Kabupaten
Sinjai dikenal dengan potensi daerah yang menjanjikan. Selain
penghasil berbagai komoditi di sektor perkebunan dan kehutanan,
kabupaten yang terletak di Sulawesi Selatan ini juga memiliki
tambang emas dan batubara yang belum diolah secara maksimal.
Pintu pun terbuka lebar bagi para investor.
Sinjai.
Bila mendengar kata itu secara sepintas, orang bisa salah persepsi.
Bisa jadi, yang terbayang adalah sebuah wilayah di Kepulauan
Sumatera. Ini bisa dimaklumi. Pasalnya, di Sumatera Utara, tepatnya
22 Km dari Kota Medan terdapat Kota bernama Binjai. Padahal
Sinjai bu-kanlah Binjai. Keduanya terletak di lokasi yang berbeda.
Binjai masuk dalam Provinsi Sumatera Utara, sementara Sinjai
terletak di Provinsi Sulawesi Selatan. Selain itu, keduanya
memiliki potensi alam yang berbeda. Binjai merupakan kota jasa
sementara Sinjai merupakan daerah yang kaya akan potensi alam.
Iya, Sinjai tergolong wilayah dengan kekayaan alam berlimpah.
Daerah dengan motto “Sinjai BERSATU” (Bersih, Elok,
Rapi, Sehat, Aman, Tekun, Unggul) ini, memiliki potensi alam
berupa pantai, pegunungan, hutan, dan perkebunan. Kesemuanya
menghasilkan hasil bumi yang menguntungkan. Melalui konsep tiga
pilar pembangunan, Kabupaten Sinjai membuka pintu yang selebarlebarnya
bagi para investor yang ingin berinvestasi.
Adalah Bupati Sinjai Andi Rudiyanto Asapa, yang concern membangun
Sinjai dengan tiga pilar yakni: agama, pendidikan, dan kesehatan.
Melalui tiga pilar ini, hendak dibentuk tataran masyarakat yang
baik secara akhlak, berpendidikan, dan terjaga kesehatannya.
“Agama itu penting untuk membentuk akhlak,” jelas
Rudiyanto. Sementara itu, pendidikan digalakkan dengan cara
memberikan pendidikan gratis kepada warga Sinjai dari tingkat
SD hingga SMA. Untuk kesehatan, Pemkab menawarkan Jaminan Kesehatan
Daerah dan Dokter Keluarga untuk menuju Indonesia Sehat 2010.
Berbekal tiga pilar tadi, Pemkab dan warga Sinjai siap bekerja
sama dengan investor. Nah, bagi calon investor, banyak sektor
yang bisa digarap. Sebut saja kelautan dan perikanan, pertenakan,
perkebunan dan kehutanan, hingga pertanian.
Sektor Kelautan dan Perikanan
Dari sektor kelautan dan perikanan, Kabupaten Sinjai mempunyai
potensi sumber daya yang memadai untuk dikelola. Di sepanjang
pesisir pantai Sinjai seluas 31 km, produksi ikan yang bisa
dicapai per hari mencapai 60 ton. Pada November hingga Maret,
umumnya hasil tangkap nelayan meningkat. Jenis ikan tangkapan
nelayan pun beragam. Seperti ikan kerapu, ikan cakalang, ikan
sunu, ikan tuna, ikan layang, dan ikan bonito. Bahkan ikan bonito
yakni ikan kayu yang dikeringkan hingga kadar air 10 persen
selama satu bulan sehingga menjadi keras seperti kayu, pernah
di ekspor ke Jepang.
Budiaman
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan
Kabupaten Sinjai.
Melimpahnya hasil tangkapan ikan di daerah Sinjai, tentu saja
tak hanya dikonsumsi masyarakat Sinjai. Lebih dari 50 persen
hasil tangkapan ikan, diekspor keluar daerah. Menurut Kepala
Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Sinjai, Budiaman, hasil
tangkapan ikan tersebut dikirim ke Makasar. “Dari Makasar,
selanjutnya hasil tangkapan ikan didistribusikan ke beberapa
daerah lainnya seperti Surabaya,” tutur Budiman. Yang
menarik bila di daerah lain ikan didistribusikan pada siang
hari, di Sinjai, umumnya para nelayan Sinjai yang jumlahnya
mencapai sekitar 8 ribu orang dengan dukungan 1.242 kapal nelayan,
mengirimkan hasil tangkapan sejak tengah malam hingga pagi hari.

(Dari kiri kenan) Budi daya rumput laut,
budidaya kerapu, tempat pelelangan ikan.
Di sini, Dinas Perikanan Sinjai turut andil bagi perkembangan
sektor laut. Instansi ini membuat rencana kerja stategis melalui
pembudidayaan ikan. Terdapat enam program pembangunan kelautan
dan perikanan. “Intinya kami berusaha membina para nelayan,
agar bisa meningkatkan produksi dan produktivitas perikanan
yang berorientasi bisnis air, meningkatkan pemberdayaan masyarakat
pesisir dan meningkatkan mutu hasil ekspor perikanan,”
ujar alumni Fakultas Perikanan Universitas Hasanudin Makasar
itu.
Ditambahkan Budiaman, para nelayan di Sinjai dibina untuk mengikuti
kegiatan budi daya laut, seperti budi daya ikan karang, ikan
kerapu, dan rumput laut. Hasilnya? Cukup menggembirakan. Dalam
sebulan para nelayan di daerah ini bisa menghasilkan 250 ton
rumput laut kering dengan harga tertinggi Rp 5.000 per kilogram.
“Ini merupakan salah-satu mata pencaharian yang cukup
menjanjikan bagi nelayan di Kepulauan Sembilan di Kabupaten
Sinjai,” ujar Budiaman yang mengharapkan suatu saat ada
investor yang tertarik membuat pengolahan industri rumput laut.
Inilah salah-satu program revitalisasi perikanan. Dengan tingginya
harga bahan bakar minyak yang berpengaruh terhadap kinerja nelayan,
budidaya rumput laut ini bisa menjadi solusi. “Bayangkan
bisa suatu saat nanti ada pabrik agar-agar di Kabupaten Sinjai,
sehingga produksi agar-agar bisa dibuat sendiri, bukan hanya
menyediakan bahan bakunya saja, seperti yang terjadi saat ini.”
Sektor Peternakan
| Pada
sektor peternakan, terdapat dua komoditi utama, yakni
sapi perah dan kambing. Sampai tahun ini, ada 250 sampai
300 sapi perah dengan produksi susu hingga 2.000 liter
per hari. Dari susu sapi perah yang cukup signifikan hasilnya
ini, dihasilkan dua macam produk. Pertama, susu pasteurisasi
yakni susu yang diproses dengan pemanasan suhu tinggi,
yang dikenal dengan merk Susin (diambil dari singkatan
Susu Sinjai). Susin dibuat dalam berbagai macam rasa seperti
strawberry, coklat, melon, dan mocca. Produk ini tidak
saja dipasarkan di Sinjai, tapi juga didistribusikan ke
Makassar. Produk kedua adalah ice cream dengan merk Sansu
Ice Cream. Diberi nama Sansu dengan arti, S adalah Sinjai,
AN adalah aman untuk berinvestasi, S adalah sejahtera
dengan tujuan untuk mensejahterakan masya-rakat dan U
berarti unik. Menurut Kepala Dinas Peternakan Sinjai Aminudin,
sebenarnya sudah ada investor, yakni sebuah CV di Jawa
Tengah yang siap bermitra untuk mengembangkan Susin. Namun
kerja sama ini baru bisa dijalankan bila susu segar yang
dihasilkan minimum sudah mencapai 4.000 liter per hari. |
SAPI PERAH.
Bupati Sinjai, A.Rudiyanto Asapa saat
meninjau ke peternakan sapi perah |
Aminudin, Kepala Dinas Peternakan
Kabupaten Sinjai.
Ditegaskan
Aminudin, diharapkan produk susu menjadi salah-satu unggulan
Sinjai. “Kami ingin agar siapa pun yang pernah datang
ke Sinjai ingat Susin, Susu Sinjai. Itu brand image yang ingin
kami tanam,” begitu penjelasan pria yang sudah menjabat
sebagai Kepala Dinas Peternakan selama enam tahun ini.
Sektor Perkebunan dan Kehutanan
Sektor perkebunan, Kabupaten Sinjai menunjukkan rapor cemerlang.
Kabupaten ini memiliki beberapa komoditi penting bertaraf international.
