|
|
Mengukur
Hasil Penerapan TI,
Belum Dianggap Penting
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------ |
Investasi TI
yang menyedot anggaran cukup besar, sudah sepatutnya dibarengi dengan
pengukuran. Beragam metode bisa digunakan untuk mengukur hasil implementasi
TI. Apalagi banyak manfaat yang bisa dituai melalui pengukuran.
Mulai dari tingkat keselarasan antara TI dengan bisnis, tingkat
kualitas layanan, pengembangan TI ke depan, hingga menghindari kegagalan
proyek.
Kalau muncul
pertanyaan, berapa alokasi anggaran TI di suatu organisasi atau
perusahaan, bela-kangan ini, angkanya cukup menggembirakan. Setidaknya,
rata-rata organisasi atau perusahaan menghabiskan anggaran per tahunnya
kurang lebih 10% untuk pembangunan, pengelolaan, dan pemeliharaan
ICT (Information and Communication Technology). Untuk sektor
government, bisa jadi angkanya di bawah 10%.
BAMBANG
NURCAHYO PRASTOWO
Kepala Pusat Pelayanan Teknologi Informasi dan Telekomunikasi UGM
Mengingat investasi TI cukup besar, manfaatnya acapkali langsung
diper-tanyakan. Untuk mengetahui efektivitas penggunaan TI, tentu
tak bisa asal-asalan. Perlu suatu pengukuran, yakni suatu cara untuk
mengetahui ke-efektifan TI. Pengukuran bertujuan mendapatkan informasi
keberhasilan pengadaan suatu fasilitas TI. Menurut Bambang Nurcahyo
Prastowo, kepala Pusat Pelayanan Teknologi Informasi dan Telekominikasi
UGM, keberhasilan pengadaan fasilitas TI dapat diukur ber-dasar
tujuan pengadaan itu. Detailnya, bisa digambarkan sebagai berikut:
andaikan kita meng-adakan fasilitas TI dengan tujuan meningkatkan
kinerja sistem perkantoran, maka keberhasilan pengadaan dapat diukur
dengan menggunakan parameter seberapa cepat suatu surat masuk ditindaklanjuti
oleh tim pelaksana yang ditunjuk.
Di Indonesia, belum semua perusahaan apalagi government melakukan
pengukuran. Maklum, pe-ngukuran TI masih dianggap hal baru. Selain
itu, menurut Wisnu Wardana, CIO BNI, pengukuran terhadap proyek
TI sangat spesifik bila dibandingkan proyek riel seperti konstruksi.
Spesifik yang dimaksud adalah penentuan indikator dan cara pengumpulan
datanya. Ditambah lagi, dunia TI ber-gerak sangat cepat sesuai dengan
tuntutan bisnis.
Minimnya pemahaman akan pentingnya pengukuran TI pada tingkat manajemen
turut menjadi penyebab. Ini karena biasanya top level manajemen
hanya berkepentingan terhadap besarnya biaya atau investasi yang
dikeluarkan saja. Begitu pendapat Krisna Nugraha, seorang konsultan
TI. Masih kata Krisna, ada beberapa faktor lain yang menyebabkan
pengukuran TI masih dipandang sebelah mata. Seperti ketidaktahuan
terhadap metode pengukuran TI, masih banyak pengelolaan TI menggunakan
prinsip “laboratorium” dan bukan menjadi bagian dari
bisnis itu sendiri, hingga kegiatan pengembangan TI masih dilakukan
secara sporadis, tidak terdefinisi dengan baik dan belum tentu bersinergi
dengan tujuan organisasi, “Sehingga pada akhirnya sulit untuk
dilakukan pengukuran,” tukasnya. Belum adanya tuntutan dari
stakeholders atau industri yang mewajibkan pengukuran menambah deretan
panjang faktor yang mengakibatkan pengukuran tidak mendapat tempat
sebagaimana mestinya.
Memang, untuk melakukan pengukuran TI tidaklah mudah. Pengukuran
hanya dapat dilakukan dengan tiga syarat. Pertama waktu dan komitmen.
