Majalah e-Indonesia - Media ICT Wahana Merajut Nusantara  
 


    Artikel Sumatera Pulau Digital Edisi No. 26 (2)
Ramai-ramai Menuju e-Library
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Terobosan untuk membuat Perpustakaan Digital sudah mulai dilakukan. Makin banyak pihak membangun perpustakaan digital, e-library akan cepat terealisasi.

Pernah berkunjung ke perpustakaan nasional? Sepertinya, tidak semua orang mempunyai kesempatan untuk bertan-dang ke perpustakaan yang terletak di Jalan Salemba Raya Jakarta Pusat ini. Maklum waktu dan jarak kerap menjadi kendala, selain –tentu— apakah Anda mempunyai kepentingan atau tidak untuk berkunjung ke sana. Nah, bila Anda ingin mengetahui koleksi yang dimiliki Perpustakaan Nasional, kini tidak perlu repot berkunjung ke sana.

Cukup melongok ke website www.pnri.go.id, pengunjung bisa menggunakan fasilitas katalog online berjenis WebPAC (web online public access cataque). WebPAC adalah katalog online berbasis web sehingga dapat diakses dari manapun dan kapan pun dengan menggunakan aplikasi browser. Di sini, pengunjung cukup memasukkan kata kunci di http://opacs.pnri.go.id. Selanjutnya beragam informasi bisa diunduh baik berbasis full text, image, audio, dan video klip serta informasi sesuai topik yang dicari. Selain WebPAC, terdapat OPAC (online public access catalogue) yakni katalog online yang dapat dilihat dengan menggunakan perangkat komputer. Fasilitas ini hanya bisa diakses di gedung perpustakaan.

Masih terkait dengan pencarian katalog, setiap lantai gedung Perpustakaan Nasional kini telah dilengkapi dengan terminal untuk mencari buku. Terhitung 2007, setiap ruang juga dilengkapi dengan hotspot gratis. Terkait dengan naskah, tak luput juga dari pembenahan. Kini, Perpustakaan Nasional tengah mendigitalkan koleksi manuskripnya. “Kami punya sekitar sepuluh ribu eksemplar manuskrip atau naskah kuno. Ini koleksi langka dan semuanya merupakan tulisan tangan dalam bentuk lontar, kulit kayu, kulit binatang dan lain-lain,” terang Dady P. Rachmananta, kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI). Adapun kontennya bermacam-macam. Begitu juga dengan tulisannya juga beragam seperti bahasa Arab, Jawa Kuno Honocoroko, Bali dan lain-lain. Pendeknya, Perpustakaan Nasional hendak menanggalkan diri sebagai perpustakaan konvensional.

Fasilitas yang ada
di Perpustakaan Nasional, Jakarta.


Apa yang tengah dilakukan Perpustakaan Nasional tak lain hendak menuju ke e-library (perpustakaan digital). Seperti diketahui, perpustakaan digital merupakan perpustakaan yang menyimpan data baik buku (tulisan), gambar, maupun suara dalam bentuk file elektronik dan mendistribusikannya dengan menggunakan protokol elektronik melalui jaringan komputer. Praktis jenis perpustakaan ini berbeda dengan jenis perpustakaan konvensional yang menyimpan kumpulan buku tercetak, film mikro (microform dan microfiche) ataupun kumpulan kaset audio, video, dan sebagainya. Sementara itu perpustakaan digital menampung koleksinya berada dalam suatu komputer server yang bisa ditempatkan secara lokal, maupun di lokasi yang jauh namun tetap dapat diakses dengan cepat dan mudah lewat jaringan komputer maupun internet.
Nah, kecanggihan TIK membuat implementasi e-library menuai banyak manfaat. Sebut saja mengurangi kerusakan dokumen atau buku, memudahkan pemakai perpustakaan mengingat koleksi bisa diakses via internet, sekaligus sebagai bagian dari document and information sharing sehingga antarperpustakaan dapat saling benchmark kelengkapan simpanannya hingga bermanfaat mencegah plagiarisme.
Mengacu pada berbagai manfaat sekaligus menyuguhkan pelayanan yang lebih baik, terobosan menuju e-library tengah dilakukan banyak pihak. Ambil contoh Perpustakaan Digital Universitas Tarumanegara (Electronic Library Information System Tarumanegara, http://digilib.tarumanegara.ac.id), Perpustakaan UI (http://www.lib.ui.edu), Pustaka Digital Kementerian Lingkungan Hidup (http://perpustakaan.menlh.go.id), atau Perpustakaan Digital Batan (http://digilib.batan.go.id). Tampaknya bukan hanya kalangan perguruan tinggi yang telah memulai e-library, kalangan instansi pemerintah pun tak mau ketinggalan.

Pemprov dan Kabupaten/Kota
Seakan tak mau kalah, inisiatif untuk membangun e-library juga dilakukan di tingkat Pemprov dan Pemkab/Pemkot. Pemprov Sumatera Utara misalnya. Bekerja sama dengan Telkom Divre 1 Sumatera, Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah (BPAD) Sumut membangun e-library. Awalnya, layaknya perpustakaan konvensional, dokumen di BPAD masih dalam bentuk buku dan CD atau kaset. Sedangkan database, sebagian manual, sebagian lagi sudah terkomputerisasi. Sementara untuk kartu anggota, masih dalam bentuk manual dan terkomputerisisasi. Untuk website dan internetworking, setali tiga uang belum ada. Bagaimana dengan public computer room dan wireless access hotpot? Juga belum tersedia.

