Majalah e-Indonesia - Media ICT Wahana Merajut Nusantara

Editorial Majalah e-Indonesia Vol. I / No. 1 / Edisi Mei 2005


Asal Mau Pasti Bisa

 
Seorang teman tertawa ketika saya ngotot berpendapat, bahwa korupsi di negeri ini bisa dikurangi bahkan bisa disapu habis. “Caranya dengan menggunakan teknologi canggih sehingga orang tak lagi berhubungan secara langsung,” kataku dengan antusias. Kali ini, teman saya itu tertawa lebih keras lagi. Melihat responnya, mungkin dia berpikir kalau saya kurang waras. Tapi tak apalah. Sah-sah saja dia memvonis demikian. Saya coba untuk berbesar hati. Ah, dia belum tahu kehebatan teknologi, kataku dalam hati. “Korupsi itu sudah mengakar di Tanah Air kita, Bung. Saking mengakarnya, korupsi sudah dianggap sebagai budaya bangsa,” katanya sembari menghapus air mata yang menetes di sekitar kelopak matanya akibat derai tawanya yang sungguh luar biasa. Menghilangkan korupsi adalah pekerjaan yang sia-sia, katanya lagi. Melihat respon teman tadi, saya jadi teringat dengan Taufiq. Menurutnya, orang yang bangga mengatakan bahwa korupsi itu sudah membudaya di Indonesia adalah orang yang putus asa. Ia tidak tahu lagi korupsi itu mau diapakan.

Bukan maksudku untuk membela diri di hadapan kawan lama. Kucoba menyakinkan dirinya dengan menceritakan pendapat Taufiq tadi. Sejenak, dengan suara agak parau, dia berkata, “Pasti Taufiq temanmu itu belum pernah memperpanjang SIM (Surat Ijin Mengemudi) sendiri,” katanya. “Memang kenapa?” tanyaku. “Bung, kemarin saya baru saja memperpanjang SIM di salah satu Polda di negeri ini. Di sana para calo bertebaran. Malah mereka tak segan berdiri di bawah papan pengumuman yang justru berisi himbauan dan larangan menggunakan jasa calo.”
“Bayangkan, saya yang mau memperpanjang SIM dikerubuti begitu banyak calo,” keluhnya. Sifatnya yang keras, membuatnya tak bergeming meski terus dikuntit dan dipaksa untuk menggunakan jasa calo.

Hasilnya? “Saya menunggu hampir tujuh jam,” ceritanya. Sebetulnya, katanya lagi, ia tak mengeluh karena lamanya proses perijinan. Ia pun mencoba menahan diri manakala dikerubuti para calo dengan tampang seramnya. Yang membuatnya sesak dada, orang lain yang mengurus bersamaan dengannya, rampung duluan. “Ia pakai jasa calo Bung,” tuturnya dengan nada jengkel. Yang lebih membuatnya sakit hati, justru polisi yang berdiri tak jauh darinya dan para calo, cuma diam seribu bahasa.

Mendengar cerita sohib saya itu, saya mafhum. Bisa jadi, ia tidak sendirian. Begitu banyak orang lain dan warga di republik ini mengalami hal serupa. Mereka orang-orang kecil yang kesal dengan keangkuhan birokrasi. Punggawa pemerintah bukannya melayani tapi minta dilayani. Mereka acapkali dipimpong ke sana ke mari untuk mengurus perijinan. Sarat KKN pula. Belum lagi, pungutan liar yang harus mereka bayar. Walhasil, wajar kalau dia tak percaya pendapat saya tadi. Menghilangkan budaya KKN di negeri ini, adalah mustahil.

Kegamangan membuatku bertandang ke kantor Taufiq, esok harinya. Tanpa obrolan basa-basi, kusodori pertanyaan titipan dari kawan lamaku tadi. “Apa Anda pernah mengurus SIM sendiri?” Taufiq hanya terdiam. Tak banyak kata, ia membawaku ke sebuah tempat bernama Samsat Sidoarjo. Di sini, saya menyaksikan proses pengurusan ijin pembuatan STNK berjalan dengan cepat. Hanya dalam hitungan di bawah 10 menit. Singkatnya waktu ini sudah termasuk pencetakan nomor secara online. Kok bisa ya? Saya terheran-heran. “Asal mau bisa,” tutur Taufiq. Rasanya, saya ingin segera bertemu dengan teman lama saya lagi. Warta gembira ini patut diterimanya. Keputusasaannya harus dihilangkan. Sudah bukan saatnya lagi, pesimistis. Negeri ini bisa menjadi lebih baik. Asal mau pasti bisa. Kata kunci itu, selalu saya ingat. Kata ini pula yang sering diucapkan Taufiq di hadapan banyak khalayak menyusul amanah yang dipercayakan kepadanya sebagai Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara.
(AZ)
 


KEMBALI    l    KE ATAS

Copyright © www.majalaheindonesia.com 2006