Konferensi
Teknologi Informasi dan Komunikasi untuk Indonesia kembali digelar
di Bandung 3-4 Mei 2006. Dihadiri 500 peserta dan dibuka Wapres
Yusuf Kalla, konferensi mengeluarkan Deklarasi Kebangkitan Industri
Teknologi dan Komunikasi Indonesia dan lima rekomendasi untuk
menjadi masukan bagi pemerintah.
Aula
Barat Kampus Institut Teknologi Bandung (ITB) Rabu dan Kamis,
3-4 Mei 2006 lalu, kembali ramai dijambangi mereka yang memiliki
perhatian terhadap teknologi informasi, baik itu dari kalangan
perguruan tinggi, pemerhati, para pengelola divisi TI di berbagai
instansi dan daerah, serta para pejabat pusat terkait. Hari itu
Kelompok Keahlian Teknologi Informasi dan Sekolah Teknik Elektro
dan Informatika ITB, dan e-Indonesia Initiative Forum menyelenggarakan
Konferensi Teknologi Infor-masi dan Komunikasi untuk Indonesia
yang dikenal dengan e-Indonesia Initiative 2006 (eII 2006). Konferensi
Nasional yang memasuki tahun kedua ini diselenggarakan bekerja
sama dengan The Indonesian ICT Institute, Bappenas, dan Depar-temen
Komunikasi dan Informatika (Depkominfo). Tema yang dipilih adalah
“Mencari Teknologi Baru dan Metode Pengukuran Keberhasilan
Penerapan Teknologi Informasi di Indonesia.” Ber-samaan
dengan konferensi, diadakan pula pameran Teknologi Informasi dan
Komunikasi (TIK) serta dua workshop bertajuk “Peningkatan
Kemampuan Industri ICT dalam Negeri” dan “Pemberdayaan
Masyarakat Pedesaan Melalui Telecenter.”
Menurut Ketua Umum Panitia Konferensi, Suhono Harso Supangkat,
konferensi tersebut dapat menjadi forum komunikasi antara peneliti,
pengambil kebijakan, pemerintah, pengembangan industri dan pihak
lain yang terikat dalam pengembangan dan penerapan teknologi informasi
dan komunikasi di Indonesia. Suhono menuturkan lebih lanjut, ada
empat topik besar yang dibicarakan, pertama Teknologi dan konsep
baru dalam penerapan infrastruktur informasi: 3G dan yang lebih
canggih, Teknologi Nirkabel, termasuk WiFi dan WiMAX, Teknologi
IP & IMS, Ubiquitous Network, Next Generation Network, Next
Generation Broadcasting, National Backbone, Inovasi Teknologi
untuk USO, Konsep dan inovasi baru kebijakan USO, Konsep badan
regulator independen, dll.
Kedua, Teknologi dan konsep baru dalam pengembangan e-government
dan e-enterprise: Pengem-bangan kontekstual e-government/e-enterprise,
IGOS (Indonesia Goes to Open Source), service oriented application,
pengembangan aplikasi baru, e-learning/distance learning, virtual
community Supply Chain Management (SCM), Manajemen pembangunan
e-Government/business/enterprise, Manajemen perubahan/budaya/komunitas,
Sistem keamanan/security, Early warning system/survei
lance system Manajemen resiko, ERP, dll.
Ketiga, Peningkatan kemampuan industri telekomunikasi dan informasi
Indonesia: Riset dan penelitian untuk pengembangan industri dalam
negeri, Strategi pengembangan industri TIK di Indonesia, Model
kerja sama pemerintah, universitas dan industri, Sistem insentif
untuk pengem-bangan industri, Inkubasi industri, dll.
Keempat,
Pengukuran keberhasilan penerapan teknologi informasi di Indonesia:
Nilai ekonomi dan sosial penerapan teknologi informasi dan komunikasi,
Kerangka IT Governance, IT Audit, Tingkat kematangan penerapan
TIK, Capability Maturity Model, dll. Dari keempat topik itulah,
kemudian masuk 125 makalah yang dipaparkan dalam empat pararel,
selama dua hari berturut-turut. Dalam kerangka konferensi ini
pula, diadakan pameran teknologi informasi dan komunikasi di Campus
Center sayap Timur, ITB.

Sambutan
dari Wakil Presiden, Yusuf Kalla (kiri), dan Suhono Harso Supangkat,
ketua Umum Panitia Konferensi, saat memberikan laporan (tengah).
Beberapa perjanjian kerja sama ikut mewarnai konferensi.
Konferensi yang dimulai pukul 10 pagi itu, dibuka oleh Wakil Presiden
Jusuf Kalla dari kantornya di Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat,
melalui fasilitas teleconference. Wakil presiden di Jakarta didampingi
oleh Menristek Kusmayanto Kadiman dan Mendiknas Bambang Sudibyo.
Dalam sam-butannya, Jusuf Kalla menekankan pentingnya untuk tidak
hanya membahas dan berbicara, tapi harus mulai dengan aksi. Untuk
website misalnya. Berdasarkan pantauan Kalla, umumnya website
kantor pemerintah tidak di-updated selama 1-2 tahun. “Nah,
segeralah beraksi, perbaiki datanya agar masyarakat dapat memperoleh
informasi yang akurat,” tandas Kalla.
Dalam masalah teknologi informasi dan komunikasi, Yusuf Kalla
memberikan catatan terhadap beberapa hal. Dalam masalah SIN (single
identity number), program pengembangan harus dilaksanakan dengan
serius dan terkoordinasi baik untuk keperluan administrasi kependudukan,
perpajakan, sosial, dan kontekstual e-government. “Bagian
terpenting dalam pengelolaan sumber daya manusia maupun alam adalah
identitas. Untuk itu pengelolaan identitas tunggal nasional perlu
difasilitasi secara serius,” Yusuf Kalla mengatakan. Penggunaan
TI di dunia pendidikan pun men-dapat perhatian Kalla. Tujuan penggunaan
TI di dunia pendidikan agar pendidikan bisa menjadi lebih mudah.
Inisiasi pembuatan buku secara online yang menggantikan buku cetak
adalah terobosan yang baik. Yusuf bertutur, “Biaya akses
jaringan yang murah perlu diusahakan untuk kepentingan pendidikan
dan penelitian.”
Dalam konferensi
tersebut diadakan juga penandatanganan beberapa perjanjian kerja
sama. Misalnya penandatanganan MoU antara pihak Telkom dengan
PT Pos dan PT Pos dengan Dirjen Aplikasi dan Telematika Depkominfo.
Dalam kerja sama antara Depkominfo dengan PT Pos itu diharapkan
mampu mempersiapkan masyarakat informasi Indonesia (MII) yang
ditargetkan pada tahun 2015. salah satu yang sudah dilakukan untuk
terwujudnya MII, Dirjen Aplikasi dan Telematika pada tahun 2005
sudah mengembangkan program Community Acces Point (CAP). CAP adalah
sebuah outlet di mana masyarakat yang berada di suatu wilayah
dapat melakukan komunikasi serta mengakses informasi global melalui
sarana telekomunikasi (internet).
Salah-satu model CAP yang dikembangkan Dirjen Aplikasi dan Telematika
cq Direktorat e-Business adalah membangun Warung Masyarakat Informasi
Indonesia (Warung Masif). Dalam warung ini telah diaplikasikan
e-UKM, layanan informasi kesehatan online, dan perpustakaan digital.
Pada tahun 2005 sudah dibangun Warung Masif di 3 lokasi, Semarang,
Serang, dan Palembang. Pada tahun ini akan dibangun Warung Masif
di Medan, Tanggamus, Palangkaraya, Singkawang, Kupang, Makassar,
Manado, Ambon, dan Jayapura. Sementara dalam kerja sama PT Telkom
dan PT Pos menyetujui pengadaan 500 komputer berkoneksi internet
di setiap kantor pos tingkat kecamatan di Indonesia.
Selain itu juga, ditandatangani perjanjian kerja sama antara ITB
dengan Microsoft, sekaligus menandakan diresmikannya Microsoft
Innovation Center (MIC) ITB. Pada hari terakhir konferensi diadakan
juga Inaguration International Academy of CIO Indonesian Chapter.
Dalam acara yang dibuka oleh President of IAC, Prof. Toshio Obi,
itu menghadirkan pembicara, Suhono Harsio Supangkat dari ITB,
Ronald Waas dari Bank Indonesia, Joko Agung Harijadi dari Depkominfo,
dan Indra Utoyo dari Telkom. Acara yang dipandu oleh Jaka Sembiring
dari ITB itu mengupas tuntas mengenai peran CIO. Pada akhir sesi
diadakan pemilihan ketua CIO Indonesia, yang dalam hal ini hadirin
sepakat untuk memilih Suhono Harso Supangkat sebagai ketuanya.
DEKLARASI
KEBANGKITAN INDUSTRI
TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI INDONESIA
REKOMENDASI
KONFERENSI NASIONAL