| |
Padamu Negeri, Telkomsel Berbakti
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Pemerintah
melalui Kemkominfo telah menyediakan akses telekomunikasi dan
informatika di puluhan ribu pedesaan melalui Program USO. Partisipasi
Telkomsel dalam program Desa Berdering dan Desa Pintar merupakan
wujud dedikasi untuk memajukan negeri. Kontribusi Telkomsel dalam
menyediakan beragam layanan, juga turut memajukan TIK di Tanah
Air.
Sikap
tegak sempurna diperlihatkan para Satgas Pamtas Republik Indonesia
Kipur III di Pos Motaian K yang terletak di Kecamatan Atambua
Barat, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT), begitu rombongan
anggota Komisi I DPR Republik Indonesia tiba di pos yang terletak
di perbatasan Republik Indonesia dengan Republik Demokratik Timoer
Leste (RDTL). Kunjungan yang dilakukan oleh sembilan anggota Komisi
I DPR RI, Minggu ke dua Maret 2010 lalu, hendak mengetahui kondisi
pos penjagaan mulai dari kecukupan jumlah prajurit berikut kesejahteraannya,
sarana dan prasana penunjang serta permasalahan yang dihadapi
terkait hubungan Indonesia dengan Timoer Leste.
Ketika dilakukan diskusi antara anggota dewan dengan para prajurit,
terungkap bahwa salah satu kendala yang dihadapi adalah belum
tersedianya sarana penunjang komunikasi baik line telepon
maupun faksimile. Di area Markas Komando (Mako) juga
belum ada dukungan sinyal yang kuat dari operator penyedia layanan
telekomunikasi. “Kalau kami hendak berkomunikasi melalui
ponsel baik itu terkait tugas maupun dengan keluarga dan teman,
maka kami harus menuju ke lokasi yang ada sinyalnya beberapa kilometer
dari sini,” tutur salah seorang prajurit. Sejauh ini, komunikasi
di Mako menggunakan handy talky (HT) dan Radio SSB.
Sejatinya, dukungan sarana prasarana telekomunikasi di wilayah
perbatasan Mako Motaian tergolong krusial. Pasalnya, Satgas Pamtas
dituntut untuk memenuhi unsur kecepatan dan ketepatan informasi
terkait perkembangan dan situasi yang terjadi di perbatasan RI-RDTL.
Ironisnya, kelangkaan dukungan telekomunikasi juga terjadi di
Markas Komando di sejumlah wilayah perbatasan lain di wilayah
Indonesia.
Apa yang terjadi di wilayah
perbatasan RI-RDTL adalah sekelumit potret persoalan terkait dengan
ketersediaan akses telekomunikasi di Tanah Air. Bagaimana pun
tidak bisa dipungkiri, bahwa belum semua wilayah di Indonesia
terjamah akses telekomunikasi. Merujuk data Kementerian Kominfo
tahun 2009, dari sekitar 72 ribu desa sebanyak kurang lebih 31
ribu perlu segera diretas dari buta informasi melalui penentrasi
telepon dan internet.
Belum sepenuhnya wilayah
Indonesia terjangkau layanan telekomunikasi dapat dimaklumi mengingat
begitu luasnya wilayah Indonesia yakni sekitar 7,9 juta Km2. Selain
itu, negeri ini berbentuk kepulauan dengan jumlah kurang lebih
17.504 pulau. Selain itu, sebagian provinsi di Indonesia memiliki
topografi wilayah berbentuk pengunungan dan lembah sehingga lokasi
pedesaan menyebar. Alhasil, pembangunan sarana komunikasi dan
informasi cukup sulit dilakukan serta perlu dukungan biaya investasi
tinggi.
Tak pelak, digital divide
menjadi isu yang mengemuka. Selama ini, muncul kesan TIK hanya
diperuntukkan bagi sebagian kelompok masyarakat saja khususnya
di perkotaan, yang tentu saja kondisi ini tidak sesuai dengan
fitrah bahwa IT for all. Fakta berbicara bahwa teledensitas
di Indonesia masih rendah yakni sekitar 4%. Data lain berupa laporan
dari Forum Ekonomi Dunia dalam The Global Information
yang bertujuan melongok peran teknologi informasi dan komunikasi
(TIK) dalam bidang ekonomi, lingkungan hidup, dan pembangunan
yang berkelanjutan. Terkait laporan yang dirilis akhir Maret 2010
tersebut, peringkat jaringan TIK, Indonesia berada di posisi 67
dari 133 negara. Posisi ini berada di bawah negara-negara ASEAN
termasuk Vietnam yang bertengger di peringkat 54. Adapun negara
tetangga seperti Malaysia berada di peringkat 27, sedangkan tercatat
di rangking 47 adalah Thailand. Untuk posisi lima besar, berada
di nomor wahid adalah Swedia, disusul Singapura, Denmark, Swiss,
dan Amerika Serikat.
