| Artikel
Sumatera Pulau Digital Edisi No.22 / 1 |
Education
for Tomorrow
Mendigitalkan Pulau Sumatera
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Lewat program Education for Tomorrow Telkom Divre Sumatera
coba mendigitalkan Pulau Sumatera. Target mereka satu juta
siswa paham dan mengerti internet. Akankah langkah ini berhasil,
setelah sebelumnya program mendigitalkan Pulau Sumatera
yang diusung sembilan gubernur sejak 2001 tak terdengar
kabarnya lagi.
Ada secercah cahaya yang datang dari sebuah obor yang kini
mengitari pulau Sumatera. Mulai dari Aceh Darusalam, Medan,
Riau, Padang, Bangka Belitung, Palembang, hingga Lampung.
Secercah cahaya itu membawa asa bagi dunia pendidikan khususnya
dan dunia TI pada umumnya. Jika nantinya secercah cahaya
itu mampu menerangi seluruh provinsi/kabupaten/kota di Pulau
Sumatera, bukan tidak mungkin akan membawa pertumbuhan ekonomi
dan kemajuan masyarakat di sana.
Secercah cahaya itu datang dari sebuah obor bernama Telkom
Sumatera. Perusahaan telekomunikasi terbesar di Indonesia
itu, memang saat ini tengah menyisir Pulau Sumatera lewat
program yang bernama Education for Tomorrow. Melalui program
ini Tekom Sumatera menargetkan satu juta pelajar di Sumatera
paham dan mengerti internet. Untuk mencapai target tersebut,
tak heran jika Muhammad Awaluddin yang mengepalai Divre
Telkom Sumatera dan stafnya terlihat sibuk lalu lalang dari
satu daerah ke daerah lainnya. Kadang berada di Aceh, kadang
esoknya sudah terbang ke Palembang. Bukan cuma daerah-daerah
di Sumatera yang ia jambangi, beberapa perusahaan vendor
besar di Jakarta pun dia datangi untuk mengajak kerja sama
membantu menerangi Pulau Sumatera.
Kesenjangan Digital
Itulah salah-satu kegiatan yang terjadi di Pulau Sumatera
belakangan ini. Ada satu keinginan untuk menjembatani kesenjangan
digital (digital divide) yang masih menyelimuti negeri ini,
terutama di Pulau Sumatera. Di tengah seabrek persoalan
di negeri ini, memang acapkali persoalan yang satu ini terlupakan.
Padahal, kesejangan digital sejatinya juga menjadi persoalan
serius yang perlu mendapat penanganan segera. Pasalnya,
hidup di era teknologi dalam kancah global, TIK menjadi
salah satu penyokong penting dalam kehidupan sehari-sehari
salah-satunya kesempatan dalam mengakses informasi. Nah,
bila digital divide belum teratasi, bisa dibayangkan: hidup
dalam ketertinggalan.
Muhammad Awaluddin
Executive General Manager Telkom Divisi Regional I
Hal inilah yang tampaknya disadari oleh Telkom Divre Sumatera.
Mereka coba ikut berpartisipasi mengatasi digital divide
dengan menggelontorkan program. Education for Tomorrow.
Menurut Executive General Manager Telkom Divisi Regional
I Muhammad Awaluddin, dibandingkan negara tetangga seperti
Malaysia, Singapura, Thailand, gap kesen-jangan digital
di Indonesia masih besar. “Di Malaysia, ujian sekolah
sudah menggunakan sistem online intranet/internet,”
ujarnya memberi contoh.

(Dari kiri ke kanan) Sosialisasi
Program Education for Tomorrow di Provinsi Riau dan Riau
Kepulauan, Provinsi Bangka Belitung, Provinsi Lampung dan
Provinsi Sumatera Selatan.
Dijelaskan oleh Awaluddin, Education for Tomorrow adalah
program penyiapan metode pendidikan masa depan dengan menggunakan
teknologi informasi untuk seluruh aktivitas pendidikan di
sekolah. Praktis, semua kegiatan seperti pekerjaan rumah
(PR), ujian, pengumuman, nilai, buletin, interaksi antara
orang tua, murid dan guru, dilakukan secara online yang
dapat diakses melalui web sekolah atau one stop school service.
