Majalah e-Indonesia - Media ICT Wahana Merajut Nusantara

 

Warung Depkominfo untuk UKM

Depkominfo bangun Warung Masyarakat Informasi (Warmasif) di beberapa daerah di Indonesia. Padahal saat ini sudah dibangun 23 model Community Acces Point (CAP). Bagaimana cara kerja Warmasif, dan akankah ia mematikan CAP yang sudah ada?

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Ruang Direktorat e-Business Direktorat Jenderal Aplikasi Telematika Departemen Komunikasi dan Informatika, pagi itu nampak lengang. Tidak terlihat kesibukan yang cukup menonjol di ruang itu. Namun begitu waktu menunjukkan pukul 8.30 WIB, seorang perempuan baya berkerudung agak tergopoh-gopoh memasuki ruangan itu. Di tangan kanan didekapnya setumpuk map, sedang di tangan kirinya menenteng tas berukuran sedang. Begitu masuk ruang tersebut, perempuan itu langsung menuju meja komputer, dan kemudian ia tenggelam dengan setumpuk pekerjaannya.

Itulah kesibukan Sri Setyo Kusumawati belakangan ini. Direktur e-Business Dirjen Aptel Depkominfo itu memang bertambah padat, terutama sejak ia mempersiapkan pembukaan Warung Masyarakat Informasi Indonesia (Warmasif) berbasis internet. Akhir tahun ini ia dibebani pembangunan Warmasif di 10 lokasi. Tidak heran bila ia harus sering berkunjung ke berbagai daerah, mengadakan roadshow untuk menjajaki potensi-potensi kabupaten atau kota dan bila perlu mengadakan perjanjian dengan bupati atau walikota untuk mendirikan Warmasif. “Sejak dianggarkan pendirian 10 Warmasif, kesibukan saya sekarang bertambah padat mas,” ujar Sri Setyo kepada wartawan e-Indonesia.

Kenapa Warmasif?
Warmasif merupakan salah-satu model Community Acces Point (CAP). Kehadiran Warmasif merupakan hasil kerja sama antara Direktorat e-Business Ditjen Aplikasi Tele-matika Depkominfo dengan kantor pos dan pemerintah daerah yang ditunjuk. Di tempat itu, Warmasif dibangun dalam bentuk outlet.

Masyarakat di sekitarnya dapat memanfaatkan warung tersebut untuk berbagai aktivitas komunikasi dan infor-masi, seperti akses informasi global, pemasaran melalui internet, transaksi online, dan akses perpustakaan digital. Sebagai model CAP yang baru, Warmasif memiliki karakterisktik tersendiri, yakni untuk mengentaskan kemiskinan dan memperkecil digital divide. Untuk itu outlet yang ditempatkan di kantor pos mempunyai peran mengembangkan usaha atau perdagangan elektronik (e-commerce). Tidak heran bila aplikasi yang dimiliki adalah e-UKM. “Kita akan lebih dominan melayani pelaku Usaha Kecil dan Menengah (UKM),” papar Sri Setyo.

Lalu bagaimana pangsa pasar atau para pelaku UKM bisa memanfaatkan fasilitas itu? Ternyata petugas kantor pos mempunyai peran kunci sebagai pemandu di outlet itu. Jika pelaku usaha membawa produk usahanya ke Warmasif, maka oleh petugas kantor pos produk tersebut akan difoto dan hasilnya yang berupa gambar akan di-up load ke website. “Sebelum ada transaksi, pelaku UKM menggunakan Warmasif secara gratis,” ucap Sri Setyo.

Sri Setyo Kusumawati
Direktur e-Business Dirjen Aptel Depkominfo


Saat ini sudah ada 3 Warmasif yang beroperasi, yakni di Semarang, Serang, dan Palembang. Dari ketiga Warmasif tersebut belum ada data yang jelas berapa jumlah pengunjung, terutama dari pelaku UKM. Sri Setyo Kusumawati sadar ada beberapa hal yang menyebabkan keberadaan Warmasif masih belum maksimal, misalnya banyak pelaku UKM yang tidak bisa atau belum me-mahami penggunaan TI dan belum tersosialisasinya outlet tersebut kepada para pelaku UKM. “Program Warmasif merupakan pekerjaan yang tidak mudah dilaksanakan,” ungkap Sri Setyo.

