| Artikel Sumatera
Pulau Digital Edisi No.23 / 1 |
M.
Awaluddin, EGM Telkom Sumatera
“Target Kami Menumbuhkembangkan ICT Sumatera”
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Pulau
Sumatera kini digenjot untuk terus tumbuh. Tahun 2008 sudah
dite-tapkan sebagai “Tahun Kebangkitan ICT Sumatera”.
Dengan ICT diharapkan pulau harapan ini dapat menyusul kemajuan
di Pulau Jawa. Adalah Muhammad Awaluddin, orang yang getol
menggulirkan TIK di Sumatera. Beberapa “proyek”nya
kini telah bergulir, seperti kampung digital, kampung wisata
digital, perpustakaan digital, Sumatera Data Center, dan
1.000 titik hotspot Sumatera. “Kami hanya ingin menumbuhkembangkan
ICT di Sumatera,” kata Awal dalam perbincangan dengan
Andy Zoeltom dari e-Indonesia di atas kapal motor dalam
perjalanan di Danau Toba. Executive General Manager Telkom
Sumatera ini, sejak menjabat Kakandatel di Sidoarjo, Sumatera
Selatan, GM Bogor, dan GM DKI, memang selalu memiliki ide-ide
kreatif dalam menumbuhkembangkan ICT kepada masyarakat di
wilayah jabatannya. Inilah penuturannya lebih lanjut, terutama
soal bagaimana mendigitalkan Sumatera.
Target mewujudkan Sumatera Digital
juga menandai kebangkitan TI Sumatera. Bisa diceritakan
kok sampai muncul ide kebangkitan TI?
Sebenarnya itu momentum saja. Kami ambil dari momentum 100
tahun kebangkitan nasional. Sekarang kita tengah bergelora
untuk membawa masyarakat masuk ke area di mana mereka bisa
mengerti dan memahami internet meskipun saya akui kondisi
Sumatera agak sulit dibanding Jawa.
Kenapa lebih sulit?
Masalah koneksitas. Kalau dilihat dari kultur untuk memahami
internet sepertinya tidak sulit. Tapi kalau sudah bicara
akses koneksitas, dari sisi akses ataupun media aksesnya
Sumatera sedikit ketinggalan. Selama ini, Telkom yang punya
banyak peranan dalam penyediaan akses. Kalau mengharapkan
dari ISP lain, rasanya agak susah ya. Pertimbangan mereka
semata-mata cost and profit dan berapa margin yang bisa
didapat. Nah kalau Telkom misinya agak beda. Telkom mempunyai
komitmen untuk mengkontribusikan dana kemitraan daerah dan
bina lingkungan dalam program CSR (Corporate Social Responsibility).
Seperti sudah pernah saya bilang, kita mulai dari Education
For Tommorow. Kita evaluasi, responnya bagus. Selanjutnya
kami mempunyai pikiran kenapa tidak digelorakan saja? Masalahnya,
untuk menggelorakannya kami mesti ada dukungan gubernur
dan bupati. Selanjutnya bupati menghimbau masyarakatnya
serta membawa aparatnya untuk bisa paham dengan Teknologi
Informasi dan Komunikasi (TIK). Berikutnya, kita masuk ke
sekolah-sekolah dan bekerja sama dengan Dinas Pendidikan.
Saya juga ingin bekerja sama juga dengan Dinas Pemuda dan
Olahraga.
Terkait pendidikan, apa yang
sudah dilakukan dengan Depdiknas? Misal dengan Jardiknas?
Jardiknas merupakan program terpusat. Kita di Divre, Datel,
dan Kancantel lebih kepada support infrastruktur dan ini
sudah tergelar. Di Sumatera ada 102 titik lokasi yang masuk
Jardiknas. Kurang lebih sekitar 85% sampai 90% sudah selesai.
Bentuknya kombinasi antara broadband dan non broadband.
Kalau dengan Dinas Pemuda dan
Olahraga, yang hendak dituju apa?
Dinas Pemuda dan Olah Raga mempunyai akses ke komunitas
seperti komunitas atlet, juga sekolah. Nah, kita ada agenda
untuk membuat semacam Internet Camp. Di Brastagi (Sumatera
Utara, Red), ada tempat kawasan perkemahan nasional namanya
Sido Langit. Pada saat mereka melakukan kegiatan camping
atau outbond, salah-satu menu barunya adalah belajar TI
di ruang terbuka yang disebut dengan Internet Camp. Jadi
belajar TI tidak melulu di kelas, tapi di area terbuka.
Artinya, melalui kegiatan tersebut,
ditumbuhkan minat pelajar untuk mengenal, mengerti, dan
memahami TI?
Ya dan itu perlu, karena selama ini tidak ada yang melakukan
itu. Bukan karena saya dari Telkom, tapi kayaknya kok di
luar Telkom rasanya berat melakukan itu. Jadi kita aja yang
taking a lead dalam program ini. Di sini lebih banyak Social
Responsibility karena melatih anak-anak pramuka di Sido
Langit itu kan nggak ada benefit-nya, yang ada malah cost.
Di sini Telkom mencoba menkombinasikan Program Bina Lingkungan
yang sejalan dengan inisiatif Corporate Telkom. Ketika Menkominfo
ketemu Meneg BUMN, kan disarankan agar dana CSR-nya untuk
pendidikan internet gratis dan di Sumatera kami sudah memulainya.
Artinya Telkom tinggal mengikuti
kebijakan yang ada?
Sepanjang ada keputusan menteri, ada peraturan menteri yang
mendasar, ya kita jalan. Bagi kami ini bukan hal yang baru
mengingat Telkom sejak beberapa tahun lalu sudah menerapkan
itu.
Lantas bagaimana rencana kegiatan
ke depan, terutama dengan program Kebangkitan ICT Sumatera?
Pertama, membuat kalender bulanan. Jadi setiap bulannya
ada kegiatan yang sifatnya menumbuhkembangkan daya kreativitas
dan pemahaman masyarakat termasuk pelajar terhadap TIK.
Salah-satu contohnya, pembuatan kompetisi game online atau
puisi online atau lomba membuat blog atau website pribadi.
Memang untuk komunitas pelajar, yang ikut dan terlibat dalam
kompetisi semacam ini belum banyak. Tapi ini lebih baik
daripada tidak ada sama sekali, baik kegiatannya maupun
peserta. Yang jadi pertanyaan siapa yang mau mendorong adanya
event seperti ini? Di sumatera hal semacam itu masih jarang,
kalau di Jawa mungkin banyak. Oleh karenanya, makna kebangkitan
di sini adalah dari yang tadinya tidak mengerti menjadi
mengerti, yang tadinya tidak kenal jadi kenal. Pendeknya,
intinya adalah menumbuhkankembangkan ICT sehingga menyentuh
kehidupan sehari-hari masyarakat. Di Batam, kita mau kerja
sama dengan Cisco karena mereka memiliki lembaga pendidikan
Cisco Academy. Di sini guru–guru di sekolah dikategorikan
dalam ICT trainer, mereka dididik untuk mendapatkan sertifikasi
ICT trainer.
Sepertinya masih banyak hal yang
harus dikerjakan?
Iya. Terkadang kita harus bisa memahami kebutuhan mereka
apa dulu. Secara langsung mungkin mereka belum perlu ICT.
Tapi yang mereka inginkan bagaimana memajukan bidang tertentu.
Nah disini ICT turut berperan. Seperti Bupati Samosir, dia
belum prioritaskan e-government tapi dia menginginkan agar
Samosir bisa dikenal. Nah salah-satu sarananya lewat website.
Lama-lama awareness terhadap ICT akan tumbuh.
Mengenai program Pustaka Digital
bisa diceritakan?
Awalnya kami dengan Badan Pustaka dan Arsip Daerah Sumatera
Utara tidak terpikir. Tapi akhirnya bergulir. Salah-satunya
layanan di Pustaka Digital adalah menyediakan materi dalam
bentuk digital dan orang bisa mencarinya lewat web. Ini
menjadi salah-satu proto-type karena di Sumatera belum ada.
Kemudian pengelolaan database dan sebagainya ditangani lewat
sistem informasi. Kita juga akan kembangkan e-book. Ini
butuh biaya besar, karena perlu infrastruktur. Tapi ke depan,
perpustakaan harus menyimpan knowledge resources dalam bentuk
e-book. Terus bisa dibuat kombinasi perpustakaan sebagai
tempat belajar tapi juga tempat mencari informasi tidak
saja dari buku tapi dari internet juga. Seperti di National
Library di Singarapa yang merupakan kombinasi antara buku
yang dibaca dengan internet. Jadi ada komparasi. Terus setting
tempat seperti cafe sehingga orang lebih fun, lebih santai.
Selama ini perpustakaan identik tidak boleh berisik, sangat
kaku. Nah kita mau coba ubah itu. Kedua, pustaka digital
harus bisa internet watching, jadi dia bisa sharing reported.
Persoalannya akses untuk sharing itu sudah bisa dibuka belum?
Kalau di Sumatera Utara itu yang sudah punya Internet Working
Library di Universitas Sumatera Utara Medan.  |