HALAMAN
1 l HALAMAN
2
E-GOVERNMENT DI KOTA BATAM
Batam Belum Menimba Ilmu dari
Singapura
Sebagai
kota Internasional, TI di Kota Batam belum berkembang secara maksimal.
Padahal Batam bisa setiap saat menimba ilmu dari tetangganya Singapura.
Kini banyak pekerjaan rumah menanti untuk memajukan Batam dengan
memanfaatkan kecanggihan TI.
Batam kok beda dengan Singapura ya.” Ungkapan semacam itu
acapkali dilontarkan oleh kebanyakan orang, yang kerap wira-wiri
Batam-Singapura. Maklum, untuk menuju ke negeri singa putih itu,
dari Batam hanya memerlukan waktu kurang lebih satu jam dengan
menggunakan feri. Keduanya cuma berjarak 12,5 mil laut. Hanya
saja, ya itu tadi, meski bertetangga, kondisi Batam dan Singapura
ibarat jauh panggang dari api. Berbeda seratus delapan puluh derajat.
Perbedaan
nampak kasad mata di segala bidang. Salah-satunya, di bidang Information
and Com-munication Technology (ICT). Praktis, di Singapura, nyaris
semua bidang di-support ICT. Prinsipnya, layanan apa pun yang
dapat dilakukan secara elektronik, pemerintah Singapura akan meng-implementasikannya.
Menurut catatan Infocomm Development Authority of Singapore (IDA),
setidak-nya ada lebih dari 96 persen layanan pemerintahan dilakukan
secara online yang mencakup 1.600 layanan.
Agar pengguna tidak bingung, tersedia situs e-government. Di sini
dibedakan dengan jelas antara government, citizens dan residents,
businesses dan non residents. Jangan heran, bila negeri yang meluncurkan
program e-government lewat Connected Singapore, dua tahun lalu,
tepatnya 2004 mampu menempatkan diri di posisi ke-dua dari 198
negara di dunia yang menawarkan layanan pemerintahan online.
Syamsul Bahrum
Asisten Bidang Ekonomi dan Pemkembagan Pemko Batam
Idealnya, jarak yang dekat dengan Singapura bisa memberikan nilai
plus bagi perkembangan TI di Batam. Apalagi, cukup banyak warga
Batam termasuk dari kalangan pemerintahan yang kerap bertandang
ke negeri yang mela-kukan komputerisasi pada 1981 itu. Seperti
dituturkan oleh Asistem Bidang Ekonomi dan Perkembangan Pemko
Batam, Syamsul Bahrum. “Sebulan bisa sampai dua kali orang
Batam pergi ke Singapura,” ucapnya. Sayang, tak ba-nyak
ilmu yang bisa ditimba dari negeri yang menyabet jawara layanan
e-government itu. “Seberapa banyak sih orang pergi ke Batam
untuk ke Techno Park Singapura atau perencanaan kotanya,”
tukas Syamsul memberikan alasannya. Padahal, studi banding mengenai
TI bisa dilakukan di negeri tersebut. “Belajar ke Singapura
saja sudah cukup,” ujar mantan Kepala Badan Penanaman Modal
(BPM) Pemko Batam ini.
Kedekatan dari Singapura, baru salah-satu potensi sekaligus faktor
pemacu. Peluang Batam untuk melaju dengan TI terbuka luas mengingat
kota yang terdiri dari sekitar 300 lebih pulau itu, memiliki keunggulan
dibandingkan dengan kota lain dari sisi jumlah provider telekomunikasi
yang lebih lengkap. Belum lagi sebutan Batam sebagai Kota Internasional
sehingga technopreneur-nya cukup tinggi. Nah, sejatinya dengan
berbagai keunggulan tadi, kota yang berada di jalur pelayaran
inter-nasional ini bisa menjadi lokomotif bagi pembangunan ekonomi
kawasan sekitarnya termasuk bidang TI. Alih-alih menjadi pelopor,
layanan TI di kota ini belum dikemas secara elektronis. Bila mengi-baratkan
kesuksesan TI dengan angka 100, maka di mata Syamsul, Batam baru
menapak angka 60.
Rencana yang Gagal
Sebenarnya bila menyimak perjalanan Batam, sepatutnya TI di kota
yang terdiri dari 12 kecamatan dan 64 kelurahan itu sudah bergeliat.
Soalnya, konsep pembangunan Batam dengan dukungan TI telah digulirkan
sekitar tahun 2000 lalu. Saat itu, Batam hendak dilabuhkan sebagai
Batam Interligent Island (BII). Konsepnya dengan meng-adop keberhasilan
penerapan ICT di sejumlah negara seperti Malaysia, melalui Malaysia
Super Coridor, Singapura dengan Cyber City-nya, dan lain sebagainya.
Rencana tersebut bukan hal yang muluk mengingat Batam memiliki
ring road fiber optic yang mengelilingi kota tersebut. Alhasil,
sangat dimungkinkan menjadikan Batam sebagai Inteligent Island.
Berbekal infratruktur tadi, sejumlah layanan berbasis TI bisa
diintegrasikan baik di lingkup Pemko Batam maupun Badan Pengembangan
Otorita Batam (OB) berikut kawasan industrinya. Pendeknya, lewat
konsep BII, bisa melapangkan para pelaku bisnis maupun masyarakat
dalam mengurus berbagai perizinan.
Awalnya, konsep ini di-support oleh Bappenas. Mendukung rencana
tersebut, Pemko Batam dan OB menyatukan koordinasi. Rencananya,
softloan hendak dikucurkan dari Korea atau Jepang. Sejumlah vendor
lokal pun bakal digandeng untuk merealisasikan rencana tersebut,
antara lain Telkom dan Indosat. Sayang, karena berbagai sebab,
rencana tersebut gagal di tengah jalan. “Padahal kalau fasilitas
fiber optic digunakan, saya pikir luar biasa. Bisa seperti Super
Coridor-nya Malaysia atau Cyber City Singapura,” tutur wakil
ketua DPRD Kota Batam, Aris Hardy Halim. Selain itu, bila BII
terealisasi, koordinasi pengembangan TI antara Pemko dan OB bisa
lebih solid. “Yang terjadi sekarang, platform integrasi
TI antara keduanya tidak jelas,” tutur Aris. Saat ini OB
lebih fokus kepada pelayanan investor. Apa yang dinvestasikan
pelaku usaha harus mendapat perizinan dari OB. “Karena tidak
ada sinergi antara OB dan Pemko, maka yang dibangun kadang keluar
kontrol dari Pemko,” kritik pria kelahiran 29 Desember 1971
ini.
Fokus Infrastruktur
Pembangunan infrastruktur ICT di Batam mulai dilakukan pada 2001.
Wujudnya, berupa pemba-ngunan infrastruktur jaringan/LAN di Kantor
Walikota Batam. Infrastruktur jaringan LAN dan Wide Area Network
(WAN) terkoneksi seluruh Badan, Dinas, Kantor, Bagian, 4 Kecamatan
dan 2 Pelabuhan di lingkungan Pemko Batam dan terpusat di Badan
Komunikasi dan Informasi (Bakominfo). Badan inilah yang diberi
amanah untuk menangani pembangunan TI di Pemko Batam. Sebelumnya,
TI ditangani oleh Dinas Infokom dan Humas. Kini, Humas menjadi
bagian dari Bakominfo.
