| |
Bila Ponsel di Jari Petani
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Informasi
seputar musim tanam, cara bertanam yang baik, tips seputar pertanian,
hingga harga komoditas sangat pertanian krusial bagi petani. Bila
informasi tersebut dapat diakses petani dengan mudah, kran kesejahteraan
petani dengan sendiri akan terbuka. Terobosan Kementerian Pertanian
meluncurkan sistem informasi pertanian merupakan langkah awal
dari sebuah rangkaian pekerjaan panjang. Andil vendor, pusat penelitian,
kalangan akademisi, partisipasi petani plus komitmen pemerintah
sangat diperlukan.
Wasono hanya bisa termenung
sembari memandangi tumpukan karung gabah di hadapannya. Raut wajahnya
terlihat bingung. Padahal sebagai petani, seharusnya ia tengah
berbahagia. Maklum, Januari pertanda mulai masuk musim panen.
Saatnya bagi petani untuk menuai jerih payah selama musim tanam.
 |
Hamparan sawah yang luas (kiri)
dan petani di Bolaang Manondow (Sulawesi Utara) ramai-ramai
menanam padi (kanan).
|
Rupanya ada yang membuat hati Wasono gundah. Sebagai petani, ia
tengah memikirkan ke mana hasil panennya hendak dipasarkan. Tak
hanya itu, ayah dua anak ini juga dipercaya sebagai Manajer Pemasaran
Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Setia Jaya, Desa Wonorejo, Kecamatan
Mangkutana, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan. Praktis, ia
juga harus bertanggung jawab agar pemasaran hasil Panen Gapoktan
Setia Jaya terdistribusi dengan baik.
Sebagai gambaran saja, Gapoktan merupakan organisasi yang bermitra
dengan kelompok-kelompok tani dan berfungsi sebagai pemasok bahan
sarana produksi sekaligus sebagai pembeli hasil panen petani yang
selanjutnya dijual ke pasar. Adapun kelompok tani tak lain gabungan
dari petani dalam wilayah tertentu yang berfungsi sebagai koordinator
petani baik dalam proses produksi maupun proses paska produksi
atau panen. Nah, Gapoktan Setia Jaya membawahkan lima kelompok
tani dengan total jumlah petani mencapai 344 orang. Dengan luas
lahan 313 hektar, Gapoktan Setia Jaya bisa menghasilkan sekitar
1.408 ribu ton gabah untuk sekali panen.
Lazimnya, ketika musim panen tiba secara bersamaan, berlaku rumus
klasik. Apalagi kalau bukan harga beras akan lunglai mengingat
suplai beras berlimpah. Imbasnya, keuntungan yang didapat petani
tak maksimal. Bahkan tak jarang, mereka rugi mengingat biaya operasional
untuk produksi dan harga pupuk saja sudah terbilang tinggi.
Agar tak merugi, biasanya selaku manajer pemasaran, Wasono lebih
memilih menjual hasil panen ke Bulog Luwu Timur. Maklum sesuai
kebijakan yang berlaku, Bulog menerapkan harga standar terhadap
hasil panen petani meski suplai meningkat. Permasalahannya, kapasitas
gudang Bulog di Luwu Timur hanya mampu menyimpan sekitar 2 ribu
ton gabah. Padahal, menurut Wasono, hasil produksi setiap musim
panen di Luwu Timur mencapai sekitar 115 ribu gabah. Sejauh ini,
separonya, habis untuk konsumsi masyarakat lokal di Luwu Timur.
Sisanya didistribusikan ke daerah sekitar seperti Poso, Gorontalo,
dan Manado. Hanya saja, ya itu tadi, bila langsung dilempar ke
pasar di tengah panen, harga tidak berpihak ke petani. Padahal
di daerah lain, pada saat bersamaan, harga beras tengah melonjak.
Pemicunya stok beras langka. Seandainya Wasono mengetahui info
pasar hasil pertanian yang menawarkan harga bagus, tentunya Wasono
tak perlu risau.
Apa yang dialami Warsono berikut Gapoktan yang dinaunginya, adalah
sekelumit potret permasalahan yang masih dialami para petani di
Indonesia. Padahal pertanian adalah sektor strategis. Memasuki
2009 produksi padi Indonesia mencapai 63,84 juta ton atau setara
38 juta ton beras. Sementara impor beras sekitar 186 ribu ton
atau sekitar 0,5 persen. Adapun kebutuhan konsumsi 33,5 juta ton.