Untuk itu Telkom Divre Sumatera mengenalkan komputer, internet
berikut manfaatnya serta mengenalkan aplikasi internet untuk
menunjang aktivitas kehidupan pada komunitas pendidikan.
“Kami ingin membentuk komunitas pendidikan yang berbasis
TI,” tandasnya lagi. Yang menjadi sasaran adalah sekolah,
guru, dan siswa. Sebelumnya, beberapa tahun lalu, Telkom
meluncurkan Internet Goes to School. Hanya saja, program
yang mensosialisasikan internet ke siswa yang masuk dalam
early adopter ini belum sepenuhnya dibarengi dengan adanya
database yang bagus yang selanjutnya memungkinkan adanya
program pengembangan yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas
pendidikan.
Education for Tomorrow dibagi dalam empat tahapan. Pertama,
persiapan dan sosialisasi untuk mengenalkan manfaat internet
bagi kepentingan sekolah dan dunia pendidikan. Kedua, pematangan:
berupa layanan internet khusus sekolah dan komunitas pendidikan.
Ketiga, pemantapan guna mendukung penyediaan fasilitas akses
internet dunia pendidikan. Keempat, implementasi: yakni
pemanfaatan internet guna meningkatkan komunitas internet
dan dunia pendidikan yang dibarengi dengan penyediaan infrastruktur
dasar. Program tersebut dijalan secara paralel tergantung
kepada kondisi siswa dan sekolah. “Kalau siswanya
sudah mengenal internet ya kita langsung kepada tahapan
kedua dan seterusnya,” jelas lulusan S2 International
Management di European University Antwerpen, Belgia, ini.
Sebenarnya apa yang dilakukan Telkom tak jauh berbeda dengan
program yang digelar Departemen Pendidikan Nasional melalui
Jardiknas (Jaringan Pendidikan Nasional). Dan ini disadari
oleh Awaluddin. Justru karena itulah, ia menuturkan bahwa
Education for Tomorrow menjadi bagian aksi nyata program
Jardiknas. “Kami saling bersinergi sekaligus mendukung
program tersebut.” Wujudnya? Telkom akan membantu
memperbanyak titik koneksi sekolah, membantu percepatan
layanan data dan informasi pendidikan secara terpadu, serta
membantu percepatan komunitas pendidikan.
Skala
Sumatera
Mengingat Telkom Divre Sumatera membawahkan area Sumatera,
maka kegiatan Education for Tomorrow fokus ke wilayah tersebut.
Program ini menyasar 1 juta pelajar yang targetnya rampung
sampai 2007. Angka sebesar itu mencakup sekitar 10 persen
dari populasi pelajar Sumatera yang berjumlah 9,7 juta.
Penduduk Sumatera sendiri mencapai 48 juta jiwa. Sejauh
ini, dijelaskan Awaluddin, Telkom Divre Sumatera sudah memberikan
edukasi kepada hampir 300 ribu lebih siswa. Ketika ditanya
di saat penghujung tahun tinggal beberapa bulan, apa mungkin
merealisasikan target satu juta pelajar, dengan nada optimistis
Awal yang pernah menjabat sebagai Vice President & Marketing
Communication PT Telkom ini menjawab, “Kami yakin
bisa mencapai satu juta.” Apalagi, lanjutnya, hampir
semua Pemkab/Pemkot yang tersebar di 10 provinsi menyambut
baik program tersebut. Dan sebagai komandan program Education
for Tomorrow, Awal secara intens memantau perkembangan program
tersebut dan tak segan terjun langsung ke lapangan.
Selain pelajar, edukasi juga diberikan kepada guru. Mulanya,
diakui Awal, program Education For Tomorrow hanya ditujukan
kepada pelajar. Toh faktanya, masih banyak guru di Sumatera
belum mengenal dan mengerti komputer dan akses internet
berikut pemanfaatannya bagi pendidikan. “Akhirnya
guru juga diedukasi dan kami juga mengelar training of trainer
(TOT),” ujar pria yang ingin memasukkan Education
for Tomorrow ke dalam program Unesco atau International
Telecommunicaton Union (ITU) ini. “Apa yang kami lakukan
juga sesuai dengan Millenium Development Goals (MDG),”
imbuhnya.
