Majalah e-Indonesia

Majalah yang hadir guna memenuhi kebutuhan mereka yang ingin tahu banyak tentang dunia ICT

Selamat Datang Era 3G!, Lalu Apa?

Indonesia kini telah memasuki satu babakan baru dalam industri tele-komunikasi dengan dimulainya pemberian layanan telepon bergerak seluler generasi ketiga (3G) secara komersial. Saat ini dua operator seluler yaitu Telkomsel dan Excelcomindo Pratama (XL) sudah menyediakan layanan ter-sebut kepada pelanggannya. Operator pemegang lisensi 3G lainnya, Indosat akan menggelar layanan secara komersial pada November mendatang.

Walaupun belum jelas kapan Hutchison CP Telecommunication (HCPT) yang sudah mengantongi sertifikasi Uji Laik Operasi (ULO) dan Natrindo Telepon Seluler akan masuk ke pasar, lisensi modern mengharuskan maksimal akhir tahun ini seluruh pemegang lisensi telepon bergerak pita lebar untuk segera “berjualan”. Dengan begitu banyaknya operator yang diberi kewajiban untuk segera “jualan”, persaingan untuk mendapat tempat di hati penggunanya, tentu bukan persoalan yang mudah. Termasuk bagi para operator yang saat ini sudah memiliki jutaan pelanggan seperti Telkomsel, Indosat, maupun XL.

Memang dalam masa promosi ini, baik oleh Telkomsel maupun XL, layanan untuk voice dan data dijual dengan tarif tak jauh berbeda dibanding harga jual saat ini, yang bahkan untuk layanan video call digratiskan untuk beberapa menit pertama. Namun dalam 3G, selain menyangkut tarif dan seberapa jauh infrastruktur menjangkau masyarakat yang tertarik dengan teknologi lanjutan telepon bergerak tersebut, yang tak bisa diabaikan adalah layanan apa saja yang bisa disajikan bagi pengguna, yang tentunya mengandung unsur penting, menarik, dan menghibur.

Killer Application
Di awal adopsi teknologi 3G, banyak pihak mengkhawatirkan teknologi ini tidak akan diminati banyak orang. Kekhawatiran bahwa 3G akan terseok-seok mengingat teknologi ini kesulitan mencari aplikasi yang begitu mengena di hati pengunanya (killer application). Namun keraguan itu sedikit demi sedikit mulai terkikis. Diam-diam, angka pengguna teknologi 3G di dunia telah mencapai 100 juta di pertengahan tahun ini. Sehingga banyak pihak optimistis jika di akhir tahun ini akan ada 200 juta pengguna layanan 3G.

Terjawabnya kekhawatiran banyak pihak yang menyebut 3G tidak akan berkembang itu karena ternyata peran killer application akan dipegang oleh content (isi). Melalui pengalaman yang dipaparkan beberapa negara yang telah lebih dulu mengimplementasi 3G, content mempunyai peran strategis dalam pengembangan 3G. Soal content mana yang benar-benar bisa menarik pengguna, memang variatif. Namun, hal itu bisa dimulai dengan content yang menyangkut kehidupan sehari-hari.

Misalnya saja layanan televisi bergerak (Mobile TV). Menurut prediksi Informa Telecoms & Media, diperkirakan pada akhir 2006 ini akan ada 124,8 juta pengguna mobile TV di seluruh dunia. Angka tersebut memberikan gambaran peningkatan signifikan jika dibanding tahun lalu yang hanya kurang dari 500 ribu pengguna. Sehingga, mobile TV dipertimbangkan sebagai kunci pengendali untuk layanan 3G dan pemicu orang beralih dari teknologi seluler generasi 2,5 (2.5G).

Berdasar uji coba yang dilakukan terhadap teknologi mutakhir untuk membawa layanan penyiaran ke penerima seperti handset ponsel, DVB-H (Digital Video Broadcasting-Handheld), dipercaya mobile TV mempunyai masa depan yang potensial, apalagi televisi begitu penting terhadap kehidupan keseharian banyak orang. Hanya, seperti kasus Indonesia, televisi menjadi “tamu tak diundang yang selalu datang” karena tak berbayar. Sehingga, untuk menjadikan televisi kemudian berbayar tidaklah mudah. Di sisi lain, dengan tanpa bayar, maka operator tidak kebagian apa-apa karena seluruh pemasukan menjadi hak stasiun televisi.

Yang mungkin terjadi adalah operator akan menyajikan layanan video atau informasi berdasar pesanan pengguna, atau bisa juga operator seluler membuat stasiun televisi sendiri. Dengan begitu, operator akan mendapat pemasukan semisal dari iklan, sehingga tayangan televisi dapat dinikmati pengguna secara gratis. Tentu saja, hal-hal yang terkait dengan regulasi penyiaran melalui telepon bergerak ini perlu dipertegas sejak awal agar operator tahu apa saja yang harus dilakukan dan ke mana perizinan diminta.

Mengembangkan content dengan melibatkan media semacam televisi diperkirakan akan mendapat sambutan yang cukup signifikan. Hal itu sesuai dengan suasana bangsa ini yang sedang bergerak ke arah demokratisasi, di mana masyarakat ingin dilibatkan dalam berbagai aktivitas dan didengarkan pendapatnya. Apalagi, sekarang ini pun banyak dilakukan program-program televisi yang mencari idola, baik itu dalam bidang musik, lawak, maupun atlet secara instan. Audisi yang biasanya dilakukan berpusat di satu tempat, misalnya, dengan fasilitas 3G dapat dilakukan dari rumah sehingga tanpa harus mengeluarkan dana untuk transportasi dan akomodasi.

Yang amat sederhana, namun sangat mungkin menarik masyarakat, adalah penggunaan video call 3G untuk reportase kemacetan. Dengan menggabungkan fasilitas video call dengan televisi, yang juga dapat dilihat melalui mobile TV, reportase kondisi jalan raya yang selama ini banyak disiarkan di stasiun radio dengan hanya menampilkan suara saja, dengan 3G menjadi lebih interaktif. Masyarakat bisa menjadi reporter dan kamerawan dadakan dapat melaporkan secara langsung dari lokasi mengenai kondisi lalu lintas dengan suara dan gambar secara live.

Permainan (games) serta musik bergerak diperkirakan juga akan meramaikan industri content 3G. Di Eropa, pasar games meningkat sebesar 77.2% per tahun dan akan tetap pada angka itu hingga 2010. Sementara untuk musik, akan terbangun pasar yang memungkinkan layanan jaringan seperti MP3 dan realtone download. Termasuk dengan kemampuan handset dan memory card untuk dapat menyimpan ratusan bahkan ribuan lagu serta dapat menyajikan musik dengan kualitas suara yang prima.

Sejalan dengan peran content sebagai killer application, maka agar 3G berkembang diperlukan beragam content yang ditawarkan. Untuk itu, industri content perlu ditumbuhkembangkan dan dirangkul. Tanpa merangkul mereka semua dengan pola pembagian keuntungan yang merangsang pekerja content lebih kreatif dan semangat, layanan 3G yang ditawarkan jadi kurang variatif dan mungkin saja tidak mendapat tempat di masyarakat sehingga muaranya bisa jadi 3G tidak akan berkembang di pasar Indonesia. Namun meski mempunyai peran signifikan, operator dan content provider tetap juga harus mematuhi koridor hukum mengenai content mana saja yang bisa dilempar ke masyarakat.

3G Vs WiMax
Berdasar set standar nirkabel 802.16, WiMax (worldwide interoprability for microwave access) digembar-gemborkan sebagai peningkatan yang signifikan, baik berdasar fungsi maupun harga, dari mahalnya sistem akses pita lebar tanpa kabel BWA (Broadband Wireless Access) yang lain seperti 3G. Karena memungkinkan transmisi pita lebar dengan jangkauan puluhan kilometer, WiMax dapat dikatakan mengancam posisi 3G, bahkan 4G.

Untuk Indonesia, hingga saat ini belum ada regulasi yang jelas mengenai WiMax termasuk alokasi frekuensi yang akan diberikan. Memang dari informasi terakhir, regulator telekomunikasi berencana menetapkan frekuensi 2,3 GHz, yang kemudian 2,5 GHz, untuk BWA mengingat rentang frekuensi 3,5 GHz yang digunakan oleh satelit. Frekuensi 3,5 GHz memang menjadi prioritas pengembangan WiMAx, namun sulitnya di sini adalah teknologi satelit masih mempunyai peran begitu signifikan untuk melayani wilayah-wilayah di Indonesia yang sulit dijangkau jaringan telekomunikasi dengan kabel maupun nirkabel.

Namun keputusan tersebut belum dapat dikatakan final mengingat tim penataan frekuensi untuk BWA baru mulai bekerja awal September lalu dan butuh waktu untuk mengkaji lebih dalam lagi. Yang pasti, selain alokasi frekuensi, kebijakan regulator yang dinanti stakeholder telekomunikasi adalah mengenai siapa yang boleh membangun WiMax, metode tender, serta tingkatan lisensi yang diberikan apakah nasional, regional, atau mungkin untuk wilayah yang lebih kecil lagi. Sehingga pengembangan WiMax akan tetap menunggu alokasi frekuensi dan regulasi yang akan mengaturnya.
Mengenai apakah WiMax akan mematikan 3G, dalam berbagai diskusi dengan berbagai pihak di banyak negara, diprediksi bahwa antara kedua teknologi itu akan saling mengisi satu sama lain, komplemen. Sehingga, tidak perlu ada kekhawatiran berlebihan akan terjadi “bunuh-bunuhan” antara keduanya. Namun hal itu juga tetap memerlukan kepiawain regulator untuk mengatur dan menyesuaikannya dengan kebutuhan dan kondisi masyarakat. Kesalahan mengatur dan membaca kondisi masyarakat bukan tidak mungkin malah akan berakibat kedua teknologi itu tidak berkembang sama sekali di sini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *