Kegiatan
APEC Digital Opportunity Center (ADOC) di Jogja
Dinas
Perindustian, Perdagangan dan Koperasi (Disperin-dagkop) Provinsi
DIY bekerja sama dengan APEC Taiwan membantu kalangan Usaha Kecil
Menengah (UKM) untuk bisa melakukan bisnis berbasis Teknologi
Informasi, melalui program APEC Digital Opportunity Center (ADOC).
Program ADOC ini selain di Indonesia, juga dijalankan di Filipina,
Vietnam, Papua Nugini, Chile, Peru dan akan menyusul Thailand.
Saat ini APEC Digital Opportunity Center (ADOC) antara lain berada
di Inixindo Jogja, selain di Jakarta dan Bandung. Inixindo Jogja
merupakan lembaga training Teknologi Informasi yang ditunjuk sebagai
mitra ADOC untuk menjadi pusat pelatihan pemanfaatan teknologi
informasi untuk pemberdayaan UKM, kalangan pemerintah, kalangan
pendidikan, dan lain-lain. ADOC telecenter ini ditujukan untuk
memberikan jasa konsultasi dan training dalam pengembangan sistem
informasi.
Telecenter ini dilengkapi dengan 12 PC dengan 1 server. Kegiatan
utama ADOC telecenter adalah memberikan pelatihan dan konsultasi
bisnis mengenai penerapan e-commerce bagi UKM dan guru, seperti
melakukan publikasi produk lewat situs web, memanfaatkan e-mail
sebagai media komunikasi dan sebagainya.
Kegiatan pelatihan Teknologi Informasi untuk UKM dan guru ini
sudah berlangsung sejak Agustus 2006. Materi pelatihan yang pernah
berlangsung antara lain Pengenalan Internet dan e-commerce untuk
UKM, Pengenalan Internet dan e-learning untuk guru, Office XP
dan membangun website menggunakan Microsoft FrontPage. Selain
itu, Inixindo Jogja memberikan pelatihan untuk para trainer mengenai
pengenalan e-business. Diharapkan setelah mengikuti pelatihan
ini para trainer yang telah dididik dapat memberikan pengetahuannya
untuk para UKM dan guru.
(Surahyo)
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
SUN Perluas Penawaran Virtualisasi
Akhir
Oktober ini Sun Mycrosystem Inc. mengumumkan tiga tahap pendekatannya
terhadap virtualisasi yaitu menggabungkan teknologi, produk, dan
keahlian global Sun untuk menyediakan sistem dan piranti lunak.
Sun berkomitmen akan selalu membantu pelanggan menggunakan virtualisasi
agar dapat menghemat biaya untuk mendapatkan sinergi dan produktivitas
yang optimal dari sistem komputasi mereka.
Landasan dari strategi virtualisasi itu adalah sistem operasi
Solaris 10, kemampuan cross platform, solaris containers dan keduanya
merupakan produk bebas biaya dan terbuka sehingga ideal untuk
menghilangkan faktor fisik dan biaya yang menjadi bagian dari
karakter pertumbuhan dan manajemen pusat data. “Virtualisasi
merupakan lapisan yang menyatukan tempat-tempat komputasi yang
tadinya tertutup, di mana kecepatan server berkembang pesat serta
tenaga dan biaya pendingin meningkat” kata John Fowler,
Sun’s executive vice president, System Group.
Sebagai bagian dari penawaran dan pelayanan Sun yang sudah ada,
akhir Oktober ini, Sun mengumumkan lima penawaran baru, antara
lain LDoms, Solaris dengan Xen, Server Sun Fire x64, pelayanan
daur hidup virtualisasi, dan dukungan perpanjangan VMware.
LDoms adalah teknologi virtualisasi server Sun Fire™ T1000
dan T200 dengan teknologi Cool-Treads™ yang dapat memberikan
pelanggan kemampuan untuk menjalankan berbagai OS secara bersamaan
dengan Solaris Containers, dapat membantu pelanggan mengurangi
jejak server serta meningkatkan utilisasi server dan efisiensi
datacenter. Solaris 10 dengan fungsional Xen artinya pelanggan
dapat menjalankan OS Solaris 10, Linux dan Microsoft Windows sebagai
‘guests’ dalam OS berbasis Mesin Virtual Solaris 10.
Sun Fire x64 merupakan server Galaxy Sun Fire X4000 yang menggunakan
generasi baru prosesor AMD Opteron™ dan OS Solaris 10. Pelayanan
daur hidup virtualisasi memberikan konsultasi, pendidikan dan
dukungan pelayanan untuk membantu membangun dan mengatir solusi
investasi virtualisasi pelanggan. Sedangkan dukungan perpanjangan
VMware akan mendukung VMware ESX3.0.1 untuk server Sun Fire X4600
dan modul sistem Sun Blade.
(E. Ari Astuti)
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
UBL
Perkuat Jaringan Alumni
Universitas
Budi Luhur (UBL) pada pertengahan Oktober lalu mewisuda 927 mahasiswanya.
Wisudawan lulusan tahun akademik 2006-2007 itu, terdiri dari Program
Pasca Sarjana, Sarjana, dan Ahli Madia dari Fakultas Teknologi
Informasi (FTI), Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP),
Fakultas Teknik (FT), dan Akademi Sekretasis. Pada kesempatan
tersebut, Wakil Rektor UBL Wendi Usino mengatakan, “Meskipun
FTI menjadi core dari universitas ini, tetapi kita mengharapkan
adanya sinergi untuk kolaborasi, komunikasi, koordinasi antar
alumni untuk membentuk dan meng-create sebuah jaringan
yang kuat di dunia kerja,” ujarnya kepada e-Indonesia.
Wendi menceritakan, sebenarnya jaringan alumni yang dimaksud sudah
terbentuk meskipun relatif kecil yang dikarenakan adanya beberapa
fakultas baru. Untuk itu, dia berharap jaringan tersebut akan
kuat seperti jaringan pada FTI yang pernah dibentuknya. FTI sendiri
merupakan salah-satu fakultas tertua di universitas tersebut.
Tak heran, menurut alumnus Master of Science, Computer Science
di San Diego, AS ini, banyak alumni dari fakultas tersebut yang
sudah menduduki posisi puncak, seperti CIO. “Tentunya harapan
kita jika mereka membuat jaringan yang kuat, nantinya para lulusan
sekarang ini bisa memanfaatkan jaringan yang telah ada,”
papar pria yang kini tengah merintis pendidikan S-3 di Universiti
Kebangsaan Malaysia ini.
(Chandra
Wirawan)
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Solusi
Kependudukan dari HP
Saat
berlangsungnya Infrastructure Conference and Exhibition 2006 pada
awal November lalu, HP mem-perkenalkan solusi National Identity
System (NIS) yang memungkinkan pemerintah membangun dan menerap-kan
suatu infrastruktur informasi yang lengkap dan memenuhi standar
teknologi untuk menjawab tantangan perubahan yang dihadapi dalam
menangani masalah kependudukan berikut keamanannya.
Di tengah geliat pemerintah dalam mengembangkan e-government,
menurut Elisa Lumbantoruan solusi yang ditawarkan HP cukup aplikatif
dengan berbagai sistem kependudukan yang merupakan inisiatif dari
beberapa lembaga atau institusi pemerintah. “Ini dikarenakan
NIS merupakan subfrastruktur yang tentunya bisa diaplikasikan
dalam inisiatif-inisiatif yang dijalankan,” ujar pria yang
menjabat Presdir HP Indonesia ini.
Selain itu, NIS juga dapat diintergrasikan ke dalam framework
e-government di mana sistem identifikasi penduduk secara nasional
akan memiliki fungsi-fungsi yang mencangkup: sampling secara langsung
terhadap data demografi dan biometric (informasi individu yang
diambil dari karakteristik fisik, seperti cap jari dan retina
mata), baik secara offline maupun online, permintaan registrasi
dan verifikasi secara lokal maupun regional, arsitektur multi-tier,
pengelolaan siklus dokumen yang aman, intergrasi subsistem personal
dan biometric, dan verifikasi identitas secara online dan offline.
(Chandra
Wirawan)
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Kick-Off
Gathering WCRC
Pada
pertengahan Oktober lalu, bertempat di Ruang Rapat Depkominfo,
Wireless Communication Research Community (WCRC) atau yang lebih
dikenal dengan Yayasan Penelitian Telekomunikasi Nirkabel (YPTN)
yang berpusat di Bandung, mengadakan Kick-Off Gathering yang memaparkan
profil dan beberapa program kerja yang akan digelontorkan yayasan
tersebut.
Direktur WCRC Taufik Hasan dari Telkom RisTI, mengatakan, “WCRC
lahir dari inisiatif STT Telkom, ITB, PT Inti, Indosat M2, Intel
Indonesia, ASSI, Telkom RisTI, Ditjen Postel, dan Diknas dalam
mengembangkan kemampuan SDM dan industri ICT yang spesialisasinya
kepada teknologi nirkabel.” Program ke depan, WCRC akan
mengadakan beberapa riset, test-bed, diskusi kelompok, diseminasi
informasi, adopsi teknologi, berbagi pengalaman internasional,
prototyping bagi industri manufaktur, pengembangan aplikasi dan
konten, dan Bandung Cyber City.
Menurut Ashwin Sasongko, yang mewakili Menkominfo Sofyan Djalil,
lahirnya WCRC diharapkan dapat mengembangkan beberapa penelitian
yang berguna bagi teknologi nirkabel. “Sekarang ini pada
teknologi nirkabel, tidak hanya jumlah tetapi konten pun kian
bertambah. Paralel dengan itu Indonesia diharapkan dapat mengembangkan
teknologi untuk mengejar target WSIS karena bagi daerah yang terpencil
diharapkan tidak bergantung lagi pada teknologi kabel.”
(Chandra
Wirawan)
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------