Majalah e-Indonesia - Media ICT Wahana Merajut Nusantara
 

Melirik Sinjai yang Kaya Potensi Alam
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Kabupaten Sinjai dikenal dengan potensi daerah yang menjanjikan. Selain penghasil berbagai komoditi di sektor perkebunan dan kehutanan, kabupaten yang terletak di Sulawesi Selatan ini juga memiliki tambang emas dan batubara yang belum diolah secara maksimal. Pintu pun terbuka lebar bagi para investor.

Sinjai. Bila mendengar kata itu secara sepintas, orang bisa salah persepsi. Bisa jadi, yang terbayang adalah sebuah wilayah di Kepulauan Sumatera. Ini bisa dimaklumi. Pasalnya, di Sumatera Utara, tepatnya 22 Km dari Kota Medan terdapat Kota bernama Binjai. Padahal Sinjai bu-kanlah Binjai. Keduanya terletak di lokasi yang berbeda. Binjai masuk dalam Provinsi Sumatera Utara, sementara Sinjai terletak di Provinsi Sulawesi Selatan. Selain itu, keduanya memiliki potensi alam yang berbeda. Binjai merupakan kota jasa sementara Sinjai merupakan daerah yang kaya akan potensi alam.

Iya, Sinjai tergolong wilayah dengan kekayaan alam berlimpah. Daerah dengan motto “Sinjai BERSATU” (Bersih, Elok, Rapi, Sehat, Aman, Tekun, Unggul) ini, memiliki potensi alam berupa pantai, pegunungan, hutan, dan perkebunan. Kesemuanya menghasilkan hasil bumi yang menguntungkan. Melalui konsep tiga pilar pembangunan, Kabupaten Sinjai membuka pintu yang selebarlebarnya bagi para investor yang ingin berinvestasi.

Adalah Bupati Sinjai Andi Rudiyanto Asapa, yang concern membangun Sinjai dengan tiga pilar yakni: agama, pendidikan, dan kesehatan. Melalui tiga pilar ini, hendak dibentuk tataran masyarakat yang baik secara akhlak, berpendidikan, dan terjaga kesehatannya. “Agama itu penting untuk membentuk akhlak,” jelas Rudiyanto. Sementara itu, pendidikan digalakkan dengan cara memberikan pendidikan gratis kepada warga Sinjai dari tingkat SD hingga SMA. Untuk kesehatan, Pemkab menawarkan Jaminan Kesehatan Daerah dan Dokter Keluarga untuk menuju Indonesia Sehat 2010. Berbekal tiga pilar tadi, Pemkab dan warga Sinjai siap bekerja sama dengan investor. Nah, bagi calon investor, banyak sektor yang bisa digarap. Sebut saja kelautan dan perikanan, pertenakan, perkebunan dan kehutanan, hingga pertanian.

Sektor Kelautan dan Perikanan
Dari sektor kelautan dan perikanan, Kabupaten Sinjai mempunyai potensi sumber daya yang memadai untuk dikelola. Di sepanjang pesisir pantai Sinjai seluas 31 km, produksi ikan yang bisa dicapai per hari mencapai 60 ton. Pada November hingga Maret, umumnya hasil tangkap nelayan meningkat. Jenis ikan tangkapan nelayan pun beragam. Seperti ikan kerapu, ikan cakalang, ikan sunu, ikan tuna, ikan layang, dan ikan bonito. Bahkan ikan bonito yakni ikan kayu yang dikeringkan hingga kadar air 10 persen selama satu bulan sehingga menjadi keras seperti kayu, pernah di ekspor ke Jepang.

Budiaman
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan
Kabupaten Sinjai.


Melimpahnya hasil tangkapan ikan di daerah Sinjai, tentu saja tak hanya dikonsumsi masyarakat Sinjai. Lebih dari 50 persen hasil tangkapan ikan, diekspor keluar daerah. Menurut Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Sinjai, Budiaman, hasil tangkapan ikan tersebut dikirim ke Makasar. “Dari Makasar, selanjutnya hasil tangkapan ikan didistribusikan ke beberapa daerah lainnya seperti Surabaya,” tutur Budiman. Yang menarik bila di daerah lain ikan didistribusikan pada siang hari, di Sinjai, umumnya para nelayan Sinjai yang jumlahnya mencapai sekitar 8 ribu orang dengan dukungan 1.242 kapal nelayan, mengirimkan hasil tangkapan sejak tengah malam hingga pagi hari.