Dengan produktivas rata-rata 5 ton per hektar, Indonesia merupakan
negara besar ketiga penghasil beras setelah Cina dan India. Toh
sejumlah problematika masih menyelimuti sektor ini. Sebut saja,
tingginya harga pupuk yang berimbas besarnya biaya produksi, manajemen
sistem pengairan yang belum tertata baik, hingga penjualan komoditas
pertanian dengan harga rendah.
Sejatinya, memang pemerintah tidak menutup mata terhadap permasalahan
yang ada. Bantuan benih dan pupuk telah digelontorkan. Sayangnya,
bantuan tak selamanya datang tepat waktu di saat petani tengah
membutuhkan. Pun dengan kasus distribusi beras. Acapkali terjadi
kelangkaan beras di sejumlah daerah yang mengakibatkan harga meroket,
sebaliknya di daerah lain panen berlimpah. Permasalahan seperti
ini dipicu minimnya informasi akurat terkait sektor pertanian.
Iya tidak dipungkiri, hingga kini belum banyak informasi terkait
sektor pertanian yang ditujukan bagi petani. Mulai dari informasi
harga pasar hasil pertanian dan perkebunan di lokasi terdekat
dari domisili petani, informasi musim tanam, informasi cuaca,
hingga saran dan petunjuk (tips) terkait dunia pertanian dan perkebunan.
Padahal beragam informasi tadi ibarat sarapan pagi bagi petani.
Sebelum memutuskan hendak bercocok tanam atau berkebun, mereka
harus tahu betul lahannya cocok untuk ditanami jenis apa. Mengetahui
informasi harga pasar suatu komoditas jauh hari, juga turut mempengaruhi
keputusan sebelum menanam atau berkebun tanaman tertentu. Pendeknya,
kalau harga tengah atau diprediksikan merosot, setidaknya petani
bisa memutuskan dengan cepat untuk mengubah keputusan jenis tanaman
yang bakal ditanam. Yang tak kalah penting informasi cuaca. Acapkali
kita dengar, petani mengalami kerugian besar karena tanaman mereka
terendam banjir. Yang lebih mengenaskan, bila kondisi ini terjadi
ketika musim panen sudah di depan mata.
Imbas dari minimnya akses informasi juga membuat posisi petani
dalam kondisi ketidakpastian khususnya terkait harga. Karena tidak
mengetahui harga pasaran, acapkali mereka terjebak dalam ketidakberdayaan
harga yang ditawarkan tengkulak. Belum lagi, himpitan ekonomi,
membuat mereka takluk pada tengkulak dengan iming-iming harga
dibayar di muka meski jauh dari layak.
Peran
TI Sebagai Enabler
Permasalahan minimnya akses informasi di kalangan petani, sejatinya
bisa diretas dengan memanfaatkan Teknologi Informasi dan Komunikasi
(TIK). Peran TIK sebagai enabler, memungkinkan guyuran informasi
kepada petani bisa direalisasikan dengan cara mudah, murah, dan
cepat dengan mengusung prinsip Connection, Convergence, Collaboration,
Content Creative, dan Contextual. Mulai dari petani, kelompok
tani, Gapoktan, petugas penyuluh lapangan (PPL), hingga pemerintah
di tingkat daerah maupun pusat bisa terkoneksi satu sama lain
melalui jaringan telekomunikasi (fixedline maupun ponsel) yang
sudah menyebar hingga pelosok. Sebagaimana hasil penelitian yang
dilakukan Nanang Ismail dan kawan-kawan dari STEI – ITB
Bandung yang dipublikasikan dalam Forum e-Indonesia Initiatif
(eII), Juni 2009 lalu.
Dalam penelitian ini, koneksi digelar untuk melakukan kolaborasi
sehingga segala informasi dan kebutuhan petani bisa terpenuhi.
