Indocomtech
2006: Pameran Teknologi Terbaru
Untuk
yang ke-14 kalinya, Indocomtech kembali meng-gelar pameran teknologi
komunikasi di Indonesia 6 sampai 10 September 2006 di Hall A dan
Hall B, Jakarta Convention Center. Pameran yang menempati luas
11.000 meter persegi yang terbagi dalam 101 stand itu diikuti
oleh berbagai produsen komputer, software, hardware, vendor, serta
media komputer.
Pameran tidak hanya menyuguhkan aktivitas promosi dan pemasaran
perusahaan peserta pameran semata, melainkan juga sebagai ajang
technology update atau-pun pengenalan produk dari para principal
kepada media dan masyarakat, sehingga masyarakat luas bisa mengetahui
berbagai perkembangan terbaru di dunia teknologi informasi, baik
di tingkat global maupun lokal.
Menurut rencana, ke depan pameran ini akan ditingkatkan kualitasnya
sehingga dapat menyamai Pameran Computex seperti di Taiwan. Oleh
sebab itu acara ini, menurut Danny Budiharto, Chief Marketing
Officer Dyandra, event organizer yang mengelola pameran, akan
memposisikan Indoco-mtech sebagai ajang peningkatan brand awarness
dan promosi produk dari perusahaan-perusahaan peserta pameran.
Menteri Komunikasi dan Informatika Sofyan Djalil, saat membuka
pameran berharap acara ini mampu memberikan pengetahuan tentang
teknologi yang terbaru kepada masyarakat.
(Ardi
Winangun)
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Dari HP Untuk CIO
Hewlett
Packard (HP) Indonesia pada 15 Agustus 2006 di Hotel Ritz Carlton,
Jakarta, memperkenalkan solusi terbaru yang akan melengkapi jajaran
produk HP Open View. Rangkaian piranti lunak terbaru ini akan
membantu para CIO dalam melakukan transformasi pada depar-temen
TI-nya agar mampu menjadi organisasi bisnis yang lebih efisien,
efektif, dan responsif.
Melalui penyelarasan yang cepat antara prioritas TI de-ngan kebutuhan
bisnis, departemen TI akan mampu memberikan nilai lebih pada bisnis
dan sekaligus pula mengoptimalkan performa, mengurangi resiko,
serta meningkatkan agilitas.
Rangkaian piranti lunak terbaru ini meliputi:
- HP Open View Decision Center, piranti lunak yang
menyelaraskan TI dengan kebutuhan bisnis yang terus berubah dengan
menggunakan analisis dampak bisnis dan simulasi “what if”
(bagaimana jika…) untuk layanan model bisnis.
- HP Open View Asset Center, piranti lunak yang
mengotomatisasi proses pengelolaan asset, meningkatkan kontrol
dan return on investment secara efektif serta memastikan terpenuhinya
aturan compliance.
- HP Open View Application Insight, piranti lunak
yang mengoptimalkan performa layanan bisnis dengan menawarkan
visibilitas ke dalam performa dari keseluruhan aplikasi pendukung
dan komponen infrastruktur.
“Solusi baru itu membantu memposisikan TI sebagai aset bisnis
strategis daripada sekadar pos biaya saja,” ujar Elisa Lumbantoruan,
presiden direktur HP Indonesia. Lebih lanjut Elisa mengatakan,
dengan menawarkan analisis yang komprehensif mengenai bagaimana
TI mempengaruhi bisnis, mulai dari ketersediaan layanan dan performa
hingga ke sisi keuangan perusahaan, piranti lunak HP Open View
meningkatkan performa TI dalam posisi bisnis dan memperbaiki persepsi
terhadap TI dalam dunia bisnis.
(Ardi
Winangun)
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Kaltim
Adakan Seminar Kebijakan dan Optimalisasi Pengembangan TI
Di
tengah persiapannya sebagai tuan rumah PON XVII pada 2008 mendatang,
Pemprov Kalimantan Timur terus berupaya melakukan sosialisasi,
penyamaan persepsi, dan evaluasi pengembangan teknologi informasi
(TI) di daerahnya. Salah-satu cara yang ditempuh BPID (Badan Promosi
dan Investasi Daerah) dalam hal ini adalah dengan menggelar “Seminar
Kebijakan dan Optimalisasi Pengembangan TI Provinsi Kalimantan
Timur” beberapa waktu lalu.