(Dari kiri kenan) Budi daya rumput laut, budidaya kerapu, tempat pelelangan ikan.

Di sini, Dinas Perikanan Sinjai turut andil bagi perkembangan sektor laut. Instansi ini membuat rencana kerja stategis melalui pembudidayaan ikan. Terdapat enam program pembangunan kelautan dan perikanan. “Intinya kami berusaha membina para nelayan, agar bisa meningkatkan produksi dan produktivitas perikanan yang berorientasi bisnis air, meningkatkan pemberdayaan masyarakat pesisir dan meningkatkan mutu hasil ekspor perikanan,” ujar alumni Fakultas Perikanan Universitas Hasanudin Makasar itu.

Ditambahkan Budiaman, para nelayan di Sinjai dibina untuk mengikuti kegiatan budi daya laut, seperti budi daya ikan karang, ikan kerapu, dan rumput laut. Hasilnya? Cukup menggembirakan. Dalam sebulan para nelayan di daerah ini bisa menghasilkan 250 ton rumput laut kering dengan harga tertinggi Rp 5.000 per kilogram. “Ini merupakan salah-satu mata pencaharian yang cukup menjanjikan bagi nelayan di Kepulauan Sembilan di Kabupaten Sinjai,” ujar Budiaman yang mengharapkan suatu saat ada investor yang tertarik membuat pengolahan industri rumput laut. Inilah salah-satu program revitalisasi perikanan. Dengan tingginya harga bahan bakar minyak yang berpengaruh terhadap kinerja nelayan, budidaya rumput laut ini bisa menjadi solusi. “Bayangkan bisa suatu saat nanti ada pabrik agar-agar di Kabupaten Sinjai, sehingga produksi agar-agar bisa dibuat sendiri, bukan hanya menyediakan bahan bakunya saja, seperti yang terjadi saat ini.”

Sektor Peternakan

Pada sektor peternakan, terdapat dua komoditi utama, yakni sapi perah dan kambing. Sampai tahun ini, ada 250 sampai 300 sapi perah dengan produksi susu hingga 2.000 liter per hari. Dari susu sapi perah yang cukup signifikan hasilnya ini, dihasilkan dua macam produk. Pertama, susu pasteurisasi yakni susu yang diproses dengan pemanasan suhu tinggi, yang dikenal dengan merk Susin (diambil dari singkatan Susu Sinjai). Susin dibuat dalam berbagai macam rasa seperti strawberry, coklat, melon, dan mocca. Produk ini tidak saja dipasarkan di Sinjai, tapi juga didistribusikan ke Makassar. Produk kedua adalah ice cream dengan merk Sansu Ice Cream. Diberi nama Sansu dengan arti, S adalah Sinjai, AN adalah aman untuk berinvestasi, S adalah sejahtera dengan tujuan untuk mensejahterakan masya-rakat dan U berarti unik. Menurut Kepala Dinas Peternakan Sinjai Aminudin, sebenarnya sudah ada investor, yakni sebuah CV di Jawa Tengah yang siap bermitra untuk mengembangkan Susin. Namun kerja sama ini baru bisa dijalankan bila susu segar yang dihasilkan minimum sudah mencapai 4.000 liter per hari.

SAPI PERAH.
Bupati Sinjai, A.Rudiyanto Asapa saat
meninjau ke peternakan sapi perah

Aminudin, Kepala Dinas Peternakan
Kabupaten Sinjai.


Ditegaskan Aminudin, diharapkan produk susu menjadi salah-satu unggulan Sinjai. “Kami ingin agar siapa pun yang pernah datang ke Sinjai ingat Susin, Susu Sinjai. Itu brand image yang ingin kami tanam,” begitu penjelasan pria yang sudah menjabat sebagai Kepala Dinas Peternakan selama enam tahun ini.