Akses Terbatas dan Harga
Mahal
Adanya program Education for Tomorrow yang membuat siswa
jadi melek internet, patut diapresiasi. Hanya saja persoalan
sekarang, setelah mereka mengerti dan bisa menggunakan internet,
bagaimana dengan media untuk mengakses akses dan biaya sewa
bandwith? Seperti kita ketahui, belum seluruh sekolah di
Indonesia termasuk Sumatera memiliki laboratorium komputer.
Dan masih banyak siswa yang belum bisa memiliki komputer
atau laptop sebagai media akses. Belum lagi harga sewa bandwith
masih cenderung mahal. Akibatnya, harga sewa internet di
warung juga tak terjangkau oleh pelajar.
Pemberian
bantuan komputer
kepada 6 sekolah di Banda Aceh.
Dua hal tadi tidak ditampik Awal dan ia melihatnya sebagai
tantangan yang harus dicarikan jalan keluarnya. Untuk itu,
Telkom Divre Sumatera memberikan bantuan komputer kepada
sejumlah sekolah. Selain itu, mereka akan mengajak para
vendor yang berkenan memberikan bantuan komputer atau setidaknya
bisa memberi harga khusus untuk pembelian komputer. Nah,
soal harga, Telkom Divre Sumatera berencana untuk memberikan
harga khusus bagi sekolah dan siswa. “Yang ada di
benak saya, untuk siswa, mereka bisa membeli semacam kartu
untuk akses internet layaknya voucher pulsa dengan harga
yang terjangkau.” Sementara itu, bagi sekolah, Awaludin
menawarkan akses internet murah via Speedy. Apalagi, dari
126 kabupaten/kota di Sumatera, 26 di antaranya sudah tersedia
layanan Speedy.
Sejalan dengan Education for Tomorrow, Telkom Divre Sumatera
mendeklarasikan Generasi Digital Sumatera yakni siswa yang
telah mengaplikasikan TIK dalam kehidupan sehari-hari. Parameternya
memiliki email, memanfaatkan blog site, memanfaatkan internet
sebagai sumber informasi yang intens, sistem informasi dalam
mendukung aktivitas lainnya. Yang sudah meregister tercatat
12 ribu siswa tapi yang baru dilantik sekitar 5.500 siswa
yang tersebar di 10 provinsi. Kampung Digital dan Pesantren
Digital adalah dua rencana lain yang tengah disiapkan Telkom
Divre Sumatera.
Bisnis Informasi
Di balik kemasan kegiatan tersebut, Awaluddin tidak menampik
bahwa apa yang mereka lakukan juga mengemban sisi bisnis.
Melek TI membuat Telkom sebagai salah-satu Internet Service
Provider (ISP) akan kecipratan berkah. Selain itu, kondisi
ini akan memunculkan peluang bisnis baru yakni konten. Menurut
Awaluddin, selama ini Telkom telah berkecimpung di bisnis
komunikasi yang sering cenderung sudah banyak pemain. Dengan
makin banyaknya pelajar maupun masyarakat TI, harus dibarengi
adanya konten yang menarik sesuai kebutuhan. “sehingga
mereka tetap connect,” tuturnya yang melihat value
business dalam bidang konten.
Apa yang dilakukan Telkom Divre Sumatera ini mudah-mudahan
dapat terus eksis keberadaannya. Enam tahun lalu (2001)
sembilan gubernur se-Sumatera telah sepakat untuk bersatu
lewat dunia maya. Mereka bertekad untuk mewujudkan Sistem
Informasi Terpadu Sumatera, salah-satunya lewat pengembangan
TIK. Sistem informasi terpadu yang akan mencakup antar-pemerintah
seSumatera (G to G), pemerintah ke pelaku bisnis (G to B),
dan pemerintah ke masyarakat (G to C) itu tidak terdengar
kabarnya hingga sekarang. Target mereka pada 2005 semua
provinsi plus kabupaten sudah online, tampaknya hanya omong
kosong belaka, karena hingga tahun ini kenyataan tersebut
tak bisa dilihat dengan mata telanjang sekalipun. Mudah-mudahan
Education for Tomorrow yang dilakukan Telkom Divre Sumatera
bisa menjadi obat pelibur lara dalam usaha kita bersama
meng-online-kan Pulau Sumatera.
(FR, AZ) |