| Artikel
- 2009 Tahun Kreativitas Digital Sumatera - Edisi
No. 29 (2) |
Andang Ashari,
Ketua PKM Sumatera Pulau Digital :
“Kami Memiliki 4 Prototipe Kampung Digital”
Senyum kemenangan tak lepas dari bibir Andang Ashari. Apalagi
hari itu adalah hari syukuran atas kemenangan Kampung Digital
(KD) Sampali dalam lomba Indonesian CSR Award 2008. Namun,
Andang memang pantas bangga, bukan hanya karena dari lima
award yang didapat ia termasuk salah-satu pemenang (juara
1 Community Development Officer kategori Pelaksana Lapangan),
tetapi lebih karena hasil kerja kerasnya membawa hasil.
Sebagai Ketua PKM Program Sumatera Pulau Digital, Andang
bertanggung jawab terhadap kegiatan-kegiatan yang digerakkan
Telkom dalam usaha membangun generasi digital di Sumatera.
Andang
Ashari
Ketua PKM sumatera Pulau Digital
Menurut Andang, kemenangan itu tidak mudah diraih. “Ada
proses pembelajaran yang sangat panjang yang harus dilalui
oleh Telkom Sumatera hingga kemudian dinilai layak untuk
mendapat semua anugerah prestasi terbaik ini,” jelasnya.
Untuk mengetahui lebih jauh tentang Kampung Digital yang
digerakkannya dan bagaimana KD Sampali bisa menang dalam
Indonesian CSR Award 2008, berikut penuturan Andang kepada
e-Indonesia yang menemuinya ketika ber-langsung acara syukuran
di Desa Sampali, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deliserdang,
sekitar 25 kilometer dari pusat Kota Medan.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Bagaimana ceritanya KD Sampali yang dipilih untuk
diikutser-takan dalam lomba Indonesian CSR Award 2008? Kenapa
bukan KD Terang Bulan yang lebih dulu muncul sebagai KD
produk Telkom?
Sebenarnya, dalam lomba Indonesian CSR Award 2008, kami
mengajukan dua program yaitu program Education for Tomorrow
dalam konteks CSR kategori sosial saja, dengan mengajukan
aspek implementasi program ini di Sumatera. Waktu itu site
visit dilakukan ke INDIGO Learning Center di Medan dan teleconference
dan net meeting dengan 23 Speedy Learning Center di seluruh
Sumatera yang langsung dikawal para GM Kandatel. Dari situ
penilai melihat langsung pelaksaaan pelatihan TIK di seluruh
Speedy Learning Center se-Sumatera. Yang kedua, kami maju
dalam program Education for Tomorrow dalam mendukung program
Sumatera Pulau Digital dengan mengusung 3 pilar CSR, yaitu
sosial-ekonomi-lingkungan, dengan sampel di Kampung Digital.
Ketika
menerima piagam kemenangan
dari Menteri Sosial Bachtiar Chamsyah
Bagaimana akhirnya terpilih KD Sampali yang diikutsertakan
dalam lomba?
Memang pada saat ini sudah ada 5 Kampung Digital yang berdiri
yaitu 3 di provinsi Sumut (KD Terang Bulan, KD Sampali,
dan KD Sumber Karya), 1 di Palembang (KD Bukit Sangkal),
dan 1 di Aceh (KD Lamjabat). Karena kami mau maju ke awards
tertinggi (platinum untuk 3 bidang: sosial-ekonomi-lingkungan),
maka setelah kami melakukan on desk evaluation akhirnya
kami sepakat untuk mengajukan KD Sampali yang ikut dalam
lomba tersebut.
Bisa disebut alasannya?
Dilihat dari aspek cakupan obyek CSR (warga) kami melihat
Sampali memenuhi kriteria karena memiliki sekitar 18.000-an
warga. Dalam hal keterlibatan warga, Sampali memenuhi kreteria
karena di sana banyak sekali pihak yang terlibat secara
aktif seperti birokrasi desa, LSM, para pemuda, ibu-ibu
PKK, dan juga masjid.
