| |
Menggapai Sertifikat Tanah Lewat SMS
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Kemudahan
masyarakat dalam memiliki sertifikat tanah kini bukan sesuatu
yang mustahil lagi. BPN sudah merenovasi diri dengan menerapkan
layanan online. Bahkan kini BPN menghampiri masyarakat dengan
Larasita-nya. Masyarakat yang tinggal di desa cukup mengirim SMS
saja menanyakan apakah sertifikat mereka sudah selesai atau belum.
Pak Jarwo mengelap keringat
yang bercucur di badannya. Ia kemudian ngaso di gubuknya. Hari
mulai merangkak siang, ia baru saja selesai membenahi saluran
air yang menuju sawahnya. Sambil menjulurkan kakinya dan bersandar
di dinding gubuk, ia kemudian mengambil handphone di saku celananya.
Ia pun menulis SMS dan mengirimkannya ke nomor 081329464444.
Pak Jarwo adalah salah seorang penduduk di desa Jogosetran, salah
satu desa di wilayah kecamatan Kalikotes Kabupaten Klaten, yang
memanfaatkan jasa telekomunikasi via SMS untuk menanyakan status
surat sertifikat tanahnya yang sedang ia urus di kantor BPN Klaten.
Begitulah, apa yang terjadi pada Pak Jarwo sekarang ini--mengurus
sertifikat tanah cukup lewat SMS—sudah menjadi hal yang
biasa. Dengan adanya fasilitas tersebut Pak Jarwo tak perlu lagi
setiap hari datang ke kantor BPN menanyakan status sertifikatnya.
Desanya yang terletak 7 kilometer sebelah timur Klaten, memakan
waktu tempuh ± 15 menit dari kota kabupaten dengan kendaraan
bermotor. Perjalanan tersebut tak perlu ia lakukan lagi, karena
sudah bisa mendapat info hanya dengan mengirim SMS. Bukan hanya
biaya untuk transportasi yang bisa dihemat, waktu yang terbuang
pun bisa ia gunakan untuk menggarap sawahnya. Lebih dari itu,
jangan lupa, Pak Jarwo juga bebas dari calo-calo pembuatan sertifikat
yang sering bertebaran di sekitar kantor BPN.
Larasita
Itulah terobosan yang dilakukan Badan Pertanahan Nasional (BPN)
belakangan ini. Masyarakat kini tidak perlu lagi datang ke Kantor
Pertanahan bila membuat sertifikat tanah, tapi cukup menunggu
di desanya masing-masing, mulai dari penyiapan dan penyerahan
berkas, pembayaran biaya, sampai dengan menerima kembali sertifikat
yang telah selesai diproses.
''Kemudahan layanan seperti itu dimungkinkan berkat adanya sistem
Layanan Rakyat untuk Sertifikasi Tanah (Larasita), yang merupakan
layanan front office mobile secara online dengan Kantor
Pertanahan,'' kata Kepala Pusat Data dan Informasi Pertanahan
Badan Pertanahan Nasional (BPN) M. Rukhiyat Noor.
Sistem ini menurut Rukhiyat, dapat membantu melayani kebutuhan
masyarakat di bidang pertanahan secara lebih cepat, tertib,
murah, dan dapat dipertanggungjawabkan. Sampai saat ini sistem
Larasita yang berada dalam sebuah mobil terus berkeliling dari
desa ke desa untuk melayani masyarakat. Bila sebelumnya untuk
mengurus sertifikat, si pemilik tanah paling tidak harus datang
3 kali ke kantor pertanahan di kabupaten dengan menghabiskan
biaya transportasi dan lain-lain yang cukup besar, maka dengan
sistem Larasita biaya itu ditiadakan.
Masyarakat juga tidak perlu lagi mengeluarkan biaya untuk para
perantara (calo), mereka cukup menunggu di desanya saja karena
Larasita sesuai jadwalnya akan datang ke desa-desa itu. Lebih
dari itu, pemilik tanah juga dapat mengecek kelengkapan surat-surat
mereka, juga jadwal selesai sertifikat, melalui SMS.
Larasita sendiri berupa sebuah kendaraan roda 4 berisi peralatan
hitech dan 2 unit Hyperlink Antenna Omni 15dB 2,4Ghz, Wireless
SENAO 2611 Mercury 100mW dan Amplifier 1000mW outdoor 2,4Ghz-OEM
yang berdiri di atas 60 meter Triangle Tower. Peralatan ini
merupakan fasilitas utama bagi para petugas lapangan dalam melakukan
entri data secara online. Antena dengan radius 18 km tersebut
diposisikan di halaman belakang Kantor Pertanahan. Sampai akhir
2009 jumlah armada sudah ada 150 mobil, dan layanan Larasita
sudah mampu melayani lebih dari 60% wilayah Indonesia.
 |
Mobil Larasita ketika melayani masyarakat
di desa dan Konfigurasi Mobile Communication Larasita.
|
Memaksimalkan
TI
Masalah pertanahan memang kerap menjadi persoalan bagi masyarakat.
Banyak tanah yang terlantar dan tidak membawa manfaat bagi masyarakat
luas dan juga tidak membawa manfaat bagi perekonomian. Konflik
dan sengketa pertanahan akibat tidak jelas status hukumnya pun
sangat banyak. Oleh sebab itulah tidak heran jika pemerintah
mulai serius memberikan perhatian terhadap masalah ini. Presiden
turun tangan langsung memerintahkan BPN agar segera membenahi
dan menertibkan masalah pertanahan ini. “Saya memberikan
instruksi langsung kepada Kepala BPN harus ada perubahan, harus
dipecahkan dan ditertibkan, kalau ada sengketa atau konflik
harus jelas status hukumnya. Kemudian harus mudah diberikan
pelayanan kepada rakyat,” ujar Presiden ketika meresmikan
beberapa program BPN, di Marunda, Cilincing, Jakarta Utara,
pertengahan Januari lalu.
Apalagi, menurut kepala negara, masalah pertanahan ini sudah
membuat kendala dalam banyak kegiatan pembangunan. Ambil contoh
soal pembangunan infrastruktur yang berkaitan dengan jalan tol
atau fasilitas umum lainnya. “Akibat status tanah yang
tidak jelas, proyek infrastruktur tersebut menjadi macet bahkan
kadang terhenti,” ujar Presiden lebih jauh.
Sejak diminta Presiden untuk lebih serius menyelesaikan masalah
pertanahan, BPN langsung bergerak cepat. Langkah pun disusun,
grand design penerapan TIK dalam proses mempercepat
kinerja di BPN pun dilirik. Lewat grand design tersebut
disusunlah business process yang harus dilakukan dalam
mencapai tujuan yang diinginkan, mulai dari membahas masalah
internal misalnya penyiapan infrastruktur dan SDM sampai ke
arah pengembangan dan rencana implementasinya. Pengembangan
TIK di BPN yang selama ini berjalan parsial, berdasarkan pada
kebutuhan saat ini saja, dan tidak terkoordinir oleh unit penanggung
jawab TIK, harus segera diperbaiki. Bukan itu saja, otomasi,
integrasi, dan penerapan tata kelola TI yang baik harus diterapkan
total jika tujuan yang ingin dicapai akan berhasil.
Sekarang BPN sudah melangkah maju. Saat ini sudah dibangun jaringan
komunikasi (WAN) antara Kantor Pusat dengan 33 Kantor Wilayah
dan 124 Kantor Pertanahan di Indonesia. Seluruh Jaringan Komunikasi
pun diperbaiki dengan menggunakan (VPN) dari PT Telkom dan Telkomsel.
Yang jelas sejak saat itu BPN sudah memiliki grand design,
dan untuk mencapai tujuan yang termaktub di dalamnya, mereka
menyiapkan solusi strategis yang handal, aman, dan terintegrasi
berbasis TIK. Pelan namun pasti, BPN mulai membangun pusat data
pertanahan berbasis TIK; menyediakan informasi pertanahan yang
akurat dan terkini bagi kepentingan internal dan eksternal;
mewujudkan otomasi sistem pelayanan dan administrasi pengelolaan
pertanahan terpadu, mewujudkan infrastruktur TIK yang handal,
aman, efektif dan efisien; menerapkan tata kelola TIK yang sesuai
dengan fungsi dan kepentingan pengelolaan pertanahan nasional;
dan menyiapkan SDM TIK yang memiliki kompetensi untuk mendukung
tujuan tersebut.
Hasil yang sudah dicapai dalam pemanfaatan TIK di lingkungan
BPN tersebut adalah mulai diterapkannya aplikasi Website Pusat,
aplikasi Kedeputian (Simtanas), aplikasi Pengelolaan Administrasi
terpadu (Settama, Ittama, Pusat-Pusat), aplikasi Pengendalian
Program Pertanahan, Monitoring Larasita, Monitoring Jaringan,
Monitoring Blanko PPAT, Peta Online, dan Monitoring Security
Document Sertifikat. Dalam hal jaringan, sudah disiapkan
jaringan internet dan intranet, keamanan jaringan, dan pemakaian
VOIP. Selain itu disiapkan juga integrasi data antara pusat
dan daerah.
Dari hasil pembenahan tersebut, seperti telah disinggung di
atas, banyak aplikasi yang sudah dijalankan. Namun program yang
menjadi andalan BPN saat ini adalah Larasita. Dalam perjalanannya,
Larasita oleh World Bank diganjar apresiasi Indonesia-Pioneering
Mobile Land Information Service.
Selain Larasita, BPPN juga menyiapkan layanan PPAT Online. Melalui
layanan PPAT Online, warga dapat mengecek status kepemilikan
tanah, pendaftaran pertanahan, hingga pemantauan proses pembuatan
akta atau akta monitoring tanpa perlu datang ke kantor BPN.
Masyarakat bisa mengeceknya lewat www.bpn.go.id.
Apabila warga tetap ingin datang ke kantor BPN, maka tersedia
Kiosk. Alat ini menyerupai ATM dan mampu memberikan informasi
layanan pertanahan secara mandiri. Lewat alat ini, masyarakat
akan mendapatkan berbagai informasi layanan.
Presiden
SBY ketika melihat hasil report sms
yang dikirimnya ke BPN.
Langkah ke Depan
Meski telah mengalami keberhasilan, Presiden meminta agar BPN
tidak puas diri. “Tolong tertibkan tanah-tanah terlantar,
jangan sampai ada hamparan jutaan hektar tanah seolah-olah tidak
bertuan, padahal ada tuan yang tidak bertanggung jawab, akhirnya
tidak bisa digunakan oleh rakyat kita. Tertibkan sesuai Undang-Undang
dan aturan yang berlaku,” perintah Presiden. Selain itu
Presiden juga meminta agar penyelesaian konflik dan sengketa
tanah terus dilanjutkan, percepat legalisasi aset tanah, baik
masyarakat maupun milik negara. ”Tidak kalah pentingnya,
tingkatkan mutu pelayanan kepada masyarakat,” pinta Presiden.
Apa yang diminta Presiden itu tentu membuat BPN harus bekerja
keras lagi, tetapi hal itu akan berjalan dengan baik jika pemanfaatan
Teknologi Informasi di BPN terus dimakasimalkan.
Hasil
report sms dari BPN.
Memanfaatkan cara-cara yang familiar oleh masyarakat--seperti
penggunaan SMS—akan membuat pelayanan BPN lebih merakyat,
selain tentu saja membuat masyarakat tidak enggan berurusan
dengan BPN. Biaya SMS yang murah, sebagai dampak kemajuan telekomunikasi
di tanah air, bisa dimanfaatkan lebih jauh untuk pelayanan kepada
masyarakat. SMS tidak hanya disediakan untuk mengecek kelengkapan
persyaratan pembuatan sertifikat dan juga untuk memberitahukan
kapan sertifikat dapat diambil (selesai), tetapi juga bisa digunakan
untuk informasi yang lebih jauh misalnya untuk menampung keluhan
masyarakat terkait pelayanan BPN.
Bukan hanya itu, BPN juga bisa menyiapkan konten-konten bermanfaat
tentang dunia agraria yang perlu diketahui masyarakat. Misalnya,
apa yang mesti dilakukan ketika masyarakat akan menjual tanahnya,
apa saja syarat dalam jual beli tanah, sehingga masyarakat tidak
dibohongi. Lebih dari itu, yang lebih penting sebetulnya adalah
bagaimana masyarakat mendapatkan info tentang status sebuah
tanah. Info tentang status tanah yang akan dibeli, merupakan
informasi yang sangat berharga bagi masyarakat, agar mereka
tidak terjebak pada pembelian tanah yang dalam sengketa. Jika
itu dilakukan, dan masyarakat dapat memanfaatkan sarana tersebut,
apalagi cukup dengan mengirim SMS dengan biaya yang murah, kekisruhan
dan konflik yang sering terjadi dalam dunia agraria akan semakin
berkurang.
(Andy Zoeltom)
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
KEMBALI
KE ARTIKEL
|
|
|