Majalah e-Indonesia - Media ICT Wahana Merajut Nusantara

 

Menkominfo Dialog dengan Komunitas Open Source

Depkominfo pertengahan Januari lalu akhirnya meng-undang komunitas penggiat open source untuk berdialog bersama terkait perjanjian departemen yang dinahkodai Sofyan Djalil tersebut dengan Microsoft. Seperti diketahui, perjanjian yang tertuang dalam nota kese-pahaman (Memorandum of Understanding/MoU) tersebut, sempat diartikan sebagai sebuah rencana perjanjian melisensikan semua PC yang ada di pemerintahan dengan sistem operasi keluaran pabrikan Microsoft, sementara bendera IGOS (Indonesia Goes Open Source) tengah dikibarkan Kementerian Ristek. Hal ini tentunya membuat gerah penggiat open source lokal.

Dalam acara dengar pendapat tersebut, Menkominfo Sofyan Djalil menegaskan, MoU tersebut bukan merupakan pembelian dan refleksi keberpihakan pemerintah terhadap sistem operasi tertentu. “Kita melakukan MoU hanya sebagai wujud menghargai IPR (Intelectual Property Right/HKI), karena negara ini termasuk tiga besar pelanggar HKI di seluruh dunia. Lagipula, kalau melisensikan semua PC yang ada di pemerintah, kita jelas melakukan tender terbuka yang dapat diikuti oleh siapa saja.”
Kemudian, Sofyan juga menambahkan, jika dilihat dari kemelut sebelumnya, ternyata ada sisi positif yang terlahir dari kontroversi MoU tersebut. “MoU ini tentunya bagaikan blessed in disguise. Andai saja tidak ada MoU ini, tentunya kita tidak kritis. Nah, inilah yang membuat komunitas open souce bersatu. Selain itu, banyak orang yang tadinya tidak peduli dengan Microsoft, open source, maupun masalah pembajakan, dengan adanya MoU tersebut, semua orang menjadi terbuka dan peduli,” ujarnya didampingi Wakil Ketua Harian Dewan TIK Nasional Kemal Stamboel, Dirjen Aplikasi Telematika Cahyana Ahmadjayadi, Staf Ahli Menteri Alexander Rusli, dan Direktur Pengembangan Piranti Lunak Depkominfo Lolly Amalia.

Sementara itu, tampak hadir dalam dialog tersebut, antara lain Heru Nugroho, Romi Satria Wirawan, Frans Tamura, Adang Suhendra, Teddy Sukardi, Bona Simanjuntak, Rusmanto, Hidayat Tjokrodjojo, I Made Wiryanana. Mereka inilah para penggiat open source dengan latar belakang praktisi, akademisi, dan pebisnis.
(Chandra Wirawan)

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Masterplan e-Government: Dari Korea untuk Indonesia

Sebagai sesama negara Asia, Korea ternyata memiliki perhatian besar terhadap perkembangan e-government di Indonesia. Hal ini terbukti dengan adanya berbagai rangkaian kegiatan yang merupakan bantuan Negeri Gingseng tersebut. Salah-satunya, digelar sebuah work-shop bertitel “E-Government Masterplan for Indonesia” pada 24 Januari lalu di Jakarta. Kegiatan yang meru-pakan kerja sama Depkominfo, Kominfo Republik Korea, dan Korea IT Promotion Agency (KIPA) ini berlangsung dengan pemaparan tentang studi kasus penerapan e-government di beberapa negara, termasuk Korea yang dipaparkan oleh Yudho Giri Sucahyo (Direktur MTI UI), Djoko Agung Harijadi (Direktur E-Government Depkominfo), dan William Hong (KIPA).

Menurut Djoko Agung, sejak November 2006, pemerintah Korea mengirimkan tim konsultannya lewat KIPA dalam melakukan survai, wawancara, kuesioner, dan forum kepada tingkat pimpinan, pengusaha, perguruan tinggi, dan masyarakat, tentang langkah-langkah apa saja yang perlu diambil dalam mengembangkan e-government, di samping diskusi-diskusi kepada elit grup lainnya. “Dengan begitu kita akan mengetahui apakah strategi implementasi e-government kita sudah tepat atau tidak. Tapi meskipun begitu, bukan berarti kita mengacu pada implementasi e-government di Korea, karena sudah jelas berbeda kondisinya. Mereka hanya memberikan gambaran implementasinya saja sebagai masukan,” ujarnya kepada e-Indonesia.
(Chandra Wirawan)
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Kerja Sama MTI UGM dengan Microsoft

Magister Teknologi Informasi (MTI) UGM bekerja sama dengan PT Microsoft Indonesia mendirikan pusat pengembangan inovasi yang diberi nama Microsoft Innovation Center (MIC). Di MIC yang diresmikan 16 Januari 2007 itu, diharapkan dapat menjadi tempat dilakukannya penelitian yag inovatif serta pengembangan teknologi atau solusi piranti lunak, yang melibatkan kombinasi antara pemerintah, kalangan akademis dan pelaku industri.

