Seorang
teman bertanya, mana yang harus dipersiapkan terlebih dahulu,
infrastruktur TI atau masyarakatnya? Saya bilang tergantung siapa
leader-nya. Lo kenapa begitu katanya? Bagi seorang Hasnul
Suhaimi yang memimpin Indosat, kata saya, yang menentukan perusahaannya
akan menanamkan investasi infrastruktur TI atau tidak, adalah
demand yang ada. “Menurut saya yang namanya bisnis itu tidak
bisa dilihat dari operator tetapi dari demand yang ada. Kami harus
pelajari apa kebutuhan masyarakat, bagaimana, dan kapan mereka
membutuhkan. Jadi produk yang kami persiapkan sesuai dengan keinginan
mereka,” begitu penjelasan Hasnul.
Tapi bagi seorang walikota Pemkot di salah-satu
daerah di Sumatera Selatan, yang lebih penting adalah membangun
dan menyiapkan masyarakatnya ketimbang sibuk memikirkan pengimplementasian
TI. Maklumlah di daerahnya masih banyak penduduk yang miskin.
Menurut Pak Wali, jika keadaan masyarakatnya nanti sudah membaik,
baru ia akan memikirkan soal TI. Oleh sebab itu tidak heran ketika
ditanyakan soal TI kepada salah seorang kepala dinas di sana,
mereka tidak begitu paham apa kegunaan TI.
Memang pemahaman TI di tiap daerah berbeda-beda. Ada daerah yang
melaju kencang karena leader-nya memang paham dan mengerti
akan kegunaan TI. Ada juga daerah, yang sengaja belum memu-lainya,
karena lebih mementingkan masalah lainnya yang mereka anggap lebih
penting. Ada juga daerah yang belum memulainya karena memang tidak
memiliki dana untuk itu. Namun di atas segalanya itu, peran pemerintah
pusat tampaknya harus tegas. Mau dibawa ke mana pembangunan TI
kita? Dengan demikian pembangunan infrastrukturnya juga jadi jelas.
Kita harus mendorong pemerintah untuk membuat
kebijakan yang mendukung perkembangan infrastruktur. Selain itu,
pembangunan infrastruktur TI juga ada baiknya diarahkan ke sasaran
pelayanan publik. Sebab kalau kita ingin bersaing di bisnis TI,
rasanya terlalu berat. Selain juga bersaing menjual produk atau
jasa TI tentu saja output-nya sangat terbatas.Yang lebih
dipentingkan saat ini adalah bagaimana agar baik pemerintah maupun
swasta (terutama perusahaan-perusahaan nasional) tidak tertinggal
dalam penerapan TI dibandingkan dengan negara lain. Dengan demikian,
segala macam bentuk transaksi, terutama dengan buyer luar negeri
misalnya, dapat terhubung dengan baik dan berjalan lancar dan
aman. Bagaimana kita akan bersaing dalam bisnis jika sistem TI
kita tidak berjalan dengan baik.
Begitu juga dengan di pemerintahan. Pengimplementasian TI kiranya
dapat lebih diarahkan ke pela-yanan publik seperti bagaimana agar
pengurusan KTP bisa lebih terorganisir dengan baik, lebih cepat,
dan dengan biaya yang murah tentu saja. Begitu juga dengan pelayanan
publik lainnya, seperti pengurusan SIM, STNK, paspor, dan layanan
lainnya yang menyangkut kepentingan orang banyak.
Jadi pembangunan infrastruktur TI
hendaknya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan, kemudian meren-canakan
solusinya, dan kemudian implementasinya. Dengan cara demikian,
hasilnya akan lebih bermanfaat dan dirasakan langsung oleh masyarakat
banyak. Jika masyarakat sudah merasakan manfaat digunakannya TI
secara real, maka mereka akan dapat menilai dan merasakan adanya
perubahan antara tanpa digunakannya TI dan setelah memanfaatkannya.
(AZ)