Turut
senang dalam syukuran atas
kemenangan CSR Award 2008 yang
diadakan di Sampali
Bagaimana dengan aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan?
Sampali juga sangat kuat. Dalam hal ekonomi di Sampali ada
bubur, ternak sapi, dan pembantu rumah tangga.Dalam hal
sosial sudah ada Kampung.net (jaingan internet antardusun),
sementara dalam hal lingkungan sudah ada pengolahan kotoran
ternak sapi yang dijadikan pupuk organik dan 1.000 pohon
mangga. Dari kriteria tersebut, Sampali jauh lebih kuat
dibanding KD lainnya. Jadi pemenang bukan siapa duluan lari,
tapi siapa duluan menginjak garis finish (begitulah konsep
filosofinya).
Apa
sih perbedaan spesifik antara KD Sampali dan KD Terang Bulan?
Sampali itu kuat di tiga bidang, sementara Terang Bulan dominan
di sosial (pemberdayaan TIK dalam konteks pembelajaran internet),
meskipun secara ekonomi juga sudah mampu menunjukkan web
design yang bernilai jual. Sampali saat ini memiliki cakupan
25 dusun dalam master plan pengembangan cakupan CSR, sementara
Terang Bulan masih fokus dalam satu dusun sebagai center
of ICT Desa. Tapi bukan berarti Terang Bulan tak ada kelebihannya.
Terang Bulan kuat dalam menciptakan tenaga-tenaga pekerja
yg bergerak di TIK, di antara mereka sekarang ditampung
oleh perusahaan web media. Terang Bulan juga merupakan prototipe
kesuksesan men-develop community access point berbasiskan
pada pendekatan kepada para pemuda penggiat TIK (tanpa campur
tangan pemerintah Desa), sedangkan Sampali merupakan prototipe
pelibatan seluruh unsur masyarakat yang sukses.
Kalau KD yang lain?
KD Bukit Sangkal di Palembang, pendekatannya top down dari
birokrat desa yg memiliki leadership berlatarbelakang TIK
yang kuat (kepala desanya S2), dan ini juga sukses. Pola
ini mirip dengan yang diterapkan di Malaysia. Sementara
KD Aceh dimotori oleh komunitas pemuda setempat yg terorganisir
melalui organisasi kepemudaan. Jadi Telkom Sumatera sudah
memiliki 4 prototipe model pendekatan, yg kesemuanya akan
dipakai di lapangan tergantung situasi wilayah.
Sampai saat ini sudah ada berapa KD produk Telkom
Sumatera?
Sudah ada tujuh, masing-masing Sampali (Sumut), Sumber Karya
(Sumut), Terang Bulan (Sumut), Bukit Sangkal (Palembang),
Pauh (Sumatra Barat), Lamjabat (Banda Aceh), Lampisang (Aceh
Besar).
Berbagi
pengalaman kepada
sesama rekan di Divre Sumatera
Mengapa KD lebih banyak muncul di Sumut ketimbang daerah
lain?
Sebenarnya ini bukan suatu skenario, tapi memang program
ini sangat tergantung dari respons masyarakat di masing-masing
wilayah. Kebetulan saja, Program Provinsi Sumut relevan
dengan program kami terutama yang terkait dengan Kampung
Digital. Di Provinsi Sumut ada program Desa Berdering dll.
Selain itu juga harus kita akui, ICT Incubator di Medan
lebih banyak dibanding lokasi lainnya dan rata-rata mereka
tinggal di daerah pinggiran kota. Para ICT Incubator (orang-orang
yang jadi penggiat TIK), ini rata-rata anak muda berpendidikan,
aktif di masyarakat dan memilki kepedulian yang tinggi di
masyarakat. ICT Incubator di Medan juga unik, rata-rata
mereka memiliki sumber ekonomi dari TIK misal sebagai web
designer kecil-kecilan, trainer di kursus komputer dan lain-lain.
