Majalah e-Indonesia - Media ICT Wahana Merajut Nusantara

 

INDONESIA INFRASTRUCTURE CONFERENCE AND EXHIBITION 2006

Upaya Mewujudkan Internet Murah
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Indonesia Infrastructure Conference and Exhibition kembali digelar setelah perhelatannya tahun lalu dianggap gagal. Salah-satu sektor yang cukup “menggoda” adalah Palapa Ring yang digelontorkan Depkominfo. Meski kali ini persiapan lebih matang, namun banyak juga yang meragukan perhelatan kali ini akan membawa hasil maksimal.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berjalan gagah memasuki ruang Jakarta Convention Center, tempat ia akan membuka Indonesia Infrastructure Conference and Exhibition (IICE) 2006. Boleh jadi ini hari yang paling ditunggu oleh SBY, karena dari perhelatan ini diharapkan para investor luar negeri akan beramai-ramai mena-namkan uangnya di Indonesia. Kalau itu terjadi, kondisi perekonomian kita tentu akan terus membaik.

Selama tiga hari penyelenggaraan eksibisi, telah dilaku-kan berbagai pemaparan dan penawaran beberapa model dan potensial proyek oleh Pemerintah RI melalui para menteri terkait kepada swasta, lembaga keuangan, dan para pihak yang tertarik dengan pembangunan infrastruktur di Indonesia.
Dengan dihadiri kurang lebih 1.200 delegasi dari 32 negara, IICE 2006 juga menampilkan pameran industri infrastruktur yang berlangsung hingga hari ke-3 penyelenggaraan oleh 139 perusahaan, baik lokal maupun internasional yang meliputi sektor pertambangan, telekomunikasi, transportasi, lembaga keuangan, konsultan, kontraktor infrastruktur, dan sebagainya.

Sementara itu, berlangsung hingga hari ke-2, diadakan berbagai konferensi bagi para delegasi yang hadir untuk mengikuti pemaparan tentang reformasi kebijakan yang terkait dengan pembangunan infrstruktur di Indonesia oleh pemerintah. Dalam hal ini, konferensi diwakili oleh Menteri Koordinasi Perekonomian Budiono dengan topik “Aligining Macro Policy to Accelerate the Provision of Infrastructure in Indonesia”, dan Menteri Keuangan Sri Mulyani, yang memaparkan topik “Government Support to Enhance Vialibility and Bankabillity of PPP (Partnership Private ProjectRed) in Infrastructure”.

Untuk selanjutnya, pada peserta IICE 2006 mengikuti pertemuan one on one meeting dengan penanggung jawab proyek secara sektroal yang dipimpin oleh menteri sektor terkait, seperti Menteri Pekerjaan Umum, Menteri Perhubungan, Menteri Komunikasi dan Informasi, serta Menteri ESDM. Dalam sesi ini para investor mendapatkan informasi yang lengkap tentang proyek-proyek yang ditawarkan, terkait pada kebijakan, regulasi, maupun benefit, dengan harapan tidak ada lagi keraguan dari mereka untuk berpartisipasi dan pembangunan infrastruktur di Indonesia. Pendeknya, semua langkah dilakukan untuk mayakinkan investor.

Palapa Ring Project
Di lini infrastruktur ICT, untuk mengatasi kesenjangan digital, terutama di daerah terpencil yang tidak memiliki jaringan broadband, Depkominfo menawarkan proyek pembangunan Palapa Ring senilai Rp 15 triliun lebih yang merupakan proses pembangunan, pembiayaan, dan pengoperasian jaringan teknologi fiber optic dengan kapasitas besar yang akan menghubungkan 33 provinsi dan 440 kota/kabupaten di Indonesia.

Nantinya, Palapa Ring akan dibangun di tujuh wilayah, seperti Sumatera, Jawa, Kalimantan, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, Papua, yang akan dihubungkan dengan satu jaringan besar yang menyambungkan antar wilayah dengan 97 landing point yang total jaringan bawah lautnya mencapai 35.280 km dan total kabel yang ditanam di bawah tanah mencapai 21.807 km.

Sofyan Djalil
Menkominfo


Kepada pers, Menkominfo Sofyan Djalil mengatakan, seluruh pendanaan Palapa Ring akan dibebankan kepada investor yang nantinya akan meng-operasikan proyek tersebut. Meskipun begitu, sebagai kompensasi, peme-rintah akan memberikan insentif bagi mereka. “Sebenarnya kelihatan sekali dari proyek ini bahwa perspektif pertumbuhan dan potensi pasar sangat besar. Makanya pemerintah tidak membantu dalam hal pendanaan kecuali berupa insentif. Apa bentuk insentifnya akan kita diskusikan karena itu tergantung proyek yang ditangani di daerah mana.”

Nah, mengenai insentif yang akan diberikan, menurut Sofyan, pihaknya melihat dulu sejauh mana insentif diperlukan. Menurutnya, insentif akan diutamakan pada investor yang akan membangun proyek di Indonesia Timur. “Berdasarkan studi yang ada, tanpa insentif pun, sebenarnya Pulau Jawa sudah menguntungkan. Makanya, mungkin untuk pengoperasian proyeknya tidak memerlukan insentif. Sekalipun ada, mungkin tidak terlalu besar,” ujar Sofyan yang memaparkan IRR (Invensment Return Revenue) pada proyek ini berkisar 21.4 % dengan periode payback 4.1 tahun.

Mengenai prospek di Indonesia Timur, Sofyan menegaskan sekarang ini mungkin lebih rendah dibandingkan di Pulau Jawa. Tetapi ia optimis infrastruktur yang akan dibangun nantinya akan dibutuhkan. Apalagi jika dilihat kecenderungan masyarakat sekarang yang sudah teredukasi tentunya sangat membutuhkan internet yang merupakan barometer pesatnya kebutuhan pada bandwidth.

Alexander Rusli
Staf Ali Menkominfo


Sementara itu, Staf Ahli Menkominfo Alexander Rusli kepada e-Indonesia mengungkapkan, lewat jalur surat-surat yang masuk atau formal lainnya, para calon investor sudah mengajukan diri untuk terlibat dalam proyek Palapa Ring. “Setidaknya ada 4-5 pemain baru yang sudah mengajukan diri, disamping pemain lama yang mulai tertarik pada proyek ini.”

Mengenai kualifikasi calon investor, Depkominfo tidak terlalu ketat dalam hal ini. Menurut Alex, ini dikarenakan tender proyek Palapa Ring terbuka untuk umum. Namun, meskipun begitu prioritas sudah tentu ada. “Kita akan memprioritaskan mereka yang memiliki background telekomunikasi. Selain itu, mereka juga harus punya teknologi, uang, pengalaman, di samping punya hubungan baik dengan pemerintah,” tandas Alex.

Berbicara mengenai kans pemain lama yang ditenggarai lebih besar daripada pemain baru, Alex menampik pendapat tersebut. Dia menjelaskan, kans pemain baru maupun pemain lama tergantung pada konsorsium yang akan digelar pada sekitar Oktober 2007. “Yang jelas, siapa pun nantinya yang akan menjalankan proyek ini, pastinya jaringan backbone di Indonesia akan mengalami perbaikan dalam jangka 1-3 tahun ke depan. Dengan begitu, target WSIS akan kita capai dengan cepat,” ujarnya optimistis. Kalau memang itu menjadi kenyataan, mimpi akses internet murah akan segera terwujud. Kita tunggu saja, apakah mimpi kita bersama akan menjadi kenyataan.
Chandra Wirawan


--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

 

KEMBALI  l  KE ATAS



Copyright © www.majalaheindonesia.com 2006