TAUFIQ
EFFENDI
Menteri
Pendayagunaan Aparatur Negara
“Saya
Akan Ubah Total Sistem Penerimaan Pegawai”
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Ketika
ditanya soal mentalitas PNS yang pemalas, dan seabrek predikat
jelek lainnya, Menpan Taufiq Effendi, tidak kelihatan marah atau
tersinggung. Ia malah paham betul mengapa predikat tersebut melekat
di kalangan PNS. “Itu warisan sejarah,” katanya kalem.
Ia kemudian menceritakan panjang lebar, apa saja yang tengah dan
akan dilakukannya untuk membuat PNS kreatif dan produktif, terutama
dengan memanfaatkan teknologi informasi. Berikut penjelasannya
kepada Andy Zoeltom dan Ardi Winangun dari e-Indonesia di kantornya
di bilangan Jakarta Selatan.
Anda
sependapat PNS kita pemalas, tidak kreatif, suka korupsi waktu
juga uang, dan gila hormat?
Saya tidak akan menampik hal itu. Itu adalah warisan sejarah yang
harus saya terima.
Jadi Bapak kebagian cuci piring
nih.
Begitulah. Yang saya harus benahi mulai dari rendahnya kualitas
sampai ke upah yang mereka terima. Belum lagi soal 900 tenaga
honorer yang minta diangkat. Pegawai honorer itu senang atau tidak
senang sudah ada di situ dengan gaji ala kadarnya, dengan komposisi
yang juga tidak bagus. Ini juga warisan leluhur yang harus saya
terima. Karena kualitas yang seperti itu, ada beberapa departemen
dan juga infokom di daerah yang ingin mengembalikan separo pegawai
yang ada dan ingin menggantinya dengan kualifikasi yang mereka
butuhkan. Kalau sudah demikian, bagaimana saya harus menciptakan
pelayanan publik yang bagus, bagaimana saya harus melaksanakan
e-government, dan sebagainya.
Lantas apa yang Bapak lakukan?
Langkah yang saya ambil, kalau mulai dari A, kemudian B, lalu
C, ya kapan nyampainya. Karena itu saya gunakan filosofi, bermula
dari akhir dan berakhir dari mula.
Maksudnya?
Saya mulai dari bagaimana meningkatkan pelayanan publik. Pada
setiap daerah saya minta mereka secara bertahap berusaha memberikan
pelayanan publik yang baik bagi masyarakatnya.
Hasilnya?
Bisa dicatat sekarang, lebih dari 200 tempat pelayanan publik
sudah mendapat ISO 9001. Artinya apa, omongan saya bukan sekadar
omongan saja. Sidoarjo, Sragen, Karanganyar, pelayanan publiknya
prima. Di Sragen yang namanya PAD naik 1.000%, fiskal naik 250%,
tidak ada penggangguran di situ. Insya Allah di akhir 2007, seluruh
kabupaten akan seperti Sragen. Mengapa saya berbuat seperti itu,
saya tidak mau dengan kata-kata, biarkan mereka mencoba di situ
ada e-government, biar mereka mencoba di situ memberikan pelayanan
terbaik, karena memang baik maka e-government ada manfaatnnya.
Jadi lewat pelayanan publik prima
yang akan dicapai oleh seluruh kabupaten pada 2007 itu, Bapak
menepis anggapan bahwa PNS pemalas, lebih senang dilayani, tidak
kreatif, dan predikat buruk lainnya?
Persis. Sekarang saja sudah bisa dilihat, beberapa daerah sudah
bergaya Sleman. Bupati dengan camat sudah bisa telekonferen lewat
laptop. Sekarang tidak ada lagi kodamar (komando dari kamar).
Di beberapa daerah, berkat pemanfaatan TI, PAD meningkat. Pada
2004 gaji terendah PNS Rp 668.000, sekarang sudah bisa kita naikkan
menjadi Rp1.000.060, dan tahun depan akan menjadi Rp1,6 juta.
Apa lagi rencana Bapak ke depan?
Reformasi birokrasi. Pertama, perubahan mainset. Dari penguasa
menjadi pelayan. Dari mendahu-lukan wewenang menjadi mendahulukan
peranan. Dan menyakini bahwa jabatan itu amanah. Kedua, perubahan
manajemen yang berbasiskan kinerja yang dilakukan secara transparan,
akuntabel, terukur meliputi kelembagaan, ketatalaksanaan, SDM,
daya kerja, dan TI. Ke depan peranan TI akan sangat besar. Saya
tidak akan berpikir rasio lagi. Saya akan ubah sistem penerimaan
pegawai secara total. Nanti tidak akan ada lagi orang berebut
formulir. 
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------