Dunia
riset di bidang Information and Communication Technology (ICT)
di Indonesia, masih jauh tertinggal dibanding negara-negara
lain. Padahal, menurut Taufik Hasan, kepala Telkom RisTI, “Kita
memiliki kemampuan.” Untuk itu, banyak hal yang perlu
diperbaiki. Mulai dari infrastruktur, budaya, hingga memberikan
penghargaan yang sepantasnya bagi reseacher. Beberapa waktu
lalu, Andy Zoeltom dan Faizah Rozy dari e-Indonesia, sengaja
menemui doktor lulusan Universite de Brest, Perancis, ini untuk
berbincang seputar riset, perkembangan ICT di Indonesia, serta
pembentukan Wireless Communication Research Community (WCRC).
Berikut obrolan santai yang berlangsung di ruang kerjanya di
Gedung Menara RisTI Gegerkalong Hilir, Bandung.
Bagaimana
Bapak melihat riset bidang ICT di Indonesia?
Kalau
kita lihat perkembangan yang ada, kemudian dibandingkan dengan
luar negeri, kita tertinggal. Namun dilihat dari sisi kemampuan,
sebenarnya kita tidak kalah. Kita memiliki kemampuan dan banyak
hal yang bisa dilakukan. Contohnya, banyak aplikasi yang dibuat
di Indonesia. Artinya, penelitian atau kajian di bidang aplikasi
cukup banyak di Indonesia.
Hal penting apa yang harus
diperhatikan terkait riset di bidang ICT?
Para akademisi dan periset memerlukan infrastruktur. Nah, infra-struktur
ini ada yang sifatnya kultural, misalnya kebiasaan kita, rasa
ingin tahu kita, dan lain sebagainya. Sayangnya, curiosity (rasa
ingin tahu-Red.) kita belum ada. Ini yang harus ditumbuhkan.
Selain itu infrastruktur fisik juga harus digalakkan karena
infrastrutkur kita terutama di daerah pedesaan masih terbatas.
Yang lain adalah pentingnya framework sehingga ada bingkai ketika
kita akan mengerjakaan sesuatu.
Sejauh mana pemerintah berperan
untuk mendukung riset?
Pemerintah harus memberikan support berupa kemudahan, menyusun
strategi, membentuk framework dan ini harus mulai dila-kukan.
Memang sudah ada, misalkan recognition tapi harus dikembangkan
lagi. Selain itu, selama ini researcher termasuk dalam bidang
ICT belum mendapat penghargaan. Penghargaannya masih kecil sekali.
Padahal dunia riset memprasyaratkan orang-orang yang pintar
dan inovatif sehingga sudah sepatutnya mereka mendapat penghargaan
termasuk dari pemerintah.
Untuk dukungan dana, bagaimana?
Begini, berapa banyak biaya riset kita? Sekian ratus miliar
dibagi begitu banyak periset, sekian departemen, ujung-ujungnya
dananya kecil sekali.
Di Telkom sendiri bagaimana?
Kalau kita bicara Telkom, biaya riset di Telkom tidak sampai
1% dari revenue, malah mungkin kurang dari 1%. Padahal di tempat
lain 1% itu minimal dari revenue. Yang bagus itu besaran dana
untuk mendukung riset sekitar 2% sampai 4%. Sebagai perbandingan,
Malaysia memiliki dana riset di bidang ICT sampai 10% dari revenue.
Nah, kalau kita bicara presentase, angka tersebut besar sekali.
Di era global yang serba
terbuka, sebagai orang yang berkutat di bidang riset, apa kondisi
ini menjadi faktor pendukung?
Bila kita bicara riset di bidang ICT, kondisi ini merupakan
peluang yang baik. Apalagi kecenderungan ke depan adalah open
standard atau keterbukaan. Makanya kita harus bertindak secara
maksimal. Kalau dulu kita harus menciptakan perangkat sendiri,
dengan adanya keterbukaan, sekarang tidak. Untuk perangkat kita
bisa melakukan desain kepemilikan saja.
Apa kekurangan dalam aktivitas
riset ICT di Indonesia yang perlu dibenahi?
Di tempat kita belum ada kebiasaan hasil riset dipublikasikan
dalam jurnal ilmiah lalu mendapat tanggapan atau kritik. Salah-satu
penyebabnya karena hasil riset khawatir dicuri. Nah, dengan
free flow information, hasil riset bisa disosialisasikan, selanjutnya
mendapat tanggapan dan periset tidak perlu khawatir ide atau
hasil risetnya dicuri. Jadi di dalam sini terkandung respect
for IPR (Intelectual Property Right, Hak Kekayaan Intelektual).
Jadi kita menghargai yang namanya hak cipta. Begitu juga dengan
riset atau pengembangan di bidang software. Awalnya, mungkin
kita sayang karena pembajakan di Indonesia cukup tinggi. Tapi
mengingat kebutuhan software cukup tinggi, riset dan inovasi
di bidang software merupakan sebuah peluang. Oleh sebab itu,
dengan terus melakukan riset dan berinovasi, akan membuat pertumbuhan
ICT kita terus berkembang.
Kalau dibuat skala prioritas,
mana yang paling penting untuk menggalakkan riset ICT?
Sulit mengatakan mana yang lebih penting, karena semua harus
berjalan beriringan. Kalau kita tidak memiliki budaya ingin
tahu, atau tidak ingin berinovasi, atau tidak didukung dengan
biaya yang memadai, riset juga sulit dilaksanakan. Berbagai
faktor harus saling mendukung. Jadi kalau dilihat yang berpengaruh
di sini banyak dan ada baiknya bila di bawah satu komando.
Maksudnya?
Kalau kita menunggu komando besar, belum tentu ada. Tapi setidaknya
kita bisa membentuk komunitas atau sektor tertentu. Jadi komando
tidak harus berasal dari Presiden. Kalau memang ada komando
dari tingkat atas memang bagus seperti di Malaysia. Tapi kalau
itu tidak ada, siapa yang sadar, bergeraklah. Yang bisa dilakukan,
ya dilakukan. Setidaknya, dimulai dari lingkungan kita, baik
itu lingkup nasional, sektoral, hingga komunitas atau organisasi
kecil. Jadi intinya berbagai faktor pendukung, harus bergerak
bersamaan. Sayangnya di lingkungan kita, faktor-faktor tersebut
saling bersinergi. Walaupun ada, belum bergerak secara serempak.
Inilah kelemahan kita.
Boleh dibilang support pemerintah
masih relatif terbatas?
Kalau kita bicara framework, pemerintah mestinya berperan dalam
hal ini.
Bisa cerita soal pembentukan
Wireless Communication Research Community (WCRC)?
Itu adalah sebuah kelompok yang kami bentuk tanggal 19 Oktober
tahun lalu dalam bentuk Yayasan Penelitian Telekomunikasi Nirkabel
(YPTN). Yang tergabung di dalamnya banyak pihak seperti Telkom,
Indosat, IM2, maupun operator yang lain. Ada juga vendor seperti
Motorolla, Siemens, dan juga ada dari kalangan perguruan tinggi.
Kebetulan yang dipercaya sebagai ketua umum adalah saya. Alhamdulillah,
respon bagus seperti dari Menristek dan mereka yang selama ini
berkecimpung di bidang ICT. Karena apa? Hingga kini, di Indonesia
belum ada yayasan yang bergerak di bidang penelitian ICT.
Apa tujuan WCRC?
Di sini kami memanfaatkan semua potensi untuk melakukan riset.
Dalam yayasan tersebut ada Dewan Penyantun. Biaya penelitian
merupakan kontribusi anggota yang terlibat. Konsepnya, semua
stakeholder bisa berkontribusi. Komunitas bisa melakukan riset
mulai dari yang sifatnya kajian sampai riset prototyping.
Siapa saja yang masuk dalam
Dewan Penyantun?
Dari Depkominfo ada Ditjen Postel dan Ditjen Aptel, dari Departemen
Perindustrian ada Ditjen IATT, BPPT, Kementrian Ristek dan lain-lain.
Kalau mereka bisa berkontribusi dalam bentuk dana memang bagus,
tapi jika tidak ada dana, at least ada sumbangan pemikiran-pemikiran
strategic.
Apa langkah riil yang akan
dilakukan WCRC dalam waktu dekat?
Pembentukan lembaga ini kan baru beberapa bulan. Tapi ada usulan
dari Departemen Perindustrian untuk mengangkat konsep cyber
city. Konsep ini diturunkan dalam bentuk kegiatan seperti membanguan
UKM. Di cyber city, kalangan UKM bisa bekerja dan berkomunikasi
dengan memanfaatkan keunggulan aset mereka untuk memajukan usaha
UKM dengan dukungan ICT. Targetnya, sektor UKM secara ekonomi
bisa maju. Di sini kami akan bersinergi dengan banyak pihak
memanfaatkan semua resources. Jadi cyber city bukanlah sebuah
infrastruktur atau sebuah daerah, tapi sebuah konsep yang di
dalamnya ada sebuah kelompok yang melakukan riset untuk satu
kepentingan. Harapan saya, WCRC bisa menjadi katalis. Kami tidak
harus melakukan sendiri, kami hanya menggerakkan. Jadi pemerintah
bisa membantu, tidak harus dalam bentuk kontribusi dana tapi
setidaknya bisa membantu dari sisi regulasi.
Menyinggung Telkom, RisTI
sendiri mempunyai peran apa untuk mendukung bisnis Telkom?
RisTI atau RDC (Research and Development Center) mempunyai tugas
membantu Telkom. Melalui product development, produk-produk
yang akan dipasarkan oleh Telkom dikembangkan di sini. Contohnya
Speedy, atau fitur-fitur Flexi. Untuk infrastruktur, kami turut
andil dalam membuat standardisasi. Kami juga membuat roadmap
untuk telekomunikasi atau ICT. Di dalamnya ada aplikasi atau
servis yang ditawarkan. Jadi, apa yang kami lakukan dalam konteks
untuk memperbesar bisnis Telkom, meski dukungan dana sangat
ketat. Istilahnya, no bugjet no activity ha ha ha.....

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------