| |
Departemen Teknik Elektro ITB dan
ICT Institute awal Mei lalu menggelar Konferensi Nasional e-Indonesia
Initiatives 2005. Konferensi ini menjadi forum komunikasi antar
peneliti, penggiat, birokrat pemerintah, pengembang sistem, kalangan
industri, dan seluruh komunitas teknologi informasi komunikasi di
Indonesia. Konferensi ditutup dengan digelontorkannya Dasa Sila
Teknologi Informasi dan Komunikasi Bandung.

Sejuknya udara
pagi di Kota Bandung merupakan sambutan tersendiri bagi kerumunan
orang yang berkumpul di Aula Barat Institut Teknologi Bandung (ITB).
Mereka adalah insan-insan yang yang berasal dari berbagai elemen
perguruan tinggi, pemerintahan, industri, pengusaha, peneliti dan
masyarakat umum lainnya yang hadir dalam kegiatan Konferensi Nasional
“Teknologi Informasi dan Komunikasi untuk Indonesia (ICT for
Indonesia)” yang digelar 3-4 Mei 2005. Berdasarkan informasi
panitia penyelenggara, besarnya animo dari para penggiat dan pemerhati
ICT sungguh di luar dugaan. Bayangkan, panitia menargetkan peserta
konferensi ini 300 orang, yang datang ternyata hampir dua kali lipat
dari jumlah tersebut.
Konferensi nasional ini merupakan ajang kedua yang diselenggarakan
oleh eii, setelah sebelumnya hajat serupa pernah digelar pada 2003.
Khusus gelaran tahun ini, eii lebih fokus pada Deklarasi Komunitas
ICT yang berujung pada harapan akan terciptanya bangsa Indonesia
yang berpengetahuan dan pengimplementasian ICT di sendi kehidupan
berbangsa dan bernegara. Suhono Harso Supangat selaku ketua umum
Konferensi eii, mengharapkan dengan adanya konferensi ini akan memunculkan
terobosan bagi Indonesia agar dapat secara efektif mempercepat pendayagunaan
ICT yang poten-sinya sangat besar. “ICT dapat diperankan sebagai
enabler dalam pembangunan pemerintahan yang bersih, transparan,
dan bertanggung jawab,” ujar dosen ITB ini.
Pada hari pertama konferensi, selain adanya sambutan dari Suhono,
Yusep Rosmansyah juga memberikan sambutannya sebagai Ketua Panitia
Pelaksana, disusul dengan sambutan Rektor ITB Djoko Santoso. Kemudian
sebagai Keynote Speech I, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mem-berikan
pidatonya melalui fasilitas video-conference sekaligus
membuka secara resmi konferensi yang menghadirkan 90 pemakalah ini.
Pada sesi ini, panitia memberikan kesempatan bagi para peserta yang
ingin berdialog secara langsung dengan presiden melalui media yang
difasilitasi oleh PT Telkom tersebut. Dialog dua arah ini disiarkan
secara online ke sebelas negara anggota School of The Internet
(SOI) yang bekerja sama dengan program WIDE Project di antaranya,
Bangladesh, Nepal, Thailand, Myanmar, Laos, Vietnam, Singapura,
Malaysia, Mongolia, Filipina, dan Jepang. Selepas itu, Menkominfo
Sofyan Djalil yang berperan sebagai Keynote Speech II juga memberikan
sambutan dan penghargaan bagi Adrian Kristianto Poernomo dan Pascal
Alfadian, mahasiswa Indonesia yang berhasil memenangkan ajang program
komputer skala internasional “The Google Code Jam 2005”.
Masuk ke sesi berikutnya adalah pembahasan tematik E-government
Summit I yang menghadirkan Sodjuangon Situmorang (Dirjen Adminduk
Depdagri) yang diwakili oleh Wahyudi membahas “Sistem Informasi
Adminduk sebagai Basis Data Kependudukan Nasional dengan Sarana
Menuju Tertib Adminduk Indonesia”; Djoko Agung Harijadi (Kominfo)
membahas “Blueprint Aplikasi E-government Pemerintah Daerah”;
“Strategi untuk IT Governance pada Pembangunan E-government”
oleh Suhono S. Supangat (ITB), dan “Implementasi Teknologi
Informasi dalam Penyelenggaraan Pemerintahan di Kabupaten Bekasi”
oleh Tony Sukasah dan Saleh Manaf (Pemkab Bekasi). Dilanjutkan dengan
sesi E-government Summit II yang menghadirkan Hadwi Soenjoyo (Kominfo),
Asianti Oetoyo (BPDE Jatim), Yudo Sudarto (KPDE Ketapang), Nandi
Suryakandi (Pemkot Bekasi), J. Suraj Djumadal (Propinsi D.I. Yogyakarta).
