Santri
Pun Tak Ingin, Dibilang Gaptek
Sejumlah
pondok pesantren makin menggiatkan penggunaan TI untuk mendukung
proses belajar mengajar. Website pun telah digunakan sebagai media
informasi. Sayang, jumlah komputer masih jauh tertinggal dibandingkan
jumlah santri maupun santriwati. Belum lagi, kendala SDM dan dana.
Sudah
satu pekan Akmal Fadri bingung. Pasalnya anak-nya yang baru lulus
SMP ingin menimba ilmu di pondok pesantren. Padahal pria berusia
50 tahun ini "buta" soal pondok pesantren. Ia tidak
tahu, anaknya hendak dirujuk ke mana mengingat informasi yang
dimilikinya tentang keberadaan pesantren terbilang minim. Maklum
saja, ayah lima anak ini tinggal di pelosok, yakni sebuah desa
di Kabupaten Batu Sangkar, Sumatera Barat. Syukurnya, salah-satu
kerabatnya yang tinggal di Surabaya mem-beritahu agar ia membuka
situs www.gontor.co.id.
Tidak ingin membuang waktu,
dengan mengendarai sepeda motor bututnya, pria yang sehari-seharinya
ber-profesi sebagai guru SD itu meluncur ke salah-satu jasa pelayanan
internet di kota Batu Sangkar. Dibantu pemilik warnet, ia menelusuri
fitur-fitur di website Gontor. Merasa cukup mendapat informasi
yang dicari, ia bergegas pulang. Beberapa minggu berselang, anaknya
sudah tercatat sebagai salah-satu santri di Pondok Gontor, Jawa
Timur.
Akmal adalah satu contoh, yang bisa mendapatkan manfaat dari adanya
website yang kini banyak dimiliki oleh pesantren. Era teknologi
informasi telah membuat sejumlah pondok pesantren men-jadikan
situs sebagai salah-satu media informasi. Sejalan dengan itu,
pimpinan sejumlah pondok pesatren mulai sadar bahwa para santri
tak boleh menyandang gelar “gaptek.” Toh pada akhirnya,
usai menimba ilmu di pesantren, mereka akan terjun ke masyarakat
dan TI telah digunakan sebagai salah-satu tools.
Sarana TI
Salah-satu pesantren yang sudah lama memiliki fasilitas TI adalah
Pondok Pesantren Tebu Ireng, Jombang. Pondok milik keluarga KH
Hasyim Asy’ari itu menggunakan komputer sejak 1985. Sejalan
dengan itu, Pesantren Tebu Ireng melengkapi fasilitas belajar
dengan membangun laboratorium komputer. “Secara bertahap
kami mulai memperkenalkan berbagai aplikasi komputer termasuk
internet,” ujar Irvan Yusuf, sekretaris Pondok Pesantren
Tebu Ireng. Komputerisasi yang dilakukan pesantren yang beralamat
di Jln. Irian Jaya No. 10, Tebu Ireng, Jombang ini adalah membuat
semua data mengenai santri, alamat orangtua, rentang waktu studi
santri berikut pembayaran, dan semua sudah terintegrasi. “Khusus
pembayaran, kami bekerja sama dengan BCA dengan sistem e-banking
secara online,” imbuh Irvan.
Pentingnya penguasaan teknologi oleh santri juga disadari oleh
pengurus Pondok Pesantren Putri Al Mawaddah, Ponorogo. Pesantren
putri yang masih ada hubungannya dengan Pesantren Gontor itu,
sejak 1991 telah memberikan pelajaran mengenai komputer. “Komitmen
dari pimpinan bahwa santriwati Al Mawaddah tidak boleh gagap teknologi,”
ujar general secretary Pesantren Putri Al Mawaddah, Zaenal Arif
Fachruddin. Wujudnya, saat santriwati duduk di bangku kelas 4,
kelas 5, dan kelas 6, mereka wajib mengikuti kursus komputer.