Untuk mengatasi kendala tersebut, menurut Sri, masing-masing pihak berbagi peran. Direktotrat e-Business misalnya, menyediakan bantuan perangkat keras dan menyediakan aplikasi e-UKM, transaksi eletronik, dan layanan informasi kesehatan. Perangkat keras di satu Warmasif yang disediakan pihak direktorat adalah 3 PC, 1 server, 1 kamera digital, 1 printer, dan 1 pemindai.

Sementara peran yang harus diemban oleh pemerintah daerah adalah mensosialisasikan keberadaan Warmasif dan mendukung program pelatihan TI bagi UKM. UKM sebagai sektor yang cakupannya cukup luas, tidak menutup kemungkinan bekerja sama dengan banyak pihak, seperti dinas perindustrian, dinas koperasi dan usaha kecil dan menengah, serta dinas informasi dan komunikasi. “Adanya kerja sama dengan dinas-dinas itu tergantung dari daerah yang diajak kerja sama,” papar Sri Setyo.

Kehadiran Warmasif tentu semakin meramaikan kehadiran CAP di tengah-tengah masyarakat dan itu disadari oleh Sri Setyo. Dari banyaknya CAP, kelak menurutnya akan ditemukan model yang paling tepat dan tidak menutup kemungkinan dari CAP yang telah ada akan diajak bekerja sama oleh Warmasif. Sri mengklaim Warmasif sebagai proyek yang terjangkau. Ia membandingkan dengan telecenter yang dibangun Bappenas dan UNDP. Saat ini proyek Bappenas tersebut jumlahnya sudah ada di 6 lokasi. Setiap telecenter memiliki fasilitas 7 buah PC, dan satu mesin foto-kopi. Telecenter ditunjang dengan dana pendampingan. Dalam satu bulan, pendamping digaji Rp 6 juta, administrator Rp 5 juta, dan manajernya Rp 2,5 juta. “Direktorat e-Business tentu saja tidak mampu jika seperti itu,” katanya. Untuk itu direktorat mencari model yang minimal tetapi efisien dan sejalan dengan arah mereka.

                    Koferensi Nasional yang membahas CAP.

Pada akhir tahun anggaran 2006 ada 10 Warmasif yang sudah disetujui untuk dibangun di 10 daerah, yakni di Medan, Tanggamus, Pekalongan, Singkawang, Palang-karaya, Makasar, Manado, Kupang, Ambon, dan Jayapura. Kesepuluh daerah itu dipilih untuk perbandingan bagaimana hasilnya jika Warmasif didirikan di daerah terpencil, daerah maju, dan daerah terbelakang. Dari ke-10 kota secara rinci anggarannya sebesar Rp150 juta untuk aplikasi kesehatan, Rp200 juta buat aplikasi pendidikan, Rp174 untuk aplikasi e-UKM, dan Rp319.500 juta buat pengadaan barang. Selain itu, direktorat juga menganggarkan untuk melakukan kunjungan dan kerja sama dengan pemerintah sebesar Rp600 juta. “Pada tahun anggaran 2006 ini anggarannya memang sangat minim sekali,” ungkap Sri Setyo.

Pembangunan warung informasi diserahkan kepada pihak ketiga. Artinya akan ada tender. Nah, dari proyek pembangunan 10 Warmasif, pemenang tender menurut Sri Setyo akan diketahui kira-kira awal November. Pelaku tender yang berebut proyek itu ada sekitar 11 sampai 15 perusahaan. Pelaku tender akan dipilih jika memenuhi syarat. Semua harus mengikuti aturan sesuai Kepres No. 80. “Semua tender harus melalui proses, ini dilakukan dalam rangka menciptakan good governance,” paparnya.

Walau model dan jumlah CAP sudah menjamur, namun Direktorat e-Business optimistis Warmasif mampu bertahan dan diterima masyarakat. Direktorat selalu mencari solusi ketika ada benturan, misalnya UKM masih banyak yang belum memanfaatkan IT, sehingga direktorat perlu bekerja sama dengan Kementerian UKM. Sri Setyo mengungkapkan dulu Kementerian UKM pernah memberikan sekitar 300 komputer kepada UKM tetapi tidak jalan, maka di sini perlu adanya sharing permasalahan. Diakui tidak mudah mengubah kebiasaan orang “Yang kita hadapi adalah petani dan pengrajin, jadi tidak bisa langsung mengubah mereka menjadi pedagang,” katanya. Untuk itu berbagai program pelatihan mengenai TI akan diberikan kepada pelaku UKM........
(Lengkapnya baca di majalah)


--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

 

KEMBALI  l  KE ATAS



Copyright © www.majalaheindonesia.com 2006