Konferensi hari pertama ini ditutup dengan sesi Aplikasi e-Indonesia
I yang menghadirkan Suharno (Direktur PBB & BPHTB Dirjen Pajak
RI) yang membahas tema “Menuju Terciptanya Single Identity
Number di Indonesia”; Zainal A. Hasibuan dan Harry B. Santoso
(Universitas Indonesia) membahas “Standar Aplikasi E-government
untuk Intansi Pemerintah”; Diaz Rossano (Universitas Gadjah
Mada) membahas “Penerapan E-government dalam Pemasaran Wilayah,
Studi Kasus: Pemasaran Wilayah Propinsi DIY”, dan Zainudin
Abdul Hamid (Kabupaten Bima) beserta Djajoesman (Kabupaten Brebes),
dengan pembahasan makalah tentang pemanfaatan teknologi informasi
komunikasi pada daerah yang dikelolanya. Esoknya, pada konferensi
hari kedua digelar berbagai seminar maupun presentasi produk yang
sifatnya optional.
Seluruh peserta tidak dikumpulkan dalam satu ruangan seperti konferensi
pada hari sebelumnya. Mereka dipersilahkan memilih pembahasan yang
paling diminati, karena dalam waktu yang bersamaan digelar berbagai
presentasi makalah maupun produk di berbagai lini, yakni Aula Barat,
Aula Timur I, Aula Timur II, Aula Timur III dan Aula Timur IV. Misalnya,
untuk pembahasan Aplikasi e-Indonesia II yang menghadirkan beberapa
praktisi seperti Umar Alhabsyi (Multimedia Solusi Prima), Mesna
Silalahi dan Yan Rianto (PAPP Iptek–LIPI) dan Andi Djalal
Latief (IPTEKnet, BPPT) digelar di Aula Timur IV. Dalam waktu yang
bersamaan juga digelar pembahasan ICT for Education, yang menghadirkan
praktisi teknologi dan edukasi seperti Ary Syahriar (BPPT), Bambang
Pharmasetiawan (Yayasan Budaya Cerdas), dan Richardus Eko Indrajit
(Harvard University) di Aula Timur II. Sedangkan Aula Timur III
sedang bergulir wacana ICT Infrastruktur, dan Aula Barat dengan
ICT Application.
Jadi, dalam hari terakhir konferensi, beberapa tematik makalah digelar
dalam waktu bersamaan dengan pembicara dan tempat yang berbeda seperti,
Good Corporate Governance, Emerging Technology, dan
ICT Strategies. Dengan adanya seminar serentak ini, beberapa
peserta tampak kebingungan memilih tema seminar yang ingin dihadirinya.
“Saya ingin menyimak ICT for Education tapi saya juga tertarik
dengan ICT Infrastruktur yang ada di Aula Timur III. Bikin bingung
aja,” keluh Danu, mahasiswa Pascasarjana UGM. Tetapi di tengah
rasa bingungnya itu, Danu mengaku dapat keun-tungan tersendiri dengan
menghadiri konferensi ini. “Konferensi ini benar-benar bermanfaat
untuk data tesis S-2 saya,” ujarnya.
Menjelang sore, peserta konferensi kembali berkumpul di Aula Barat
untuk mendengarkan laporan penutup dari Suhono Harso Supangkat.
Kemudian bergulir ke pembacaan Dasa Sila Teknologi Informasi dan
Komunikasi Bandung. Isi deklarasi tersebut merupakan bentuk hasrat
dan komitmen kalangan peduli ICT —tidak terbatas pada peserta
maupun pembicara konferensi— untuk membangun persatuan masyarakat
yang terbuka dan berorientasi kepada pengetahuan. Di mana masyarakat
dapat menciptakan, mengakses, menggunakan serta saling berbagi ilmu
pengetahuan. Semoga saja deklarasi ini berjalan sesuai harapan dan
bukan cuma sekadar lips-service.
(Chandra
Wirawan).
|
|