Majalah e-Indonesia - Media ICT Wahana Merajut Nusantara
 

APLIKASI AWAN

Cara Hemat Menjalankan Bisnis Penerbangan

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Berbasis web, aplikasi AWAN bisa mengefisienkan biaya operasional dan proses bisnis berlangsung lebih cepat. Selain itu, aplikasi yang bisa digunakan di daerah yang infrastruktur belum baik ini, bisa mengetahui pendapatan dengan cepat melalui online revenue accounting.

Saat ajang Asia Pacific ICT Award (APICTA) 2005 digelar di Thailand, aplikasi sistem resevasi airline bertajuk AWAN (Advanced Web Airlines Network) tidak lolos sebagai pemenang. Toh kegagalan ini tidak menyiutkan nyali Sudjiwo Husodo selaku managing director PT Sqiva, perusahaan yang membuat aplikasi tersebut, untuk menjajal kembali di ajang serupa tahun berikutnya yang digeber di Macau. Hasilnya? Beradu di kategori Start-Up, PT Sqiva lolos sebagai salah satu pemenang dengan menyandang gelar Merit Winner (Diberikan kepada produk yang mendapat nilai tidak kurang dari 95% dari nilai yang diberikan kepada Award Winner)

Sudjiwo Husodo
Managing Director PT Sqiva.


AWAN sepenuhnya dibuat berbasis web, dengan mempergunakan security Verisign, sehingga peru-sahaan penerbangan dan agen dapat langsung mempergunakan sistem melalui internet dengan aman. “Kelebihan web-based sistem adalah tidak memerlukan band-width besar dibandingkan dengan client-based system yang sering dipergunakan oleh low cost carier (LCC) yang ada,” terangnya. Sehingga, lanjut Sudjiwo, sistem ini tidak menjadi masalah untuk dipergunakan di daerah yang infra-strukturnya kurang baik seperti Indonesia Timur, Indochina Apalagi di negara maju, nyatanya system Sqiva ini dipergunakan oleh airline di Korea, dan travel agent di Jepang.

Masih kata Sudjiwo, selain fungsi distribusi pada sisi airlines, Sqiva AWAN menyediakan fungsi yang cukup lengkap untuk meningkatkan efisiensi bagi mereka yang terjun ke bisnis penerbangan komersil. Melalui fungsi seat inventory yang lengkap, aplikasi ini bisa mendukung keperluan multileg dan connecting flights airlines. “Dengan adanya fungsi multicurrency fare, dengan sendirinya AWAN menjalankan fungsi e-ticket.” Selain itu, sistem reservasi AWAN dilengkapi DCS (Departure Control System) dan online revenue accounting, untuk keperluan proses back-office. Dengan begitu, pendapatan yang diperoleh maskapai penerbangan dapat diketahui dengan cepat.

Dengan berbasis web, menurut Sudjiwo, sistem ini dapat digunakan secara mudah. Pihak penerbangan hanya menyediakan hardware dan jaringan. “Selain itu, aplikasi dilakukan secara terpusat dan mudah diakses oleh siapa saja tidak hanya maskapai penerbangan tetapi juga agen perjalanan,” paparnya lagi. Pendeknya, dengan AWAN, agen bisa langsung mengakses via internet dan mengetahui batas penjualan. Untuk penumpang, mereka bisa melaukan e-ticketing, dan pembayaran secara online

Memadukan Tradisional dan LCC System
Mengacu cara kerja AWAN, praktis aplikasi ini membuat agen perjalanan dan maskapai penerbangan meninggalkan cara-cara konvensional. Ambil contoh, sebelumnya agen hanya menggunakan aplikasi komputer secara manual, tanpa jaringan. Disini data-data penumpang hanya dimasukkan dalam program excel. Berikutnya, komunikasi antar-agent dan maskapai penerbangan dilakukan via telepon. Praktis, biaya komunikasi menjadi tinggi dan transfer data berjalan lambat. “Dengan AWAN, biaya komunikasi bisa ditekan,” ujarnya berpromosi.

Dituturkan pria yang hobi golf ini, mengacu kelebihan AWAN, aplikasi tersebut mampu mengakomo--dasikan kebutuhan tradisional system dan LCC system di dunia bisnis transportasi udara. “Sistem ini mampu memecahkan dilema antara kedua sistem tersebut dan inti dari sistem ini adalah perubahaan paradigma traditional system dan low cost carrier system,” tukasnya. Sebagai gambaran, ticketing airlines sendiri dari waktu ke waktu mengalami perubahan. Awalnya, komputerisasi Sistem Reservasi (Computer Reservation System) dibuat pada tahun 1964 oleh Saber untuk dipergunakan perusahaan penerbangan. Saat itu bila hendak booking, agen harus menghubungi airline. Nah, mengingak 1976, dibuat Global Distribution System (GDS) sehingga para agen dapat langsung melakukan booking ke sistem airline tanpa perlu menelepon pihak airline.

Menapak 1990-an, Amerika memulai konsep baru yaitu LCC dengan tujuan memangkas hal-hal yang berdampak biaya tinggi. Di sini LCC dapat menjual tiket jauh lebih murah dibandingkan traditional airline. Pasalnya, LCC tidak mempergunakan traditional CRS system yang identik dengan mahal. Perusahaan penerbangan juga tidak mempergunakan GDS system. Alhasil, mereka tidak perlu mengeluarkan biaya GDS dan komisi agen.

Gebrakan tersebut membuat lebih dari 80% tiket LCC di Amerika Serikat dijual melalui internet. Sayangnya, LCC di Asia Pacifik yang bermunculan pada tahun 2000-an, responnya tak sebagus di negara Paman Sam. Artinya, LCC di Asia Pacifik tetap harus bergantung kepada agen untuk penjualan tiket. Imbasnya, perusahaan penerbangan di Asia Pacifik mengalami kesulitan memilih sistem. Apabila mempergunakan sistem reservasi traditional, identik dengan biaya tinggi. Sebaliknya, perusahaan penerbangan juga tidak dapat mempergunakan LCC sistem model Amerika yang kurang mendukung sistem distribusi agen. Di sinilah, menurut Sudjiwo, AWAN bisa menjadi solusi. Pasalnya, Sqiva dapat mengakomodasikan kebutuhan distribusi melalui travel agent yang diperlukan oleh airlines dengan biaya yang jauh lebih rendah dibanding legacy system.

Di tengah kompetisi persaingan bisnis penerbangan yang semakin sengit, menurut Sudjiwo, penerapan AWAN bisa menciptakan efisiensi dari sisi cost, waktu maupun kinerja secara keseluruhan. Selain itu, walau sebagai sistem yang baru namun kehadiran Sqiva Awan dapat dipadukan dengan sistem sebelumnya tanpa merusak sistem sebelumnya. Kemudahan lain, pengguna tidak memerlukan waktu lama untuk menguasai sistem tersebut. “Latihan paling cepat satu minggu dan paling lama satu bulan,” jamin Sudjiwo. Sejauh ini, bukti keampuhan dari Sqiva Awan telah dibuktikan oleh maskapai seperti Air Efata (Indonesia), Royal Khmer Airlines (Kamboja), dan PMT Air Korea (Korea Selatan).

(Ardi Winangun)

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Kembali Ke Daftar Isi