Wawancara
tengah berlangsung ketika tiba-tiba ruangan mendadak gelap. Kepala
PDE Kabupaten Bangka, Petrus Sukrislisbagyo, yang tengah kami
wawancarai di kantornya, memohon agar kami maklum dengan keadaan
tersebut. “Beginilah keadaan di daerah kami,” ujarnya.
Ia kemudian bercerita bahwa listrik di daerahnya memang sering
byar pet. Tiap hari ada saja waktunya mati. Lucunya, listrik tak
lama kemudian hidup kembali, tetapi satu jam kemudian mati lagi.
Sementara itu, teman kami yang juga tengah melakukan kunjungan
ke Pontianak, mengalami hal serupa. Kendala utama pembangunan
di daerah tersebut adalah kurangnya daya pasok listrik, sehingga
tak heran jika sebentarsebentar terjadi mati lampu.
Keadaan itu kami alami, pertengahan tahun lalu. Ketika itu kami
tengah diminta Kementerian PAN untuk melakukan evaluasi penerapan
e-government di Indonesia. Hasilnya, kami merekomendasikan masalah
listrik ini untuk menjadi perhatian utama. “Terkait dengan
kendala infrastruktur, dukungan akses menjadi persoalan khususnya
responden yang tinggal di luar Jawa mengingat listrik sering mati.
Untuk itu, diharapkan terjadi sinergi antara PLN, Depkominfo,
Pemda untuk memprioritas pembangunan listrik untuk daerah-daerah
yang mulai membangun e-government,” begitu rekomendasi kami
ketika itu.
Tapi untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, yang terjadi
belakangan ini bukannya semakin membaik, malah sebaliknya. Jakarta,
sebagai ibukota pun, kini tak luput dari pemadaman listrik. Masyarakat
di Tebet, Jakarta Selatan, sudah merasakan dampaknya ketika akan
memperpanjang KTP. Pelayanan mandek. Kini masalah listrik sudah
masuk ke zona nasional, yang harus mendapat perhatian serius dari
pemerintah.
Sejak e-government mulai tumbuh di tanah air beberapa tahun lalu,
terutama sejak keluarnya Inpres No. 3/2003, Pemerintah Daerah/Kota
dan juga Pemerintah Provinsi mulai mencoba membangun e-government.
Ada yang memulai dengan membuat website, bahkan ada yang sudah
melesat hingga ke pelayanan satu atap.
Namun dalam perjalanannya, tidak semuanya berjalan mulus. Berbagai
kendala memang menyelimuti usaha menuju ke pemerintahan yang bersih
dan transparan itu. Mulai dari masalah leadership, ketersediaan
infrastruktur, minimnya dana, hingga masalah ketersediaan sumber
daya manusia untuk menjalankan e-government itu sendiri. Satu
hal yang dari awal sebetulnya tak begitu menjadi perhatian adalah
masalah pasokan listrik.
Atas pengalaman liputan kami ke berbagai daerah dan juga peninjauan
kami dalam tugas yang diminta Kementerian PAN itu, akhirnya kami
menyimpulkan masalah listrik tak kalah pentingnya dari masalah
lain yang menjadi kendala dalam penerapan e-government di tanah
air. Itulah pula akhirnya yang menjadi alasan kami ketika meminta
kepada PLN untuk menjadi pembicara dalam seminar evaluasi yang
kami adakan, agar PLN dapat menjelaskan langsung kepada peserta
seminar apa sebenarnya yang terjadi dan bagaimana mengatasi hal
tersebut.
Waktu terus berjalan. Hingga kini tanda-tanda perbaikan tampaknya
masih jauh panggang dari api. Kita hanya dapat berharap usaha
PLN membangun pembangkit listrik 10.000 MW (dan dilanjutkan 10.000
MW tahap kedua) dapat cepat selesai, agar penerapan e-government
kita dapat berjalan sempurna. Sementara itu, sambil menunggu hal
tersebut, tampaknya masing-masing daerah harus mencari jalan keluar
sendiri-sendiri. Atau tetap membiarkan e-government kita mandek?
(AZ)