Acara yang berlangsung 2 hari tersebut menghadirkan beberapa pakar
TI seperti Partono Rudiarto dari INIXINDO Yogyakarta yang menyampaikan
materi “Information Security” dan Roy Suryo yang memaparkan
tema “Good Governance: Ukuran Keberhasilan TI”. Pada
pemaparannya, Partono memberikan beberapa studi kasus keamanan
informasi, seperti yang terjadi pada klikBCA, KPU, dan foto-foto
pribadi. Sementara Roy Suryo menjelaskan kondisi sistem informasi
Indonesia terkini yang dihubungkan dengan prinsip-prinsip good
governance kepada sekitar 80 PNS dan pemerhati TI dari beberapa
dinas di Kaltim yang menghadiri acara tersebut.
Selain mendapatkan pemaparan dari kedua sumber tersebut, peserta
seminar juga mendapatkan kesempatan mempelajari Ubuntu, salah-satu
sistem operasi open source dari Linux untuk menunjang e-government
yang dipandu oleh instruktur dari INIXINDO Yogyakarta, Andrian
The. Turut hadir dalam acara tersebut Drs. H. Sjahruddin, MS (Asisten
Bidang Ketataprajaan Kaltim), Ir. Ichwansyah, MM (Kepala BPID
Kaltim), dan Tri Murti Rahayu (Kasubdit Teknik TI BPID Kaltim).
(Chandra
Wirawan)
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Seminar
Nasional Teknopreneurship Universitas Budi Luhur
Pertengahan
Agustus lalu Universitas Budi Luhur (UBL) menyelenggarakan seminar
nasional “Inovasi Techno-preneurship di Dalam Industri Telematika”.
Seminar yang berlangsung di Diamond Hall, Roxi Square, Jakarta,
itu menghadirkan beberapa pembicara dalam beberapa sesi.
Sesi pertama, Ketua FTII Teddy Sukardi dan Komisaris Utama PT
Krakatu Steel Amir Sambodo membawakan topik “Indonesia IT
Industry and Technopreneurship” yang dimoderatori oleh Wendi
Usino, wakil rektor Bidang Akademik UBL. Acara berlanjut kepada
topik “Indonesia IT Industry, Regulation, and Ecosystem”,
yang dimotori oleh Staf Ahli Bidang Hukum Menkoimfo Ahmad M. Ramli
dan praktisi TI Onno W. Purbo dengan moderator Staf Ahli Menteri
Bidang Hubungan Internasional Kesenjangan Digital Depkominfo Moedjiono.
Kemudian, pada sesi “Security, Intellectual Property and
the Development of Software Vendors” yang dipaparkan oleh
Seow Hiong Goh, business software Alliance Asia Pasific dan Barney
Yiu, business development manager for Asia Pasific Region Microsoft
Operation, dengan moderator pakar TI Richardus Eko Indrajit. Acara
diakhiri dengan diskusi panel “Keterlibatan Generasi Muda
di Industri Telematika” yang dibawakan oleh Bona Simanjuntak,
Rusmanto, Prihantosa, dan Frans Tamura.
Dalam sesinya, Teddy Sukardi mengatakan, orang yang memulai bisnis
berbasis pada inovasi teknologi atau technopreneurship harus memiliki
sejumlah sikap pendukung. “Mereka harus memiliki keinginan
kuat untuk mengejar prestasi, memiliki kemampuan konseptual, dan
kekuatan memecahkan masalah yang tinggi.” Selain itu, lanjut
Teddy, “Mereka juga harus memiliki wawasan dan cara pikir
yang luas, kepercayaan diri yang tinggi, toleran, berani mengambil
resiko, realistis, punya kemampuan interpersonal, dan mampu menahan
emosi.”
Acara tersebut, menurut Humas UBL Linda Islami, diikuti oleh lebih
dari 300 peserta dari Jakarta hingga luar daerah, baik itu dari
kalangan pebisnis TI, mahasiswa, hingga pelajar. “Program
ini akan terus dilakukan sebagai wujud kepedulian UBL terhadap
Iptek,” ujar Linda.
(Chandra
Wirawan)
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Cyber Park di Kota Hujan
Tanggal
17 Agustus 2006, bagi masyarakat Bogor meru-pakan hari yang benar-benar
istimewa. Selain sebagai hari Kemerdekaan ke-61 RI, pada hari
itu dilaksanakan peletakan batu pertama pembangunan Bogor Cyber
Park di Kelurahan Mulyaharja, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor.
Hadir dalam acara tersebut Menteri Komunikasi dan Informatika
Sofyan Djalil serta Walikota Bogor Diani Budiarto. Mereka berdualah
yang meletakkan batu per-tama, sementara turut menyaksikan acara
tersebut Direktur Industri Telematika Departemen Perindustrian
RI, Ramon Bangun, Direktur Energi, Telekomunikasi dan Informatika
Bappenas, Gumilang Hardjakoesoema, First Secretary Kedutaan Besar
Republik Rakyat China untuk Indonesia, Zhang Haihua, serta seluruh
jajaran DPRD Kota Bogor & Muspiko Bogor. Memang pembangunan
Bogor Cyber Park tersebut mendapat dukungan penuh dari Departemen
Komunikasi dan Informatika, Departemen Perindus-trian, serta Kantor
Kementerian Riset dan Teknologi. Sebagai pelaksana proyek adalah
PT Cyber-indo Persada Nusantara dan Pemerintah Kota Bogor
Bogor Cyber park sendiri rencananya akan berdiri di atas lahan
seluas kurang-lebih 115.000 meter persegi dan akan memiliki beberapa
kegiatan utama seperti Data Recovery Center dan Internet Data
Center, Pusdiklat Teknologi Informasi Komunikasi (ICT Training
Center), Puslitbang Teknologi Informasi Komunikasi (ICT Research
and Development Center), Pusat Konvesi & Pameran Teknologi
Informasi Komunikasi (ICT Convention and Exhibition Center), Pusat
Pengembangan Piranti Lunak Komputer (Software House Center), dan
Pusat Perkantoran Teknologi Informasi Komunikasi (Cyber park Office
Center). Dipilihnya Kota Bogor sebagai lokasi pembangunan cyber
park karena daerah ini dapat menjadi back office dari Jakarta.
Sebagai kota hujan, Bogor tepat dijadikan kawasan industri non
polutan.
Anggaran yang diperlukan untuk mewujudkan Bogor Cyber park adalah
sebesar Rp 650 miliar. Dalam MoU yang disepakati antara Pemkot
Bogor dengan Cyberindo, pihak Pemkot akan bertang-gung jawab dalam
pembangunan infrastruktur jalan, sementara Cyberindo akan mengembangkan
area dan instrumen Bogor Cyber Park. Sementara Pemerintah RRC
ikut menawarkan dana sebesar US$ 11 juta untuk mendukung pengembangan
cyber park itu. Dukungan dari Negeri Tirai Bambu itu terjadi karena
Pemerintah Kota Shenzhen dan Kota Bogor sebelumnya telah melakukan
MoU kerja sama pada sektor G to G dan B to B.
Proyek pembangunan Bogor Cyber Park ini diharapkan dapat selesai
pada akhir 2007 serta dapat mulai beroperasi secara maksimal pada
2008.