Sektor Perkebunan dan Kehutanan
Sektor perkebunan, Kabupaten Sinjai menunjukkan rapor cemerlang. Kabupaten ini memiliki beberapa komoditi penting bertaraf international. Apa saja? Kakao (coklat), cengkeh, kopi, vanili, kopi arabika, hingga kopi robusta. Tidak tanggung-tanggung pada 2005 lalu, ekspor kakao Sinjai ke Jerman mencapai 25 ton. Bahkan sepanjang 2006 ini, ekspor kopi Arabika dari Kecamatan Sinjai Barat menoreh 100 ton. Ini belum termasuk dari kecamatan lain di Sinjai.


Komoditi Perkebunan.
Kopi arabika, kakao dan vanila merupakan komoditi unggulan yang sudah diekspor ke luar negeri.

Pengembangan lebih lanjut yang tengah digalakkan Dinas Perkebunan dan Kehutanan adalah menanam bahan baku tekstil yakni kapas dan rami. “Saat ini, kami sudah mempunyai pabrik sampai tingkat pengolahan serat rami dan kapas. Dengan kapasitas 50 hektar per bulan, peluang di bisnis ini sangat prospektif,” tuturnya. Diperkirakan kebutuhan serat rami di dunia sekitar 350.000 ton per tahun. Sedangkan Cina baru menyuplai 120.000 ton. “Artinya, tidak ada salahnya bila kita mengembangkan bahan tekstil tersebut,” tegas Kepala Dinas Perkebunan dan Kehutanan, Achmad Rasyid yang menyelesaian pendidikan S-2 nya di UGM. Asal tahu saja, Kabupaten Sinjai tercatat sebagai satu-satunya Kabupaten di wilayah Indonesia bagian Timur yang mengembangkan usaha bahan tekstil.

Achmad Rasyid
Kepala Dinas Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Sinjai.

Luas tanaman seluruhnya di Kabupaten Sinjai kurang lebih 34 ribu hektar dari luas wilayah 81 ribu hektar. Dari sektor kehutanan, untuk menunjang perekonomian di daerah ini, tanaman jati masih menjadi primadona selain bakau dan hutan pinus. Seperti diketahui, jati memang banyak diminati baik oleh industri yang ada di Makassar maupun negara-negara lain seperti Hongkong, Taiwan, dan Singapura. Masih kata Achmad, saat ini tengah dikembangkan kerja sama antara Kabupaten Sinjai dengan salah-satu perusahaan di Surabaya untuk penyadapan getah pinus. Saat ini Kabupaten Sinjai mempunyai hutan pinus, lebih kurang 3.200 hektar dengan jumlah pohon lebih dari 1,2 juta batang pinus. Alhasil, bila dijual akan memperoleh hasil sekitar 900 juta rupiah per bulan.

Memberi Reward
Sejauh ini tidak ada kendala yang berarti bagi para investor untuk mengembangkan usahanya di wilayah timur Indonesia. Pelayanan publik terkait dengan pengurusan perizinan berlangsung dengan mudah dan cepat. Seperti ditegaskan oleh Rudiyanto: “Kami akan membuat para investor merasa nyaman dengan memberikan kemudahan dan regulasi. Ini merupakan reward bagi mereka yang ingin mengembangkan usahanya di wilayan kami,” tandasnya.

Saat ini Sinjai tengah menanti kerja sama dengan sejumlah pihak. Seperti dituturkan Ketua Komisi A DPRD Sinjai Khair Khalis Syurkati. “Sejauh ini sudah ada beberapa MoU yang dilakukan. Hanya saja kami juga sedang menanti aplikasi dari MoU itu. Yang jelas kami berharap Perda tidak terlalu membebani investor.” Guna semakin menarik investor, menurut pria alumni fakultas hukum Unhas ini, ada baiknya Sinjai belajar dari daerah lain yang sudah cukup maju dalam hal investasi. Apa yang tengah dilakukan Pemkab Sinjai berikut dukungan dari dewan, menunjukkan kesiapan kabupaten ini bergandengan tangan dengan investor. Apalagi, semangat kabupaten ini untuk maju semakin besar setelah bencana alam berupa banjir bandang dan tanah longsor mendera 19 Juni 2006 lalu. Sinjai telah bangkit usai bencana yang meluluhlantahkan rumah, infrastruktur serta menelan ratusan korban jiwa. (E.Condessy, Chandra Wirawan)

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------