Majalah e-Indonesia - Media ICT Wahana Merajut Nusantara

EVENT ICT


Pemkot Pekalongan Membangun TIK

Tidak mau ketinggalan dengan daerah lain, guna mendukung kinerja sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan serta memberdayakan masyarakat, Pemkot Pekalongan mulai fokus membangun TIK. Bahkan, Kota Batik ini menjadi pilot project Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

Awal pengembangan TIK ditandai dengan kick off meeting dan workshop kolaborasi e-development pada petengahan Juni lalu (18/6). Kick off meeting dihadiri oleh perwakilan dari BPPT dan Ristek, Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan, Pusat Teknologi dan Komunikasi (Pustekom) Departemen Pendidikan Nasional, Departemen Komunikasi dan Informasi, Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga, serta Pemkab Jembrana. Dalam kick off meeting, mereka menyatakan siap bekerja sama dengan Pemkot Pekalongan untuk membangun dan menggunakan TIK di berbagai bidang dan bertindak sebagai koordinator adalah BPPT.

Menurut Tatang Taufik dari Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi BPPT, pemilihan Kota Pekalongan sebagai pilot project tak lepas dari komitmen yang kuat yang ditunjukkan walikotanya, Basyir Akhmad. “Adanya komitmen yang kuat dari pimpinan, memudahkan pembangunan dan pengembangan TIK,” terang Taufik. Sebelumnya, BPPT menjadikan Kabupaten Jembrana sebagai pilot project dan dinilai banyak pihak penerapan TIK di bawah kepemimpinan Bupati I Gede Winasa berhasil.

Kini, berbagai program e-Development tengah dijalankan di Kota Batik ini. Mulai dari penyiapan telecenter (di STMIK Widya Pratama, Grosir MM, Klinik HAKI/Museum Batik, Kantor Pemberdayaan Perempuan Pekalongan), migrasi ke legal sofware open source, layanan KTP, hingga pelatihan terkait dengan capacity building untuk PNS Pemkot Pekalongan. Rencananya berbagai program tadi, akan diluncurkan bertepatan dengan peringatan Hari Teknologi Nasional (Harteknas) yang akan digelar oleh Pemkot Pekalongan. “Dengan pembangunan TIK, kami berharap Kota Pekalongan semakin berkembang dan maju dan kesejahteraan masyarakat meningkat. Pelayanan yang kami berikan kepada masyarakat juga semakin berkualitas,” tandas Basyir. (FR)

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Pembangunan Technopark dan Revitalisasi Industri TIK

Lewat rapat bersama antara jajaran Korea Information Society Development Institute (KISDI), Depkominfo, dan beberapa akademisi serta komunitas TIK di Indonesia, yang digelar pada awal Juli lalu, telah dihasilkan rangkuman agenda yang akan menjadi prioritas pada The 2nd Joint Study MCIT-KISDI-SKT, yang laporan finalisasinya akan ditenggat pada Februari 2009.

Adapun agenda tersebut adalah pembangunan technopark dan revitalisasi industri TIK. Dengan agenda ini, nantinya tersusun sebuah kebijakan TIK untuk kolaborasi aktivitas riset dan pengembangan bersama antara industri dan akademisi. “Setelah berlangsung perdebatan cukup alot, inilah yang akan menjadi perhatian kami dalam kegiatan tersebut. Mereka (pihak KISDI-Red.) menawarkan tiga rekomendasi dari dua permasalahan yang akan menjadi fokus kegiatan. Kami tentu harus dilibatkan dalam penentuan objek apa yang akan jadi fokus,” ujar Aizirman, Kepala Balitbang & SDM Depminfo kepada e-Indonesia.

Sekadar informasi, The Joint Study merupakan kegiatan bersama antara Depkominfo dan SK Group yang berbasis di Korea dan bertujuan membantu pemerintah dalam mendukung kebijakan perkembangan TIK di Indonesia, dari dinamika pasar telekomunikasi, identifikasi peluang bisnis, dan membina hubungan antara pemerintah dan perusahaan yang ada di negeri ini. (Chandra Wirawan)

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Powertel Bangun Jaringan Serat Optik

Lima tahun ke depan, PT Power Telecom (Powertel) sebagai penyedia jasa infrastruktur backbone internet mematok target merampungkan pembangunan jaringan serat optik yang menghubungan seluruh Nusantara. Saat ini, mereka tengah merampungkan jaringan serat optik yang menautkan Jakarta dan Surabaya. Dituturkan Presiden Direktur Powertel Dicky Tjokrosaputro, pembangunan jaringan serat optik Jakarta-Surabaya bakal rampung akhir tahun ini. Pembangunan melibatkan lima kontraktor lokal. Adapun panjang jaringan mencapai 3.400 Km dengan bentuk model cincin. “Dengan model cincin, kami menyiapkan alternatif bila ada ganguan sehingga bisa diback up oleh jalur yang lain,” papar Dicky seraya menuturkan bahwa dana yang dikucurkan untuk proyek awal ini sebesar US$ 120 juta .

Usai Jakarta-Surabaya, masih kata Dicky, bakal disusul pembangunan jaringan yang menghubungkan seluruh Jawa. Targetnya, proyek tersebut rampung dalam dua tahun. “Setelah itu, kami menggarap Sumatera,” ujar Dicky dengan nada optimistis. Nah, dari Sumatera, Powertel akan melanjutkan ke pulau lain sehingga dalam rentang waktu lima tahun, bisa mencakup seluruh Nusan tara. Ditambahkan Temi Efendi, Associate Director PT Power Telecom, pihaknya menyasarkan para operator telekomunikasi baru serta para penyedia layanan internet. Adapun kelebihan dari layanan Powertel adalah jaringan back-bone dan koneksi backhaul yang ditawarkan tidak hanya akan mempersingkat waktu yang dibutuhkan untuk perluasan, tetapi juga menekan biaya pembelanjaan modal dasar (capital expenditure). “Karena pihak yang membutuhkan tidak harus membangun sendiri jaringannya, melainkan dapat menyewa jaringan milik Power-Tel,” papar Temi. Selain itu, saat ini jaringan infrastruktur PowerTel telah memiliki jaringan fiber optik 96 core, di mana perbandingan satu operator hanya membutuhkan 2-3 core fiber optik dalam jaringannya. Sedangkan kapasitas bandwith mencapai terra byte. (FR)

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Universitas Indonesia Bentuk
The Governance Center


Korupsi adalah sebuah perilaku yang unik dan menarik untuk dikaji. Hal inilah yang menjadi salah-satu bagian yang mendasari Universitas Indonesia (UI) dalam mendirikan Pusat Kajian Tata Kelola Kepemerintahan (Center for the Study of Governance) pada 16 Juli lalu dengan menggandeng kemitraan bersama US-ASEAN Business Council, World Bank Group, dan Hills Program on Governance Center for Strategic and International Studies (CSIS) yang berbasis di Amerika Serikat.

“Sebagai bagian dari masyarakat global, Indonesia perlu melakukan peningkatan-peningkatan komunitas tertentu agar bersih dari korupsi. Pemerintah sangat berkaitan dalam hal ini, karena sebagai salah-satu pihak terpenting yang membangun republik ini. Dengan dibangunnya lembaga ini, semoga dapat menjadi capacity building dalam menyusun rekomendasi kebijakan publik yang mampu memperbaiki tata kelola pemerintahan. Kita juga berusaha mencari jawaban mengapa korupsi begitu marak terjadi,” ujar Rektor UI Gumilar Rusliwa Soemantri.

Sementara itu, Ketua Advisory Board the Governance Center Erry Riyana Hardjapemekas, menyebutkan, The Governance Center akan melakukan kajian lintas ilmu secara menyeluruh tentang tata kelola kepemerintahan dan korupsi di Indonesia. “Perilaku korupsi akan kita kaji dari berbagai kajian ilmu, baik bidang hukum, sosiologi, psikologi, dan ekonomi, untuk mengidentifikasi berbagai penyebab dan kerugian yang ditimbulkan dari tata kelola pemerintahan yang buruk.”. (Chandra Wirawan)

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Otomatisasi JDIH BPHN

Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum (JDIH) Badan Pembinaan Hukum Nasional (BPHN) Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia kembali mengadakan pertemuan berkala. Kali ini sebagai lokasi tempat pertemuan dipilih kota Yogyakarta. Ini merupakan pertemuan berkala yang ke-17, dan yang pertama sejak lembaga tersebut dipercayakan kepada Ahmad M. Ramli sebagai kepala badan.

Pertemuan yang diadakan di Hotel Santika tersebut dihadiri oleh lebih dari 120 peserta dari Biro Hukum Departemen/Lembaga Pemerintah Non Departemen/Pemerintah Provinsi, Bagoan hukum Pemerintah Kabupaten/Kota, beberapa Kantor Wilayah Dephukham, dan beberapa pejabat struktural/fungsional BPHN. Hadir sebagai nara sumber dalam pertemuan tersebut selain kepala BPHN Ahmad Ramli, juga Dirjen Aplikasi Telematika Cahyana Ahmadjayadi, Staf Khusus Menkominfo Suhono Harso Supangkat, Kepala Pusat Dokumentasi dan Informasi Hukum Nasional BPHN Ajarotni Nasution, EGM Telkom Divre I Sumatera M. Awaluddin (diwakili Andang Ansari), Dekan FH Universitas Muhammadiyah Yogyakarta M. Endrio Susilo, serta pakar IT Roy Suryo.

Pertemuan berkala JDIH kali ini tampaknya berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Kali ini peserta lebih diarahkan untuk mengerti dan paham akan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), yang akan banyak berguna dalam menunjang pekerjaan di lembaga masing-masing. Beberapa nara sumber yang hadir memang dipersiapkan untuk memberi pengarahan akan pentingnya TIK. Hal ini dapat dilihat dari apa yang diungkapkan Ahmad Ramli berikut ini: “Kebijakan pemanfaatan ICT dalam pengelolaan JDIH di era globalisasi  adalah sangat tepat dan masih harus ditingkatkan karena perkembangan TIK masih terus berlangsung dan dapat terus dioptimalkan dan merupakan proses yang berkelanjutan untuk menjamin kesinambungan keberadaan JDIH”.

Dalam rangka pendokumentasian informasi hukum dalam bentuk digital, JDIH bekerja sama dengan Telkom Divre I Sumatera. Mereka melakukan terobosan otomasisasi pengelolaan JDIH dengan melakukan percepatan proses pengolahan produk perundang-undangan dalam bentuk digital sehingga dapat disebarluaskan secara efektif, efisien, dan tidak terikat ruang dan waktu. Apa yang dilakukan JDIH sepenuhya didukung oleh Menhukham Mattalatta. Menurut Andi dengan meningkatnya sistem jaringan dan informasi hukum serta berfungsinya perpustakaan hukum baik di pusat maupun daerah, akan memperluas cakupan pelayanan informasi tentang peraturan perundang-undangan daerah di Indonesia. Andi juga mendukung proses digitalisasi yang dilakukan. “Pelayanan online melalui jaringan web bphn.go.id harus dioptimalkan guna mendukung BPHN sebagai pusat jaringan,” katanya. (AZ)

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Piranti Lunak BTO dari HP

Dalam melakukan perubahan layanan bisnis dan aplikasi yang berbasiskan TI, banyak menyulut permasalahan bagi suatu organisasi TI dalam mengantisipasi perubahan tersebut, terutama dalam hal up-grade aplikasi dan modifikasi inftrastruktur. Pada skala bisnis yang besar maupun kecil, jumlah perubahan teknologi terjadi berkisar antara ratusan hingga puluhan ribu setiap minggunya.

Memahami hal tersebut, HP mengumumkan kehadiran piranti lunak Business Technology Optimatization (BTO) terbaru sebagai sebuah layanan yang membantu organisasi TI dalam mengelola perubahan dan menyelesaikan beragam masalah di seluruh layanan bisnis dan aplikasi dengan secara signifikan mengurangi resiko downtime bisnis yang rentan terjadi. Resiko yang biasa terjadi dalam mengelola perubahan berasal dari kegagalan dalam mengidentifikasi desakan perubahan maupun konflik selama proses review maupun eksekusi yang diakibatkan downtime layanan bisnis. HP Release Control—sebelumnya dikenal sebagai HP Change Control Management—diklaim semakin mampu mengurangi resiko tersebut dengan menyediakan visibilitas dari keseluruhan aktivitas perubahan secara real-time.

“Perubahan tekanan terbesarnya dari demand yang ada, untuk itu para organisasi TI harus sebisa mungkin mengantisipasinya baik dari teknologi maupun securitynya. Misalnya, pada perusahaan telekomunikasi, mereka harus siap dengan service terbaru setiap bulannya. Mereka harus merespon dengan cepat dan memperkenalkan perubahan tersebut kepada publik. TI memang memprioritaskan demand, makanya kita harus cermat membangun bagaimana TI lebih adaptatif terhadap perubahan,” ujar Ben Horowitz, vice president and general manager BTO products, Software HP. (Chandra Wirawan)

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Pertumbuhan Pelanggan 3G CDMA

Asosiasi perdagangan yang dibentuk untuk mendukung perkem-bangan, implementasi dan penggunaan teknologi CDMA2000 di seluruh dunia, The CDMA Development Group (CDG) meng-umumkan bahwa per kuartal 1 2008 (Q1 2008), Indonesia memiliki lebih dari 16,3 juta pelanggan CDMA 2000, meningkat dari 14,4 juta pada akhir 2007 dan 7,8 juta pada akhir 2006. Peningkatan tersebut menjadikan Indonesia pemimpin di Asia Tenggara untuk pertum-buhan pelanggan 3G CDMA. “Indonesia telah berkembang sebagai pasar yang penting dari skema core value CDMA2000,” ujar James Person, chief operating officer CDG.

Person menambahkan, sebanyak 451,3 juta pengguna CDMA di seluruh dunia terdiri dari 140,1 juta orang di Amerika Utara; 62,8 juta orang di Amerika Latin dan Karibia; 2,8 juta orang di Eropa; 4,6 juta pengguna di Timur Tengah dan 9,7 orang di Afrika. Sementara yang terbesar yakni Asia Pasifik dengan jumlah pengguna sebanyak 231,3 orang. Untuk di Indonesia, berdasarkan kajian CDG pada kuartal pertama 2008 terdapat 16,3 juta pengguna CDMA. Dengan begitu Indonesia merupakan negara yang paling tinggi pertumbuhannya di Asia Tenggara, dengan operator CDMA, seperti Telkom (Flexi), Indosat (Starone), Bakrie Telecom (Esia), Mobile-8 Telecom (Fren), Smart Telecom (Smart), dan Sampoerna Telekomunikasi Indonesia (Ceria). (Ari, Chandra Wirawan)

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------



EDISI 26    l   DETIKNAS  l   SUMATERA DIGITAL   l   KAB. SERAGEN   l   KE ATAS