(Ardi
Winangun)
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Telkom Siap Masuki
Era NGN
PT Telekomunikasi
Indonesia, Tbk tampaknya serius untuk menggelar infrastruktur
dan layanan telekomu-nikasi berbasis jaringan generasi masa depan
(NGN/Next Generation Network). Keseriusan dan kesiapan Telkom
dalam memasuki era NGN antara lain tercermin dalam kegiatan “Telkom
NGN International Conference & Exhi-bition 2006’
yang berlangsung pada 12-15 September 2006 di Bandung. Dengan
mengambil tema ‘Telkom Readiness in Entering The Next Generation
Network and Services”, berbagai aspek teknis, bisnis, dan
legal yang perlu diperhatikan operator telekominkasi dalam imple-menasi
NGN dikupas secara tuntas.
Exhibition dibuka pada 12 September 2006 oleh Komisaris Utama
Telkom Tanri Abeng didampingi oleh Wakil Dirut Garuda Sugardo
dan Direktur Network & Solutions Abdul Haris. Sedangkan sesi
conference dibuka pada 13 September 2006 oleh Dirjen Postel, yang
diwakili Budi Santoso, Direktur Telekomunikasi, didampingi Dirut
Telkom Arwin Rasyid dan Dewan Direksi Telkom lainnya. Dalam event
tersebut Dirjen Postel meresmikan visi Indonesia Synchronize 2016
(INSYNC2016) sebagai visi Telkom dalam memasuki era layanan telekomunikasi
masa depan berbasis NGN.
Dalam acara ini juga dilakukan penendatanganan nota kesepahaman
(MOU) antara Telkom RDC (Research & Development Center) dan
TMRD (Telekom Malaysia Research & Development) di bidang jasa
konsultasi penyusunan dokumen pengujian perangkat untuk Telekom
Malaysia. Para penelti Telkom RDC akan membantu TMRD dalam mengembangkan
NGN equipment testing guidance untuk Telekom Malaysia.
Dalam sambutannya, Dirut Telkom Arwin Rasyid mengatakan bahwa
perkembangan NGN didorong oleh kebutuhan untuk melakukan konvergensi
dan mengoptimalkan network yang ada serta ekspansi trafik digital
yang sangat cepat, seperti bertambahnya tuntutan mobilitas serta
berbagai layanan multimedia baru. “Dewasa ini operator dari
seluruh dunia sudah mulai mengimple-mentasikan strategi NGN dan
berencana menanamkan investasi jutaan dollar untuk menggelar jaringan
berbasis internet protocol yang baru,” ujar Arwin. Arwin
menambahkan bahwa perkem-bangan NGN lebih bersifat evolusioner
daripada revolusioner yang memiliki implikasi jangka panjang.
(E. Ari Astuti)
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Peluncuran
Layanan Dunia 3G Telkomsel
Layanan
Dunia 3G Telkomsel kini dapat dinikmati oleh pelanggan Telkomsel
yang telah memiliki ponsel 3G dan telah mendaftarkannya ke 3636
dengan mengetik ‘3G’. Hal ini menyusul kesuksesan
rangkaian strategi Telkomsel termasuk meraih sertifikasi ULO (Uji
Laik Operasi) untuk layanan 3G.
Dalam konferensi pers di Jakarta, 14 September 2006, Bambang Riadhy
Oemar selaku Direktur Perencanaan dan Pengembangan Telkomsel mengatakan
bahwa menghadirkan layanan 3G meru-pakan tanggung jawab bisnis
sebagai pemimpin di industri seluler Indonesia setelah sukses
uji coba 24 Mei 2006. Pada peluncuran itu, demo layanan Video
Call dilakukan oleh Direktur Marketing Toyota Astra Motor, Joko
Tri Sanyoto yang sedang berada di Wisma Mulia Jakarta dengan Dirut
Telkomsel, Kiskenda Suriahardja yang sedang berada di Hongkong.
Dengan diluncurkannya layanan Dunia 3G Telkomsel, sekitar 60.000
pelanggan yang sudah terdaftar dalam program praregistrasi mulai
15 Agustus s/d 13 September 2006, kini dapat menikmati video call.
Bila dulu menelepon hanya mendengar suara saja, kini mereka bisa
saling melihat wajah masing-masing layaknya bertatap muka langsung
melalui ponsel. Disamping itu pelanggan juga dapat menikmati layanan
Mobile TV, Mobile Video Streaming, high speed internet browsing
dan data download.
(E. Ari Astuti)
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Engage
Indonesia Business Event 2006
Sebagai
salah satu negara di Asia Tenggara, Indonesia masih dipandang
sebagai negara yang kurang menarik minat investor di sektor ICT,
padahal potensi di bisnis ini masih terbuka lebar. Begitulah setidaknya
yang menjadi salah satu bahan diskusi beberapa pelaku bisnis maupun
pemerhati ICT ekspatriat benua Eropa maupun lokal pada The 1st
Engage Collaboration Scientific Conference Indonesia 2006 yang
berlangsung 14 September di The Dharmawangsa Hotel yang merupakan
kelanjutan dari The 2nd Engage Collaboration Conference
yang digelar dua hari sebelumnya berturut-turut di Hotel Hilton,
Jakarta.
Mengambil tema “Seizing Opportunities and Tackling Challenges”
acara tersebut bertujuan memberikan sebuah wacana diskusi terbuka
dalam satu ruang antara enterprenuer dan para pemimpin bisnis
di Eropa dan Indonesia demi terjalinnya sebuah kolaborasi dalam
mengembangkan sektor ICT dan berperan sebagai jajaran terdepan
di Asia Tenggara. Selain oleh pebisnis ICT, acara tersebut juga
dihadiri beberapa pemerhati ICT yang tergabung dalam beberapa
asosiasi ICT di Tanah Air, seperti Mastel, Aspiluki, Apkomindo,
dan beberapa pengamat dari Universitas Indonesia.
Sekedar informasi, acara tersebut merupakan rangkaian dari program
kolaborasi Uni Eropa dengan Asia Tenggara yang sebelumnya diadakan
di Manila, Filipina, pada Maret lalu. Nah, Engage sendiri adalah
sebuah inisiasi dari Komisi Eropa yang mempunyai misi menjalin
kerjasama dengan pengembangan riset TI antara Uni Eropa dengan
beberapa negara Asia Tenggara, seperti Malaysia, Indonesia, Thailand,
dan Filipina.
(Chandra
Wirawan)
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Diskusi
“SMS Premium Antara Bisnis, Layanan, dan Etika”
Dengan
dukungan ProXL, Telkomsel, dan Indosat, Mobil Magazine menggelar
round table discussion bertajuk “SMS Premium Antara Bisnis,
Layanan, dan Etika” pada awal September lalu di salah-satu
resto di Jakarta. Hadir sebagai pembicara di antaranya Suanta
P. Bukit (ProXL), Erik Meijer (Telkomsel), Sony Ariestono (Indosat).
Yuddy Chrisnadi (Komisi I DPR RI), Erik Tenhave (Java Code), Joseph
Lumban Gaol (M-Star), Budi Yakin (Id-Tug), Kamilov Sagala (BRTI),
dan Miftadi Sudjai (STT Telkom) yang membahas hasil penelitiannya
mengenai ketidakpuasan masyarakat terhadap layanan SMS Premium.
Misalnya, tidak konsistennya layanan tersebut terhadap keputusan
penggunanya untuk mengakhiri masa berlangganan. Belum lagi adanya
keluhan pengguna jasa dikirimi SMS lebih dari sekali dalam sehari.
Padahal penggunaan layanan ini dikenakan pulsa premium sekitar
Rp 1000 -- Rp 2000 per-SMS.
Menanggapi hasil penelitian Miftadi, Erik Meijer mengatakan, pihaknya
mengakui memang ada komplain dari masyarakat mengenani layanan
SMS Premium. “Ini adalah resiko yang kita hadapi jika bergelut
di bidang telekomunikasi. Yang terpenting kita ingin ada aturan
main bagaimana bisnis ini bermain dengan rapih. Karena tanpa disadari
bisnis ini berkembang lebih cepat daripada pemikiran operator
yang bergerak di bidang ini. Untuk itu kita minta operator untuk
konsisten dengan layanannya agar tidak merugikan masyarakat,”
tandasnya.
(Chandra
Wirawan)
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------