Kini saatnya perusahaan asuransi memanfaatkan teknologi informasi
dan komunikasi untuk menunjang kelancaran proses bisnis mereka.
Perkembangan yang terjadi di dalam teknologi telekomunikasi –terutama
sekarang sudah ke arah konvergensi—dapat membuat bukan hanya
perusahaan asuransi yang menikmati kemudahan, tetapi masyarakat
pun semakin nyaman dengan layanan yang cepat, mudah, dan transparan.
Tawaran untuk mengajak Ferry ikut polis asuransi
sudah sering datang.
Toh ia tetap tak bergeming. Bejibun
tawaran untuk ikut asuransi --dengan segala macam kelebihannya
– sedikit pun tak membuat hati Ferry luluh. Ia tetap menolak
menjadi nasabah dan memiliki polis. Sebagai kawan dekatnya, nyaris
dalam berbagai kesempatan, saya sudah mencoba membuka wawasannya
tentang keuntungan jika mengantongi polis asuransi. Tapi ya itu
tadi, ia tetap tak bersemangat. Malah apa yang saya sarankan sepertinya
masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri. Saya pun menyerah.
Akhirnya, dalam satu kesempatan, saya mengetahui mengapa sohib
saya itu bersikap demikian. Ceritanya, suatu hari saya tergeletak
di rumah sakit. Dokter memvonis bahwa saya menderita paru-paru
basah akibat bekerja siang malam di ruang berpendingin. Padahal
asap rokok terus mengepul di ruang kerja berukuran 5 x 5 meter
itu. Maklum, tak nikmat rasanya bekerja di depan komputer tanpa
ditemani rokok.
Semula saya berpikir bahwa semua berjalan lancar. Soal biaya,
tak perlu khawatir. Saya tidak akan mengeluarkan uang seperak
pun untuk biaya rumah sakit lantaran semua bakal ditanggung pihak
asuransi. Tapi apa yang terjadi? Ternyata tak seperti yang saya
bayangkan. Selesai dirawat, saya justru harus merogoh kocek dari
kantong sendiri untuk membayar biaya perawatan lantaran pihak
asuransi menganggap sakit yang saya derita ada hubungannya dengan
penyakit sebelum saya terikat polis asuransi. Marah dan kecewa,
sudah pasti itu yang saya rasakan. Apalagi ketika pertama kali
mengambil polis asuransi kesehatan, tidak ada pemberian informasi
secara lengkap dan rinci. Tidak ada penjelasan dari pihak perusahaan
asuransi bahwa bila ada kaitan dengan penyakit sebelum kita bergabung
dengan pemegang polis, biaya perawatan tidak akan diganti. Yang
disodorkan adalah ketika sakit, kita akan terbebas dari biaya
rumah sakit. Itu saja.
Ketika saya menceritakan pengalamat pahit itu kepada Ferry, ia
tersenyum kecut sembari berkata, “Saya punya pengalaman
buruk juga dengan asuransi. Setali tiga uang, apa yang saya alami
juga terjadi pada orang tua saya. Tragisnya, usai kematian orang
tuanya, ia masih harus mencicil hutang biaya rumah sakit ke kantornya
akibat ketidakjelasan soal biaya yang ditanggung pihak asuransi.
Praktis, peristiwa getir itu menyebabkan teman sekarib saya sejak
SD itu tak percaya dengan asuransi model apa pun. Baginya asuransi
tak lebih dari sebuah penipuan.
Pemanfaatan
Teknologi Informasi
Sebenarnya tak sedikit orang yang traumatis dengan asuransi. Sudah
bukan rahasia lagi, jika pihak asuransi bersikap manis di muka
tetapi pahit di belakang. Pasalnya, mereka acapkali tidak menjelaskan
apa yang semestinya diketahui nasabah. Malah kadang informasi
yang semestinya patut diketahui oleh calon nasabah sebelum mengambil
keputusan untuk bergabung, justru ditutup-tutupi. Pendeknya, tidak
ada transparansi informasi.
Stigma buruk terhadap perusahaan asuransi tentunya tak bisa dibiarkan.
Tidak ada cara lain untuk bisa menarik hati masyarakat kecuali
mereka yang berkecimpung di bisnis ini harus memperbaiki berbagai
image buruk yang terlanjur tersebar di masyarakat. Langkah
awal adalah melakukan perbaikan interen. Di sini, harus ada ketegasan
sikap untuk tidak mencederai komitmen mereka sendiri kepada pemegang
polis. Bila perlu, jadikan budaya yang mengakar di setiap pegawai
asuransi.
Terobosan internal lain yang tak kalah penting adalah meningkatkan
kualitas layanan kepada nasabah. Di tengah persaingan bisnis asuransi
yang kompetitif, tidak ada lagi pelayanan yang rumit, apalagi
berbelit-belit. Tidak ada salahnya bila perusahaan asuransi mulai
menggunakan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) untuk membuat
layanan menjadi cepat, mudah, dan transparan. TI bisa dimanfaatkan
mulai dari membuat database nasabah, menyediakan sarana interaksi
yang mudah dan cepat antara pihak asuransi dengan nasabah, hingga
penyebaran informasi penting baik via internet maupun via sarana
telekomunikasi seperti
handphone. Sehingga semuanya bisa
transparan. Berikan informasi yang sejelas-jelasnya kepada nasabah
apa keuntungan yang akan diraih dan apa syarat yang harus dipenuhi
serta berapa biaya yang mesti ia keluarkan.
Ada satu contoh perusahaan asuransi yang sudah memanfaatkan TIK
dan terbilang sukses. NTUC Income --perusahaan asuransi asal Singapura--
telah mengubah 40 juta halaman data yang dimilikinya ke dalam
bentuk dokumen elektronik yang juga bisa diterima sebagai bukti
di pengadilan. Data yang telah terdigitalisasi itu membuat perusahaan
tersebut dapat menghemat US$ 6 juta per tahun. Penghematan didapat
dari proses pekerjaan yang tidak memakai kertas lagi
(paper
less).
James Kang, CIO
(Chief Information Officer) NTUC Income,
juga melakukan terobosan dengan membuat pusat pelayanan komunikasi
kepada pelanggan, yang disebut pusat telepon
(contact centre).
Adanya pusat telepon benar-benar memanjakan dan menghargai nasabah.
Bagaimana tidak, setiap telepon dari nasabah segera dijawab atau
setidaknya paling lama dalam tiga kali dering, telepon sudah dijawab
oleh petugas. Di kantor ini, diharamkan menjawab telepon hingga
empat kali dering atau lebih. Alhasil, bila nasabah memerlukan
informasi, mereka tak perlu menunggu lama.
Yang tak kalah menarik, para nasabah disapa dengan sebutan nama,
bukan nomor keanggotaan. Lantas dari mana mereka mendapat nama
begitu cepat, padahal si penelepon belum menyebutkan namanya?
Itulah gunanya data digital. Berbekal data digital, setiap telepon
yang berbunyi langsung terakses dengan data elektronik sehingga
operator yang menerima telepon dapat segera mengetahui nama penelepon.
Dalam kondisi yang sudah bisa konvergensi saat ini, foto si penelepon
pun bisa langsung tampil di layar. Kelebihan lain, petugas juga
dapat melihat atau mengecek perkembangan nasabah dari data yang
ditayangkan di layar komputer. Misalnya data mengenai penambahan
potensi asuransi dari anggota keluarga yang bertambah usia. Nah,
dari data ini dapat ditindaklanjuti oleh agen untuk proses pemasaran
lebih lanjut. Si agen dapat segera menelepon kliennya untuk menggarap
potensi asuransi yang ada di dalam keluarga mereka.
