Majalah e-Indonesia

Majalah yang hadir guna memenuhi kebutuhan mereka yang ingin tahu banyak tentang dunia ICT

e-Government di Tulungagung

Dari Manual Menuju WAN Kota

Tulungagung ditunjuk pemerintah provinsi Jawa Timur sebagai pilot project penggunaan akses informasi dengan TI. Di kabupaten penghasil keramik ini, mulai dirancang pembangunan sistem komunikasi melalui wireless area network (WAN).

Ada pepatah tua yang mengatakan, don’t judge the book by it’s cover (jangan pernah menilai isi suatu buku hanya dengan melihat sampulnya). Petuah ini rasanya pas untuk menggambarkan bagaimana geliat kota keramik Tulungagung, berjuang dengan segala keterbatasannya meraih angan di masa depan, khususnya bagi pengembangan TI.

Bagaimana tidak, sepintas siapa pun yang belum pernah berkunjung ke kota yang mempunyai motto Tulungagung Ingandaya (industri, pangan, dan budaya), pasti akan menganggap remeh perkembangan kota kecil ini, khususnya pengembangan TI. Padahal kabupaten Tulungagung tergolong wilayah berpotensi besar. Sebut saja potensi industri dengan beberapa produk unggulannya, seperti kerajinan marmer dan onyx di Kecamatan Campurdarat, konfeksi border, batik Tulungagung hingga potensi di bidang pangan yang menobatkan Tulungagung sebagai produsen beras karena mensuplai stok beras nasional.

lambang kota tulungagung
https://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Tulungagung

Nah segala keunggulan dan potensi tersebut, bisa dimaksimalkan dengan bantuan TI. Setidaknya, TI bisa dijadikan tool untuk mempromosikan beragam potensi tadi. “Segala potensi yang ada di Tulungagung akan bisa terangkat, kalau kita juga menerapkan TI,” ujar tokoh masyarakat Tulung-agung Marzuki Ars. Karenanya, menurut Marzuki, masyarakat di Tulungagung pasti mendukung kema-juan kota bila TI diimplementasikan.

Sebagai gambaran, penerapan e-government di Tulungagung dimulai sejak 2002. Sejak adanya Keppres No. 6 Tahun 2001 yang ditandai dengan pembuatan website www.jatim-online.or.id, Peme-rintah Provinsi Jawa Timur menyediakan halaman bagi masing-masing kabupaten di wilayahnya, untuk mengisi website dengan berita-berita aktual daerah setempat. “Berangkat dari website itu, kami mulai berkenalan dengan Telkom Tulungagung untuk mengisi halaman website dengan membuat profil kota, membuat berita yang berisi agenda, dan kegiatan yang dilakukan warga Tulungagung. Dan informasi itu terus kita update,” ujar Kepala Seksi PDE Tulungagung Suharsono.

Setelah mengikuti berbagai seminar dan workshop di Jawa Timur, menginjak tahun 2003, Tulungagung membuat website sendiri dengan alamat www. tulungagung.go.id. Website tersebut dikelola oleh Kantor Infokom bekerja sama dengan Telkom. Sejak saat itu, setiap berita tentang Tulungagung bisa dilongok di dua website sekaligus yakni www.tulungagung.go.id serta www.jatim-online.or.id Di awal berkembangnya situs e-government, daerah ini mendapat sejumlah prestasi lantaran paling banyak memuat berita seputar Tulungagung.

AHMAD PITOYO
Kepala Informasi Komunikasi dan Data Elektronik Kab. Tulungagung

Sebelumnya, saat awal diluncurkannya website, Infokom sempat menuai protes. Pasalnya, berita-berita di website dinilai kurang deras, imbasnya news-nya kurang segar. “Tapi Insya Allah, sekarang hampir setiap hari kami selalu meng-update berita-berita di website,” ujar Kepala Informasi Komunikasi dan Data Elektronik Kabupaten Tulungagung Ahmad Pitoyo. Menyinggung soal fitur, hingga kini website belum dilengkapi dengan fasilitas untuk pengaduan masyarakat atau UP2M (Unit Pelayanan Pengaduan Masyarakat). “UP2M masih dalam bentuk draft. Selama ini masyarakat yang ingin mengadu tentang kinerja aparat baru bisa melalui radio, telepon, internet atau surat,” ujar Ahmad Pitoyo.

Bermacam Back Office
Untuk mendukung kinerja, beberapa aplikasi sudah diimplementasikan di Pemkab Tulungagung. Yakni Simduk, Siak, Simpeg, Simkeu, dan Simkes yang dibangun oleh masing-masing dinas. Soal jaringan, antar dinas belum terconnecting. Meski hubungan antar dinas masih dilakukan secara manual, namun menurut Ahmad Pitoyo, volume pekerjaan di Tulungagung masih memungkinkan dilakukan secara manual.

Saat ini, seluruh pelayanan disentralkan di UPT (Unit Pelayanan Terpadu). Dalam sehari, Kantor Pelayanan Terpadu menerima kurang lebih seratus pemohon, dan melayani 5 perizinan. Rusaknya sistem dan komputer di Kantor Pelayanan Terpadu Tulungagung sejak dua tahun terakhir, membuat kantor ini memberikan pelayanan kepada pemohon izin secara manual. Kerusakan komputer, perangkat dan sistem di kantor ini tidak segera diperbaiki karena terbentur dana. “Sampai saat ini kami masih belum mendapatkan anggaran. Mudah-mudahan dalam perubahan anggaran keuangan 2007 nanti, anggaran ada. Sehingga kami bisa membangun page, memperbaiki wajah website dan memulai penerapan Information and Communication Technology (ICT),” tutur Kepala Kantor Pelayanan Terpadu Kabupaten Tulungagung Sumarsono berharap. Apalagi, lanjut Sumarsono, sudah ada IFC Pensa yang siap bekerja sama untuk memperbaiki sistem yang rusak sehingga terobosan ini diharapkan membuat prosedur pelayanan lebih simpel dan mudah.

Ancang-ancang membangun akses antar dinas juga akan direalisasikan. Karena pertengahan 2006 ini, sudah ada sistem jaringan WAN atau wireless area network. Sejauh ini, sistem jaringan WAN sudah diselenggarakan oleh SMKN 1 Boyolangu yang merupakan proyek dari Dikmenjur. Dari sini, akan dikembangkan menjadi WAN Kota. “Dengan adanya jaringan WAN, akan dikembangkan dari WAN sekolah menjadi WAN Kota,” tutur Suharsono.

Kini mulai dirintis pemasangan pemancar dengan pemancar WAN di SMKN 1 Boyolangu sebagai sentra. Bila ada anggaran, kata Suharsono, akan dipasang beberapa pemancar. Misalnya di Pendopo, di Disdiknas, dan Infokom. “Setelah itu akan kami kembangkan ke dinas-dinas yang lain sehingga ke depan antar dinas sudah bisa berkomunikasi antar WAN,” ujar Suharsoho lebih lanjut. Beruntung, bila di daerah lain di Jawa Timur seperti Pacitan yang dikenal sebagai wilayah blankspot, maka di Tulungagung kendala blankspot dapat diminimalisir. Secara geografis di beberapa daerah pinggiran seperti di Puncanglagan memang ada blankspot. Namun kendala itu bisa diatasi dengan adanya BTS. Beberapa daerah lain yang relatif berada dalam dataran tinggi seperti Kecamatan Panggung Gungung, Pager Wajo, Sendang pun akan dibangun BTS sebagai solusi bila WAN Kota mulai berjalan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *