Awal Februari lalu, Malaysia kembali menggelar Konferensi dan
Pameran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Event yang bertajuk
e-ASiA 2007 itu diadakan di Putrajaya International Con-vention
Centre, tempat pusat pemerintahan dan administrasi Malay-sia yang
baru, yang sudah menerapkan konsep e-government.
Konferensi dan pameran yang sudah diadakan untuk kedua kalinya
ini (yang pertama diadakan di Bangkok, Thailand, 2006) memfokus-kan
pada lima topik utama: e-government, e-learning, telecentre, e-health,
dan m-serve. Tak kurang 700 peserta dari 45 negara di kawasan
Asia, Eropa, dan Amerika berkumpul untuk saling bertukar pengalaman
bagaimana mereka menerapkan TIK di negara masing-masing. Ada lebih
kurang 50 pemakalah yang membawakan pre-sentasi dalam acara ini.
Mereka antara lain berasal dari Malaysia, India, Filipina, Nepal,
Pakistan, Singapura, Sri Lanka, Korea, Jepang, Indonesia, dan
beberapa dari negara Eropa dan Amerika seperti Kanada, Amerika
Serikat, Finlandia, Swiss, Turki, Perancis, dan Inggris.
Dari Indonesia sendiri, ada perwakilan yang menghadiri masing-masing
sektor kecuali mServe. Tampak terlihat Rudi Rusdiah dari APW-Komitel,
Zulfikar Rachman dari Bappenas-UNDP, Edi Abdurrachman dan M. Tassim
Billah dari Departemen Pertanian, Zainal Hasibuan dari Fasilkom
Universitas Indonesia, Arief Udiarto dari Fakultas Teknik Universitas
Indonesia, serta Anis Fuad dari Fakultas Kedokteran Universitas
Gadjah Mada, Yogyakarta.
Ravi Gupta, direktur CSDMS (lembaga yang menjadi event organizer
acara ini), kepada e-Indonesia mengatakan bahwa tujuan diadakannya
acara ini adalah untuk saling bertukar ilmu dan pengalaman antara
stake holder di bidang TIK dan pemegang kebijakan. Selain itu,
e-ASiA juga ditujukan untuk menggalang lebih dari 500 ahli dalam
satu platform.
Pembaca,
Untuk melihat event tersebut dari dekat, dan untuk lebih mengetahui
bagaimana perkembangan TIK di berbagai negara Asia, kami mengutus
E. Ari Astuti untuk meliput kegiatan tersebut. Ari, yang bergabung
dengan e-Indonesia sejak Juli 2006, kemudian menuliskan laporannya
dalam rubrik e-Focus nomor ini. Selain itu, bahan-bahan yang ia
dapat dari acara diskusi, akan kami pilih topik yang menarik,
untuk kemudian akan kami muat secara bertahap pada terbitan berikut
majalah ini.
Pembaca,
Topik liputan utama kami kali ini membahas mengenai National Single
Window (NSW), yang merupakan salah-satu program flagship Dewan
TIK Nasional yang mesti segera diselesaikan karena memiliki dampak
besar pada jalannya roda pemerintahan kita. Itu pulalah alasan
mengapa NSW kami angkat menjadi topik bahasan liputan utama kali
ini. Jika NSW benar-benar bisa diterapkan, maka urusan ekspor
impor kita yang selama ini ribet dan lelet, akan menjadi mudah,
efisien, murah karena tak ada lagi pungli, dan transparan. Tapi
bisakah itu terjadi? Waktu yang akan membuktikan.
Selamat membaca. 