Majalah e-Indonesia - Media ICT Wahana Merajut Nusantara  
 


    Artikel Sumatera Pulau Digital Edisi No. 26 (3)
Dady P. Rachmananta (Kepala Perpustakaan Nasional RI)
Ramai-ramai Menuju e-Library

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Perpustakaan Nasional kini tengah bermetaformosis dari tradisional menjadi moderen. Secara bertahap, mereka tengah mendigitalkan koleksi yang ada. “Kami mulai dari koleksi manuskrip berupa naskah-naskah kuno,” tutur Dady P. Rachmananta, kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Seiring dengan itu, kehadiran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) makin menguat. Selain mendukung kinerja, TIK digunakan untuk membenahi kualitas pelayanan. “Kami menyediakan akses internet gratis dan sejumlah ruang publik dilengkapi hotspot,” imbuh lulusan University of Hawai, Graduate School of Library Science tahun 1987 ini. Selain itu, masih kata Dady, Perpusnas juga membangun portal yang berisi sejumlah situs dengan beragam topik. Kepada e-indonesia, pria kelahiran 28 Mei 1949 yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Ikatan Perpusatakaan Nasional ini menceritakan perkembangan perpusnas dan program yang tengah mereka lakukan.

Dady P. Rachmananta
Kepala Perpustakaan Nasional RI


Sejak kapan TIK dipergunakan oleh Perpusnas guna mendukung kinerjanya?

Pada 1992 kami sudah menggunakan sebuah software buatan Amerika namanya VTLS (Virginia Teks Library System) sampai 1994. Pada saat itu kami membuat database untuk koleksi dan juga membuat jaringan setiap ruang yang dilengkapi dengan port. Nah, pada 1994 hingga 1996 kami mulai membuat otomasi di perpustakaan provinsi karena ketika itu strukturnya masih vertikal. Masing-masing provinsi kami beri satu softwireless. Hara-pannya, kami bisa membuat jaringan nasional. Namun saat terjadi krisis moneter 1997, program tersebut selesai karena nilai kurs melonjak sehingga kami tidak sanggup lagi. Jadi, setelah krisis moneter tersebut kami berkonsentrasi penuh hanya melakukan otomasi di Jakarta mengingat dana yang terbatas.

Berapa nilai dana yang dikeluarkan waktu itu?
Kita hitung saja, satu program-nya US$ 200 untuk setiap provinsi, sementara yang versi besarnya bisa ratusan juta. Saya tidak ingat persis angkanya. Tapi masalahnya bukan itu. Kami harus membayar maintanance fee setiap tahunnya dan itu tidak murah. Satu perpustakaan atau satu software, kami harus membayar US$ 50. Di sini, Indonesia sebagai distributor tunggal untuk wilayah Asia Tenggara. Kalau cuma satu perpustakaan, oke-lah, tetapi kalau 27 perpustakaan, tentunya membengkak sekali.

Program otomatisasi saat itu, progressnya sudah sejauh mana?
Pada 1997 sudah sekitar 20 perpustakaan. Di sini kami melihat kesiapan perpustakaannya, baik dari SDM, sarana, dan sebagainya. Kami tidak semata-mata hanya memberikan barang, tetapi menginstalasi sekaligus melatih. Masalah jaringan, kami serahkan kepada mereka untuk disesuaikan, termasuk dana. Hanya masalah-nya, tidak semua daerah memiliki vendor komputer yang handal. Misalnya di Kupang, sudah kami beri software tetapi untuk memasang jaringan LAN, harus ke Surabaya dahulu sehingga program tersebut menjadi high cost.