MIC memiliki beragam program yang dapat mengakomodasi kebutuhan berbagai pihak seperti pemerintah, kalangan akademisi, dan pelaku industri untuk mendukung pertumbuhan ekonomi piranti lunak lokal. MIC mengelompokkan layanan program ke dalam tiga area layanan, antara lain: Skill Accelerator yaitu program peningkatan pengetahuan dan keahlian untuk merancang dan mengkonstruksi solusi perangkat lunak yang ditujukan kepada mahasiswa, lulusan, dosen pengajar dan perusahaan pengembang software (ISV) lokal di sekitar Yogjakarta. Kedua Partnership Accelerator yaitu program pemberdayaan sumber daya lokal melalui jalinan kerja sama gugus industri, kerjasama riset dan pengembangan prototype, serta penyediaan tenaga kerja professional, dan yang ketiga adalah Innovation Accelerator yang merupakan program incubator untuk menfasilitasi berbagai inovasi baru yang fokus untuk melahirkan produk-produk lokal yang inovatif. Program ini akan memberikan pelatihan yang spesifik seperti high performance web application, mobile application, aplikasi berbasis 64-Bit, parallel computing, reliable distributed system dan genetic algorithm.
(E. Ari Astuti)
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Berbagi Kemampuan dan Pengalaman dalam Asia Source II

Setelah pada tahun lalu diselenggarakan di Bangalore, India, sebuah pertemuan pengembang piranti lunak open source yang bertitel Asia Source II digelar di Sukabumi, Jawa Barat, 22-30 Januari 2007. Lebih dari 130 praktisi TI dari LSM dan UKM dari 27 negara berkumpul dalam rangka mempromosikan penggunaan piranti lunak open source untuk pembangunan sosial ekonomi dan mem-bangun jaringan praktisi dan nara sumber open source di Asia.

“Selain memperkuat ikatan sosial dan perkuat jaringan antar pengembang open source, kita yang terlibat di Asia Source II dapat membagi kemampuan dan pengalaman. Ini sesuai dengan filosofi dari open source yang bersifat demokratis yang memberikan keluasaan untuk memodifikasi tanpa ada intervensi dari kekuasaan,” ujar Fran Boon dari Oxfam UK, Inggris pada konferensi persnya di Hotel Sheraton Media, Jakarta.

Bona Simanjuntak, peneliti senior ICT Watch menambahkan, “Sepanjang acara tersebut, kita memberikan berbagai tutorial terkait penggunaan open source kepada UKM. Dengan begitu, UKM tidak akan tergantung kepada proprietary. Makanya, Menristek Kusmayanto Kadiman mendukung acara ini, karena beliau juga penggerak program IGOS (Indonesia Goes Open Source) yang tentu paham dampak open source terhadap ekonomi maupun sosial UKM dan LSM,” ujarnya kepada e-Indonesia.

Asia Source II ini diselenggarakan oleh International Open Source Network UNDP (UNDPIOSN) melalui ASEAN+3 Center of Excellence, InWEnt –Capacity Building International (Jerman), Tactical Technology Collective (Belanda), Aspiration (Amerika Serikat), dan ICT Watch (Indonesia) atas kerja sama The Federal Ministry for Economic Coorporation and Development (BMZ), Hivos, dan Asia-Pasific Development Programme UNDP (UNDP-APDIP). Fokus penyelenggaraan dikhususkan pada kegiatan open publishing and broadcasting, akses dan perangkat keras alternatif, migrasi sistem, dan manajemen informasi, dengan sesi-sesi teknis tentang adaptasi lokal, cryptography, mobilephone, dan VOIP. Selain itu, sesi open source dan perempuan, komunikasi efektif, strategi komunikasi dan advokasi, penanganan bencana, dan model bisnis open source, melengkapi modul non teknis.
(Chandra Wirawan)
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Bermitra Berantas Korupsi


Minggu pertama Februari lalu, sejumlah orang penting berkumpul di kantor Men-PAN. Selain Taufik Effendi selaku tuan rumah, tampak hadir Ketua MPR Nurwahid Hidayat, Wakil Ketua MPR AM. Fatwa, Menko Kesra Aburizal Bakrie, dan beberapa perwakilan dari LSM dan lembaga anti korupsi lainnya seperti Kadin Indonesia, MTI, dan BTP. Hari itu mereka menggelar Seminar Nasional Berantas Korupsi bertema “Percepatan Pem-berantasan Korupsi dengan membangun Pulau-Pulau Integritas”.

Selain mengangkat beberapa modul percepatan pem-berantasan korupsi, acara tersebut juga merupakan serah terima jabatan Koordinator 3PK (Tiga Pilar Kemitraan) dari Menkominfo Sofyan Djalil kepada Men-PAN Taufik Effendi dan juga penandatanganan Pakta Integritas oleh Bupati Bogor, Bupati Halmahera, Bupati Sumbawa, Walikota Bukit Tinggi, dan Walikota Pangkalpinang. Sedangkan yang menerima 3 Pilar Award atas sepak terjang dan perjuangan melawan korupsi yakni Basuki T. Purnama selaku Bupati Bangka Belitung Timur, dan Nurlaila, selaku mantan guru SMPN 56 Melawai yang sempat menjadi kontroversi.

“Keberhasilan pemberantasan korupsi membutuhkan komitmen yang tinggi, serta konsistensi dan keseriusan dalam pelaksanaannya. Di samping itu, kemitraan antara aparatur negara atau pemerintah dan dunia usaha merupakan kunci sukses keberhasilan pelaksanaan program-program pemerantasan korupsi,” ujar Taufik Effendi dalam sambutannya. (Chandra Wirawan)

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


F-Secure
Solusi Amankan Anak Dari Situs Porno


MSetelah digunakan kalangan Internet Service Provider (ISP), dengan portofolio lebih dari 120 ISP di dunia, F-Secure kini hadir memberikan solusi sekuriti jaringan komputer untuk korporat dan personal user termasuk bagi pengguna ponsel. Dengan dukungan multiple engine dalam menghalau external intruder (virus, spyware, malware, hacker, dan adware), F-Secure Internet Security diklaim memiliki respon empat kali lebih cepat dibandingkan produk kompetitor lainnya. Multiple engine dimaksud adalah F-Secure Protection/Libra, AVP, Orion, dan Draco yang secara spesifik menghalau virus, semen-tara Blacklight dan DeepGuard bekerja secara cermat mengatasi serangan hacker, spyware, malware, maupun adware.

Nah, bagi personal user, F-Secure ternyata mempunyai fitur Parental Control yang memiliki kemampuan membatasi web address tertentu yang diakses oleh anak di bawah usia dewasa secara customized yang membuat peluang anak mengunjungi situs porno menjadi tertutup. “Hingga saat ini kami sudah melakukan pengembangan yang memungkinkan orangtua dapat menentukan atau memilah 25 web pilihan yang bisa diakses anak,” ujar Dony Koesmandarin, senior technical consultant PT Inovasi Lintas Media, distributor F-Secure di Indonesia. Selain itu, produk ini juga dapat melakukan pembatasan jam koneksi komputer terhadap internet untuk mempersempit upaya anak mencuri kesempatan mengakses di luar jangkauan pengawasan orangtua. (Chandra Wirawan)
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

KNSI 2007:
Cikal Bakal Komunitas Sistem Informasi


MSetelah pada dua hajat sebelumnya diselenggarakan oleh Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Teknik Informatika Universitas Pasundan (Unpas), kali ini, Konferensi Nasional Sistem Informasi (KNSI) 2007 dilangsungkan oleh Departemen Teknik Informatika STT Telkom pada 14-15 Februari 2007. Dengan tema “Information System: Bridging Gap Between Theories and Practices”, konferensi ini memaparkan kajian-kajian tentang sistem informasi (SI).

“Berbeda dengan konferensi sebelumnya yang hanya berbentuk seminar sehari, kali ini kita buat format baru dengan adanya diskusi panel, dan community gathering yang arahnya kepada pembentukan komunitas SI,” ujar Ervin Budi Setiawan, Ketua Panitia Pelaksan KNSI 2007 kepada e-Indonesia. Selain itu, konferensi yang bekerja sama dengan Kelompok Keahlian (KK) Informatika Sekolah Teknik Elektro dan Informatika ITB (STEI-ITB) ini menyajikan 123 makalah yang dipresentasikan pada parallel session.

Dari makalah yang ada, menurut Erwin, isu yang paling mendominasi adalah tentang teknologi pendukung SI dan bagaimana mengaplikasikannya,. “Kita di sini tujuannya bertukar ide, gagasan, dan pengalaman terkait perkembangan SI dan juga bagaimana mengeksplorasi isu dan metode-metode terbaru yang berhubungan dengan SI. Karena yang namanya teknologi itu perkem-bangannya sangat cepat sekali.” Dengan begitu, harap pria yang berprofesi sebagai dosen di STT Telkom ini, kesenjangan yang terjadi antara teori yang digagas oleh para akademisi dengan implementasi yang dikembangkan oleh para praktisi akan semakin dapat dipersempit.

Digelarnya sesi community gathering pada KNSI 2007 rupanya merupakan langkah menuju terbentuknya komunitas SI yang diharapkan akan menindaklanjuti ide-ide yang telah dihasilkan di forum. Jika komunitas yang dimaksud sudah terbentuk, tentunya akan terjadi kontuinitas kegiatan yang menambah perkembangan SI. Semoga kelak merupakan sumbangsih tersendiri bagi kemajuan TIK di tanah air. (Chandra Wirawan)
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

 


KEMBALI
  l  HAL SEBELUMNYA  l  KE ATAS

 

Copyright © www.majalaheindonesia.com 2007