Pemko Batam mengandeng Indosat untuk membangun jaringan. Sejalan
dengan itu, master plan e-government berlabel “Rencana Induk
Pengembangan Sistem Administrasi Pemerintahan” dibuat. Mengacu
pada rencana itu, Batam hendak menuju sebagai Bandar Dunia yang
Madani. Selain infra-stuktur, pengembangan aplikasi dan website/situs,
langganan internet (ISP) juga dilakukan. Tidak ketinggalan diselenggarakan
pelatihan agar pegawai Pemko Batam melek TI. Tapi sayang, menurut
Aris, mereka yang diikutkan pelatihan bukan pada level penentu
kebijakan, “Tapi staf pelaksana,” tuturnya. Jangan
heran bila anggota dewan yang diusung dari Partai Keadilan Sosial
tersebut tahu betul mengenai perkembangan e-government di Pemko
Batam. Soalnya sebelum menjadi wakil ketua dewan, ia berkiprah
di Indosat Batam.
Perkembangan Aplikasi
Bagaimana dengan perkembangan aplikasi di Batam? Dijelaskan oleh
Kepala Bakominfo Nurman, masing-masing unit kerja mulai mengembangkan
aplikasinya sejak mulai tersedianya komputer guna mempercepat
proses penyampaian laporan. Aplikasi yang sudah diimplementasikan
Pemko antara lain aplikasi UP2T dengan 16 model perizinan, aplikasi
Puskesmas, aplikasi kebersihan, aplikasi keuangan, aplikasi barang
dan aset daerah, aplikasi kepegawaian, aplikasi pajak derah, serta
aplikasi kependudukan.
Salah-satu aplikasi terobosan yang membawa perubahan adalah aplikasi
keuangan. Contohnya aplikasi SAKD (Sistem Akutansi Keuangan Daerah).
Dengan aplikasi SAKD, pengelolaan keuangan menjadi lebih mudah
seperti penyusunan RKA–SKPD, RAPBD, APBD, dan sebagainya.
“Semua laporan keuangan bisa diselesaikan tepat waktu,”
tutur Erwinta Marius, Kasubbag Verifikasi dan Pembukuan Bagian
Keuangan Setdako Batam. Aplikasi lain yang berkaitan dengan laporan
keuangan adalah DA-RAinc (Aplikasi Pengelolaan Keuangan Satuan
Kerja bagi Pemegang Kas/Bendahara),
NURMAN,
Kepala Bakominfo
Saat ini, sekitar kurang lebih 70 komputer terkoneksi ke internet.
Sementara untuk jaringan lokal ada sekitar 200 komputer. Kecepatan
akses internet mencapai 256 Kbps dan terdistribusi ke seluruh
unit kerja. Di luar Pemko, TI di Batam diwujudkan dengan pembangunan
single window. Artinya, kepengu-rusan kepabeanan berbasis TI.
Sejalan dengan itu, OB juga sudah menyiap-kan Eletronic Data Interchange.
Meski demikian, perkembangan Batam tak bisa dibilang melaju. Apa
yang sudah dilakukan, diakui Bakominfo memang masih jauh dari
harapan. Ambil contoh, di lingkup Pemko, belum semuanya tercover
oleh TI. Selain itu, layanan berbasis SMS baik untuk mendukung
kinerja atau menjalin komunikasi antara walikota dengan masyarakat,
masih pada tahap awal. Dikatakan Syamsul, Pemko Batam saat ini
baru pada tahapan implementasi TI. Ia melihat manfaat TI belum
sampai menyentuh mental masyarakat. “Saya berharap Batam
bisa lebih baik lagi. Apalagi dengan ditunjang walikota dan wakil
yang concern terhadap TI.”
Dituturkan Nurman, saat ini Pemko masih fokus pada pembangunan
sarana dan prasarana untuk dapat menyediakan data dan informasi
yang akurat serta cepat. Diharapkan, dengan adanya sarana prasarana,
dapat diimplementasikan aplikasi yang interaktif sebagai salah-satu
penghubung sarana komunikasi antara masyarakat dengan Pemko Batam.
“Kami sedang on progress,” tandas alumnus Institut
Ilmu Politik (IIP) Jakarta ini.
Baca lengkapnya di Majalah.