Lantas bagaimana perkembangan TI di Perpusnas setelah 2001?
Kami dalam proses menguatkan diri sendiri. Pada 2007 kami diharuskan kuat dulu oleh DPR dan Bappenas. Wujudnya sejumlah program kami jalankan. Pertama, digitalisasi koleksi termasuk manuskrip. Kedua, setelah kami kuat, kami diharuskan mengembangkan jaringan ke semua provinsi, termasuk kabupaten/kota untuk mengembangkan e-library di 2008 ini dengan dukungan sekitar Rp 100 miliar lebih. Tahun ini, selain e-library, kami akan membantu perkembangan perpustakaan desa.

PerbesarKonfigurasi Pengembangan
Perpustakaan Digital Nasional


Saat ini, beberapa daerah mulai membangun perpustakaan digitalnya. Bagaimana Anda melihat hal ini?

Kalau makin banyak pihak yang membangun perpustakaan digital, maka akan lebih mudah dan cepat untuk merealisasikan e-library sehingga antar perpustakaan bisa link dan sharing database. Di Indonesia, sebetulnya kita sedang mengarah ke elibrary. Hanya masalahnya, belum semua per-pustakaan punya akses internet yang memungkinkan pengguna mengakses koleksinya. Artinya perpustakaan tertentu bisa saja mengakses internet, tetapi orang tidak bisa mengakses koleksinya. Artinya, belum dua arah.

Kalau Perpustakaan Nasional sudah dua arah?
Kalau Perpustakaan Nasional sudah bisa dua arah. Misalnya, Anda tinggal di Bogor, Bandung, Jayapura, atau pun di luar negeri bisa mengakses koleksi kami. Itu prinsip dasar kalau kita bicara e-library. Bila lebih jauh menilik ke dalam, ada yang namanya library digitalisasi. Di sini buku bisa dibuat dalam format digital. Artinya, buku discan atau dipotret, kemudian bisa dilihat bentuknya, fotonya dalam bentuk visual. Nantinya kami akan mengarah ke sana. Sekarang ini, kami baru bicara perpustakaannya yang masing-masing harus bisa mendigitalkan koleksinya. Hanya saja nanti akan mengarah pada copy right karena tidak semua buku itu boleh dibuat digitalnya.

Kemarin kami dengar ada kerja sama dengan Telkom Divre Sumatera. Seperti apa kerja samanya?
Tanggal 31 Januari yang lalu saya memang ke Medan, Sumatera Utara, menandatangani MoU untuk mengembangkan perpustakaan digital se-Sumatera. Jadi ada sepuluh provinsi yang akan mendigitalkan perpustakaannya. Nah, tugas kita untuk melatih orang-orang di sana. Kita sudah menyumbangkan akses internet, kemudian sudah mem-berangkatkan beberapa unit. Tugas dari kita juga teman-teman dari daerah sana, untuk menyiapkan semuanya. Fasilitasinya, dana, dan juga sarana. Nah, yang saya lihat di Medan ini sudah cukup bagus sekali, mereka sudah cukup siap. Mereka punya ruangan yang besar untuk e-library, jadi akses internet di ruangan itu semua. Itu yang kita inginkan di semua perpustakaan daerah. Sama juga seperti yang saya lihat di daerah Yogyakarta, yang sudah mulai membangun sejak 2005.

Maksudnya nantinya menjadi e-book?
Ya. Hanya saja untuk e-book pun kita harus bayar, kalau kita ingin membeli. Di Indonesia belum ada e-book karena belum ada penerbit yang menerbitkan e-book.

Lantas, sejauh mana persiapan mendigitalkan koleksi di Perpusnas?
Perpusnas diarahkan oleh DPR, agar mendigitalkan koleksi manuskripnya. Kami punya sekitar 10.000 eksemplar manuskrip atau naskah kuno. Ini koleksi langka dan semuanya merupakan tulisan tangan dalam bentuk lontar, kulit kayu, kulit binatang, dan lain-lain. Kontennya bermacam-macam, pokoknya produk zaman dahulu. Tulisannya juga macam-macam mempergunakan bahasa Arab, Jawa Kuno Honocoroko, Bali, dan lain-lain.

Pendigitalan manuskrip sudah sejauh mana?
Kami mempunyai unit yang namanya bidang otomasi. Tugasnya mengelola otomasi yang ada di perpustakaan ini. Kami juga mempunyai unit yang namanya Transformasi Digital dengan tugas membuat digitalisasi yakni alih bentuk dari hard copy ke dalam bentuk online.

Mengenai portal dan situs webnya?
Selain ada satu khusus portal perpustakaan digital, ada juga situs web. Situs web terkait dengan topiktopk tertentu. Yang sudah dilakukan misalnya, untuk dokumentasi perfilman di Indonesia, ada situs web tentang tokoh-tokoh perfilman nasional yang diluncurkan 30 Maret 2007 bertepatan Hari Film Nasional. Selain itu ada juga situs web yang lain diluncurkan Presiden SBY 2006 lalu. Di sini kita bisa menemukan dokumentasi dari setiap presiden, mulai dari presiden yang pertama hingga presiden yang terakhir.

Berapa persen dari jumlah koleksi yang ada sudah digitalisasi?
Sekitar 30%. Problemnya antara katalog online dengan jumlah koleksi yang sebenarnya masih ada kesenjangan.

Kok bisa begitu?
Sebenarnya pada waktu implementasi TI, jumlah koleksi kan sudah sangat banyak. Nah, mengejar gap itu juga perlu waktu, butuh tenaga, dan sebagainya. Hitungannya, satu hari kalau pustakawan bekerja penuh, serius, satu orang bisa menghasilkan 20 buku hasil digitalisasi. Nah, yang bekerja di bidang pengolahan ini hanya ada sekitar 36 orang. Jadi, jangan bayangkan semua karyawan perpusnas itu pegang katalog. Jadi segitu kemampuannya. Sementara pertumbuhan koleksi kita sudah sekitar 2 jutaan, tepatnya 2 juta seratus.

Lantas, kira-kira bakal selesai kapan untuk mendigitalkan semua koleksi?
Kami mulai sejak 1992, berarti sudah 16 tahun berjalan. Koleksi kita sekarang ada 2 juta seratus. Nah, itu belum kelar juga. Karena lebih cepat pertumbuhan buku daripada kecepatan kita mengolah. Jadi kami tidak bisa mengejar. Perlu tenaga ekstra. Kami belum menyewa tenaga outsourcing. Sekarang ini kami masih meningkatkan kinerja.

Cara untuk meningkatkan kinerja itu?
Proses untuk penginputan data bisa dilakukan oleh seluruh unit kerja. Hal ini sudah dilakukan koordinasi dan masing-masing unit kerja bersedia melakukan proses penginputan tersebut. Tetapi kendali akhir yang menyangkut validasi data, apakah proses pengisiannya betul atau tidak itu tetap dipegang oleh bidang pengolahan. Karena ada standar-standar yang berbeda misalnya ada standar Meta Data untuk catalog online. Nah, dari rencana itu diharapkan proses pengolahan menjadi lebih cepat.

PerbesarSkema perpustakaan digital nasional

Tadi disinggung soal infrastruktur network. Bisa diceritakan?

Terkait infrastruktur network kalau dari sisi bandwith terjadi peningkatan dari 500 Kbps menjadi 1 Mega sejak 2007. Untuk LAN, ada di dua tempat yakni Salemba dan Merdeka Selatan. Komunikasi antar LAN kami gunakan PPM untuk segala arah. Lalu untuk medianya, yang semula kami gunakan kabel UTV, sekarang fiber optik. Untuk layanan publik, selain tersedia sejumlah terminal untuk pengguna mengakses katalog, juga tersedia Wi-Fi untuk akses internet. Semua itu gratis.

