Majalah e-Indonesia

Majalah yang hadir guna memenuhi kebutuhan mereka yang ingin tahu banyak tentang dunia ICT

2 Merit Award untuk Pemicu APICTA 2008

Di pagi hari yang cerah dan agak dingin akibat hujan malam sebelumnya, rombongan Indonesia dengan jumlah 34 orang sudah berkumpul lobi terminal 2E Bandara Soekarno-Hatta. Rombongan dipimpin Pak Riyanto Gozali dari Aspiluki, termasuk 4 orang juri Indonesia (Jos Luhukay, Eko Indrajit, Sylvia Sumarlin, dan Richard Kartawijaya), 2 orang officiall, dan 3 orang wakil Depkominfo. Setelah pembagian tas, tiket dan jaket seragam, rombongan langsung cekin dan bergegas memasuki ruang tunggu pesawat.

Perjalanan ke Hongkong dengan pesawat Garuda cukup singkat, hanya 4 jam. Namun, sesampainya di Bandara Internasional Hongkong waktu sudah menunjukkan pukul 14.00, apa daya kami harus menunggu selama lebih kurang 4 jam karena feri menuju Macau baru akan berangkat pukul 18.00. Perjalanan dengan feri ke Macau hanya 1 jam, namun dengan kepenatan selama menunggu di bandara, akses ke terminal feri yang sangat tidak nyaman, angin dingin yang cukup kuat, ditambah laut yang bergelora akibat air pasang dan sedikit badai, tak pelak membuat sebagian besar anggota rombongan dilanda mabuk laut. Akhirnya setelah naik bus jemputan selama lebih kurang 15 menit rombongan tiba di Regency Hotel yang menjadi pusat lokasi penyelenggaraan APICTA 2006.

Sebagian anggota delegasi APICTA
dari Indonesia

Panjangnya perjalanan yang di luar dugaan ditambah kondisi setengah mabuk laut membuat sebagian besar peserta lega saat mendapatkan “makan malam gratis” di salah-satu restoran dengan hidangan masakan Cina yang hangat. Meski harus berdesakan karena hanya disediakan 3 meja, makan malam ini cukup membuat rombongan merasa segar dan kembali bisa melontarkan aneka guyonan segar. Praktis setiba di hotel pukul 22.00 seluruh anggota rombongan bergegas cekin agar segera bisa masuk kamar dan beristirahat melepas penat.

Acara keesokan hari (2 November) praktis kosong dan hanya melakukan registrasi. Acara bebas, kecuali ketua delegasi dan para juri yang memiliki beberapa agenda pertemuan pendahuluan. Beruntung seluruh acara utama, kecuali acara dinner, diselenggarakan dalam hotel sehingga praktis peserta tidak perlu keluar hotel. Sore hari seluruh peserta diundang menghadiri acara pembukaan dan dinner atas undangan pemerintah Macau. Acara diisi dengan pembukaan oleh Gubernur Macau, pertunjukan seni dan makan malam formal. Rombongan Indonesia diwakili oleh Ibu Loli dari Depkominfo. Tak lupa, segera setelah kembali ke hotel, Ketua Delegasi mengumpulkan seluruh peserta untuk melakukan briefing terakhir. Pengarahan dan aneka tip berdasarkan pengalaman kompetisi sebelumnya diberikan oleh Pak Riyanto Gozali dan semua juri asal Indonesia. Saat itulah ketegangan mulai melanda sebagian besar peserta. Betapa beban mental untuk membawa beberapa piala kemenangan ke Indonesia terasa semakin berat.

Akhirnya tibalah acara puncak, yaitu kompetisi dimulai pada tanggal 3 dan 4, sejak pagi sampai sore hari. Presentasi dilakukan secara paralel di 6 ruangan sesuai dengan kategori karya yang dilombakan. Setiap peserta mendapatkan jatah presentasi selama 20 menit ditambah 10 menit tanya jawab dan 5 menit untuk persiapan sebelum presentasi. Praktis kedua hari puncak ini diisi dengan presentasi. Meski demikian tentu saja banyak anggota rombongan yang memanfaatkan waktu senggang, terlebih bagi yang sudah selesai presentasi, untuk pergi keliling Macau, atau bahkan ke Hongkong maupun Cina daratan.

