e-GOVERNMENT
DI KABUPATEN TRENGGALEK
Segera Bangkit Mengejar Ketinggalan
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Pengembangan e-government di Kabupaten Trenggalek layaknya permainan
yoyo yang timbul tenggelam. Tahun ini, sejumlah terobosan akan
dilakukan. Miliaran rupiah dana akan dikucurkan. Ini peluang bagi
para vendor. “Siapa saja boleh ikut Tender,” kata
sang bupati.
Fitur
yang terpampang di monitor komputer, tetap saja tak berubah. Padahal
seorang wanita yang sedang mem-buka website www.trenggalekkab.go.id
sudah berkali-kali mengklik mouse-nya. Namun ya itu tadi,
tetap saja layar komputer di hadapannya tak berubah. Memang di
fitur website terdapat menu geografi, potensi unggulan, sejarah,
struktur pemerintah, pertambangan, topografi. Tapi tiap kali diklik
dan proses pencarian berjalan, ha-silnya selalu nihil.
Situasi semacam itu menurut Agus Prasmono merupakan hal yang lumrah.
“Jangan kaget, website kami memang masih kosong,”
ujar staf Humas Kabupaten Trenggalek, seakan menjawab kebingungan
wanita itu. Masih menu-rut Agus, website yang ada saat ini belumlah
maksimal. Maklum saja, baru tahun ini pembangunan TI bakal digalakkan.
“Mudah-mudah tahun depan website sudah bisa kami isi,”
tukasnya.
Dengan kondisi website layaknya “rumah hantu”, jangan
berharap ada interaksi antara Pemkab Trenggalek dengan warganya
via website. Sejauh ini, sarana komunikasi untuk mendekatkan warga
dilakukan melalui media cetak, elektronik, atau bertatap muka
secara langsung.
Ngudo roso atau bertelanjang, mencurahkan isi hati adalah salah-satu
kebiasaan masyarakat Trenggalek untuk menyambung rasa, mengikat
silaturahmi. Bila di era pemerintahan orde baru, Menteri Penerangan
Harmoko menggalakkan program sambung rasa kelompencapir, maka
Bupati Trenggalek H. Soeharto mengusung tradisi ngudo roso tadi,
sebagai salah-satu cara berkomunikasi dengan warga Trenggalek.
Maka tak heran setiap berkunjung ke pelosok pedesaan, orang nomor
satu di daerah ini selalu memanfaatkan tatap muka dan berkomunikasi.
“Dengan cara seperti itu, saya ingin mengetahui kendala
yang dihadapi warga,” ujar bapak empat orang anak ini.
Joko
Setyono
Kasubag Peliputan dan Penyiaran
Bagian Humas Kab. Tenggalek
Untuk komunikasi via media cetak, Pemkab menerbitkan Warta Trenggalek
dua minggu sekali. Mereka juga menggandeng Radio Praja Angkasa
AM dan Radio Jwalita FM untuk mensosialisasikan program Pemkab.
Wujudnya, setiap malam mengudara acara pedesaan dari pukul 19.00
hingga 20.00 WIB. Kontennya berbagai topik yang diusung oleh semua
dinas secara bergiliran. Menurut Kasubag Peliputan dan Penyiaran
Bagian Humas Kabupaten Trenggalek, Joko Setyono, setiap malam
respon masyarakat dalam dialog interaktif, terbilang bagus.
Selain komunikasi yang solid, Pemkab paham bahwa pelayanan juga
perlu diperhatikan. Wujudnya, mereka akan menggalakkan pembangunan
Information and Communication Technology (ICT). Apalagi musibah
banjir dan kebakaran sempat merusak sistem yang sudah dibangun.
Targetnya, peningkatan kualitas pelayanan kepada warga. “Kami
akan memanfaatkan TI untuk seluruh pela-yanan. Karena di era globalisasi
seperti sekarang ini, saya sadar teknologi penting,” tandas
Soeharto lagi.
Ditambahkan pria yang menamatkan studi di STT Telkom Bandung angkatan
90 ini, Trenggalek merupakan daerah yang cukup luas dengan 14
kecamatan dan 157 desa. Dan secara geografis dua pertiga wilayah
Trenggalek merupakan pegunungan. “Makanya kehadiran teknologi
penting untuk mendukung pembangunan wilayah ini. TI saat ini sudah
menjadi kebutuhan bagi Trenggalek karena di dalamnya ada e-government,
e-procurement dan TI jelas bisa menghemat waktu dan biaya,”
ujarnya beralasan.
Memang
diakui Soeharto, wilayah yang dinahkodainya, tergolong daerah
tertinggal. Tapi, katanya, “Bukan berarti kami tidak fokus
dalam implementasi TI. Ke depan, kami akan membuat data-base kependudukan
digital, teleconference, juga membayar pajak secara online. Pokoknya
warga bisa mengurus segala sesuatu dengan cepat.”