Apa saja? Kakao (coklat), cengkeh, kopi, vanili, kopi arabika,
hingga kopi robusta. Tidak tanggung-tanggung pada 2005 lalu,
ekspor kakao Sinjai ke Jerman mencapai 25 ton. Bahkan sepanjang
2006 ini, ekspor kopi Arabika dari Kecamatan Sinjai Barat menoreh
100 ton. Ini belum termasuk dari kecamatan lain di Sinjai.

Komoditi Perkebunan.
Kopi arabika, kakao dan vanila merupakan komoditi unggulan yang
sudah diekspor ke luar negeri.
Pengembangan
lebih lanjut yang tengah digalakkan Dinas Perkebunan dan
Kehutanan adalah menanam bahan baku tekstil yakni kapas
dan rami. “Saat ini, kami sudah mempunyai pabrik
sampai tingkat pengolahan serat rami dan kapas. Dengan
kapasitas 50 hektar per bulan, peluang di bisnis ini sangat
prospektif,” tuturnya. Diperkirakan kebutuhan serat
rami di dunia sekitar 350.000 ton per tahun. Sedangkan
Cina baru menyuplai 120.000 ton. “Artinya, tidak
ada salahnya bila kita mengembangkan bahan tekstil tersebut,”
tegas Kepala Dinas Perkebunan dan Kehutanan, Achmad Rasyid
yang menyelesaian pendidikan S-2 nya di UGM. Asal tahu
saja, Kabupaten Sinjai tercatat sebagai satu-satunya Kabupaten
di wilayah Indonesia bagian Timur yang mengembangkan usaha
bahan tekstil. |
Achmad Rasyid
Kepala Dinas Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Sinjai.
|
Luas tanaman seluruhnya di Kabupaten Sinjai kurang lebih 34
ribu hektar dari luas wilayah 81 ribu hektar. Dari sektor kehutanan,
untuk menunjang perekonomian di daerah ini, tanaman jati masih
menjadi primadona selain bakau dan hutan pinus. Seperti diketahui,
jati memang banyak diminati baik oleh industri yang ada di Makassar
maupun negara-negara lain seperti Hongkong, Taiwan, dan Singapura.
Masih kata Achmad, saat ini tengah dikembangkan kerja sama antara
Kabupaten Sinjai dengan salah-satu perusahaan di Surabaya untuk
penyadapan getah pinus. Saat ini Kabupaten Sinjai mempunyai
hutan pinus, lebih kurang 3.200 hektar dengan jumlah pohon lebih
dari 1,2 juta batang pinus. Alhasil, bila dijual akan memperoleh
hasil sekitar 900 juta rupiah per bulan.
Memberi Reward
Sejauh ini tidak ada kendala yang berarti bagi para investor
untuk mengembangkan usahanya di wilayah timur Indonesia. Pelayanan
publik terkait dengan pengurusan perizinan berlangsung dengan
mudah dan cepat. Seperti ditegaskan oleh Rudiyanto: “Kami
akan membuat para investor merasa nyaman dengan memberikan kemudahan
dan regulasi. Ini merupakan reward bagi mereka yang ingin mengembangkan
usahanya di wilayan kami,” tandasnya.
Saat ini Sinjai tengah menanti kerja sama dengan sejumlah pihak.
Seperti dituturkan Ketua Komisi A DPRD Sinjai Khair Khalis Syurkati.
“Sejauh ini sudah ada beberapa MoU yang dilakukan. Hanya
saja kami juga sedang menanti aplikasi dari MoU itu. Yang jelas
kami berharap Perda tidak terlalu membebani investor.”
Guna semakin menarik investor, menurut pria alumni fakultas
hukum Unhas ini, ada baiknya Sinjai belajar dari daerah lain
yang sudah cukup maju dalam hal investasi. Apa yang tengah dilakukan
Pemkab Sinjai berikut dukungan dari dewan, menunjukkan kesiapan
kabupaten ini bergandengan tangan dengan investor. Apalagi,
semangat kabupaten ini untuk maju semakin besar setelah bencana
alam berupa banjir bandang dan tanah longsor mendera 19 Juni
2006 lalu. Sinjai telah bangkit usai bencana yang meluluhlantahkan
rumah, infrastruktur serta menelan ratusan korban jiwa. (E.Condessy,
Chandra Wirawan)
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
|