Di antara waktu presentasi, delegasi Hongkong, Malaysia dan Singapura secara proaktif melakukan pameran mandiri serta membuka meja informasi yang menyediakan aneka brosur terkait dengan ICT di negaranya. Rasanya hal semacam ini perlu dicontoh oleh delegasi Indonesia dengan Aspiluki sebagai motornya. Terlebih motivasi utama acara APICTA awalnya adalah sebagai ajang ekspose dan promosi produk dan perusahaan terkait ICT ke luar negeri. Justru kompetisi aplikasi hanya merupakan jembatan untuk mencapai hal tersebut. Sehingga patut disayangkan bahwa teman-teman dari Aspiluki dan perusahaan perangkat lunak peserta kurang memanfaatkan ajang ini untuk pemasaran yang notabene sangat menguntungkan diri mereka.

Bahkan delegasi Hongkong dan Malaysia mengadakan sesi Esperience Sharing dengan mengundang rekan-rekannya dari negara lain. Acara yang merupakan ajang promosi ini nampaknya benar-benar sangat direncanakan dan dimanfaatkan dengan baik oleh mereka untuk semakin mengokohkan posisi. Tidak mengherankan bila selama ini Malaysia dan Hongkong selalu merajai arena kompetisi ini sejak 1999. Nampak sekali bahwa delegasi mereka sangat solid dan memiliki persiapan yang matang dengan dukungan penuh pemerintah untuk mengikuti lomba ini.

Situasi tersebut sangat kontras sekali dengan delegasi Indonesia, yang sebagian besar anggota yang merupakan pemenang APICTA 2006 Indonesia harus berpusing-pusing untuk mencari sumber dana agar bisa ikut dalam delegasi. Tetapi sebagai perbandingan, mungkin Aspiluki dan Depkominfo bisa mencontoh TOFI (Tim Olimpiade Fisika Indonesia) yang awalnya di tahun 1993 juga harus membanting tulang untuk bisa mendanai dan mencari bibit melalui kompetisi lokal, mempersiapkan dan memberangkatkan delegasi Indonesia ke ajang internasional. Akhirnya sejak 2000-an kegiatan olimpiade fisika dan sains lainnya sudah mendapatkan dukungan permanen dari Depdiknas sehingga bisa menjadi kebanggaan nasional saat ini. Tentu saja ini semua bisa terjadi karena TOFI mampu membuktikan prestasi secara konstan sejak sebelum mendapatkan dukungan formal pemerintah.

Seharusnya, Aspiluki dan Depkominfo bisa melakukan dengan lebih baik mengingat bidang ICT adalah bidang yang sangat probisnis dan dekat dengan sumber ekonomi. Kalau perlu setiap peserta diberikan proses pelatihan dan pematangan karya jauh hari sebelum diberangkatkan. Ini persis seperti yang dilakukan oleh delegasi Malaysia, seperti yang diceritakan salah seorang anggota delegasi mereka kepada saya. Bila telah mampu membuktikan bisa meraih prestasi, diyakini dukungan formal dari (misalnya) aneka pihak akan mengalir dengan lebih mudah.

Akhirnya tibalah acara puncak. Pada acara ini Indonesia diwakili juga oleh Dirjen Telematika Depkominfo, Cahyana Ahmadjayadi, yang tiba sehari sebelumnya. Saat tiba acara pengumuman pemenang, seluruh peserta dengan berdebar menyimak nama-nama yang diucapkan. Akhirnya Indonesia berhasil membawa 2 Merit Award untuk kategori Education and Training (PT Pesona Edukasi) dan Start-up (PT Sqiva System). Sayangnya tahun ini belum terjadi peningkatan prestasi untuk tim Indonesia sejak menjadi peserta APICTA. Selama ini Indonesia selalu menjadi kuda hitam, meski dari jumlah peserta selalu menjadi minimal 4 besar diantara 12 negara peserta. Semoga 2 Merit Award yang diraih bisa menjadi pemicu untuk meraih award yang sesungguhnya ketika APICTA 2008 berlangsung di Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *