemajuan yang telah kita capai dan indikasi kemajuan telekomunikasi sungguh luar biasa.” Kepada e-Indonesia, Sofyan merujuk sejumlah indikator. Penetrasi dan perkembangan telekomunikasi cukup tinggi. Begitu juga dengan investasinya, “Luar biasa peningkatannya,” ucapnya, mantap.
Laju sektor telekomunikasi membuat pelanggan seluler terus melonjak. Saat ini, seluler begerak telah mencapai sekitar 56 juta pelanggan, fixed tembaga 8,7 juta sambung dan seluler tetap (FWA) sebanyak 5,5 juta pelanggan. Sementara itu, laporan ITU World Telekom 2006 menunjukkan jumlah pelanggan seluler menyentuh angka 48 juta. Di sini Indonesia menduduki posisi ke 12 dengan jumlah pelanggan terbesar di dunia.

Budy Wahyu Jati
CEO Intel Indonesia


Sejalan dengan itu, pengguna internet menunjukkan perkembangan cukup baik. Angka pengguna internet di Indonesia kabarnya sudah menembus angka 20 juta. Tak pelak, perkembangan telekomunikasi membuat masyarakat kita yang berpunya, semakin dimanjakan dengan canggihnya teknologi ICT seperti WiFi, wireless communications, baik untuk HP maupun untuk berinternet ria.
Iya, secara keseluruhan TIK menunjukkan derapnya. Ini terjadi mengingat Indonesia mulai mengoptimalkan TIK. Tak hanya berkutat dengan telekomunikasi dan TI. Lebih dari itu TIK mulai bersingungan dengan konten bahkan penyiaran. Coba kita bedah lebih detail. Di dunia telekomunikasi, pemain baru seperti Bakrie dan Mobile 8 mulai unjuk gigi, meski dominasi tetap dipegang 4 pemain besar seperti Telkom, Telkomsel, Indosat, serta XL.

Melejitnya telekomunikasi selama 2006, menurut Koesmarihati anggota komite Badan Regulasi Telelekomunikasi Indonesia (BRTI), dipacu oleh berbagai faktor. Salah-satunya, dari sisi regulasi. Sebut saja: interkoneksi yang mewajibkan semua penyelenggara membuka interkoneksinya kepada penyelenggara lain, pengelolaan frekuensi yang lebih baik, pembebasan perizinan penggunaan frekuensi 2,4 GHz, hingga diperbolehkannya penyelenggara jaringan tetap lokal membangun seluler tetap (FWA) dengan mobilitas terbatas. Tidak ketinggalan, kehadiran BRTI sebagai penerima keluhan dari penyelenggara telekomunikasi yang berselisih –terutama dalam hal interkoneksi— turut membantu menuntaskan permasalahan di bidang telekomunikasi.

Imbas perkembangan telekomunikasi tentunya membawa dampak positif bagi perekonomian. Menurut staf ahli The Habibie Center, Umar Juoro, perkembangan ekonomi pada sektor telekomunikasi, paling tinggi dalam tiga tahun terakhir. Pertumbuhannya di atas 10% terus. Jadi secara ekonomi, TIK merupakan satu-satunya sektor yang selalu tumbuh cukup tinggi. “Dan kalau di lihat dalam beberapa tahun ke depan TIK masih merupakan leading sektor dari bidang ekonomi yang difasilitasi sektor telekomunikasi,” urainya. Sofyan juga memperkirakan di tahun 2007, sektor telekomunikasi tetap masih dominan.

Ditambahkan Umar Juoro, ada beberapa indikator yang menguatkan prediksinya. Pertama pertumbuhan dari sektor telekomunikasi, sekitar 12% pada triwulan ketiga pada 2006. Kedua, pelanggan dari telepon seluler yang sudah mencapai 50 juta lebih dan menjangkau kepada lapisan masyarakat, mulai dari yang berpendapatan tinggi sampai terendah, dari kota sampai desa. Ketiga, berkaitan dengan refleksi dari dunia bisnis itu sendiri. “Misalnya operator, investor, bahkan kalau di lihat di pasar modal saham-saham di sektor telekomunikasi masih tergolong tinggi dan diminati,” kata ahli ekonomi yang pernah menjadi penasehat ekonomi presiden saat B.J. Habibie berkuasa ini.

Percepatan Teknis dan Policy

Sejatinya, bukan hanya telekomunikasi, yang berderap di blantika TI. Industri di luar itu, juga menunjukkan perkembangan. CEO Intel Indonesia Budi Wahyu Jati secara lebih fokus mengamati industri TIK di luar telekomunikasi. Di sini, ada beberapa hal yang disimak. Misalnya, kata dia, adopsi TIK untuk bisnis maupun perumahan meningkat. Bahkan, di lingkungan bisnis penggunaannya sudah melebar ke perusahaan kecil dan menengah. Walau, kata Budi, “Masih belum sama intensifnya seperti di perusahaan besar.”

Irfan Setiaputra
Managing Director Cisco System Indonesia


Sayangnya, lanjut Budi, kemajuan di sektor di luar telekomunikasi tidak tersedia data kuantitatif yang dapat mengukur kemajuan tersebut. “Agak sulit,” tukasnya. Pasalnya, TI tidak seperti telekomunikasi yang data kuantitatifnya bisa didapatkan dari lapangan dengan mudah. Misal di dunia seluler, berapa banyak pengguna telepon seluler dapat dihitung dengan pendekatan statistik dari berapa banyak nomer seluler yang terjual. Atau pelanggan internet dapat dianalisa dari jumlah pelanggan di semua ISP. Sedangkan di dunia TI, belum tersedia data berapa banyak jumlah pengguna PC dan notebook dan server. Kalaupun ada, menurut Budi, datanya berwujud penjualan PC dan notebook, yang didapatkan dari perusahaan survai atau melakukan survai sendiri.

Lain Budi, lain pula pendapat Irfan Setiaputra, managing director Cisco Systems Indonesia. Meski secara umum ada perubahan yang signifikan, namun Irfan melihat penggunaan TI di industri lain justru terjadi penurunan cukup tajam. “Terutama di sisi sektor perbankan. Terjadi penurunan yang cukup drastis pada belanja TI,” ungkapnya. Toh, ia tidak memungkiri adanya fenomena baru terkait pemanfaatan TI. Di 2006, perkembangan yang sangat menarik adalah mulai banyaknya perusahaan yang menggunakan TI telepon. “Dibanding satu, dua tahun yang lalu, beberapa perusahaan masih malumalu. Sekarang, kita memiliki banyak customers yang bergerak atau memanfaatkan telepon IP,” ujarnya.

Yang tak kalah seru, terobosan Presiden Susilo Bambang Yudhono mendeklarasikan Dewan Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional (DTIKN). Hampir semua komunitas TI, menyambut baik langkah ini. Gebrakan ini dinilai bakal mempercepat roda perkembangan TIK di tanah air. Eddy Satriya, Deputy for Infrastructure and Regional Development Kantor Menko Perekonomian, menuturkan, adanya DTIKN merupakan satu milestone. “Tetapi sayang kemajuan yang ada cuma itu,” kritiknya. Maksudnya? “Dalam arti kemajuan itu hanya menjadi milestone sekaligus sebagai penanda kemajuan di bidang TIK. Sementara di subbidang lain seperti regulasi, pembangunan jalan, tarif, tidak terlalu menggembirakan,” begitu penjelasan Eddy seraya berpendapat bahwa di masyarakat maupun di kalangan pemimpin, rasa awareness terhadap TIK juga belum meningkat secara signifikan......

(Baca lengkapnya di majalah)

KEMBALI  l  KE ATAS


-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------


HOME
  l  EDISI  l  ARTIKEL  l  E-DAERAH  l  EVENT  l  IKLAN