Bisnis
Seluler Merambah Dunia Pendidikan
PERLU ATURAN DAN STANDARDISASI
SMS
sekolah kini jadi trend di dunia pendidikan. Para operator
telepon
seluler berlomba memanfaatkan peluang ini. Pemerintah perlu membuat
aturan dan standarisasi.
Ada yang berubah dalam diri Prita belakangan ini. Ia yang biasanya
sering terlambat datang ke sekolah sekarang tidak lagi. Ada apa?
Ternyata sistem absensi yang baru diberlakukan di seko-lahnya
telah membuat Prita harus berpikir dua kali untuk datang terlambat,
apalagi bolos sekolah.
Sekolah Menengah Atas Dharma Putra Tangerang, Banten – tempat
Prita bersekolah -- kini memang telah menerapkan sistem absensi
Digital Attendance System for Students atau yang disebut
DASS. Dengan sistem absen ini, siswa cukup menempelkan sidik jarinya
ke sebuah kotak mirip mesin ATM sambil memasukkan kode nomor induk
siswa, dan dengan seketika data kehadirannya terekam
dalam
database sekolah. Hebatnya lagi, data tersebut dengan seketika
terhubung pula pada telepon seluler orang tua murid via sms. Jadi,
orang tua murid dapat memantau apakah anaknya masuk sekolah atau
tidak. Inilah rupanya yang membuat Prita harus berpikir duakali
untuk datang terlambat apalagi bolos ke sekolah.
Menurut Hariyadi Purwanto, kepala sekolah SMA Dharma Putra, pihak
sekolah merakit sendiri sistem absen ini. Mereka bekerja sama
dengan salah-satu operator GSM. Jadi, setiap orang tua siswa harus
memberikan nomor GSM mereka kepada pihak se-kolah agar nantinya
laporan kehadiran siswa bisa langsung diketahui melalui SMS yang
masuk. SMS akan terkirim pada pukul 07.00 bagi siswa yang tidak
datang terlambat. Tapi bagi yang terlambat, SMS akan terkirim
pukul 08.00. Waktu yang dibutuhkan untuk melakukan absensi ini
hanya 10 – 15 detik.
Sampai saat ini pihak sekolah baru memiliki dua mesin absensi
DASS. Menurut Hariyadi, untuk menghindari antrean panjang ketika
absen, pihak sekolah merencanakan akan menambah empat mesin lagi.
“Sebenarnya investasi alat ini tidak terlalu mahal. Untuk
satu unit biayanya kurang lebih Rp 5 juta. Sistemnya pun cukup
sederhana, hanya berbekal seperangkat komputer dengan keypad
angka, software, entry data sidik jari dan kerja sama
dengan provider,” ungkap Hariyadi. Sistem ini muncul,
jelas Hariyadi lebih jauh, sebagai pertanggungjawaban pihak sekolah
terhadap orang tua, di tengah-tengah kekhawatiran orang tua siswa
melihat perkembangan budaya dan pergaulan pelajar saat ini. Lewat
absensi digital ini para orang tua dapat langsung mengetahui
apakah anak mereka membolos atau tidak. “Kami bangga karena
dapat memberikan sumbangsih pada dunia pendidikan dalam mengantisipasi
sikap indisipliner di kalangan pelajar dengan memanfaatkan teknologi
informasi,” kata Hariyadi sumringah. Sekadar tambahan, pemanfatan
teknologi untuk absensi siswa di sekolah ini merupakan yang pertama
di Indonesia dan telah mendapat Rekor MURI.
Untuk rencana ke depan, SMA Dharma Putra Tangerang ini juga telah
memiliki wacana untuk mengembangkan sistem ini ke model lain seperti
nilai. Namun untuk sistem nilai ini lebih cenderung diarahkan
ke website, sehingga nilai yang telah diperoleh siswa dapat ditampilkan
di website selain rapor yang diterima siswa setiap selesai ujian.
Hariyadi juga menambahkan bahwa komunikasi dua arah antara sekolah
dan orang tua juga dilakukan dalam hal undangan ke sekolah. “Misalkan
ada pertemuan, kami tidak perlu lagi mengirim undangan, cukup
SMS saja sehingga paperless. Kami juga menyediakan SMS
hotline mulai tahun ini yang bisa dihubungi setiap saat,”
jelas Hariyadi.
SMS
SEKOLAH
Seiiring dengan perkembangan jumlah pemakai telepon seluler yang
terus bertambah, SMS (Short Message Service) saat ini
memang tengah booming. Salah-satu layanan dalam sistem
telepon selular berbasis teks ini dipakai oleh hampir seluruh
pemilik telepon genggam. Ini disebabkan karena layanan ini murah
(dibanding dengan biaya percakapan melalui suara), mudah (karena
untuk menggunakannya tidak diperlukan keahlian khusus), recordable
(data yang dikirim atau diterima dapat disimpan), serta scheduling
(pesan dapat dikirim kapan saja sesuai dengan kebutuhan pemakai).
Dalam perkembangannya, saat ini SMS banyak dimafaatkan untuk berbagai
kegiatan mulai dari dunia entertain (seperti kuis di televisi
dengan berbagai hadiah), asuransi (asuransi jalan tol), sampai
untuk kegiatan rohani (Al-Quran seluler, zakat via SMS, dll).
Pendeknya, SMS sekarang sudah merasuk dalam setiap sisi kehidupan
kita.
Yang belakangan ini juga lagi ngetrend adalah SMS sekolah. Apa
yang terjadi di SMA Dharma Putra Tangerang di atas adalah gambaran
bagaimana SMS sekarang sudah dimanfaatkan oleh sekolah untuk menunjang
kegiatan pendidikan. Jika SMA Dharma Putera melakukan kegiatan
tersebut atas inisiatif sendiri (didorong karena kebutuhan), maka
ada beberapa sekolah yang justru sengaja digandeng oleh operator
seluler untuk memanfaatkan kecanggihan SMS itu. Para operator
tampaknya sudah mulai melihat peluang bisnis dari masuknya SMS
ke dunia pendidikan ini.
Program
SMS sekolah didisain untuk menjembatani lagging informasi
antara orang tua murid dan guru (pihak seko-lah) tanpa harus dibatasi
oleh jarak dan waktu. Melalui SMS sekolah, diharapkan pihak sekolah
dapat memberikan ber-bagai informasi akademik siswa, seperti nilai
ujian, absensi, jadwal ujian, ekstra kurikuler, serta berbagai
informasi pen-ting sekolah lainnya, baik kepada siswa itu sendiri
maupun kepada orang tua siswa. Fasilitas ini jelas akan membe-rikan
kemudahan dan penghematan pengeluaran bagi kedua belah pihak.
Bahkan bukan hanya itu, bagi para operator seluler yang ikut dalam
ke-giatan ini, SMS sekolah dapat mem-berikan penghasilan traffic
SMS yang cukup besar.
Besarnya "kue" yang terhampar di ladang dunia pendidikan
ini, bisa dilihat dari jumlah sekolah yang ada di tanah air. Saat
ini menurut data dari Depdiknas, ada sekitar 250.000 sekolah negeri
dan swasta, dengan jumlah murid 45 juta orang. Bayangkan berapa
besar perputaran uang yang beredar di kalangan sekolah jika 10-20
persen saja dari jumlah siswa sudah menggunakan jasa SMS sekolah
(kalikan dengan tarif SMS yang rata-rata Rp 300 dan jumlah pengiriman
minimal dua kali dalam sehari).
Ladang menggiurkan ini tentu saja tak ingin dilewatkan begitu
saja oleh para operator seluler. Beberapa di antara mereka sudah
sejak dua tahun belakangan ini bekerja keras berusaha meraup kue
tersebut. Bukan hanya itu, mereka bahkan berusaha menciptakan
demand, dengan cara bekerja sama dengan sekolah dan perguruan
tinggi. Esia misalnya, sejak 2004 sudah berusaha menggaet ITB
untuk memanfaatkan SMS pendidikan dalam informasi penerimaan mahasiswa
baru. Bahkan Anindya N. Bakrie, presiden direktur PT Bakrie Telecom,
mengatakan bahwa kerja sama itu akan di perluas ke berbagai perguruan
tinggi lainnya di kawasan Bandung dan Jakarta.
Tak kalah dengan Esia, Telkom, Telkomsel, dan Indosat pun seakan
berlomba memanfaatkan kesempatan ini. Di Samarinda, misalnya,
Telkomsel meluncurkan produk SMS School Community. Tujuh
sekolah SMA/SMKN digandeng, dan sekitar 1.000 siswa diharapkan
akan memanfaatkan fasilitas tersebut. Bisa dihitung berapa pendapatan
yang akan mereka raih. General Manager Sales & Customer
Service Telkomsel Regional Kalimantan Irfandi Firmansyah,
mengatakan, ”Ini cara kami berjualan dengan elegan,”
katanya. Maklum saja, sasaran mereka selain traffic SMS,
juga peningkatan jumlah pelanggan.