Jadi ini bagus ke depannya, karena TIK di tangan mereka
akan riil jadi kunci penggerak ekonomi masyarakat, karena
mereka adalah pelaku nyata di lapangan. Di lokasi lain respons
stakeholder berbeda. Di Lampung, misalnya, mereka
fokus di sektor pendidikan, sehingga kerja sama dengan Pemda
adalah dalam hal digitalisasi sekolah dan ini jadi prototipe
besar kita karena ada 100 sekolah digital dan sdh punya
web masing-masing. Sumbagsel jangan salah, respons terhadap
pelatihan internet buat sekolah-sekolah sangat mendapat
respons kuat, bahkan konsep Deklarasi Generasi Digital Sumatera,
terlahir dari inspirasi Sumbagsel. Jadi ini masalah respons
masing daerah.
Apa sebenarnya kriteria suatu daerah bisa menjadi
KD?
Yang utama harus ada inisiatif dari warga masyarakat setempat
dengan dibuktikan proposal dan programnya. Selain itu, mereka
juga harus memiliki tempat untuk menaruh hardware/software
dan menjadi tempat Pusat Informasi Masyarakat (PIM).
Ada lagi?
Jumlah penduduk mencukupi untuk program CSR (ada skalanya).
Selain itu, sedapat mungkin daerah mereka terjangkau akses
internet Telkom.
Kesulitan apa yang dihadapi dalam mengembangkan
KD selama ini?
Kesulitan utama adalah masih adanya persepsi masyarakat
bahwa internet itu berbahaya, sehingga menyulitkan dalam
penerapan program. Selain tentu saja meyakinkan masyarakat
bahwa dengan TIK kita bisa mendorong tingkat pertumbuhan
perekonomian masyarakat & lingkungan. Masalah leadership
juga merupakan kendala tersendiri. Banyak para pemimpin
komunitas yang belum paham apa manfaat TIK. Belum lagi masalah
infrastruktur yang belum merata di tiap daerah. Ini tentu
saja bukan hanya tanggung jawab operator tapi tanggung jawab
semua elemen.
Apa sebenarnya kunci sukses agar KD dapat berjalan
baik dan kontinyu?
Yang jelas harus ada keterlibatan masyarakat secara aktif,
sehingga mereka merasa memiliki program ini (dari rakyat,
oleh rakyat, dan untuk rakyat). Yang kedua harus ada master
plan yang muncul dari masyarakat. Selain itu program yang
mereka lakukan dapat di-link-kan dengan sektor riil masyarakat
(kekuatan ekonomi masyrakat setempat). Ada baiknya KD tersebut
melibatkan juga lembaga masyarakat yang dominan termasuk
LSM, pemerintah desa, dan lain-lain. Terakhir, tak kalah
pentingnya, KD tersebut juga memberi ruang inspirasi, kreasi,
dan memiliki forum sebagai sarana berdiskusi.
Selain mempersiapkan infrastruktur jaringan telekomunikasi,
membantu pelatihan, pembuatan web, apalagi peranan Telkom
dalam sebuah KD?
Kami membantu juga usaha kecil misalnya membantu pedagang
bubur, membantu menyediakan tumbuhan bermanfaat seperti
mangga, membantu pelatihan pengolahan pupuk organik, dan
masih banyak lagi.
Apa suka duka Pak Andang dalam merintis dan mengembangkan
KD selama ini?
Dukanya adalah ketika pertama kali meluncurkan program ini.
Saya banyak mendapat cemooh baik dari masyarakat maupun
kawan sekerja, yang menganggap pekerjaan ini akan sia-sia.
Sukanya ya senang karena program ini bisa berhasil dan mendapatkan
pengakuan secara nasional.
|