Majalah e-Indonesia - Media ICT Wahana Merajut Nusantara

 

  Laporan E.Ari Astuti dari Malaysia

Ajang Bertukar Pengalaman Penerapan TIK se-Asia


Konferensi dan pameran e-ASiA2007 kembali digelar di Malaysia awal Februari lalu. Penekanan event lebih kepada e-goverment, digital learning, telecenter, e-health dan mserve. Inilah ajang tempat bertemunya komunitas TI di lima bidang tersebut untuk saling berbagi pengalaman. Kegiatan yang diikuti oleh 45 negara ini diklaim sebagai the largest ICT for development event di Asia.


Putrajaya, Malaysia, kembali ramai dikunjungi tamu dari berbagai negara awal Februari lalu. Kali ini event besar yang bertajuk e-ASiA 2007 kembali digelar di sana, tepatnya di Putrajaya International Convention Centre. Tak kurang 700 peserta dari 45 negara di kawasan Asia berkumpul untuk saling bertukar pengalaman bagaimana mereka menerapkan TIK di negara masing-masing. Konferensi yang diadakan oleh CSDMS (Centre for Science, Development and Media Studies) bekerja sama dengan Kementerian Tenaga, Air dan Komunikasi Malaysia ini, juga mengetengahkan pameran yang diikuti dari berbagai instansi dan perusahaan TI dari berbagai negara.

Ravi Gupta
Direktur CSDMS


Menurut Ravi Gupta selaku Direktur CSDMS, event ini bertujuan untuk saling bertukar ilmu dan pengalaman antara stake holder di bidang TIK dan pemegang kebijakan. e-ASiA juga ditujukan untuk menggalang lebih dari 500 ahli dalam satu platform. Acara yang rencananya bakal menjadi event tahunan CSDMS ini mencakup konferensi dan pameran. Event yang diklaim sebagai the largest ICT for Development event di Asia ini meng-cover sektor e-government, telecentre, eHealth, digital learning, dan mServe. Peserta yang hadir tercatat antara lain dari Eropa dan Amerika, juga dari beberapa negara Asia tentu saja. Dari Indonesia sendiri, ada perwakilan yang menghadiri masing-masing sektor kecuali mServe. Antara lain berasal dari APWKomitel, UNDP-Bappenas, Departemen Pertanian, Univeritas Indonesia, Universitas Gajahmada, Universitas Negeri Jakarta dan Hivos.

Dato’ Sri Dr. Lim Keng Yaik, Menteri Tenaga, Air dan Komunikasi Malaysia (KTAK) Malaysia, yang membuka acara tersebut mengungkapkan bahwa di dunia pendidikan, pemerintah Malaysia kini telah mengkoneksikan sekitar 10.000 sekolah dasar dan menengah dengan broadband. “Untuk wilayah yang tidak terjangkau telepon, kami menggunakan satelit. Kami juga mendirikan Smart School yang menerapkan sistem pendidikan berbasis TIK,” jelasnya.

Seakan tak mau kalah dari negara lain, Lim Keng Yaik juga mengungkapkan bahwa dalam lingkup KTAK, lebih dari 900 telecenter telah diimplementasikan. Selain KTAK, tidak sedikit organisasi lain yang juga membentuk telecenter, sehingga jumlah totalnya mungkin lebih dari 1.000 telecenter. Ia juga menyebutkan pesatnya perkembangan ponsel di Malaysia. Malaysia mempunyai tiga operator besar yang menyediakan layanan ponsel dengan tingkat penetrasinya mencapai 80%. Para operator ini juga menyediakan layanan 3G dan dalam proses penyelesaian sistem Wi-Max. Dalam bidang kesehatan Lim mengatakan telehealth merupakan salah-satu program aplikasi yang sedang akan dikembangkan dan merupakan salah-satu program di Malaysia’s Multimedia Super Corridor.

Egov Asia

Kebutuhan masyarakat akan pemerintahan yang efektif dan efisien kini semakin tinggi. Untuk wilayah Asia, kebutuhan saat ini adalah menciptakan platform Asia untuk bisa saling berdialog, membangun rencana strategis, dan membangun jaringan pengetahuan serta partner bisnis di bidang e-government untuk menjembatani digital divide. Egov Asia 2007 pada acara ini diharapkan mampu membawa para stakeholder seperti para pejabat eselon tertinggi di pemerintahan, industri, akademisi, dan masyarakat umum kepada satu platform untuk membangun e-government Asia. Lebih dari 50 pemakalah hadir dalam acara egov Asia 2007 ini. Di antaranya dari Malaysia, India, Inggris, Korea, Nepal, Jepang, Singapura, Australia, Amerika Serikat, Filipina, Sri Lanka, Swiss, Cina, Swedia, Perancis, Iran, Genewa, Indonesia, Costa Rika, dan Kanada.

Proses e-government yang terjadi di Malaysia barangkali menarik untuk disimak. Pembangunan Multimedia Super Corridor (MSC) pada 1998, pertama, ditujukan untuk membantu kalangan industri untuk menggunakan kemampuan teknologinya sekaligus mempersiapkannya untuk kemajuan TIK Malaysia di masa yang akan datang. Di sini, MSC mempercepat kemajuan Malaysia di bidang TIK. “Untuk itu dibangunlah dua kota baru di sepanjang koridor MSC yaitu Putrajaya dan Cyberjaya,” jelas Dr. Noor Aliah Mohd Zahri dari The Malaysian Administrative Modernisation and Management Planning Unit (MAMPU). Untuk diketahui, Putrajaya adalah pusat kota pemerintahan dan administrasi Malaysia yang baru dimana konsep e-govt diperkenalkan, sedangkan Cyberjaya adalah intelligent city dengan berbagai industri multimedia, pusat R&D dan universitas multimedia dan pusat operasional manufacturing dan perdangangan menggunakan teknologi multimedia. “Sesuai dengan visi e-govt Malaysia, TIK semakin meningkatkan efisiensi dan produktivitas,” ungkap Noor Aliah.

Rubaiah Hashim, dari Sekretaris Kementerian Tenaga Air dan Komunikasi (KTAK) Malaysia mengatakan bahwa untuk perkembangan pelayanan e-government, Malaysia memiliki beberapa strategi sehubungan dengan koneksi internet. “Strategi tersebut terangkum dalam National Broadband Plan (NBP),” ujar Rubaiah. Beberapa rencananya antara lain Penggunaan High Speed Broadband dibawah MyICMS 886, Strategi dibawah NBP, Kebijakan dalam promosi broadband, target-target NBP & MyICMS 886.

Zamani Zakaria
GM Direktorat MyICMS 886

Senada dengan yang dijelaskan Rubaiah, untuk lebih meningkatkan akses layanan informasi, komunikasi dan multimedia dalam rangka persaingan global, MyICMS (Malaysian Information Communication & Multimedia Services) didirikan. “MyICMS bertujuan untuk mendukung pertumbuhan layanan di bidang informasi, komunikasi dan multimedia,” ujar Zamani Zakaria, GM Direktorat MyICMS 886. Menurutnya elemen dasar dari MyICMS 886 terdiri dari servis/layanan, infrastruktur dan sektor yang sedang berkembang. Untuk bidang layanan MyICMS 886 meliputi High Speed Broadband, 3G & Beyond, Mobile TV, Digital Multimedia Broadcasting, Digital Home, Short Range Communications (e.g. RFID-based), VoIP/Telepon Internet, USP(Universal Service Provision). Pada infrastruktur terdiri dari hardware dan software. Untuk hardware mencakup Multiservice Convergence Networks, 3G Cellular Networks dan Satellite Networks. Sedangkan untuk software meliputi Next Generation Internet Protocol (IPv6), Home Internet Adoption, Information & Network Security, Competence Development, Product Design & Manufacturing. Sektor-sektor yang sedang berkembang antara lain pengembangan konten, TIK Education Hub, Digital Multimedia Receivers (set top box), peralatan komunikasi seperti VoIP, komponen dan peralatan tertanam seperti RFID dan Foreign Venture.

Singkatnya, infrastruktur dan layanan broadband telah dikenal sebagai major platform untuk transformasi pengembangan ekonomi dan pengetahuan masyarakat. Aturan pemerintah hanya untuk memastikan keadaan layanan dan infrastruktur broadband untuk mendukung manfaat akses ekonomi dan aplikasi informasi serta pengetahuan yang sejalan dengan Visi 2020. Government Industry Director, Microsoft Asia Pacific Barry Ridgway, menuturkan bahwa untuk keberhasilan sebuah pemerintahan, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan mengenai TIK. “Political leadership harus menunjukkan komitmen,” ujarnya. Selain itu business leadership juga harus memprioritaskan agenda melalui proses rencana yang strategis dan membuat keputusan dengan jelas.

Digital Learning
Menyiapkan jaringan ilmu pengetahuan. Itulah garis besar tema digital learning yang diusung dalam ajang e-ASiA2007 ini. Digital learning merupakan inisiatif untuk membuat platform yang mengkolaborasikan pengajaran, strategi, dan jaringan pengetahuan antara para inovator dan praktisi TIK di sekolah, universitas, maupun instansi lain. Masing-masing negara mempunyai ciri dan aturan yang berbeda, bahkan sekolah satu berbeda dengan sekolah lain. Maka di sinilah tempat untuk sharing knolwledge and experience tentang bentuk dan sistem pendidikan dari berbagai negara.
Direktur Divisi Teknologi Pendidikan, Kementerian Pelajaran Malaysia, Dato’ Haji Yusoff bin Harun menjelaskan kebijakan pemerintah Malaysia dalam menerapkan TIK di dunia pendidikan. “Kebijakan TIK Pemerintah Malaysia untuk dunia pendidikan adalah TIK untuk semua siswa, TIK sebagai alat belajar mengajar, TIK sebagai alat produktivitas, dan TIK sebagai alat untuk mengurangi kesenjangan digital antar sekolah,” tutur Yusoff.

Ia melanjutkan bahwa TIK dalam Rencana Malaysia ke sembilan (2006–2010) mencakup peralatan TIK yang memadai bagi semua institusi, integrasi TIK dalam pengajaran dan pendidikan, meningkatkan kemampuan TIK, penggunaan TIK dalam manajemen pendidikan, dan meningkatkan perawatan dan manajemen peralatan TIK. Menurut Yussof, semua kemajuan yang telah dicapai ini bukan karena teknologinya tapi orangnya. Sekarang ini ribuan siswa telah mahir bicara teknologi, lancar dalam bahasa komputer digital, video games dan internet. “Sebagai pendidik, yang harus diingat adalah bahwa saat ini kita mengajar pada abad ke-21. Kita tidak harus menguasai semua teknologi yang baru tapi bagaimana mem-filter pengetahuan dan memaksimalkan fitur dan konektivitas peralatan TIK yang kita berikan,” paparnya.

Sementara itu, Zainal A. Hasibuan, dosen UI yang juga hadir dalam acara e-ASiA 2007, mengatakan kalau Indonesia kurang memiliki visi TIK yang mampu men-drive seseorang untuk bisa lebih maju. “Ajang e-Asia 2007 ini bagus untuk mengetahui perkembangan TIK di negara lain, sehingga bisa menjadi inspirasi,” jelas Hasibuan. “Menurut saya, sepertinya pemerintah kita tidak punya partner untuk action plan,” lanjutnya. Ia mencontohkan kebijakan pemerintah mengenai telecenter. Wakil Dekan Bidang Akademis Fakultas Ilmu Komputer UI ini melihat perkembangan telecenter di Indonesia cukup bagus bahkan sangat membantu mereka yang berada di area rural. Tapi siapa sebenarnya yang nge-push atau siapa penggeraknya di Indonesia? “Belum ada,” tegasnya.

Banyak makalah, praktisi, dan pengalaman yang disuguhkan dalam pendidikan digital di ajang e-ASiA 2007 ini. Namun, masalah pendidikan digital tergantung pada kondisi TIK suatu negara. Bagaimanapun dukungan pemerintah sangat diharapkan, baik dari segi kebijakan maupun dukungan finansial, agar kondisinya makin kondusif. Di Pakistan, misalnya. Pemerintah di sana menyediakan dana khusus untuk pembangunan TIK mereka. Zainab Hussain Siddiqui, senior assistance director (Programmes) COMSATS Head-quarters, mengatakan bahwa Dana Layanan Universal (Universal Service Fund/USF) tersebut disediakan untuk menyediakan akses telepon dan internet yang affordable untuk masyarakat Pakistan, membentuk lingkungan yang bisa menumbuhkan teledensitas, memfasilitasi e-service dengan memulai pasar broadband dan TIK, serta memperluas cakupan telecenter.

Tujuan-tujuan tersebut mempunyai target guna memenuhi kebutuhan telekomunikasi sebesar 85% dari jumlah penduduk, 5% penetrasi teledensitas dan 1% broadband di rural area serta adanya telecenter untuk setiap 5.000 penduduk. “Memang, e-learning belum menjadi bagian penting dalam dunia pendidikan di Pakistan, namun policy dan initiative pemerintah terus berjalan,” ungkap Zainab menjelaskan. Meski demikian, sejak tahun 2004, Pakistan telah mempunyai Virtual University of Pakistan yang didesain dalam model hybrid. Model ini tetap mempunyai kelas-kelas dan laboratorium secara fisik, hanya saja interaksi para pengajar dan mahasiswa dilakukan melalui televisi broadcast atau rekaman video dengan bahan pelajaran yang diperoleh lewat internet.

Telecenter Forum
Di ajang Telecenter Forum ini, tak kurang 70 pemakalah tampil dari berbagai telecenter dunia. Zulfikar Rachman, salah-satu pemakalah dari Indonesia yang mewakili Bappenas-UNDP, memaparkan bahwa model akses TIK di daerah rural Indonesia terbagi dalam beberapa bentuk. Di antaranya dalam bentuk telecenter yang dimiliki oleh Pe-PP, Qualcomm, ADOC, BPDE, BIM–Mastel dan Worldbank, ICT Centre–Diknas, PNPM–Kesra, Warintek–Kementrian Ristek, CAP–Depkominfo, CTLC–Microsoft, sehingga bila digabungkan jumlahnya lebih dari 1.000.

Telecenter yang berada di bawah naungan Pe-PP saat ini sudah ada delapan. Beberapa di antaranya telah dilepas agar bisa berjalan dan berkembang sendiri. “Mereka berhasil survive dan saya pikir sustainability mereka tetap terjaga, bahkan yang di Jawa Timur telah mereplikasi atas bantuan dana dari Pemda setempat,” tutur pria yang akrab disapa Azul ini.

Para pemakalah dari berbagai negara.

Ke depan, menurut Zulfikar, mereka akan memberikan tim konsultan yang terdiri dari 5 orang/tim yang melayani satu wilayah yang terdiri dari 7-10 desa. Pada tahun 2007 ini ada lebih dari 5.000 konsultan atau fasilitator dan akan bertambah sekitar 25.000 orang pada 2010. Sementara itu, Kepala Bidang Pengembangan Sistem Informasi Departemen Pertanian, M. Tassim Billah tampaknya juga tertarik dengan pembentukan telecenter. “Kebetulan di Deptan, kami punya balai penyuluhan yang rencananya akan kami kembangkan ke bentuk tele-center” papar Tassim. Ia menjelaskan lebih lanjut, Balai Penyuluhan yang telah ada selama ini cenderung bersifat tradisional, padahal sudah saatnya bagi para petani untuk lebih maju. Mereka setidaknya dapat mengetahui sendiri harga jual panennya agar tidak tertipu oleh harga tengkulak, dan informasi tersebut dapat mereka peroleh via internet. “Kami ingin agar para petani bisa lebih maju dan menjadikan mereka agar lebih melek terhadap TI,” tambah Tassim.

Memang tidak ada kesepakatan khusus dari Telecenter Forum ini. Namun, guna meningkatkan kualitas telecenter dunia, rencananya akan didirikan akademi telecenter dunia atau World Telecentre Academy (WTA). Ini adalah jaringan global akademi telecenter nasional dan regional yang juga berkaitan dengan capacity building-nya. Tujuan WTA ini adalah untuk mendukung pertumbuhan SDM di telecenter grassroot dengan pekerja-pekerja di telecenter dengan cara koordinasi untuk menciptakan sumber daya, berbagi pengetahuan, dan konsultansi yang semakin baik. Sampai saat ini, konsep WTA ini baru dikembangkan oleh founding member-nya. Rencananya, konsep ini akan di-launch pada akhir 2007.

eHealth dan mServe

Di bidang eHealth, selain mereka yang memang concern terhadap TIK, presentasi juga disampaikan oleh para dokter yang concern terhadap perkembangan TIK. Dalam kesempatan tersebut, diketahui bagaimana para dokter menyampaikan visi-visinya untuk dunia kesehatan melalui perkembangan TIK. Dari materi yang disampaikan mereka optimis bahwa TIK memang sangat berguna bagi perkembangan dan kemajuan dunia kesehatan. Di eHealth Asia 2007 ini, para pembuat keputusan, expert, pemimpin di dunia kesehatan dari Filipina, Zambia, India, Swiss, Belgia, Pakistan, Swedia, Malaysia, dan Indonesia turut berpartisipasi memberikan presentasi dan berbagi cerita mengenai tingkat kemajuan dan perkembangan TIK di negara masing-masing.

Lengkapnya baca di Majalah...

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

 


KEMBALI  l  KE ATAS

 

Copyright © www.majalaheindonesia.com 2006