Desa Berdering
dan Desa Pintar
Adalah tugas pemerintah agar masyarakat bisa mengakses, memanfaatkan
sekaligus berbagi informasi sehingga mereka bisa mengembangkan
potensi diri serta meningkatkan kualitas hidup yang lebih baik.
Amanah ini dideklarasikan saat World Summit on The Information
Society (WSIS) yang digelar 2005 lalu. Masih merujuk WSIS
2005, kondisi tersebut diharapkan dapat terealisasi pada tahun
2015 mendatang.
Telkomsel
ketika menandatangani MoU USO
di kantor Kemkominfo.
Sejauh ini kementerian Komunikasi dan Informatika me-miliki komitmen
untuk menyediakan infrastruktur teleko-munikasi dan informatika
di pedesaan. Wujudnya melalui Program Kewajiban Pelayanan Universal
Telekomunikasi dan Universal Service Obligation (USO).
Program ini melibatkan partisipasi para operator telekomunikasi
dengan meman-faatkan dana mereka untuk menyediakan akses tele-komunikasi
pedesaan yang diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun
2005 dan Peraturan Menteri Kominfo Nomor 15 Tahun 2005. Melalui
program USO, Kemkominfo mempercepat pembangunan akses teleko-munikasi
dan informatika di kawasan pedesaan melalui Desa Berdering yang
mencakup 31.824 desa. Sejalan itu, peme-rintah juga meluncurkan
USO berbasis internet dengan tajuk Desa Pinter (Desa Punya Internet)
di 4.700 kecamatan.
Sebagai gambaran, Desa Berdering adalah desa yang memiliki akses
telekomunikasi. Sementara itu, adanya Desa Pinter bertujuan menghilangkan
kesenjangan informasi dan pendidikan. Keberadaan perangkat komputer
yang ditunjang akses internet, membuat masyarakat dapat mengunduh
beragam informasi yang bermanfaat. Selain itu, Kemkominfo juga
meluncurkan Layanan Pusyantip Portal Lumbung Desa. Layanan ini
ditujukan guna memajukan perekonomian daerah. Melalui nomor FWT
di seluruh desa USO, memungkinkan adanya sharing informasi melalui
SMS mulai dari informasi pertanian seperti pupuk, bibit, hasil
panen padi, laut dan sebagainya. Selanjutnya, alur informasi ini
dapat diteruskan ke Portal Lumbung Desa dan website internet.
Alhasil, semua pihak bisa mengetahui kendala berikut potensi suatu
daerah.
Tifatul
Sembiring
Menkominfo
Menkominfo Tifatul Sembiring, menuturkan bahwa Presiden Soesilo
Bambang Yudhoyuno memberikan sejumlah amanah kepadanya. “Salah
satunya program 25 ribu desa berdering,” tuturnya. Untuk
itu, program 25 ribu desa berdering masuk dalam agenda 100 hari
pemerintahan SBY jilid II. Sejauh ini, dituturkan menteri asal
Medan tersebut, penyediaan jasa akses telekomunikasi dan informatika
pedesaan di Indonesia telah terlaksana. Program Desa Berdering
telah melebihi target sebanyak 25.176 dalam 100 hari. Artinya
100,7% dari target 25.000 desa di 32 provinsi. “Di antara
25 ribu Desa Berdering, 100 desa sekaligus berstatus sebagai Desa
Pintar,” ungkapnya. Selain itu, desa berdering juga menyasar
wilayah perbatasan. Pada akhir 2010, total target Desa Berdering
sebanyak 31.824 bakal terealisasi.
Pada Rabu (16/6), saat Rapat Kerja Kemkominfo dengan Komisi I
DPR RI, Tifatul menyampaikan sejumlah rencana terkait dengan pembangunan
desa informasi lima tahun mendatang hingga 2015. Selain itu, ia
melaporkan pembangunan sarana informatika di sejumlah wilayah
perbatasan seperti Desa Long Api Kecamatan Kerayan, Desa Sangkup
Kecamatan Lumbis Kabupaten Nunukan yang terletak di Propinsi Kalimantan
Timur yang berbatasan di Malaysia, Desa Aruk dan desa Sebunga,
Kecamatan Sajingan Besar Propinsi Kalimatan Barat, yang juga berbatasan
dengan Malaysia, Desa Adaut, Kecamatan Saumlaki, Kabupaten Maluku
Tenggara yagn berdekatan dengan Australia serta Desa Ubrub, Distrik
Web, Kabupaten Kerom Papua yang berdekatan dengan Negara Papua
New Gueni (PNG). “Pembangunan daerah tertinggal lainnya,
khususnya di wilayah Timur masih dalam tahap pembangunan,”
terangnya.