Sementara itu, di Tangerang Banten, PT Telkom pertengahan September
lalu, menggandeng bebe-rapa perguruan tinggi dan SMA di sana untuk
memanfaatkan program SMS Sekolah mereka dengan mengusung Telkom
Flexi.
Lain lagi yang dilakukan Indosat. Lewat program yang diberi nama
Smart Generation, mereka malah membangun telepon umum
(public phone) seluler di 16 SMA di Bandung, agar para
siswa mendapat kemudahan untuk mengakses informasi sekolah yang
mereka butuhkan. ”Pertimbangannya adalah karena banyak siswa
yang belum memiliki handphone sendiri,” ujar Suzana
Sumanto, kepala Cabang Indosat Bandung, menjelaskan alasan pembangunan
public phone tersebut.
PERLU
ATURAN MAIN
Pasar itu kini sudah tumbuh. Peluang besar memang tampak di depan
mata. Oleh sebab itu, tak heran jika operator seluler tak sungkan-sungkan
melakukan berbagai inovasi pelayanan dan persiapan content
demi terus menumbuhkan demand di masyarakat. Biasanya
cara yang paling ampuh adalah dengan memberikan potongan pulsa
dan tarif SMS agar konsumen mau beralih dari kartu seluler tertentu
ke seluler lainnya. Memperbaiki jaringan dengan cara menambah
perangkat infrastruktur dan memberikan pelayanan yang baik (SMS
yang dikirim tepat waktu, baik ketika mengirim maupun ketika menerima),
merupakan inovasi lain yang dilakukan para operator.
Terbuka luasnya bisnis SMS di dunia pendidikan ini, tak pelak
juga membawa dampak multi efek ke bisnis ikutannya. Yang jelas
jumlah handphone sendiri akan terus meningkat seiring
dengan semakin meluasnya program SMS sekolah ini ke seluruh wilayah
Indonesia. Perlahan namun pasti setiap siswa sekolah akan memiliki
perangkat handphone sendiri. Jumlahnya, seperti yang sudah disinggung
di atas mencapai 45 juta siswa. Separo saja dari jumlah tersebut
sudah memiliki handphone, akan memberikan dampak yang
sangat signifikan terhadap jumlah pelanggan telepon seluler di
tanah air.
Selain akan meningkatkan jumlah kepemilikan handphone
di tanah air, efek dari meruaknya SMS sekolah ini juga akan ikut
menumbuhkan perusahaan-perusahaan ikutan seperti perusahaan terminal,
content, dan juga perusahaan jaringan. Karena SMS sekolah juga
suatu saat akan masuk ke dalam website, maka bukan tak mungkin
akan menumbuhkan pula perusahaan-perusahaan website dan internet
baru.
Melihat perkembangan tersebut di atas, pemerintah tampaknya harus
jeli mengamati hal ini. Tumbuh suburnya program SMS sekolah jelas
membawa dampak yang positif bagi kegiatan sekolah itu sendiri,
di samping tentu saja ikut membawa dampak positif bagi pertumbuhan
industri dalam negeri. Industri content, terutama di
bidang pendidikan –misalnya-- akan ikut tumbuh dan berkembang
seiiring dengan semakin banyaknya lembaga pendidikan yang menerapkan
SMS sekolah. Begitu juga dengan industri ikutan lainnya.
Adalah bijaksana rasanya jika mulai sekarang pemerintah mengikuti
dan mengamati dengan teliti perkembangan yang terjadi dalam kegiatan
SMS sekolah dan bisnis yang terjadi di dalamnya. Perusahaan operator
seluler, dan perusahaan content, serta perusahaan lainnya
yang timbul dari bisnis ini, hendaknya dibina dan diberi panduan
agar mereka memiliki standardisasi dalam menjalankan bisnisnya.
Contoh kecil misalnya, content yang bagaimana yang bisa mereka
adopt dari luar sehingga sesuai dengan kondisi tanah
air. Tentu saja ini harus ada aturan main dan standardisasi dari
pemerintah agar content (dalam hal ini content pendidikan)
yang mereka buat tidak melanggar aturan serta norma yang berlaku.
Pengarahan dan pembinaan dari awal akan terasa lebih bijaksana,
ketimbang aturan dan standardisasi baru dibuat ketika bisnis sudah
berkembang pesat.
(Andy
Zoeltom)