Musibah
Bila melongok pembangunan e-government di Trenggalek, sebenarnya
sudah dirintis sejak tiga tahun lalu, tepatnya 2003. Ketika itu
beberapa kantor dinas sudah bisa online ke kantor PDE (Pengolahan
Data Elektronik). Namun berbagai kendala membuat sejumlah rencana
pembangunan tidak berjalan mulus. Ambil contoh adanya perubahan
kelembagaan terkait siapa yang meng-handle urusan ICT,
membuat implementasi e-government sempat tersendat.
Joko
Susanto
Kepala PDE Kab. Trenggalek
Menginjak 2005, mulai dibangun jaringan LAN (Local Area Network).
Tak dinyana, terjadi kebakaran hebat yang merusak kantor PDE sehingga
seluruh peralatan yang ada rusak, termasuk radio link untuk masing-masing
jaringan. Apesnya lagi, ketika musibah terjadi, belum ada backup
data. Seluruh data BKKB lenyap. “Itu memang kelemahan kami,”
tutur Kepala PDE Kabupaten Trenggalek, Joko Susanto. Beruntung
data RSUD dan Dinas Kesehatan masih bisa diselamatkan. Sebenarnya,
kata Joko, sudah ada yang menyarankan, agar tiap bulan seluruh
data di-backup dengan CD. Sayang, saran tersebut cuma
numpang lewat. Belajar dari pengalaman itu, “Ke depan sudah
pasti sesuatu yang menyangkut data, akan menjadi perhatian kami.”
Rupanya, aksi jago merah juga merusak Wide Area Network (WAN)
yang dibangun 2003 lalu. Di sini, WAN men-connecting-kan
beberapa dinas seperti Bapeda, Bawasda, Dinas Perikanan, Dinas
Kesehatan, dan Dinas Pertanian. Usai musibah kebakaran, pengelolaan
data elektronik memang masih berjalan meski hanya di lingkup masing-masing
satuan kerja. Hanya saja, tidak ada sharring antar dinas secara
langsung. Ceritanya, sharing digelar secara manual menggunakan
disket atau flashdisk. Rupanya, bencana tak berhenti di situ.
Awal 2006 lalu, salah-satu wilayah di Trenggalek mengalami banjir
bandang. Lagi-lagi, sejumlah komputer rusak akibat bencana.
Bertekad Bangkit
Minimnya prasarana dan infrastruktur TI membuat bupati menetapkan
tahun ini sebagai starting point pembangunan TI. Gawe tersebut
di-backup dengan dana Rp 1,5 milyar. “Dana sebesar
itu, untuk ukuran Kabupaten Trenggalek sebuah angka yang sangat
besar. Makanya saya minta megaproyek ini ditenderkan,” begitu
penegasan Soeharto. Rencananya, tender akan dilakukan sesuai mekanisme.
“Saya sudah minta tolong Telkom untuk menyusun topografi
dari network TI di Trenggalek,” ujar pria yang juga pernah
bekerja di PT Telkom ini.
Sejauh ini, Telkom tengah melakukan RKS (Rencana Kerja Semestinya)
untuk menghitung seberapa besar kesulitan pengembangan topograsi
jaringan di wilayahnya. “Saya sudah jelaskan bahwa Treng-galek
daerah pegunungan. Jadi harus dipikirkan transmisinya. Apakah
lewat V-Sat, telepon kabel, atau fiber optic,” terang Soeharto
lagi.
Meski memiliki hubungan dengan Telkom, tidak serta merta, Soeharto
bakal merujuk Telkom sebagai rekanan. Penunjukan, ya itu tadi,
tetap melalui tender. Selain itu, yang mengerjakan TI di Kabupaten
Trenggalek, adalah perusahaan yang berkompeten di bidang TI. “Kami
berharap perusahaan yang mengikuti tender akan menawarkan transmisi
dengan fiber optic dengan harga kompetitif,” tutur Soeharto
yang berniat membuka wawasan para camat, kepala dinas di daerahnya
akan pentingnya ICT.
Mekanisme tender yang transparan sebenarnya bukan hal yang baru.
Setidaknya, saat Pemkab hendak membuat website, gawe ini juga
ditenderkan. Hasilnya? Menurut Plt. Kepala Unit Pengelolaan Usaha
Daerah Kabupaten Trenggalek Gathot Purwanto, berkat tender, anggaran
yang mulanya disiapkan Rp 128 juta, bisa hemat menjadi menjadi
Rp 47 juta. Hanya saja, diakui Gatot, tampilan website mereka
belumlah maksimal.
“Saya berharap pemenang tender nanti adalah perusahaan yang
kompeten. Apalagi kami mempunyai anggaran tidak sedikit,”
tuturnya lagi. Ia menambahkan, dukungan legislatif menyetujui
APBD dalam jumlah cukup besar, perlu disambut baik. Sebagai gambaran,
6 kecamatan di Trenggalek mem-butuhkan wireless berikut antena.
Untuk
lengkapnya baca di Majalah....
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------