Ada berapa terminal yang disediakan?
Awalnya 25 buah di tahun 2000, ditambah 33 buah pada 2007. Jadi total 58 buah terminal. Kalau di Merdeka Selatan ada 15 terminal. Sekarang kami menggunakan berbagai pendekatan pada penelitian pustaka. Misalnya ada ruang layanan untuk persoalan mutakhir seperti untuk surat kabar terbaru. Kemudian ada ruang layanan untuk koleksi mutakhir dalam bentuk buku. Ada juga ruang layanan untuk koleksi naskah kuno, untuk naskah peta, dan juga ruang layanan untuk lukisan, buku langka, majalah terjilid, surat kabar terjilid, dan sebagainya. Sengaja kami buat cluster semacam itu agar memudahkan para penggunakan mengakses dan menanyakannya kepada petugas pustaka ketika ada koleksi yang diinginkannya.

Apakah peminjaman di sini sudah menggunakan kartu elektronik?
Karena di Salemba sistemnya tertutup, maka tidak melayani peminjaman. Hanya dibolehkan dibaca di tempat atau buku yang diinginkan difotokopi dan itu kami kenakan biaya.

Untuk bidang pelayanan, ke depan akan seperti apa?
Tadi sempat ditanyakan masalah e-book atau e-journal, jadi pada tahun ini juga kami merencanakan untuk langganan jurnal online dan pengadaan berbagai buku. Tetapi perlu digarisbawahi bahwa layanan yang seperti itu sifatnya onside, hanya bisa diakses di tempat. Kalau pengguna menginginkan, bisa diberikan otoritas untuk bisa masuk ke dalam database untuk mengbrowser atau mengambil bahan pustakanya.

Penggunaan aplikasi pendukung kinerja seperti apa?
Kalau yang sifatnya paling utama modul perpustakaan. Penggunaan aplikasi ini sifatnya modular. Jadi pengadaan bahan pustaka atau akuisisi itu ada modul untuk akuisisi. Pengolahan atau kataloging, menggunakan katalog. Kemudian pelayanan, modulnya sirkulasi. Itu yang sifatnya utama. Kemudian, untuk mendukung kinerja yang lain, ada aplikasi untuk pengembangan data pustakawan di Indonesia. Lalu ada juga pengembangan untuk program aplikasi dan database untuk perpustakaan di seluruh Indonesia. Itu kami sebut sebagai Nomor Pokok Perpustakaan (NPP). NPP ini melengkapi berbagai jenis perpustakaan yang ada di Indonesia yang nanti reportnya dalam bentuk statistik jumlah perpustakaan.

Berapa jumlah total terminal untuk mendukung kinerja perpusnas dan apakah semua sudah bisa untuk mengakses internet?
Gambarannya, kalau untuk jumlah yang terhubung ke internet, data pertengahan 2007 ada 289 komputer. Jadi kalau menghitung perbandingannya dengan rasio jumlah pegawai sekitar 600 orang, berarti 1:3.

Penggunaan internet di perpusnas ini sepertinya sudah bersentuhan langsung dengan seluruh karyawan?
Ya, mereka menjadi ngeh TI. Apalagi saat ini kami memiliki intranet portal yang semua rubrik di dalamnya bersifat interaktif. Dengan begitu kami berharap masing-masing orang memiliki akses sehingga masing-masing mereka memiliki peran di dalam organisasi ini. Medianya kita gunakan TIK.

Berapa orang yang mengelola TIK ini?
Sedikit sekali, karena masuk dalam bidang otomasi yang banyak bicara sistem dan infrastruktur.

Berapa dukungan anggaran per tahunnya?
Tahun lalu Rp12M. Tahun ini diharapkan lebih besar lagi dengan asumsi pengembangan perpustakan daerah di Indonesia. Meskipun sebenarnya dari sejumlah itu ada yang terserap untuk masalah infrastruktur. Karena biar bagaimanapun sebelum menuju e-library masalah infrastruktur dulu yang mesti kita siapkan.
(FR, Ari)

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Ke atas  l  Kembali