Di sini, kolaborasi dilakukan melalui sarana aplikasi konten ubiquitous
farming. Aplikasi ini mendukung kolaborasi yang mengusung konvergensi
baik dari tipe, data, foto, dan komputasi. Aplikasi ini memenuhi
kebutuhan dasar sebagai berikut: petugas lapangan mengisikan data
petani, kelompok tani, produksi padi, dan kebutuhan sarana produksi.
Sedangkan Gapoktan melihat data produksi harian, mengisikan data
hasil produksi. Sementara itu, pemerintah melalui dinas pertanian/kementerian
pertanian melihat data produksi pada bulanan.
Penelitian dengan mengambil studi kasus Gapoktan di Sukabumi ini,
menggunakan aplikasi yang mendukung Java dengan profile MIDP2.0
dan CLDC 1.1. Selanjutnya digunakan teknologi web service yang
menggunakan Java. Adapun akses data ke server menggunakan akses
GPRS didukung pengiriman foto lokasi tanam serta fitur pengiriman
data lokasi dari GPS.
Lalu bagaimana hasilnya? Pengujian memperlihatkan, secara fungsional
aplikasi telah memenuhi kebutuhan sistem. Di sini para petani
berhasil mengirimkan data dari client ke server serta client dapat
melihat data dari server. Rata-rata akses untuk pengguna petugas
lapangan dalam satu proses memasukkan atau melihat data atau laporan
sebesar 3,6 Kbyte, Gapoktan sebesar 8,07 Kbyte, dan pejabat 2,3
Kbyte. Nah, biaya koneksi GPRS yang diperlukan untuk akses informasi
ini tak kurang dari Rp 10.
Sementara itu, terobosan yang dilakukan penyedia ponsel terbesar
di dunia juga bisa menjadi contoh lain andil TIK guna membuka
kran informasi bagi petani. Melalui layanan Life Tools yang diimplementasikan
di India secara menyeluruh pertengahan 2009 lalu, layanan ini
disuguhkan bagi pengguna ponsel yang berprofesi sebagai petani
serta masyarakat pedesaan. Salah satu jenis infomasi yang disuguhkan
terkait pertanian. Tujuan mereka memberi layanan tersebut adalah
menjembatani kesenjangan informasi di negara berkembang.
Layanan Life Tools diperuntukkan bagi pengguna ponsel berbasis
teknologi Global System for Mobile (GSM). Aplikasi dirancang di
telepon pelanggan. Pesan pendek menjadi sarana mengirim data,
tabel, atau grafik. Maklum, penggunaan intenet masih rendah di
kalangan petani. Selain itu teknologi melalui SMS tergolong tak
ribet. Adapun informasi yang disuguhkan antara lain jenis tanaman
apa yang cocok untuk suatu daerah, berapa harga suatu komoditas
di pasar tertentu, serta ramalan cuaca daerah tertentu. Masing-masing
spesifikasi menyajikan tiga item. Semisal informasi harga suatu
komoditas diambil dari tiga pasar terdekat dari lokasi pengguna.
Ada juga petunjuk dan saran tentang pertanian. Di sini pelanggan
cukup mengirimkan kode pos tempat mereka berdomisili.
Bagaimana dengan akurasi datanya? Untuk harga pasar, penyedia
ponsel terbesar di dunia ini mengandeng Badan yang mengelola 299
pasar besar berikut 600 pasar kecil. Di sini terdapat agen yang
bekerja pagi hingga siang menggumpulkan data harga sekitar 800
produk yang dijual di pasar di bawah naungan lembaga tersebut.
Berikutnya jam tiga sore, petani bisa mendapatkan data harga sekaligus
prediksi esok harinya. Tak hanya itu, mereka juga memiliki data
hingga 10 tahun sebelumnya. Alhasil, prediksi harga bisa dibuat
dengan cepat tanpa menanggalkan ketepatan informasi.
Soal akurasi informasi cuaca merujuk pada penyedia data cuaca
swasta di India. Data dari berbagai sumber, diolah melalui software
terus dikirim ke pelanggan. Deskripsi atau pola cuaca yang spesifik
sangat diperlukan bagi para petani. Mereka memerlukan informasi
terkait cuaca sebelum mengambil keputusan untuk menanam. Pendeknya,
aplikasi ini layaknya pusat data (database) yang menyediakan data
tentang pertanian dan bersifat dinamis.
Terobosan adanya aplikasi ini membawa berkah bagi para petani
di India. Setidaknya mereka tak perlu lagi berurusan dengan tengkulak
guna mendapatkan infomasi harga. Mereka juga tak repot lagi harus
ke pasar untuk urusan serupa. Dengan ponsel di jari mereka, tinggal
klik, maka listing harga tersaji dengan cepat. Yang tak kalah
menarik, untung petani di India sejak menggunakan layanan ini
mengalami kenaikan. Dari tiga informasi harga di tiga lokasi pasar
terdekat, mereka pun bisa memilih pasar yang menawarkan harga
tertinggi. Jual murah ke tengkulak praktis ditinggalkan.
SMS
Gateway Deptan
Bila di India, langkah inovatif dipelopori oleh penyedia ponsel
dunia terbesar, sejatinya sajian informasi seputar pertanian dengan
memanfaatkan ponsel juga mulai dirintis Kementerian Pertanian
(Kemtan). Sebagai institusi yang mempunyai wewenang di bidang
pertanian, Kemtan mengembangkan sistem informasi pasar yang menyajikan
berbagai komoditi berikut ketersediaannya, harga serta lokasi.
“Informasi ini membuat pasar lebih terbuka dan memudahkan
para suplier dan pembeli,” tukas Kepala Pusat Data dan Informasi
Pertanian, Kementerian Pertanian, Edi Abdurachman.
Jaringan
pelayanan informasi dan
pengetahuan Kementerian Pertanian.
Sejalan dengan itu, SMS gateway kini menjadi sarana Kemtan untuk
mendistribusikan informasi, data, serta menampung pertanyaan,
masukan hingga komplain sekalipun, dari masyarakat termasuk petani,
penyuluh pertanian, dan stakeholder terkait lainnya. Tujuannya
selain meningkatkan produksi dan mensejahterakan petani, penyuluh
juga lebih mudah memperoleh materi penyuluhan, sharing knowledge
dan pengalaman. Pelaku agribisnis juga lebih mudah mendapatkan
informasi produksi, lokasi dan harga serta mengetahui permintaan
atau penawaran. Tidak ketinggalan, aparatur pertanian lebih mudah
dan lebih cepat dalam mengkomunikasikan program, kegiatan, bantuan,
subsidi serta informasi lainnya pada masyarakat tani.
Guna menjalankan layanan elektronik yang ada, Kemtan telah didukung
dengan jaringan pelayanan informasi dan pengetahuan (lihat diagram).
Dari basis data, informasi didistribusikan ke pusat, provinsi,
kabupaten/kota hingga tingkat kecamatan serta LSM/masyarakat.
Kecamatan dan desa mendulang informasi melalui kabupaten. Di sinilah,
empat manajemen diimplementasikan yakni manajemen data/informasi,
manajemen pengetahuan, manajemen jaringan, serta manajemen informasi.
Rekapitulasi
harian harga gabah tingkat petani
di kabupaten sentra produksi yang dikeluarkan Kementerian Pertanian.
Tidak berhenti seputar harga, Menteri Pertanian Suswono berharap
nantinya petani pun bisa mengakses informasi mengenai teknologi,
kalender tanam, sarana produksi pertanian, dan lain sebagainya.
Kemtan menargetkan pada 2010, sistem ini akan terhubung di 250
lokasi di Tanah Air serta mencakup 60 komoditas.
Upaya
Bersama
Tidak dipungkiri, sejauh ini usaha untuk memberikan akses kepada
petani di Indonesia telah dilakukan. Setidaknya, apa yang sudah
dan tengah dilakukan Kementerian Pertanian merupakan upaya untuk
membuka akses informasi meski layanan ini belum banyak diketahui
oleh petani. Seperti penuturan Warsono, “Saya belum tahu
kalau ada layanan informasi pasar maupun SMS Gateway,” ucapnya,
apa adanya.
Nah, mengingat pertanian adalah sektor strategis menuju ketahanan
pangan dan sebagian penduduk Indonesia mengandalkan hidupnya pada
sektor ini, maka harus ada upaya membenahi sistem pengelolaan
pertanian dengan memaksimalkan TIK. Bagi pemilik “domain”
sektor pertanian, pemerintah dalam hal ini Kementerian Pertanian,
sepatutnya mengambil peran dominan. Apa yang sudah dilakukan oleh
Kementerian Pertanian hanyalah tahapan awal yang masih menyisakan
banyak pekerjaan. Sebut saja, Kementerian Pertanian harus mampu
menyediakan informasi yang benar-benar aktual serta spesifik.
Belajar dari keberhasilan di India, informasi yang didistribusikan
kepada petani bersifat konten lokal sesuai domisili tempat petani
tinggal. Sejauh ini, hasil kerja sama Kementerian Pertanian dengan
sejumlah pihak seperti BPS untuk data ekspor impor, PDB di bidang
pertanian serta indikator makro ekonomi, LKBN Antara untuk harga
komoditi, Departemen Perdagangan terkait harga komoditas pertanian
secara grosir, serta Dinas Pertanian di tingkat kabupaten/kota
untuk pelayanan informasi pasar, belum mampu menghasilkan informasi
yang benar-benar spesifik dan ter-update secara rutin. Tidak ada
salahnya, bila kerja sama yang ada selama ini disolidkan kembali
sehingga terjadi pemetaan informasi yang lebih spesifik dan frekuensi
penyajian data yang lebih intens. Sejalan dengan itu, ada baiknya
bila Kemtan memaksimalkan peran petugas penyuluh keamanan (PPL)
dan PNS di Dinas Pertanian yang ditempatkan di kecamatan, guna
mengumpulkan informasi lokal. Karena, selama ini merekalah yang
mendampingi para petani di lapangan. Namun tidak ada salahnya
bila pihak luar seperti kalangan akademisi, lembaga swadaya masyarakat
(LSM) atau relawan yang concern terhadap hal ini, bisa dilibatkan
juga.
Vendor penghasil ponsel bisa mengambil peran dengan memproduksi
terminal murah. Harga yang murah harus digarisbawahi betul. Pasalnya,
sebagian petani kita masih berada di bawah garis kesejahteraan.
Mengingat informasi, tabel, atau data didistribusikan via pesan
pendek, praktis tak perlu teknologi GPRS atau teknologi canggih
lainnya. Terkait dengan penggunaan, bila petani kita masih belum
familiar, tak ada salahnya PPL bertindak sebagai pendamping mereka.
Keterlibatan operator telekomunikasi juga diperlukan. Tarif murah
meriah, yang sekiranya tidak memberatkan petani, sangat diharapkan.
Harapan ini, sepertinya bisa direalisasikan seiring makin banyak
pemain di bisnis ini. PT Excelcomindo Pratama (XL), sebagai salah
satu penyedia layanan telekomunikasi bisa menjadi pelopor untuk
memberikan tarif murah bagi petani.
Pembangunan infrastruktur telekomunikasi di daerah yang selama
ini belum terjamah akses telekomunikasi juga perlu mendapat prioritas.
Program Universal Service Obligation (USO) dan pembangunan Palapa
Ring yang menjadi salah satu flagship Dewan Teknologi Informasi
dan Komunikasi Nasional (Detiknas) bisa menjadi solusi untuk mengatasi
digital divide antara perkotaan dengan pedesaan. Untuk itu, dua
program pembangunan infrastruktur ini harus dikawal betul baik
oleh pemerintah maupun masyarakat agar bisa mendapat manfaat bagi
kemaslahatan rakyat Indonesia. Aksi agresif dari para operator
telekomunikasi untuk memperluas coverage di daerah-daerah lumbung
padi di Indonesia juga sangat diharapkan.
Barangkali keputusan Presiden mencanangkan swasembada pangan pada
2009 lalu, diharapkan tak berhenti di situ. Swasembada berkelanjutan
bisa menjadi pemicu bagi negeri ini untuk mengoptimalkan kinerja
sektor pertanian ke depan. Apalagi Menteri Pertanian, Suswono,
telah mengusung tekad, menjadikan Indonesia sebagai lumbung pangan
dunia (Feed the World). Jangan sampai potensi strategis ini tak
memberikan manfaat bagi kesejahteraan rakyat petani karena tidak
adanya sistem pengelolaan yang tepat. Peran TIK pun jangan diabaikana
(Faizah Rozy)
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
KEMBALI
KE ARTIKEL |
|
|