Sebetulnya kemudahan tidak hanya didapat oleh perusahaan asuransi,
nasabah pun akan mendapatkan banyak keuntungan. Bayangkan, seorang
nasabah akan dengan mudah mendapatkan informasi berapa lama lagi
masa polisnya hanya dengan mengirim sms. Atau bila nasabah ingin
mendapatkan informasi rumah sakit mana saja yang mengcover biaya
rawat inapnya, ia cukup mengirim sms, dan pihak asuransi bisa
mengirim informasi lengkap dengan alamat, nomor telepon rumah
sakit, bahkan kalau si penerima telepon sudah memakai jaringan
3G, bisa dikirim sekaligus gambar rumah sakitnya. Jika semua kemudahan
itu digarap dengan baik, ini bisa menjadi ladang bisnis baru bagi
perusahaan asuransi tersebut. Bayangkan jika dalam mendapatkan
informasi si nasabah harus membayar biaya tertentu, bukankah ini
bisa merupakan pemasukan pundi-pundi buat perusahaan. Ketimbang
operator seluler sibuk memikirkan konten, bukanlah ini merupakan
ceruk yang bisa digarap bersama antara perusahaan asuransi dan
perusahaan operator seluler kita.
Dukungan
Aturan dan Perubahan Sikap
Sejatinya, masih banyak lagi manfaat bila pihak asuransi mau menggunakan
TIK. Apalagi perkembangan TIK telah memasuki konvergensi berbagai
sarana sehingga lebih memudahkan nasabah mengakses informasi.
Kondisi ini juga memudahkan pihak asuransi berinteraksi dengan
nasabah sekaligus menggarap pasar.
Namun satu hal yang tidak boleh dilupakan, berbagai terobasan
tadi harus dibarengi dengan aturan yang jelas, lengkap, dan tegas.
Jangan sampai sistem yang sudah bagus terbengkalai lantaran tidak
adanya dukungan aturan. Selain itu, perubahan sikap termasuk cara
bekerja harus dilakukan. Tidak saja di jajaran top management,
namun hinga ke petugas lapangan yang langsung bersentuhan dengan
nasabah. Bila hal ini dilakukan, bisa dipastikan bahwa asuransi
bisa ditempatkan sebagai suatu kebutuhan dan bermanfaat untuk
umat manusia.
Di negara maju –tempat asuransi sudah menjadi kebutuhan—
masyarakatnya tidak bisa melakukan apa pun tanpa dukungan polis
asuransi. Bahkan, nyaris banyak hal harus didukung dengan asuransi.
Orang sakit yang akan berobat disyaratkan pihak rumah sakit memiliki
polis asuransi kesehatan. Mereka pun tak akan bisa libur jauh
jika rumah tidak diasuransikan. Bagaimana dengan negara kita?
Asuransi belumlah menjadi kebutuhan wajib. Nah, dengan memanfaatkan
TIK, tahapan untuk menuju ke sana setapak demi setapak bisa terwujud.
Dan untuk melakukan perubahan dan berbenah diri sehingga membuat
kondisi menjadi kondusif, sekiranya pihak asuransi tak perlu menunggu
uluran tangan pemerintah.
Akhirnya, tidak ada pilihan lain, sudah saatnya bisnis asuransi
melakukan perubahan manajemen dengan memanfaatkan TIK. Sekali
lagi, patut diingat, persaingan yang kompetitif termasuk makin
banyaknya pemain dari luar negeri, dengan sendirinya bakal menggusur
mereka yang menelantarkan nasabah dan tidak menyuguhkan layanan
berkualitas. Apalagi masyarakat kita lambat laun lebih jeli memilih.
Mereka tahu dengan siapa mereka harus bergabung sebagai nasabah.
Kecanggihan TIK akan membuka mata mereka mana perusahaan asuransi
yang berkualitas yang dapat mensejahterakan kehidupan mereka.
(Andy Zoeltom)
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------