Majalah e-Indonesia - Media ICT Wahana Merajut Nusantara

Editorial Majalah e-Indonesia Vol. I / No. 13 / Edisi Juli 2006


Disaster Recovery

 

Apa yang tersisa dari sebuah bencana? Penderitaan.
Itulah yang dialami bangsa kita belakangan ini. Setelah tsunami meluluhlantakkan Aceh, kita kembali dicoba dengan musibah gempa yang melanda Yogyakarta 27 Mei lalu. Belum lagi, musibah banjir atau longsor yang kerap rutin menimpa rakyat Indonesia.

Karena bencana kerap terjadi, kita sering menyaksikan dampak akibat terjadinya musibah itu terus berkepanjangan. Penyelesaian akibat tsunami di Aceh belum tuntas sampai saat ini. Begitu juga, yang skalanya lebih kecil -- karena hanya dianggap bencana lokal -- seperti gempa di Yogya sudah hampir dua bulan penduduk yang terkena gempa masih banyak yang tinggal di barak-barak.

Memang bencana (disaster) -- apakah itu banjir, gempa bumi, atau yang ditimbulkan akibat ulah manusia itu sendiri seperti serangan terhadap sistem keamanan jaringan komputer perusahaan, bom seperti yang terjadi pada serangan WTC September 2001 lalu -- sangat mungkin menimpa setiap wilayah dan juga setiap organisasi.

Apa yang tersisa dari sebuah bencana? Penderitaan.
Pada kasus-kasus tertentu, terutama bencana yang disebabkan oleh alam, memang kita tak bisa berbuat banyak untuk mencegahnya. Oleh sebab itu, yang menjadi penting untuk kita perhatikan adalah bagaimana mengurangi dampak bencana yang terjadi terhadap bisnis perusahaan atau pelayanan pemerintah serta bagaimana mempercepat pemulihan kegiatan bisnis atau pelayanan pemerintah itu agar kembali normal seperti sedia kala.

Belajar dari banyak kasus, memang dampak setelah bencana ini mesti menjadi perhatian serius. Bayangkan 43% perusahaan di Amerika Serikat tutup setelah mengalami bencana, dan dari sisa yang masih bertahan 29%nya juga tutup tiga tahun kemudian. Belum lagi 93% perusahaan yang mengalami kehilangan data (data loss) yang signifikan tutup dalam waktu lima tahun. Data dari US National Fire Protection Agency, US Bureau of Labor tersebut juga menambahkan bahwa 78% organisasi yang tidak memiliki contingency plan yang memadai dan mengalami bencana yang besar, dalam waktu 2 tahun akhirnya terpaksa tutup, meskipun beberapa organisasi tersebut memiliki asuransi dan beberapa di antaranya meliputi asuransi untuk menanggulangi terhentinya bisnis akibat bencana. Dari kasus tersebut kita bisa melihat kenyataan yang tidak dapat kita bantah bahwa terlepas dari apa pun penyebab terjadinya bencana, umumnya organisasi/perusahaan/lembaga pemerintah memang tidak mempersiapkan diri untuk menghadapi setiap kemungkinan bencana.

Apa yang tersisa dari sebuah bencana? Penderitaan.
Ya bencana memang meninggalkan penderitaan. Hanya saja, seberapa lama kita akan mengalami penderitaan tergantung bagaimana kita mempersiapkan diri dalam menghadapi bencana tersebut. Kalau manajemen kita dalam menghadapi bencana telah tersusun secara sistematis, barangkali kita tak perlu berlama-lama mengalami penderitaan itu. Data yang hilang terbawa arus, atau hancur dan tenggelam di dalam perut bumi akibat gempa, dapat terselamatkan jika memiliki back up yang baik. Singkatnya jika perencanaan pemulihan bencana (disaster recovery planning) telah kita susun, maka kita semua berharap kelanjutan bisnis ke depan (business continuity planning) akan dapat berjalan normal kembali dalam seketika. Pelayanan yang kita berikan kepada masyarakat, termasuk pelayanan publik yang dilakukan pemerintah, dapat kembali ke keadaan semula. Dengan demikian kita berharap kita tidak akan berlama-lama menderita akibat bencana yang terjadi. Apa yang tersisa dari sebuah bencana? Tidak ada, karena semua telah berjalan normal kembali. Itu yang kita harapkan. (AZ)

 


KEMBALI    l    KE ATAS

Copyright © www.majalaheindonesia.com 2006