Majalah e-Indonesia - Media ICT Wahana Merajut Nusantara  
 


    Artikel Kabupaten Sragen Edisi No.22 / 1
Untung Wiyono Bupati Sragen
“Ini untuk Kepentingan Nasional, Bukan untuk Sragen Semata”

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Belakangan ini Bupati Sragen, sibuknya bukan alang kepalang. Kadang diundang ke Jakarta untuk menjadi pembicara, kadang ke Bali untuk melakukan hal serupa. Pendeknya, ia harus berbagi ilmu ke berbagai daerah tentang keberhasilan memimpin daerahnya. Terakhir sekali ia ke Jakarta untuk menerima award dari sebuah majalah ibukota sebagai penerap e-government terbaik. Tapi, mesti pun ia super sibuk, Untung Wiyono, tampak terlihat segar dan penuh semangat. “Kami siap membantu daerah, tapi tentu ada biayanya. Kami tidak mau tekor tenaga,” katanya kepada e-Indonesia ketika diminta komentarnya apakah Sragen siap membantu daerah lain dalam membangun e-government. Lagi pula, saya membangun ini semua untuk kepentingan nasional, bukan untuk Sragen semata, tambahnya. Kepada e-Indonesia Untung mengatakan siap jika diminta untuk memimpin daerah yang lebih luas lagi, seperti provinsi, misalnya. Inilah penuturan Untung lebih jauh.


Bisa diceritakan latar belakang mengapa Bapak memasukkan TI untuk mendukung kinerja Pemkab Sragen?
Pertimbangannya sederhana. Kalau administrasi memakai cara manual maka pelayanan publik, akuntabilitas, kontrol, dan transparansi tidak bisa berjalan. Pelayanan juga tidak berjalan efektif dan berimbas pada pemborosan karena mengurus perizinan belum tentu sekali datang selesai. Itu sebabnya saya mencari cara. Kebetulan saya pernah bekerja di perusahaan TI dan melihat implementasi TI bagi pemerintahan di perbatasan Cina sampai Malaysia. Maka, saya pun mulai menggunakan TI di pemerintahan.

Kondisi awal waktu Bapak bergabung dengan Pemkab Sragen seperti apa?
Ketika saya baru menjadi bupati, di Kantor Sekda hanya ada tiga komputer untuk semua Satuan Kerja, itu pun hanya berfungsi untuk mengetik dan game. Pada 2001, saya mulai menggunakan anggaran untuk komputer dan mulai melakukan perubahan. Saya masih ingat, dulu untuk keperluan presentasi belum menggunakan power point, tetapi dengan OHP. Akhirnya saya bawa saja peralatan di rumah milik pribadi untuk dibawa ke kantor. Inilah bedanya pemerintah dengan orang bisnis.

Maksudnya?
Pemerintah cenderung tidak punya business plan. Sementara saya jika ingin berbuat apa-apa selalu ada business plan, dilihat apakah langkah ke depan ada value added-nya apa tidak dan apa impact-nya. Nah, masyarakat sudah pandai membuat proposal, masa sih pemerintah tidak bisa membuat business plan. Akhirnya, dengan membawa dua laptop milik pribadi saya memulai semuanya. Anggaran awal perubahan yang kami gunakan sebesar Rp 200 juta.

Untuk apa saja anggaran sebanyak itu?
Untuk perangkat komputer, buat software. Prioritasnya untuk yang penting-penting dulu. Akhirnya pada 2002 kita membangun One Stop Service (OSS) untuk pelayanan publik dengan anggaran Rp 450 juta. Kami membuat billing untuk Kartu Tanda Penduduk (KTP) 2 menit di Kecamatan yang sudah online. Saya bilang kepada teman-teman, TI itu invisible, tidak bisa dilihat dan harus terus di-improve.

Bagaimana kesiapan SDM saat Bapak memulai perubahan?
Tahun 2002 saya sudah mulai meng-hire anak-anak TI dengan sistem kontrak pada awalnya. Akhirnya pada 2003 kami merekrut PNS dari anak-anak Sragen lulusan ITB dan STT Telkom. Dengan background SDM seperti itu, kami in-house sendiri sampai sekarang. Tahun ini, kami akan melakukan rekruitmen kembali.

Lantas bagaimana cara Bapak mensosialisasikan TI kepada masyarakat?
Sejak 2002 kami membuka kursus gratis bagi masyarakat yang lulus SLTA. Kita sekarang suka keliling membawa 20 laptop untuk melakukan training di sana-sini. Inilah yang telah kita lakukan dan tidak akan berhenti. Sekarang, Tiap desa malah menjadikan teknologi sebagai budaya di Sragen. Khusus PNS, tidak ada yang tidak bisa TI. Bahkan di tingkat desa, salah-satu PNS nya harus paham TI terkait dengan rencana meng-connecting-kan desa lewat Jardes (Jaringan Desa). Ke depan, Sragen harus mempunyai branded production komputer sendiri. Mudah-mudahan ke depan Sragen bisa memproduksi sendiri komponen komputer, khususnya di sekolah-sekolah agar komputer tidak mahal.

Pada awal melakukan changes management, ada hambatan?
Tentunya 100 persen ada kendala seperti mindset, kapabilitas, hingga menyangkut kualitas SDM. Kondisi ini coba saya siasati dengan memberi semangat kepada yang muda-muda. Kepada mereka saya katakan: Kalau tidak mau belajar ya minggir saja. Apalagi sebenarnya TI tidak perlu training. Sepanjang mereka mempunyai kemauan pasti bisa. Kalau untuk PNS yang usianya tidak muda lagi, saya maklumi.

Ada punishment bagi PNS yang tidak memanfaatkan TI?
Punishment-nya mereka akan mundur sendiri dari jabatannya karena sistem yang terbangun sudah mensyaratkan mereka harus bisa TI. Begitu pun dengna jabatan camat. Kalau mau jadi camat, tapi tidak bisa komputer lebih baik mundur karena imbasnya akan kembali kepada mereka sendiri. Kemarin saja ada camat yang baru enam bulan menjabat sudah mundur sendiri. Menurut saya, camat, lurah, kepala satker adalah jabatan teknis. Mereka harus bisa menggunakan komputer.

Bisa disebutkan manfaat dari sisi PAD setelah menggunakan TI?
Dulu sebelum Sragen menggunakan TI, PAD nya hanya Rp 7 miliar. Nah, ketika saya memangkas 17 restribusi yang membebani masyarakat, PAD justru meningkat 10 kali lipat. Jadi jika dibandingkan dengan berapa dana yang dikeluarkan dengan TI, impact-nya kan tinggi. Impact dari pengetahuan masyarakat, sangat besar sekali jika dibandingkan dengan uang yang dikeluarkan untuk TI..

Sebenarnya untuk memajukan e-government menurut Bapak apakah bupati atau walikotanya harus paham TI?
Tidak. Yang penting mereka punya passion dan menyadari bahwa untuk pelayanan publik, akutabilitasnya harus by system. Semua pihak yang bisa mengaksesnya untuk transparansi. Omong kosong kalau pelayanan publik yang akutabel, tanpa dibarengi oleh administrasi by system. Alatnya TIK. Kalau dengan manual, bagaimana bisa mengontrol semua pelayanan yang ada. Jadi bagi para leader menurut saya, cukup ngerti TI saja. Kalau tidak mengerti, pakai operator. Yang penting mereka mengerti fungsi dan manfaat TI yang ditempatkan sebagai urat nadinya administrasi.

Pembangunan e-government di sejumlah daerah acapkali terkendala karena adanya prioritas pembangunan yang lebih penting seperti pengentasan kemiskinan. Komentar Bapak?
Kalau kita bicara pengentasan kemiskinan tentunya kita juga berbicara mengenai data. Nah, data juga harus akuntabel dan mau tak mau harus ada TI. Jadi ada mapping desa masuk ke dalam data. Mulai dari pertanahan, data kemiskinan, data kependudukan, dan sebagainya. Logikanya begini, Jika kita ingin melakukan pengentasan kemiskinan, tetapi justru data yang ada tidak akutabel, mengurus perizinan sangat sulit, ini tentunya merupakan pemborosan dan justru membuat miskin masyarakat. Di sinilah letak kekeliruannya.

Poin penting implementasi TI dengan dana terbatas bagaimana caranya?
Karena kita in-house sendiri. Kita tahu cara maintenance, instalasi, kualitas, dan spesifikasinya. Jadi pemborong itu tidak bisa main-main. Dalam belanja TI Rp 1 miliar untuk pembelanjaan hardware, paling untungnya hanya Rp 35 juta. Jadi tidak sampai 3 persen untung mereka, karena kita tahu spesifikasinya. Jadi harus cerdas. Jangan sampai seperti dulu yang selalu diberikan barang kelontongan tapi harganya mahal.

Jika Sragen punya SDM in-house, adakah daerah lain yang sudah memanfaatkan mereka?
Sudah ada dan ini merupakan benefit mereka. Jadi jika mereka melakukan instalasi di daerah lain, mereka mendapatkan bagian dan sisanya masuk ke PAD. Ini kan uang halal. Kita bisa tambah uang belanja, dapat pengalaman lebih, dan pekerjaan juga tidak terbengkalai. Ini merupakan kepuasan yang tidak bisa dibeli. Makanya kalau ada daerah lain ingin belajar, kita sangat terbuka sekali. Kita melakukan ini untuk mewarnai nasional bukan untuk kepentingan Sragen sendiri.

Sejauh mana kepedulian Sragen dalam membantu daerah yang mempunyai kemauan untuk membangun e-government tapi anggaran terbatas?
Pertama, kita akan bertanya dulu kepada daerah yang bersangkutan, berapa anggarannya yang dimiliki? Selanjutnya kita membantu membangun TIK-nya sesuai dengan kebutuhan dan anggaran tadi. Di sini, diprioritaskan kepada hal yang penting dulu. Jika tahun depan ada anggaran lagi, kami akan membantu melanjutkan dengan prioritas yang lain. Jangan diartikan, kami ingin komersial, tetapi jangan sampai transportasi pegawai saya hingga akomodasi ditanggung oleh kami sendiri selama membantu daerah tersebut.

Mengenai harga bagaimana?
Jelas kami lebih murah kok. Misalnya saja, untuk pemasangan software KTP online 2 menit, kalau beli di tempat lain bisa mencapai Rp 2 miliar. Kami menjualnya hanya Rp 50 juta, tapi jangan minta gratisan karena kami bisa tekor tenaga. Jadi untuk suatu yang mendatangkan value added harus ada nilainya kan. Menurut saya, ini adil sekaligus cara saya agar PNS tidak korupsi karena mereka bisa menjadi supervisor, konsultan, bagi daerah lain. Mereka harus benar-benar profesional.

Bagaimana cara Sragen menambah value added di tahun-tahun berikutnya?
Kami harus go international, mencari network. Teknologi kan selalu berubah dan kami harus mengikutinya terus. Kalau tidak begitu, kita bisa ketinggalan. Yang tak kalah penting adalah maintenance.

Saran Bapak, bagaimana caranya e-government bisa berjalan secara nasional?
Pemerintah harus membuat peraturan. Depkominfo harus menjadi bank central information, untuk bisa mengontrol sejauh mana implementasi e-government di suatu daerah. Ini juga berkaitan dengan Depkeu dan Depdagri untuk kebijakan politik. Begitupun dengan Kementerian PAN. Misalnya di suatu daerah tidak ada progress, maka akan diberi peringatan dan tuntunan. Kalau tidak begitu, ya mereka tidak akan takut. Untuk itu harus ada sinkronisasi dari semua departemen dan cuma satu yang bisa dapat mengkomandani yaitu presiden.

Kenapa Bapak berani menerobos aturan-aturan yang menghambat dan membuat peraturan sendiri? Sementara banyak bupati lain yang belum berani melakukan hal ini.
Saya tidak peduli dengan apa yang saya lakukan. Kecuali apa yang saya lakukan ada unsur korupsi. Dulu saya waktu membuat OSS melanggar empat Kepmen yakni perindustrian, koperasi, depnakertrans, dan depdagri. Saya pernah ditegur sama Dirjen Kependudukan, beliau mengatakan, bahwa SIAK adalah modul TI yang bisa connect kemana saja. Kalau suatu sistem bagus pasti akan saya pakai, tetapi kalau tidak untuk apa. Nah, SIAK itu siapa yang mau pakai? Satu kecamatan saja per bulannya harus mengganggarkan sekitar Rp 8 juta untuk bayar koneksi telepon. Kalau di Sragen ada 20 kecamatan, dalam sebulan berapa juta tiap bulannya yang harus kita keluarkan? Uang dari mana? Imposible. Kenapa saya berani, karena ini merupakan keberpihakan saya terhadap rakyat. Kalau dulu DLLAJ orang bisa nyogok ke petugas, sekarang sudah tidak bisa. Rakyatnya tidak dibohongi. Pendapatan DLLAJR dari 145 juta sekarang ini sampai 3 miliar.

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Ke atas  l  Kembali