Andil
Telkomsel
Di balik kesuksesan pembangunan Desa Berdering dan Desa Pintar,
tidak bisa dilepaskan dari peran Telkomsel. Sebagai pemimpin
di industri telekomunikasi selular yang kini dipercaya melayani
sekitar 85 juta pelanggan, Telkomsel turut berpartisipasi dalam
program pemerintah untuk menyediakan akses telekomunikasi dan
informatika di sejumlah daerah. Awal tahun 2009, Telkomsel menerima
amanah setelah keluar sebagai pemenang lelang Universal Service
Obligation (USO) baik dari aspek teknis maupun biaya untuk menggelar
layanan akses telekomunikasi dan informatika di 24.051 desa
yang tersebar di Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara dan Kalimantan.
Telkomsel memenangkan lima paket dari tujuh paket yang ditenderkan.
Bahkan lantaran terkait dengan program 100 hari pemerintahan
Presiden SBY jilid 2, pembangunan dipercepat dan jumlah desa
bertambah menjadi 25.000 desa. Tambahan sekitar seribu titik
mencakup area Sulawesi, Maluku, dan Irian Jaya.
Gawe USO dijalankan oleh anak perusahaan plat merah PT Telekomunikasi
Indonesia Tbk ini, secara efektif dan efisien. Wujudnya, Telkomsel
menciptakan metode inovatif bertajuk Media Evaluation Deployment
Integrated Analysis, disingkat MEDIAna. Melalui aplikasi ini,
Telkomsel berikut mitra vendor dapat memperoleh informasi data
kondisi daerah sebagai dasar kebutuhan solusi teknologi di daerah
tersebut, sekaligus memiliki kemampuan asset management guna
menghitung nilai aset secara otomatis.
Guna meretas permasalahan komunikasi di daerah-daerah terpencil,
operator selular pertama di Asia yang menawarkan layanan prabayar
GSM di November 1997 itu, menciptakan inovasi nomor wahid untuk
skope dunia berupa BTS Pico via VSAT-IP berbasis teknologi selular
berkonsep “Remote Solution System”. Sejalan dengan
itu, Telkomsel mengimplementasikan inovasi sumber listrik alternatif
ramah lingkungan. Caranya, dengan memanfaatkan tenaga matahari
(solar cell), tenaga air (micro hydro), dan tenaga angin (win
turbin). Gebrakan ini mampu menyelesaikan permasalahan listrik
yang masih terjadi di luar Jawa.
Nah, guna mengakomodasi kebutuhan layanan telekomunikasi, Telkomsel
menambah Satuan Sambungan Telepon (SST) menjadi 2 SST berupa
2 FWT di setiap desa USO. Selain itu, Telkomsel turut terlibat
dalam menghadirkan Desa Pinter (Desa Punya Internet) dan Pusyantip
(Pusat Layanan Telekomunikasi dan Informasi Perdesaan) berupa
Portal Lumbung Desa untuk menambah kemanfaatan program USO.
Terkait dengan program USO, Telkomsel memberlakukan tarif khusus.
Untuk diketahui, tarif SMS hanya dipatok Rp 50 per SMS. Sementara
tarif telepon lokal dan seluler hanya Rp 325 per menit ke semua
tujuan sepanjang di lingkungan domestik. Untuk sambungan internasional,
tarifnya berkisar antara Rp 880 hingga Rp 2.490 per menit.
Sarwoto
Atmosutarno
Dirut TELKOMSEL
Secara keseluruhan, program Desa Berdering dituntaskan Telkomsel
pada awal 2010. Telkomsel juga telah menghadirkan 3 Desa Pinter
di setiap propinsi. Menurut Direktur Utama Telkomsel, Sarwoto
Atmosutarno, apa yang dilakukan Telkomsel terkait program USO
merupakan wujud komitmen Telkomsel untuk melayani sekaligus
memajukan telekomunikasi di seluruh wilayah Indonesia khususnya
yang masih terkendala layanan telekomunikasi. “Dengan
melakukan penggelaran program USO hingga ke pelosok negeri,
kami mengharapkan layanan Telkomsel dapat menjangkau seluruh
wilayah populasi Indonesia sehingga ke depannya Negara Kesatuan
Republik Indonesia benar-benar terajut indah dengan adanya jaringan
komunikasi,” tukasnya.
Ditambahkan Sarwoto, pembangunan infrastruktur
telekomunikasi di pulau terdepan maupun perbatasan merupakan
bentuk dukungan Telkomsel dalam memelihara keutuhan NKRI. “Hadirnya
sarana telekomunikasi dapat meningkatkan ketahanan nasional
sekaligus mempersatukan bangsa Indonesia yang tersebar di berbagai
pulau yang ada di negara kepulauan Indonesia ini,” imbuhnya.
Hingga kini, secara keseluruhan Telkomsel telah menggelar lebih
dari 30 ribu BTS yang menjangkau lebih dari 95 persen wilayah
populasi Indonesia. Ditambah program USO yang mencakup 25 ribu
desa, praktis layanan Telkomsel menjamah hampir 100 persen wilayah
populasi Indonesia.
Sejatinya, tak hanya melalui USO, sejumlah inovasi lain juga
digeber Telkomsel. Sebagai perusahaan nasional dan multinasional
yang bergerak di bidang telekomunikasi, internet dan layanan
jasa konten yang telah beroperasi di Indonesia, Singapura, Malaysia,
Brunei Darussalam dan beberapa negara lainnya, Telkomsel tidak
hanya menyediakan layanan dasar yaitu telepon, SMS, MMS, video
call. Telkomsel juga berkontribusi dalam layanan guna memajukan
dunia TIK, pendidikan, hiburan, kesehatan, agama hingga menggelar
program peduli pada lingkungan. Yang terakhir ini, Telkomsel
merupakan merupakan operator selular dengan BTS Go Green terbanyak
di Asia, yakni 132 BTS Go Green dengan memanfaatkan
tenaga matahari (solar cell). Selanjutnya, program-program
untuk daerah perintisan seperti Telkomsel Merah Putih dan USO
juga telah memanfaatkan solusi ramah lingkungan dan energi alternatif
(green solution initiatives). Tidak ketinggalan, Telkomsel
terlibat dalam kegiatan Corporate Social Responsibility
(CSR) di berbagai bidang termasuk bencana nasional.
Sejalan dengan itu, menurut Sarwoto, secara strategis Telkomsel
juga akan mengembangkan platform new business yang membuka ruang
seluas-luasnya untuk partnership yang fleksibel dan
mutual bagi industri kreatif nasional. Pasalnya, Telkomsel harus
kembali ke akar yang kokoh dengan un-leashed seluruh
potensi domestik. Hal ini pada dasarnya selaras dengan
misi Telkomsel yaitu deliver mobile lifestyle services and
solution in excellent way that exceed customer expectation,
create value for all stakeholders, and the economic development
of the nation.
Semakin Maju
Terkait dengan peran Telkomsel dalam membangun sarana telekomunikasi
dan informatika di pedesaan melalui Desa Berdering dan Desa
Pintar, anggota Dewan Pengawas BTIP (Balai Telekomunikasi dan
Informasi Pedesaan) yang juga salah satu ketua Mastel, Koesmarihati
Koesnowarso, melihat bahwa hal tersebut tergolong tepat. Setidaknya,
ia merujuk pada pengalaman di sejumlah negara, bahwa yang terlibat
dalan pengadaan telekomunkasi atau internet adalah operator
yang memiliki jaringan terbesar. “Sehingga dalam merea-lisasikannya
biayanya lebih rendah,” ungkapnya.
Koesmarihati
Koesnowarso
Anggota Dewan
Pengawas BTIP
Ditanya sejauh mana perkembangan Telkomsel hingga kini, menurut
mantan Direktur Utama Telkomsel 1995-1998 ini, Telkomsel telah
mengalami kemajuan. “Saya bangga dan gembira mendengar
bahwa belum lama ini di Singapura, Telkomsel mendapatkan award
the best Cellular Company in Asia Pacific oleh Frost and
Sullivan,” ujarnya sumringah. Ia pun masih ingin
melihat Telkomsel tetap terdepan terutama dalam mem-berikan
layanan yang bagus dan merata di seluruh Indonesia.
Sebagai perusahaan yang cukup lama berkiprah di Tanah Air, Koesmarihati
menilai bahwa Telkomsel paling banyak menyediakan akses telekomunikasi.
Hanya saja, ia menyarankan agar Telkomsel tidak hanya fokus
pada telephoni saja. “Ia juga harus bisa menyediakan internet
dengan kecepatan yang nyaman , tidak putus-putus, mengingat
masa depan internet sangat dibutuhkan guna mengakses informasi
secara cepat,” tegasnya.
Akhirnya, bertepatan dengan HUT
nya yang ke-15, Telkomsel secara konsisten telah menunjukkan
upaya terbaiknya berkontribusi secara maksimal bagi kemajuan
negeri ini. Dedikasinya pada Tanah Air patut kita hargai dan
banggakan. Selamat Ulang Tahun Telkomsel. Teruslah berkiprah
untuk memajukan Indonesia.
(Faizah Rozy)
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
KEMBALI
KE ARTIKEL
|
|
|