Kedua, SDM yang memahami metode peng-ukuran TI, serta ketiga, dukungan
manajemen puncak yang ICT Literate (baca: memahami kontribusi
TI terhadap peningkatan kinerja perusahaan) sehingga dapat
membuat kebijakan yang mendukung. Padahal ketiga hal tadi di mata
Benny Ranti, dosen Magister Teknologi Informasi UI, masih merupakan
barang langka di Indonesia.
Manfaat
Sebenarnya, di tengah makin pentingnya TI dalam mendukung kinerja,
pengukuran tingkat keber-hasilannya pun perlu dilakukan. Apalagi,
ya itu tadi, berkenaan dengan investasi. Baik itu investasi langsung
seperti perangkat atau pun tidak langsung, dalam hal ini SDM,
waktu, pelatihan, dan sebagainya. Pendeknya, pengukuran TI merupakan
bentuk pertanggungjawaban terhadap seluruh investasi yang dikeluarkan.
Untuk itu, bagi organisi baik perusahaan swasta maupun pemerintah
yang telah mengedepankan TI, pengukuran itu sifatnya wajib. Sebut
saja, perbankan. Secara ber-tahap, menurut Dekar Urumsah, chief
of information systems centre Universitas Islam Indonesia, pengukuran
bisa mulai dilakukan pada sektor pendidikan, pariwisata, pabrikasi/manufaktur,
BUMN, dan organisasi pemerintahan termasuk pemerintah daerah.
Meski perkembangan TI di Indonesia tergolong lambat, bagi Bambang
Prastowo tidak jadi soal untuk mulai membiasakan diri melakukan
pengukuran. “Kita bisa langsung memperbandingkan proses
penyusunan RAPBD dari daerah yang menerapkan TI untuk keperluan
itu,” begitu penje-lasannya. Pembandingan, kata Bambang,
dapat dilakukan di daerah yang sama terhadap waktu-waktu terdahulu.
Atau, dapat pula diperbandingkan dengan daerah “sejenis”
yang belum mene-rapkan TI dalam penyusunan RAPBD. Soal manfaat
pengukuran TI, Bambang tidak meragukan lagi. Ia berpendapat, pengukuran
diperlukan untuk mendapatkan gambaran sejauh mana tingkat kegagalan.
Apalagi, “Kita sering mendengar gagalnya implementasi TI
di banyak sektor di Indo-nesia. Karenanya, pengukuran penting
untuk mendapatkan gambaran tentang tingkat kegagalan tersebut,”
tandasnya. Dari sini, manfaat pengukuran bisa dituai. Pertama,
hasil pengukuran dapat digunakan sebagai justifikasi dilanjutkan
atau dihentikannya pekerjaan multiyears. Kedua, hasil pengukuran
penting sebagai bahan perancangan sistem di masa depan.
KRISNA
NUGRAHA
Konsultan TI
Pendapat senada dilontarkan Krisna yang mengukuhkan bahwa pengukuran
TI memang penting. Pria yang pernah bekerja di Microsoft ini,
melihat ada beberapa manfaat yang biasa didapat bila pengukuran
dilakukan. Mulai dari mengetahui apakah investasi TI yang dikeluarkan
berkesuaian dengan arah atau tujuan perusahaan/organisasi, apakah
layanan TI selama ini mem-berikan kepuasan kepada pelanggan atau
tidak, hingga apakah pengem-bangan layanan TI memberikan dampak
kepada perusahaan/organisasi. “Dampaknya bisa berupa pengurangan
biaya operasional, pengurangan leadtime dari suatu proses, menghilangkan
proses yang tidak efisien, meng-hasilkan pendapatan baru atau
tambahan, meningkatkan jumlah transaksi yang dapat diproses, dan
sebagainya,” papar Krisna.
Ada satu lagi manfaat dari pengukuran TI, kata Krisna. Yakni mengetahui
apakah investasi TI dan pengembangannya berkontribusi terhadap
penurunan resiko perusahaan (business risks). Misalnya dengan
penerapan sistem keamanan data yang baik, penerapan IT Service
Continuity, dan seba-gainya. Secara umum, masih kata Krisna, pengukuran
TI dilakukan untuk mengetahui beberapa hal. Mulai dari tingkat
keselarasan antara TI dengan bisnis, manfaat investasi yang dikeluarkan,
tingkat kualitas layanan TI yang diberikan atau dikembangkan dalam
rangka memberikan nilai tambah bagi organisasi hingga mengukur
kesiapan TI (dalam hal ini people, process, dan technology)
dalam mengantisipasi perubahan bisnis dan teknologi masa depan.
Metode
Bicara soal metode pengukuran TI, hingga kini masih terjadi perdebatan.
Ini terjadi mengingat adanya beberapa sudut pandang berbeda dalam
mengukur keberhasilan penerapan TI. Menurut Krisna, sudut pandang
ini sangat dipengaruhi oleh tujuan dan strategi perusahaan/organisasi
itu sendiri. Ia memberikan contoh: Perusahaan yang sedang menggiatkan
program pengurangan biaya operasional tentunya akan mengukur keberhasilan
penerapan TI dari kontribusi TI terhadap penu-runan biaya, bukan
yang lainnya.
Iya, memang cukup banyak metode yang dapat digunakan dalam pengukuran
termasuk Economic Value Added, Information Economics, Balanced
Scorecard, dan Real Options Valuation, berikut kelemahan
dan kelebihannya masing-masing. Sejauh ini belum ada satu pun
metode yang dijadikan standard de facto metode pengukuran. Untuk
itu, Benny Ranti berpendapat, masih diperlukan penelitian lebih
lanjut untuk menghasilkan sebuah metode yang lebih tepat, yang
dapat mengakomodasi kelebihan dari setiap metode yang ada saat
ini. Bila menengok ke belakang, pengukuran TI di negara maju telah
dilakukan sejak 1949. Mulanya, pengukuran dilakukan pada tiga
aspek yaitu aspek teknis, semantik, dan efektivitas atau pengaruh.
Kemudian pada 1978, aspek pengukuran dikembangkan menjadi 5 yaitu
produksi, produk, penerimaan, pengaruh bagi penerima, dan pengaruh
pada sistem.
Menapak 1992, muncul kategori kesuksesan Sistem Informasi (SI)
atau ICT. Di sini pengukuran dilakukan pada enam aspek yakni kualitas
sistem, kualitas informasi, penggunaan, kepuasan pengguna, dampak
individu, dan dampak organisasi. Menurut penjelasan Dekar, perkembangan
merujuk pada 3 aspek sebelumnya. Ada metode pengukuran yang kadang
juga disebut sebagai evaluasi dari aspek investasi yang telah
ditanamkan dalam bidang TI. Namun, masih kata Dekar, pengukuran
dengan menggunakan evaluasi terhadap investasi TI merupakan pengembangan
dari aspek terakhir dari enam aspek yang telah disebut sebelumnya.
“Yaitu mengukur dampak TI terhadap organisasi. Sehingga
mayoritas juga akan menggunakan alat-alat analisis keuangan,”
jelasnya.
Bagi Krisna, pengukuran TI bisa mengacu kepada standard CobIT.
Selanjutnya, pengukuran dilakukan berdasarkan setiap proses CobIT
yang mencakup 34 proses. Di sini, CobIT memberikan arahan mengenai
Key Goals Indicator (KGI) dan Key Performance Indicator (KPI)
dari setiap proses. “KGI mencerminkan tingkat keberhasilan
pencapaian tujuan proses tersebut sedangkan KPI mengukur kinerja
dalam melaksanakan proses tersebut,” papar Krisna lagi.
Adapun elemen pengukuran yang digunakan oleh CobIT cukup banyak.
Soalnya, setiap proses terdapat beberapa KGI dan KPI.
Ke Halaman berikutnya
> l KE
ATAS |
|
|
|