Majalah e-Indonesia - Media ICT Wahana Merajut Nusantara

 
 

ELISA LUMBANTORUAN
CEO PT HEWLETT PACKARD INDONESIA


"Jangan Membuat Kompleksitas Semakin Ruwet"


Di kalangan komunitas TI saat ini siapa tak kenal Elisa Lumbantoruan? Bukan karena ia Presdir PT Hewlett Packard Indonesia, tapi karena ia memang sudah lama malang melintang dalam dunia TI. Lulusan Jurusan Matematika Institut Teknologi Bandung (ITB) ini sempat me-rasakan sebagai account manager PT Astra Graphia, alliances mana-ger Oracle, country marketing manager di PT Digital Astra Nusantara, direktur pemasaran Compaq Indonesia, sebelum akhirnya ia dipercaya untuk memimpin perusahaan terkemuka HP Indonesia hingga saat ini. Padahal Elisa sebetulnya merasa terdampar di dunia TI, karena sejak masih kuliah dan setelah tamat pun ia lebih menekuni profesi sebagai pengajar matematika. Ketika berbincang-bincang dengan e-Indonesia beberapa waktu yang lalu, Elisa bercerita banyak soal perkembangan implementasi TI di Indonesia. Namun, Elisa yang lahir di Siborong-borong 1960 ini, dalam menjawab pertanyaan lebih terlihat sebagai orang Jawa yang santun ketimbang orang Batak yang terkenal blak-blakan. Ketika ditanya soal kemajuan WSIS, misalnya, ia sangat enggan mengatakan belum ada hasil yang berarti. “Sebetulnya banyak juga yang sudah dihasilkan, seperti One School One Lab (OSOL), program warnet dan aplikasi yang dibangun Kominfo untuk warnet. Cuma kalau kita lakukan dengan model-model yang sekarang ini, paling banter kita hanya bisa menyamakan langkah dengan negara lain,” komentarnya. Berikut perbincangan lebih jauh tim e-Indonesia dengan ayah dua orang anak ini.

Bagaimana komentar Bapak tentang perkembangan implementasi TI kita saat ini?
Peranan Information and Communication Technology (ICT, untuk selanjutnya disebut TI) yang utama adalah kekuatannya di dalam memfasilitasi atau mempercepat transformasi yang ada. Seperti perubahan yang terjadi di dunia pemerintahan, ekonomi, atau pendidikan berlangsung sangat cepat. Akibat dari globalisasi itu alur informasi sangat cepat, sehingga dengan adanya TI seperti di dalam enterprise, akan memberikan agility pada suatu perusahaan. Agility maksudnya adalah bisa menyesuaikan diri bahkan lebih cepat dari perubahan itu sendiri. Jika industri TI sebuah negara maju, maka secara keseluruhan komponen bangsa itu akan agil, bisa beradaptasi dengan perubahan yang ada, bahkan bisa menjadi motor dari perubahan itu sendiri. Kalau reaktif terhadap perubahan kan pasti terlambat. Itulah yang terjadi saat ini. Keterlambatan kita dalam hal inilah yang disebut dengan digital divide.

Bapak sendiri mengartikan digital devide seperti apa?
Saya mengartikan digital divide adalah gap antara apa yang bisa diberikan oleh teknologi dengan apa yang sudah kita gunakan dari teknologi. Mengenai hal ini kita harus melihatnya dari aspek kualitas ataupun kuantitas. Aspek kuantitas adalah rasio terhadap jumlah penduduk, sedangkan kualitas adalah rasio beberapa benefit yang harusnya bisa dinikmati dari TI dibandingkan dengan apa yang sudah kita implementasikan hari ini. Itulah digital divide.

Tapi terkadang kita terlalu fokus pada kuantitas. Seperti, berapa jumlah PC dibandingkan pengguna internet. Sebenarnya bukan hanya itu. Jika dimulai dengan aspek kualitas, kuantitasnya akan datang dengan sendirinya. Contohnya, penetrasi dari seluler dimulai dari aspek kualitas selulernya. Artinya nilai tambah yang dibawa teknologi seluler kepada masyarakat yang dengan mudah dimengerti oleh orang. Gampangnya, dulu kalau mau telepon orang harus pergi ke tempat yang ada telepon. Itu sangat limited. Sekarang, di mana pun orang bisa dihubungi ataupun menghubungi.

Untuk hal itu, akhirnya pertanyaanya adalah apakah di situ dipertanyakan affordability. Kalau kita lihat penetrasi TI, hal ini selalu dipertanyakan. Harga PC terlalu mahal dan broadband terlalu mahal. Di seluler tidak ada pertanyaan seperti itu. Padahal kalau kita lihat seluler subscriber sekarang secara logis, affordability-nya tidak ada di sana. Sekarang, banyak pembantu yang bawa handphone, begitu pula sopir. Padahal kalau harga handphone bekas yang mereka beli misalnya Rp 300 ribu, itu kan mungkin sama dengan gaji mereka sebulan. Apakah itu affor-dable? Tidak juga. Bicara soal digital devide, bagaimana menurut Bapak hasil WSIS? Sepertinya di Indonesia belum kelihatan ada progress yang jelas.

Sebetulnya banyak juga yang sudah dihasilkan, seperti One School One Lab (OSOL), program warnet dan aplikasi yang dibangun Kominfo untuk warnet. Cuma kalau kita lakukan dengan model-model yang sekarang ini, paling banter kita hanya bisa menyamakan langkah dengan negara lain. Artinya apa? Kita mengikuti langkah-langkah yang sudah dilakukan di negara lain dan kita meng-copy model yang sama. Apa artinya? Artinya mereka bergerak lebih cepat, kita mengikuti dengan model yang pernah mereka develop. Ini yang menyebabkan gap-nya akan semakin jauh dengan yang lain. Itu harus kita pikirkan. Membuat model yang bagus agar kita bisa menyamakan posisi dalam waktu sesingkat-singkatnya. Artinya jika seseorang mampu melakukan step tertentu dalam waktu lima tahun kita harus mampu mengerjakannya dalam waktu satu tahun.

Bagaimana caranya?
Harus ada suatu inovasi baru, mengenai implementasinya. Karena saya berlatar belakang bisnis, saya mencoba mem-pelajari beberapa perusahaan yang pada zamannya menjadi pioneer dan market leader. Basically yang mereka lakukan adalah dari sisi bussiness model. Contoh, bagaimana nama Compaq muncul. Mereka tidak mengedepankan technology development. Biarlah teknologi dimiliki orang lain. Yang dila-kukan adalah inovasi go to market.

Saat itu, banyak perusahaan maju dengan direct sales. Tapi Compaq maju dengan distribution. Untuk apa kita jual produk dengan orang kita sendiri padahal banyak orang di luar kita yang bisa di-manage untuk menjual produk kita. Pada waktu itu namanya IBM compatible. Tapi setelah itu biasa disebut dengan Compaq. Jika orang menyebut PC atau notebook, itu adalah Compaq. Nama yang muncul berikutnya salah-satunya Dell. Dell juga bukan perusahaan yang teknologinya cukup kuat. Tapi mereka melihat bahwa pertumbuhan internet akan bagus, makanya Dell menjual produknya direct sales melalui internet. Itulah inovasi yang dilakukan. Ada juga Google, karyawannya sangat sedikit, tapi market capitalisasi-nya sangat besar. Dengan search engine, langsung ada kemampuan inteligen untuk mengaitkan iklan yang dicari. This is a model. Bukan suatu teknologi yang baru.

Ada contoh lagi?
Di India, tidak ada suatu perusahaan hardware manufacturing yang kuat. Tidak ada hardware India yang merupakan global brand. Tapi, mereka melihat dengan jitu, menggunakan teknologi untuk menciptakan added value dengan outsourcing. Dan mereka fokus pada software unggulan yang mereka bangun. Mereka tidak membangun operating system atau data base tapi membangun application bisnis yang digunakan. India menyadari bahwa kekuatan mereka pada SDM. Bagaimana caranya masuk industri TI yang padat karya. Sehingga masuklah mereka pada consultancy, software development dan outsourcing.

Bagaimana dengan Indonesia?
Dilihat dari geografis dan politik, kita hampir sama dengan India. Kita bisa meng-copy India, bahkan seharusnya melakukan inovasi lebih baik dari India. Kekuatan Indonesia hampir sama dengan India, yaitu pada SDM-nya. Tingkat kemajuan pendidikan kita adalah 2%. Tapi 2% dari 220 juta jiwa. Mungkin itu masih lebih banyak dibandingkan dengan Singapura. Kita harus lihat potensi dari angka-angka itu.
Kalau kita bicara mengenai TI, kita selalu melihat hardware-nya, padahal total spending dari total TI, hal itu mungkin hanya kurang 5% dari total business opportunity dari TI. Kita tidak pernah melihat yang 95% itu seperti consultancy-nya, our-soucing, dan sebagainya. Itu mungkin sisi industri yang harus dilihat di mana fokus kita. Penggunaan TI ini akan membawa transformasi atau reformasi sebuah negara dengan lebih cepat dan lebih baik. Itu juga harus diperhatikan..... (Lengkapnya baca di majalah)

 
 


KEMBALI    l    ISI BUKU TAMU

 

Copyright © www.majalaheindonesia.com 2006