Kerjasama antara Badan Perpustakaan dan
Arsip Daerah Sumatera Utara
dan Telkom Divre I Sumatera


Nah memasuki 2008 ini pembangunan e-library di BPAD dituntaskan. Untuk sebagian koleksi, dibuat versi digital. Terkait database, selain komputerisasi juga dibuat integrasi. “Internetworking dibangun baik di dalam maupun di luar,” terang Syaiful Syafri, kepala BPAD Sumut. Terkait dengan members, masih kata Syaiful, sudah dibuat ID card. Sementara untuk pengujung, saat ini sudah dibuatkan public computer room yang dilengkapi dengan komputer, TV, LCD yang terintegrasi dengan LAN/internet. Untuk memudahkan akses, juga sudah dilengkapi hotspot.

Gubernur Sumatera Utara ketika
meresmikan perputakaan digital Sumut


Menurut Gubernur Sumatera Utara, Rudolf M. Pardede (ketika peresmian, Red.), pengembangan perpustakaan digital bertujuan mempercepat usaha pencerdasan masyarakat. “Bagi mereka yang tidak sempat datang ke perpustakaan, dapat mengakses koleksinya melalui internet,” harap Rudolf. Sebelum penggunaan ICT di perpustakaan, menurut Syaiful, Pemprov telah mengembangkan baik perpustakaan sekolah, umum, rumah baca, dan taman bacaan masyarakat. “Setelah PT Telkom melengkapinya dengan fasilitas ICT membuat masyarakat yang berkunjung akan lebih banyak lagi secara virtual.” Yang menarik, jejak BPAD bakal diikuti daerah lain menyusul MoU antara PT Telkom dengan Perpustakaan Nasional akhir Januari 2008.

Hal tersebut diaminin oleh Dady. “Tanggal 31 Januari yang lalu saya memang ke Medan, Sumatera Utara, menandatangani MoU untuk mengembangkan perpustakaan digital se-Sumatera,” jelas Dady. Jadi ada sepuluh provinsi, tambah Dady, yang akan mendigitalkan perpustakaannya. “Nah, tugas kita adalah melatih orang-orang di sana. Kita sudah menyumbangkan akses internet, kemudian sudah memberangkatkan beberapa unit. Tugas kita dan juga teman-teman dari daerah sana, untuk menyiapkan semuanya. Fasilitasinya, dana, dan juga sarana,” tutur lulusan University of Hawai, ini.

Dalam kesempatan MoU tersebut, Dady juga menyerahkan tiga unit MPK (mobil perpustakaan keliling) lengkap dengan bahan bacaan sebanyak 1.600 eksemplar kepada Gubernur, yang selanjutnya menyerahkannya kepada penerima bantuan ini, yaitu Kabupaten Madina (Mandailing Natal), Kabupaten Asahan, dan Kota Sibolga. Gubernur berharap agar pemanfaatan MPK ini harus jelas, terarah, dan terjadwal ke lokasi yang jauh dari perpustakaan atau daerah terpencil.

Beginilah suasana di Perpustakaan Digital
Kampus B Unair, Surabaya.


Executive General Manager Telkom Divre I Sumatra, Muhammad Awaluddin, dalam kesempatan tersebut mengatakan bahwa dijadikannya perpustakaan di provinsi di Pulau Sumatera sebagai perpustakaan dan arsip digital merupakan salah-satu langkah atau komitmen Telkom menjadikan Sumatra sebagai Pulau Digital pertama di Indonesia. Menurut Awal, pengembangan layanan pustaka digital dilakukan untuk meningkatkan kualitas SDM. “Pada masa yang akan datang, proses belajar atau pencarian informasi tidak lagi menggunakan cara konvensional tapi sudah dengan cara modern dan dengan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi,” tambah Awal lagi.

Gawe menuju e-library, juga tengah dilakoni sejumlah Pemkab dan Pemkot. Pemkot Surabaya misalnya. Dinas Pendidikan setempat bekerja sama dengan sekolah yang sudah mengimplementasikan TIK, memiliki lab komputer dan program yang terkait dengan TIK seperti teknik komputer jaringan dan multimedia. Ketersediaan TIK yang terbilang lengkap, memudahkan rencana Dinas Pendidikan Surabaya untuk menuju e-library (lihat http://pustakamaya. dispendik.surabaya.go.id). Sejalan dengan itu, Diknas melalui Pustekkom, sudah membuat versi e-book dengan membeli copyright dari sejumlah penerbit. Semakin banyaknya pihak mengimplementasikan e-library, tentu memudahkan pengembangan jaringan ke semua daerah baik provinsi maupun kabupaten kota. Seperti dituturkan Dady, kepala Perpustakaan Nasional: “Kalau makin banyak pihak yang membangun perpustakaan digital, maka akan lebih mudah dan cepat untuk merealisasikan e-library di mana antar perpustakaan bisa link dan sharing database.”
(FR, Ari)

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Ke atas  l  Kembali