Untuk mensosialisasikan program TI di Al Mawaddah, dalam setahun
dikucurkan anggaran sekitar Rp 200 juta. Boleh dibilang angka
tersebut berada di atas anggaran TI di Kabupaten Ponorogo dan
Pacitan. Meski demikian angka sebesar itu, menurut Zaenal, masih
kurang. Anggaran itu, salah-satunya digunakan untuk mengelola
web www.almawaddah.net. Web ini dikelola oleh tenaga khusus sehingga
website benar-benar berfungsi sebagai sarana komunikasi antar
santri, wali santri, dan masyarakat. Misalnya jika wali santri
ingin mengetahui prestasi dan perkembangan anaknya, mereka bisa
melihat website. “Jadi tidak perlu lagi datang ke Ponorogo.
Mereka cukup mengakses dari rumah atau penyedia jasa internet
dan password-nya adalah nomor induk santri,” papar Zaenal
lagi. Untuk mengikuti dinamika pendidikan santriwati, maka data
di-up date setiap minggu.
Sementara
itu, manajemen Pondok Pesantren Tremas Pacitan menargetkan santri
bisa mengoperasikan kom-puter. Adapun penggunaan komputer sudah
dilakukan empat tahun terakhir di masing-masing lembaga, khusus-nya
pelayanan administrasi. Nah, dua tahun terakhir setiap santri
diberi kebebasan untuk menggunakan kom-puter dan internet baik
untuk administrasi, berorganisasi, atau sebatas berkomunikasi
dengan pihak luar.
Kunjungan Presiden Soesilo Bambang Yudhono ke Pacitan belum lama
ini, memberi berkah tersendiri bagi Pondok Pesantren Tremas. Saat
itu, orang nomor satu di republik ini menyempatkan diri bersilaturahmi
dengan alumni dan pengurus Tremas. Dalam kesempatan tersebut,
sebanyak 16 komputer disumbangkan ke pondok ini. Menurut Sekretaris
Pondok Pesantren Tremas Pacitan, Jamaluddin Al Ghozi, bantuan
tersebut merupakan hasil kerja sama antara Departemen Komunikasi
dan Informatika (Depkominfo) dengan Kementerian Pembangunan Daerah
Tertinggal sebagai salah-satu program untuk mengurangi kesenjangan
TI di daerah tertinggal.
Dipilihnya Tremas sebagai lembaga yang berhak mendapat bantuan
tak luput dari peran alumninya. Musa Asy’arie yang pernah
menimba ilmu di Tremas kini tercatat sebagai staf ahli Menkominfo.
“Proses pemberian bantuan juga cepat,” tutur Al Ghozi.
Sebagai ungkapan terima kasih, SBY dan Musa didapuk sebagai Majelis
Penasehat dalam Kepengurusan Ikatan Alumni Perguruan Islam Pondok
Tremas (IAPT) periode 2006-2011.
Ketika e-Indonesia bertandang ke laboratorium komputer Pondok
Pesantren Tremas yang berada di gedung lantai 2, terlihat deretan
komputer baru. Al Ghozie menuturkan jaringan yang digunakan berasal
dari PT Sampurna Teknologi Indonesia (STI), sementara pengadaan
komputer dari Qualcomm. Vendor lain yakni Microsoft turut adil
dalam penyediaan software dan pelatihan. “Alhamdulillah
ada 16 tenaga yang dididik oleh Microsoft sebagai trainer,”
ucap pria kelahiran Probolinggo, 9 September 1979 ini.
Penerapan teknologi pun juga dilakukan di Pondok Pesantren Gontor.
Sebagai pesantren yang memiliki nama besar, Gontor memfasilitasi
santrinya yang berminat untuk mempelajari ilmu komputer dan internet.
Nyatanya, dari pendidikan ekstra kurikuler, respon dari para santri
cukup bagus. Untuk lengkapnya baca di majalah.
Lengkapnya baca di Majalah.