Majalah e-Indonesia

Majalah yang hadir guna memenuhi kebutuhan mereka yang ingin tahu banyak tentang dunia ICT

e-Government di Kabupaten Pacitan

Upaya SBY Mengatasi Blankspot

Kota kelahiran orang nomor satu di negeri ini, rupanya termasuk salahsatu daerah yang terisolir karena letak geografisnya yang dikelilingi perbukitan.Tak pelak, sebagian area masuk dalam blank-spot. Kini, untuk mengejar ketertinggalan dalam pengembangan ICT, tengah dibangun infrastruktur CDMA.

Tetesan embun masih terlihat jelas menempel di deda-unan. Matahari pagi baru saja menyapa perbukitan kota Pacitan. Namun seorang perempuan paruh baya, berge-gas meninggalkan rumahnya. Ia tidak menghiraukan sejuknya hembusan udara pagi. Ayunan kaki membawa-nya ke sebuah bangunan di Jln. RM. Suryo No. 56 Pacitan yang tak lain adalah Kantor Pengolahan Data Elektronik (KPDE) Pacitan. Sesampai di KPDE, ia langsung menuju salah-satu ruangan berukuran 2,5 meter. Dengan gesit, ia langsung menyalakan komputer, selanjutnya meluncur ke dunia maya. Ia langsung mengakses www.pacitan.go.id. Dilihatnya satu per satu fitur dengan cermat. Begitu tidak ada masalah, dibukanya kotak saran. Rupanya perem-puan paruh baya itu ingin mengetahui, apakah ada surat pengaduan dan keluhan dari masyarakat.

Tak sampai di situ, perempuan bernama Prihantini Irianingtyas itu langsung mengakses www.jawapos.com dan www.solopos.com dan beberapa website media lokal lainnya. Tujuannya satu, untuk mengetahui apakah ada berita penting yang terbit hari itu khususnya yang terkait dengan Pacitan. Begitu ditemukannya berita yang dimaksud, Prihantini langsung meng-copy dan mengedit berita tersebut lalu memasukkannya ke web www.pacitan. go.id.

Mengedit dan memasukkan berita, dilakukan tidak lebih dari 10 menit. Itulah rutinitas yang selalu dilakukan perempuan paruh baya yang diberi amanah sebagai Kepala Seksi Pengolahan Data Elektronik Kabupaten Pacitan. Menurut Prihantini, setiap pagi ia seakan berlomba dengan waktu demi mengejar aktualitas dan akses internet yang lebih cepat. “Terus terang saja, kalau saya terlambat dan baru mengakses internet pada siang hari, maka akses internetnya akan lambat sekali. Mungkin karena sudah banyak orang yang menggunakan internet,” ujar alumni Universitas Merdeka Ponorogo tentang rutinitas kerjaannya.

PRIHATINI IRIANINGTYAS
Kepala Seksi Pengolahan Data Elektronik

Dituturkan Prihantini, selama ini bila ia menemukan surat pengaduan yang isinya mencemooh dengan kata-kata yang kasar dan melecehkan, ia segera men-delete. Namun bila isi surat masuk harus segera ditindaklanjuti, ia akan menyampaikannya ke pimpinan di Kantor Arsip dan Pengolahan Data Elektronik Kabupaten Pacitan. Website www.pacitan.go.id dalam prakteknya dikelola oleh dua orang. Prihantini lebih banyak bertindak sebagai pelaksana di ruangan, sementara rekannya Yoyok, lebih giat mencari berita di setiap instansi di lingkup Kabupaten Pacitan. Itulah secuil gambaran mengenai implementasi Information dan Communication Technology (ICT) di Kota Pacitan.

Pengembangan Website
Pembangunan TI di Kabupaten Pacitan saat ini ditangani oleh KPDE. Pelan tapi pasti, TI terus dikem-bangkan. e-Government sendiri baru menemukan gaungnya di awal 2000-an. Sejak pertama kali dibangun pada 2002 hingga akhir 2005, praktis lembaga ini baru mengelola website saja selain mengembang fungsi sebagai pengelola arsip.

Kepala Arsip dan Pengelola Data Elektronik Kabupaten Pacitan Supawit Mulyadi mengatakan, lambannya pengembangan TI di Pacitan karena keterbatasan dana. “Kapasitas saya hanya sebagai pelaksana, bukan pengambil kebija-kan,” tuturnya. Sebenarnya, lanjut Supawit, baik Pemkab maupun swasta di Pacitan ini, bisa menggunakan situs website untuk mempromosikan diri. “Namun kedua belah pihak tampaknya belum bisa mengambil manfaat dari fasilitas yang ada,” imbuhnya lagi.

Padahal, menurut alumni Universitas Merdeka Malang ini, sosialisasi manfaat TI selama ini sudah sering dilakukan pihaknya, khususnya di kalangan birokrat. Namun diakuinya, respon balik yang diterima tidak seperti yang diharapkan. “Untuk meng-upgrade informasi selama ini kami masih melakukan dengan cara manual,” ujar Supawit. Maksudnya? Di sini, staf KPDE harus menyambangi instansi-instansi bila ada aktivitas yang layak diinformasikan via website. Selain itu, sejak 2003 hingga 2005, belum ada jaringan antar instansi. “Baru pada 2006 ini kami mulai mengem-bangkan jaringan.” Sehingga nantinya setiap aktivitas di satu unit kerja atau instansi di Pacitan, bisa mengakses langsung lewat pintu yang ada di PDE.

Diakui Supawit, sampai akhir 2005, lembaga yang dipimpinnya baru sampai pada pengembangan fitur-fitur yang ada di website. Awal dibuat website pada 2002 lalu, masih bersifat statis. Baru menapak 2003 sampai sekarang, mulai menunjukkan perkembangan. “Kami selalu mengisi dan menerima informasi dari masyarakat. Dan secara berkala kami juga memberikan informasi yang sifatnya pela-yanan,” tutur Supawit lagi.

Penerapan aplikasi back office yang sudah dijalankan pun belum banyak, bila dibandingkan dengan kabupaten lain di Jawa Timur. Menurut Kepala Badan Perencana Pembangunan Daerah Pacitan Doni Suyono Hasan, aplikasi back office yang sudah dijalankan baru tahap SIAK (Sistem Informasi Administrasi Kependudukan) yang bermanfaat untuk mempercepat layanan Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan Kartu Keluarga (KK). “Untuk jenis perizinan lainnya masih dilakukan secara manual karena jaringan antar instansi di Pacitan belum ada. Rencananya baru pada 2006 ini akan kita tindaklanjuti,” papar Doni. Masih menurut Doni, “Kami harus akui bahwa pengembangan TI belum online. Tapi kami memiliki tujuan ke depan terkait dengan pengembangan TI dan dilakukan secara step by step,” tambahnya.

Kepala Dinas Infokom Kabupaten Pacitan M. Effendie menambahkan, aplikasi back office yang juga sudah diterapkan adalah pajak kendaraan bermotor. Menurutnya, beberapa instansi pemerintah seperti Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Dinas Pariwisata selain lembaga Perbankan, juga sudah menerapkan sistem informasi. Namun, ya itu tadi, sulitnya jaringan komunikasi membuat ruang gerak terbatas sehingga semuanya serba terbatas, artinya tidak bisa online 24 jam. “Tapi kami mempunyai rencana untuk menerapkan G to G atau G to C bagi peningkatan pelayanan masyarakat,” jelas Effendie.

Lebih lanjut Doni menuturkan, bahwa teknologi itu penting, apalagi di era globalisasi seperti saat ini. Sejalan dengan itu, kinerja harus ditingkatkan untuk memberikan pelayanan maksimal kepada masyarakat. Kuncinya, lanjut Doni, adalah penerapan TI. “Sehingga efisiensi, kecepatan memberikan pelayanan dapat direalisasikan, apalagi dengan mudahnya berkomunikasi.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *